Kamis, 2009 Juli 02

MAMI: PUTRI SAYA KEMBARAN DENGAN CONGCORANG NANGKA...

TERSERAH anda mau bilang apa tentang saya! Anda mau bilang saya berlebihan, keterlaluan, emosional, kejam, ganas seperti ibu tiri, TERSERAH! Saya tidak peduli. Sama seperti anda, saya hanyalah manusia biasa, manusia biasa yang kebetulan ditakdirkan menjadi seorang ibu dari putri yang amat manja dan rewel.

Padahal anda tahu berapa usia putri saya? 23 tahun! 23 tahun tapi bahkan untuk makan dengan benar saja masih harus diajari dengan betul. Ah anda jadi berpikir kalau putri saya itu mengidap semacam kelainan jiwa seperti autis atau apalah itu namanya. Sama sekali bukan! Dia juga sama seperti anda, sama hal nya seperti saya juga, dia hanya manusia biasa, manusia biasa yang sangat normal!

Coba katakan pada saya salahkah saya mencintai dan menyayangi putri saya hingga selalu dibikinnya saya ini sesak nafas karena amat mencemaskannya? Apa salah, saya bekerja jungkir balik, kaki di kepala, kepala di kaki hanya untuk memberikan dia yang terbaik? Ya setidaknya terbaik menurut saya. Dan apakah salah, jika saya over protektif terhadapnya sampai saya selalu berusaha menjaganya seperti barang pecah belah? Takut sekali saya dia hancur berkeping-keping tanpa bisa saya sambung lagi pecahan-pecahannya. Takut sekali saya jika dia sudah marah, takut dia meninggalkan saya lagi. Sedih sekali jika saya temui dia tersenyum dan tertawa hanya untuk menyenangkan saya. Sedih rasanya setiap melihat dia berbohong pada saya hanya agar saya tidak mencemaskannya. Dan merana hati ini jika melihatnya terbaring tak berdaya tanpa ada yang bisa saya lakukan untuk menolongnya. Tidakkah dia tahu itu?

Tolong, katakan pada saya bahwa saya bertindak dengan benar ketika saya selalu menelponnya hanya untuk bertanya bagaimana kabarnya? Katakan pada saya bahwa saya tidak melakukan kesalahannya dengan menyuruhnya untuk tak menjamah internet? Karena terbukti internet selalu membuatnya lupa waktu! Katakan jika saya salah karena selalu memaksanya untuk punya kehidupan yang lebih menyenangkan? Dengan tidak takut bersosialisasi, tidak takut untuk melukai hati orang, dan tidak takut untuk menjadi beban bagi orang lain!

Heran saya, apa sih yang ada dalam pikirannya? Bunuh diri pelan-pelan atau bagaimana? Apa tak sedikitpun dia berpikir tentang orang yang menyayanginya? Saya? Adik-adiknya? Seluruh emaknya, bapaknya, aki-akinya, mamahnya, teman-temannya? Apa dia tak pernah berpikir bahwa melihatnya merana dan berjuang sendirian adalah hal yang amat menyakitkan bagi saya dan juga bagi mereka semua?

Amponnnnn Gusti...saya memang pernah melakukan kesalahan dengan merenggut masa kecilnya dan tiga perempat kehidupannya tanpa bersama saya, tak bisa kah saya menebus kesalahan saya itu dengan menjaga dan memberikan yang terbaik untuknya? Apa yang harus saya lakukan?

Ah, maafkan saya karena prolognya terlalu panjang, sedangkan anda belum juga mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat saya berkeluh kesah seperti ini pada anda.

Seperti inilah ceritanya....

Banyak sekali pekerjaan yang harus saya kerjakan di kantor, terlalu banyak sidang yang ditunda, terlalu banyak keluhan klien, terlalu banyak bawahan yang kerja tanpa tanggung jawab membuat beban stress saya ada di level paling tinggi. Dan ketika saya pulang dari kantor menjelang tengah malam, saya sempatkan masuk ke kamar putri saya sekedar untuk melihatnya pura-pura tertidur! Ah memang saya bodoh bisa dikadali olehnya, saya amat tahu hanya sekejap saja dia bisa tidur, sisanya entah apa yang dilakukannya? Saya sempat curiga dia sering memasukkan lelaki ke kamarnya, dan kalau pun itu terjadi, di pikiran saya yang tak waras, saya berharap putri saya MBA. Memang gila, tapi jika anda terlalu bingung dan tak tahu lagi bagaimana caranya agar putri anda bisa bahagia dan segara memberikan cucu pada anda, kemungkinan MBA bagi putri anda sepertinya bukan solusi yang hanya disandarkan karena putus asa. Apa betul begitu? Koreksi jika saya salah, dan tolong jangan bilang anda tidak tahu apa itu MBA!

Mari kita lanjutkan ceritanya. Ya jadi ketika saya masuk ke kamarnya, dia tak ada di sana, sedikit panik, takut dia berubah jadi gila lagi dan meninggalkan saya dengan hati merana. Saya segera pergi ke kamar adiknya. Dan disanalah dia, agak manyun di depan komputer, sekali-sekali senyum, terkadang ngakak, manyun lagi. Ah jika anda tidak tahu teknologi bernama internet, anda akan langsung menyeretnya ke jalan Riau 11 (Riau 11 adalah bekas alamat Rumah Sakit Jiwa di Bandung). Tapi karena saya yakin anda sudah mafhum tentang ganasnya kanker internet yang merubah kehidupan anda 180 derajat itu, sama seperti saya pastilah anda hanya akan menarik nafas panjang dan menekan kekesalan anda. Yang membuat saya tambah kesal adalah ketika mendapati sepiring nasi dan ayam bumbu tergeletak di samping komputer tanpa ada tanda-tanda telah dijamah olehnya. Saya pun segera menegurnya.

”lala can emam?” (lala belum makan?)
”eh mih, belon euy” dia agak terkejut dengan sapaan saya, dan tampak panik, sempat juga saya menangkap gerakan tangannya yang menggenggam mouse, hahaha dia menutup semua halaman yang sedang dibukanya, hanya tersisa hukum onlen dot com. Aduh lala lala, kamu pikir mami ini orang tua bodoh yang tidak tahu kenakalan kamu heh?

”mam atuh buruan, tiis pan sanguna” (makan cepet, dingin kan nasinya)
”he eh mih” dia mengambil piringnya dan nampak jijik dengan hidangan didalamnya. Huh siapa suruh menunda-nunda makan? Makanan jadinya dingin dan basi! Makan tuh makan! Saya mengawasinya, dan sangat tahu dia tidak nyaman dengan itu.

”ya udah atuh, habisin ya mamnya, mami beberesih dulu”
”oke deh, siappp grakkk! You know that your wish is my command”
Ah saya suka itu! Sangat suka! Jadi saya membelai kepalanya yang tertutup kupluk dengan lembut! Sayanggggggg banget :-* muach....

Mungkin karena saya sangat hafal segala kelicikannya, jadi saya kembali ke kamar adiknya setengah jam kemudian. Dan benar saja, piringnya kembali tergeletak merana di samping komputer. Grrrr, saya tahan kemarahan saya. Sabar sabar jeng!!

”euh kebiasaan, sini ah dihuapan ku mami” (sini mami suapin)
”eh hehehehe, jangan dungs, lala juga bisa sendiri Mih” saya tetap memaksa untuk menyuapinya.

”tadi pagi mam apa?”
”bubur mih”
”siangnya?”
”bikin teh doang”
”mana ada tenaga kalau makannya seperti itu?”
”emang tenaga untuk apa mih? Gak macul ini kan? Kalau cuma duduk di depan komputer, baca buku, tidur mah gak butuh tenaga mih” huh sedih sekali saya mendengar kesinisannya.

”lho katanya mau bohay? Katanya dadanya mau tumbuh, pinggulnya mau besar, kalau mamnya susah, mana bisa neh nenen sebesar nenen Farah Quinn?” saya berkata seperti itu sambil nyolek payudaranya, ah nakal sekali saya ini. Kalau anda lelaki saya yakin anda ingin sekali ada dalam posisi saya. Ya kan? Ya walaupun payudara putri saya jauh dari kata menggairahkan.

”eitttt....nyolek-nyolek punya orang, kayak gak punya aja....” dia menjawab sambil menutup dadanya dan membalas menyolek payudara saya. Saya tahu apa komentar anda, pasti anda akan bilang: ’keluarga macam apa tuh?’ Hahahaha hanya sekedar memuaskan keingintahuan anda, saya katakan pada anda satu fakta tentang keluarga kami, yeah keluarga kami memang agak kurang waras!

Akhirnya saya tak tahan juga melihatnya tersiksa karena harus menelan makanan. Jadi saya menyuruhnya untuk melanjutkan makan sendiri. Dan saya dengan agak berlari keluar dari kamar sekedar ingin menarik nafas panjang dan meredakan segala amarah, kesedihan, dan putus asa yang tiba-tiba menyeruak menyerang pertahanan saya.

Ketika saya kembali ke kamarnya, saya mendapati piringnya kembali merana, tersisa setengah piring nasi di piringnya, sedangkan ayamnya tak tersisa sedikitpun, membuat saya curiga, masa tulang ayamnya juga dimakan sih? Terdorong oleh kecurigaan saya itu, saya mendekati tempat sampah yang ada di pojok kamar, dan benar saja, ada muntahan nasi di sana, dan daging ayam yang baru secuil dimakan olehnya tampak sebal memandang saya. CUKUP SUDAH! SEKALI INI SAYA NAIK DARAH!

”NANAONAN IEU TEH? DITITAH DAHAR WE NI HESE NYAK! SAKITU AWAK TINGGAL TULANG OGE! TEU GEULIS IEUH MANEH TEH MUN AWAK JIGA CONGCORANG NANGKA KITU! KALAKUAN TEH GEUNINGAN JIGA BUDAK TK KENEH ATUH?” (apa-apaan ini? Disuruh makan aja susahnya minta ampun! Padahal badan tinggal tulang juga! Gak cantik kamu ini kalau badan seperti congcorang nangka gitu! Kelakuan kok masih kayak anak TK aja sih?)

Interupsi sebentar, jika anda tidak tahu congcorang nangka, beginilah bentuknya...

Dan inilah bentuk tubuh putri saya jutaan tahun yang lalu, jutaan tahun yang lalu aja bisa sekering ini, apalagi sekarang? bener-bener zombie! sama tipisnya seperti congcorang...

lanjuttttt....

Banyak yang saya katakan padanya, rasanya saya mengeluarkan beban emosi saya selama satu bulan ini. Lalan dan acep, adik putri saya itu terbangun. Sementara dia bengong, yang membuat hati saya miris, dia menutup matanya dengan tangan, menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesungging senyum-- entah menertawakan saya atau apa—menghiasi bibirnya. Tak ada keluhan sama sekali, hanya senyum miris yang saya dapat darinya. Saya amat tersinggung! Tanpa pikir panjang saya renggut piring nasi yang ada di samping komputer,saya lemparkan ke dinding, pranggg….sejumput nasi menempel di pipinya, matanya amat terluka dan tidak berdaya! Anehnya dia diam, ya ampun bahkan marah sekalipun dia sudah tak bisa. Penyesalan itu yang saya rasakan kemudian! Menyesal sekali melihatnya menjadi mayat hidup seperti itu.

Seisi rumah terbangun, saya hanya bisa menyuruh mereka kembali ke kamarnya masing-masing, dan saya pun kembali ke kamar saya, masih terbayang wajahnya yang terluka, masih jelas diingatan saya sejumput nasi yang menempel di pipinya. Oh Tuhan apa yang sudah saya lakukan? Mengapa menambah luka hatinya? Mengapa malam ini saya tak bisa menahan emosi saya? Mengapa saya sama kekanak-kanakkannya seperti dia?

Saya butuh seseorang untuk menentramkan hati saya, saya menelpon suami saya yang memang kerjanya di luar kota. Saya menangis mengadukan kecerobohan saya. Dan suami saya itu anda tahu? Dia adalah oase saya, tempat saya menemukan mata air sejuk di tengah panasnya gurun pasir, dia adalah kehangatan tempat saya bermanja-manja di tengah dinginnya hawa kutub utara yang ganas itu. Saya bersyukur masih punya sandaran di tengah kemelut saya itu. Dia menawarkan untuk berbicara dengan putri saya, saya melarangnya, karena saya tahu putri saya masih belum bisa menerima suami saya sepenuhnya. Suami saya itu adalah ayah tiri dari anak-anak saya. Sedang suami pertama saya meninggal dunia dua tahun setelah saya melahirkan Lalan, anak keempat kami.

Baru setelah saya tenang, pikiran saya kembali jernih. Saya memberanikan diri masuk ke kamar itu. Dia tak ada di sana, setelah membetulkan selimut Acep dan Lalan--dua anak lelaki saya di kamar itu-- saya mencarinya ke kamarnya. Dan hanya Tuhan yang tahu betapa paniknya saya ketika mendapati dia tak ada di manapun. Saya masuk kamar putri saya yang kedua, dia pun tak ada disana.

Untungnya sebelum saya membangunkan seisi rumah, saya melihat siluet bayangannya di bawah sinar bulan tiga perempat. Sungguh lega melihatnya utuh dan tampak tak terguncang dengan apa yang terjadi. Mungkin dia sudah terbiasa dengan amarah saya.

Dia sedang berbicara di telpon dengan seseorang. Pasti pacarnya. Dan saya tak ingin mengganggu jika saja saya tak ingat bahwa berdiri di bawah rembulan dengan pakaian tipis seperti itu akan sangat buruk akibatnya bagi kesehatannya. Jadi saya menegurnya, mungkin karena saya teramat sedih, saya tak bisa mengucapkan kata apapun, saya hanya menuntunnya (sebenarnya menyeret) ke dalam kamar, saya begitu ingin menggendongnya, tapi rasanya itu hanya akan membuat saya makin sengsara, jadi saya mendorongnya ke tempat tidur, menyelimutinya, dia tidak berkata apapun, tapi saya bisa melihat kegelisahannya, dan senyum sinisnya. Tak ada gunanya saya berlama-lama di kamarnya, jadi saya keluar dari kamar itu setelah mengingatkannya untuk berdoa sebelum tidur.

Rasanya lama sekali sebelum saya bisa tertidur, ketika terbangun, saya berharap saya baru melalui mimpi buruk, tapi melihat keempat anak saya tampak tak bergairah, saya sadar bahwa apa yang terjadi tadi malam itu bukanlah mimpi.

Tak ada celotehan riang ketika sarapan pagi, dia pun tampak memaksakan diri duduk bersama saya dan adik-adiknya. Biasanya dia hanya minum teh atau susu saja di pagi hari, tapi kali ini dia mengambil nasi ke piringnya, mie goreng, dan telur. Saya dan adik-adiknya terpesona dengan pemandangan itu, dia menyendok nasinya besar-besar, dimasukkan ke mulutnya, kunyah-kunyah sebentar, glek glekkkkk…diambilnya air putih, diminumnya, terus seperti itu, dengan bantuan air putih dia berhasil menghabiskan tiga perempat makanan di piringnya, sampai ketika saat dia akan meminum air putih, entah bagaimana kejadiannya gelasnya terpeleset dari tangannya, air yang ada di dalamnya tumpah, dan pecah ke lantai, dan lagi-lagi dia menutup mata dengan tangannya, geleng-geleng kepala, dan ada senyum miris nyaris putus asa di mulutnya. Arghhhh…dia berpamitan untuk ke belakang, dan kami bisa mendengarnya memuntahkan seluruh makanan yang telah masuk ke perutnya.

Terdorong oleh ketidakberdayaan dan kepengecutan saya, ditambah dengan kesedihan yang tak tertahankan, saya berangkat ke kantor tanpa mencium anak-anak saya satu persatu. Saya pasti sudah tertular sikap ‘mayat hidupnya’ sekarang. Bukan main sesaknya hati ini dia buat….

*udah di posting di blog nih mih, makasih udah cekikikan lagih :P masih buleh internetan kan? plisss [sambil usapp-usap rambut mami sayangggg banget muach :-*]*

SEDANG INGIN DIBOHONGI....

betapa inginnya aku dipeluk dan dibohongi...
pliss katakan padaku sambil menggenggam tanganku dan memelukku,
bahwa masih ada langit BIRU yang bisa kulihat,
bahwa aku tak usah takut, semuanya akan kembali seperti yang kuiinginkan,

betapa inginnya aku merengek-rengek dan dibohongi
pliss katakan padaku sambil menatap mataku dan membersihkan airmataku,
bahwa aku tak akan lagi disergap sunyi dan takut karena kamu akan selalu ada di sisiku....

:(( :(( :(( :((

Sabtu, 2009 Juni 27

RED CHRONICLE: EVERY MAN DO IT ANGEL!

TRACK 6

Seperti yang kalian duga, hari-hari berikutnya, pekerjaanku adalah hanyalah menunggu telepon darinya. Tapi, bahkan satu misscall pun tak kuterima. Oh aku memang payah, harusnya aku bertanya nomor hp-nya, nomor rumahnya. Aku cukup punya gengsi untuk bertanya pada teman-temanku. Apa nanti mereka bilang? Oh si Red sekarang masuk bursa persaingan juga akhirnya? Gak tanggung-tanggung saingannya Ketua yang terhormat dan Playboy kawakan, buruannya si Angel Cry lagi. Wanita berparas manis, tidak terlalu cantik tapi sangat menggoda iman itu. Oh tidak! Terima kasih banyak!

Tapi walaupun nanti aku punya nomor Hp-nya rasanya aku tak akan berani menelponnya. Apa nanti yang akan kubilang padanya? Biarlah aku menunggu saja! Dan menunggu itu Teman, bisa membuatmu gendeng se-gendeng-gendengnya. Sialnya, gak ada lagi acara nongkrong-nongkrong di jalan bersama anak-anak Majak. Yang aku tahu anak-anak Majak tidak lagi nongkrong di jalanan, tapi sudah masuk cafe baru yang ada di Malang, executif flame...dan aku tak punya semangat untuk mendengar musik dugem diputer kencang-kencang dengan manusia-manusia teler. Ohhh sekali lagi TIDAK! THANK YOU VERY MUCH! Padahal mungkin itu satu-satunya jalan untuk bertemu dengannya lagi. Ah mungkin aku seharusnya main saja ke rumahnya. Tapi untuk alasan apa? Kangen? Ahhh dia bisa menertawakanku habis-habisan. Tepat di saat penantianku itu, sebuah kabar kuterima dari sebrang pulau. Aku harus pulang ke Madura.

Teman, sungguh aku ingin sekali bercerita tentang perjalananku itu. Tapi aku tak berani, biarlah ini menjadi rahasia hidupku. Satu-satunya orang yang akan kubagi cerita sedihku hanyalah seorang wanita pujaan yang akan jadi istriku kelak. Kalau nasib pada akhirnya menjodohkan aku bersanding dengan si Angel Cry di pelaminan, mungkin kalian akan bisa menyimak kisahku. Jadi tolong berdo’a untukku, agar dia menjadi wanita yang terbaik dan terakhir dalam hidupku. Biar bisa kuceritakan kisah hidupku selengkapnya untukmu Teman.

Akhirnya aku kembali ke Malang tiga minggu kemudian. Masih membawa beban dari rumah. Masih senewen, frustasi, stress, depresi, apalah namanya yang pasti keadaanku sedang sangat memprihatinkan. Aku bekerja di bengkel sampai badanku lengket dengan oli, padahal aku bisa saja hanya duduk-duduk menghadapi meja dan komputer, mengatur ini itu, memerintah kesana-kemari. Tapi pikiranku sedang kacau Teman, dan aku tak mau jadi gendeng beneran, maka kusibukkan diriku. Bayangan Angel Cry hanya sekilas-sekilas saja hinggap di otakku. Selebihnya kosong, cape, lelah.

Sampai suatu sore. Sebuah nomor esia malang masuk ke hp-ku. Aku tak menyangka bisa mendengar suaranya lagi.

”hallo, ini Red bukan?”
”iya betul, ini siapa ya?” pura-pura teman, padahal sebenarnya hatiku seperti tersiram es, sejuk rasanya mendengar suaranya.

”Tetra mas, lupa ya?”
”ohhh tetra...apa kabar?”
”baik mas, mas red kemana aja sih? Kok jarang keliatan?” ada rasa kecewa ketika dia menyebutku dengan Red, bukankah dia sudah tahu namaku, bukankah dia memanggilku dengan Mas Angga...dengan desahannya...ah Angel, kau sudah lupa padaku rupanya?

”aku habis pulang kemaren”
”pulang kemana?”
”ke Madura, aku kan asalnya dari sana”
”ohhh tetra pikir mas angga asli Malang” ah akhirnya Mas Angga keluar juga dari mulutnya.

”trala apa kabar?” aku sudah tak sabar ingin memanggilnya dengan nama itu, tapi takut dia lupa, tadi kan dia belum memanggilku dengan panggilan kesayangannya itu.
”ih nanya kabar lagi, tadi kan udah mas”
”oh udah yah? Hehehe...” sungguh tolol kamu Red.

“Mas Angga gak kangen sama tetra?” aduh, kangen banget sampai rasanya mau pergi sendiri aja ke Rumah Sakit Seger Waras, gak nunggu dijemput ambulan.
“trala sendiri kangen gak sama aku?”
”kangen dong, makanya aku telpon” ahhh sungguh gendeng cewek yang satu ini. Aku bisa mati berdiri dibuatnya nih.
”kirain lupa”

”ih mas angga tuh yang lupa, mas angga gak main ke rumah tetra?” harusnya semua cewek seperti ini Teman, harusnya semua cewek kalau menghadapi cowok cupu, kurang PD, dan buruk rupa seperti aku punya inisiatif seperti ini. Kamu setuju bukan?

”emang boleh? Nanti ada Entit? Nanti ada ketua?”
”ihhh gak usah nyebut-nyebut mereka deh”
”beneran nih aku boleh main?”
”mas angga tadi kan aku yang nanya, ya pasti boleh dong...”
”tapi Entit...”
”ehhh awas kalau di depan Tetra jangan nyebut namanya” nah itulah alasannya Teman, kenapa di cerita ini aku menamainya Entit, karena kalau menyebut namanya di depan Angel Cry aku harus melakukan sensor...Titttttt...jadilah dia kupanggil Entit.

Sebenarnya aku ingin pura-pura sibuk dulu. Tapi aku sudah tak sabar bertemu dengannya lagi. Jadi kubilang padanya, malam ini aku akan main ke rumahnya. Dengan cepat aku memberi perintah kesana-kemari. Para pegawaiku sempat heran, tapi kemudian mulai usil kurang ajar.
”walah rek, malam minggu, kencun...kencun...si boss”

Aku cuma nyengir. aku bahkan baru sadar kalau itu malam minggu. Hmmm, ada apa nih? Tak salah dong kalau aku mengharap satu kecupan....hahahaha...dasar cowok!

Rasanya aku mandi lama sekali. Bahkan seperti cewek aku bingung mau pakai baju apa. Baru ketika aku menatap cermin, aku sadar betapa tololnya aku, jangan-jangan dalam pikiran gendengku aku berniat pakai bedak dan lipstik. Gendeng...gendeng....

Jam 7 malam aku yang sudah rapi sudah ada di rumahnya, aku kembali merasa sangat tolol ketika dia hanya memakai kolor dan kaos sekedarnya. Kembali rasa minder menyeruak dalam jiwaku. Oh sialnya ternyata dia hanya ingin memuntahkan sejuta makian buat Entit. Malangnya nasibku ibu.

”anjing banget dia mas, masa tetra cuma dimanfaatin aja sama dia? Dimanfaatin biar dia bisa melupakan ceweknya, gak ngerti deh apa sih yang ada dalam pikiran cowok macam dia?” aku terkejut mendengar makiannya, akhirnya sampai juga aku pada saat dimana aku terpaksa tahu keburukannya, dan only God knows aku sangat tidak suka cewek yang senang mengeluarkan sumpah serapah, gak ilok...jelekkk...jelekkk sekali! Tapi hanya Tuhan juga yang tahu kalau kali ini aku melakukan pengecualian, aku toh masih bisa merubah kebiasaan jeleknya kan? Aku berharap Tuhan juga tahu kalau aku ingin dia juga melakukan pengecualiaan seandainya dia tak suka cowok medok seperti aku.

Jadi aku duduk di sampingnya, mendengarnya terus memaki Entit, aku bosan! Aku muak! Tapi harus kudengarkan juga. Terpaksa. Kuanggap dekat bersamanya satu paket juga dengan makian dan Entit.

“makanya udah lupain dia, ngapain maki-maki seperti ini...jangan temuin dia lagi”
”tetra gak pernah nemuin dia, dia yang mendekati Tetra”
”ya kalau mendekati lagi, jauhi dong”
”jauhi gimana? Dia datang ke rumah tengah malam, pagi buta...masa Tetra suruh pulang? Kan kasihan”

”ya udah terima kalau begitu, terima dia walau Trala lagi tidur pules ada dia datang, bukakan pintu, dengerin cerita-ceritanya tentang ceweknya...” persis seperti yang kulakukan sekarang, datang hanya untuk mendengar ocehannya tentang Entit. ”jangan salahin aku ya kalau nanti Trala tambah sakit” aku tak bisa mengerem nada sinis dalam suaraku, bodo amat!
”mas gitu sih?”

”lha gimana lagi tho? Trala sendiri yang bilang kasihan sama dia, Trala sendiri sadar sudah dimanfaatin, ya teruskan saja”
”tuh mas gitu...” jancikkk! Dia mau mewek...pliss jangan di depanku pliss...nanti saja kalau aku sudah pulang nangisnya! Pliss...

”aku yo heran? Sudah tahu seperti itu, masih saja berharap, Trala itu punya harga diri gak sih?” oh aku kelepasan...aku sudah keterlaluan! Dimana kesabaranku berada? Dimana rasa empatiku? Dimana? Kenapa jadi seperti ini? Dia pasti menangis kali ini....oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan?

”jadi mas, kalau aku masih dekat dengannya aku tak punya harga diri gitu ya?” lagi-lagi aku salah. Dia malah menatapku dengan tajam, nada suaranya serius. Tapi ini justru lebih berbahaya.

”apalagi itu namanya? Sudah dicampakkan masih mengemis-ngemis...” walah...aku malah makin sinis. Maafkan aku Angel!

”ohhh jadi gitu ya? Jadi gitu pikiran kalian para lelaki...hmmm...anjing!!! monyet tahu gak sih?” dia marah...aku pun tersulut....
”salah sendiri, kalian kaum cewek mau aja dimainin, dimanfaatin...”

”kalian para lelaki ternyata sengaja memainkan kami? Memanfaatkan kami?” dalam otakku yang penuh imajinasi, kami berdiri di Padang Kurusetra, saling menatap tajam penuh kebencian dan kemarahan. Dia berdiri mewakili kaumnya, kaum perempuan dan aku berdiri di kelompok yang akan jadi lawannya, aku mewakili kaumku, kaum lelaki. Semua senjata saling teracung, siap memuntahkan kematian.

”kalian senang dimainin? Senang dimanfaatin?”
”siapa bilang kami senang?”
”apa itu tadi namanya kalau bukan senang, padahal jelas-jelas sudah tahu dimanfaatin, tetap saja gak mau menjauh?”
”kalian yang sengaja membuat kami seperti itu? Kalian sengaja menjerat kami hingga ketika tahu kami sudah dimanfaatin pun kami tak bisa menjauh...Ya ampun, harusnya kalian semua para lelaki belajar hukum, tak bisa tidak ini sudah masuk delik”

”delik?” kenapa tiba-tiba jadi kesana? Aku menatapnya sedikit takjub.
”tindak pidana mas!”
”tindak pidana?”
”Kejahatan mas, kejahatan?”
”hah?”

”hah heh hah heh...kalau delik udah ada unsur kesengajaan, udah jelas ada unsur perencanaan, hukumannya diperberat mas, ibaratnya pembunuhan dihukum 15 tahun, tapi kalau terbukti pembunuhan tersebut dilaksanakan dengan perencanaan, ancaman pidananya jadi 20 tahun mas, bahkan bisa seumur hidup, bahkan bisa hukuman mati!”

Aku makin terperangah, hanya satu kalimat singkat yang bisa kuucapkan padanya...”gemess aku...” sambil kutarik rambut panjangnya. Dia sama terperangahnya sepertiku, mulutnya bergetar, antara mau meneruskan ocehannya atau tidak. Yang terjadi dia malah tersenyum malu.

”hehehe, maaf mas, kayakna otakku pindah ke pengadilan”
”hahahaha....pengacara rekkk...” aku lega, rasanya aku baru mendapat keajaiban, tak kusangka pertengkaran pertama kami bisa mencair dengan begitu mudahnya.

”keluar yuk mas, aku lapar, mas angga udah makan?”
”keluar? Gak malu jalan sama aku?”
”kenapa malu?” dia menatapku dan tangannya sudah bergerak menuju wajahku, aduhhh Angel, mau kau bikin celanaku sempit lagi ya? Kali ini aku menghentikan tangannya, kupegang pergelangan tangannya.

”jelek ya wajahku?” Oh Tuhan, aku lelaki kenapa bisa mellow seperti ini?
”kata siapa? Aku suka...” beneran suka? Ah gombal kamu Angel! Memangnya aku tak tahu wajahku sendiri? Memangnya aku tak paham apa yang ada di otak wanita sepertimu? Aku mulai merasa minder syndrome menyerangku saat itu.

”bohong” ya ampun, aku merasa seperti cowok yang belum di sunat.
”kenapa bisa seperti ini?” kebetulan sekali kau bertanya Angel. Jadi akan kujawab dengan jujur.
”kenapa ya?” terlebih dulu ku gerakkan bibirku ke kiri dan ke kanan. Refleks. Selalu seperti itu. Mudah-mudahan tidak kelihatan kekanak-kanakkan. ”jerawatnya banyak dulu”

”kok sekarang gak ada?”
”ya kukeluarin”
”keluarin apanya? Jerawatnya dipencet gitu?” dia bertanya, wajahnya tak bisa menyembunyikan kengerian.
”hmmm...jerawat muncul karena banyak nahan, setelah gak ditahan dan dikeluarin sembuh, tapi ya jadi gini wajahku”
”aduh gak ngerti tetra mas” harusnya dia mengerti. Tapi baiklah, jangan kaget jika aku vulgar ya Angel.

”horny..lalu...” jari telunjukku yang kiri kumasukkan dalam kepalan tangan kanan, kugerakkan ke atas ke bawah...masa gitu aja gak ngerti sih?
”wow?!” dia masih terperangah...”Oh My God...”
“kenapa sih? Masa masih heran? Cowok kan biasa gitu? Semua cowok pernah melakukannya...”
”Oh Mas Angga...” ahhhh lagi-lagi dia menyebut namaku dengan desahan seperti itu, tangannya sudah menyentuh wajahku dan mengelusnya. Jancikkk jancik!

”kenapa?” aku menggerakkan alisku, menggodanya. Refleks lagi. Selalu seperti itu, susah sekali untuk kuubah.
”Oh Mas Angga...”
”Kenapa sih? Aku kan laki-laki, Trala...benci sama aku?”

”mas, ternyata mas angga udah bisa sendiri....padahal tadinya tetra....”
“kenapa tadinya trala?” lagi-lagi kugerakkan alisku.
”tadinya tetra pikir mas perlu dibantu....” dia menjawabnya sambil tersipu. Cewek yang satu ini paling bisa bikin celana tiba-tiba jadi sempit. Tapi tidak malam ini Teman, aku bukan laki-laki seperti itu, aku pun yakin dia pun tak seperti itu. Dan kali ini aku bersyukur, setan gondrong itu tak datang untuk menggodaku.

”yuk, katanya mau keluar, sudah lapar kan?”
”ok, tunggu ya mas” dia bangkit dan menuju kamar, pasti mau ganti baju, berdandan. Akhirnya aku cukup berharga juga untuk membuatnya berusaha tampil cantik. Bukannya dia tak cantik. Tapi aku selalu merasa special kalau ada cewek mau berdandan buatku. Lagi-lagi aku kecewa, dia hanya mengganti kaosnya, memoles sedikit bedak, dan memakai lipstik tipis. Bahkan dia tak mengganti kolornya. Dia masih cantik. Yang tercantik di mataku. Tapi aku juga ingin dia membuatku merasa special.

Ketika dia keluar dari kamar, kalimat pertama yang diucapkannya adalah:

”mas, katanya tadi setiap cowok pasti gituan ya?”
”gitu apa?”
”ya gitu” dia tampak malu menyebutkan nama ritual laki-laki, dia juga sepertinya tak punya keberanian untuk mempraktekannya lewat tangan seperti yang tadi kulakukan.
”onani maksudnya?” wajahnya merah padam. Indah sekali melihatnya malu-malu seperti itu.
”hu uh...”

”ya semua laki-laki melakukannya”
”wow, berarti SBY? Hidayat Nur Wahid? Yusuf Kalla juga?”
“hahahaha, ketika muda mungkin iya!”

Malam itu kulewati berdua dengan Angel Cry. Tak ada yang istimewa, obrolan biasa. Sekali-kali dia mengeluarkan makian. Sekali-kali dia menyentuh wajahku dan mengusapnya pelan. Sekali-kali aku menggerakkan bibirku ke kiri dan ke kanan. Sekali-kali pula kugerakkan alisku. Oh Tuhan, aku tahu setelah ini akan banyak waktu yang kulalui bersamanya. Aku sungguh berharap dia merasakan apa yang kurasakan. Atau setidaknya dia tahu aku menyukainya. Aku merindukannya setiap saat. Aku jatuh cinta padanya. Aku, seorang Prajurit rendahan jatuh cinta pada seorang Putri, seorang bidadari dari negeri kahyangan. Bisakah aku mengumumkannya pada dunia?

*fitnah atau kenyataan seperti itu bahwa setiap laki-laki melakukannya, ada yang mau klarifikasi?*

Sabtu, 2009 Juni 20

A, AJAK TETRA NONTON TAUFIK DUNGS...:-s

Ah, lagi-lagi kepengecutan....
Ingin rasanya menyapamu dan memintamu agar mengajakku ke senayan,
tapi aku tak berani, takut kau menolak, takut tanggapanmu begitu antusias dan aku ketakutan...

Aku tahu kamu disana menungguku untuk menyapamu...tapi tak kulakukan, aku memilih untuk diam, menunggu, dan merasakan rindu ini makin hari makin membusuk....

ah selalu saja aku GR...padahal yang ku tahu kamu sudah melanjutkan hidup tanpa membawa serta diriku dalam hidupmu :)

bukankah aku sendiri yang telah menolakmu datang ke hidupku....

Pliss cobalah temukan Tetra A, sapa Tetra, ajak tetra nonton Taufik Hidayat di senayan....
:(( pliss....

Selasa, 2009 Juni 16

SELINGKUH DALAM HATI SAJA…


“kapan nonton bareng”
”haha. Menggelikan sekaligus memilukan, sedang menulis---tentang kamu---, mendapat sms, kapan yah? Film apa?”
”duh, ngajak nonton malah diketawain, nasib...nasib...”
”belum ada film yang bagus, nanti aja tunggu film yang banyak adegan mesranya...hahahaha” (tidak kukirimkan, tertahan di arsip)

Huh, apa yang sudah kulakukan? Berkali-kali pertanyaan itu menggedor-gedor otakku…
Pasti kamu tahu banget apa yang sedang kulakukan…yeah aku akan menuliskannya walau aku sudah berjanji untuk tak lagi menulis tentang kamu, karena tadinya aku begitu malu dengan perasaanku, malu karena selalu mengingkarinya…yeah emangnya apa yang bisa kulakukan? Membiarkanmu datang dalam hidupku dan menjadikanmu pahlawan…logikaku bilang: TIDAK BISA! TIDAK BOLEH! JANGANNNNNN….

:( kau pasti tahu aku sangat sibuk akhir-akhir ini, sibuk membunuh bayanganmu dari otakku, sibuk mengalihkan perasaan, sibuk meluapkan rasa perih yang datang setiap kali aku mengingatmu :( maafkan aku! Selalu hanya itu yang bisa kukatakan, tanpa aku bisa menjelaskan kenapa? Kenapa hanya selalu maaf? Kenapa aku tak bisa membuka hidupku untukmu? Sedang hatiku begitu ingin :( kenapa? Sejujurnya aku juga tidak tahu jawabannya!

Mungkin karena aku takut ketika kuizinkan kau memasuki hidupku, aku tak menemukan sosok yang selama ini kukenal, mungkin aku takut kau berlari ketika tahu aku bukanlah bidadari terindahmu, aku bukanlah sosok luka terkuat yang selama ini kau kenal...

Tapi sama seperti aku yang merasa mengenalmu, aku pun tahu kau amat mengenalku, segala ketakutanku, segala alibi, segala obsesi, semua kekuranganku....bagaimana caranya aku menghadapi masalah, bagaimana caranya aku menghadapi perasaanku sendiri...kau amat mengenalku lebih dari siapapun....

Kamu yang kukenal adalah kamu yang tak pernah menyerah...selalu datang bukan hanya di mimpi-mimpiku, tapi juga terus berusaha masuk dalam hidupku....pliss jangan berpikir kau begitu buruknya kalau sampai sekarang belum kuizinkan kau masuk ke dalam hidupku....Kau pun tahu bukan karena itu! Ah kau begitu baiknya....yang terbaik yang pernah menyapaku, hingga aku tak berani menjadikanmu seseorang dalam hidupku...keberanianku hanya sampai pada menjadikanmu tokoh fiktif sama seperti yang lainnya....

Terkadang aku berpikir, bisakah kita memulainya dari awal lagi? Dari awal ketika kau menyapaku? Mencoba mengenalku....bisakah? ah seperti anak kecil aku ini, kau dan aku sama-sama tahu kalau hal yang sama gak akan pernah terjadi dua kali...

Sekali lagi pertanyaan itu: APA YANG SEDANG KULAKUKAN? Membunuh perasaan dengan perasaan yang lain? Sangat menggelikan sekali! Aku memposisikan diriku sebagai kamu, berpikir sama seperti yang kau pikirkan, mengidentifikasikan diriku sebagai kamu, lihat saja diriku sekarang, celana pendek selutut, kaos, dan sebuah kupluk yang bertengger di kepalaku, menggelikan memang, bahkan sekarang aku sudah mendandani diriku seperti bayanganku tentang kamu...maafkan aku...duh lagi-lagi pernyataan maaf itu....

Makin aku mengenyahkanmu makin besar kau menginginkanku....begitu pun aku, semakin kau kuhindari semakin besar keinginanku untuk berlari ke pelukanmu....

Sudah kucoba membunuhnya dengan perasaan yang lain, hasilnya NOL BESAR! Bagaimana itu bisa berhasil padamu? Sedangkan yang terjadi padaku, aku malah berubah menjadi orang lain....berubah jadi kamu yang gagal mengenyahkan rasa itu....

Yang kujalani adalah aku begitu takut salah mengucap namanya dengan namamu, aku begitu takut meneriakkan namamu di depannya, aku begitu inginnya bercerita padanya tentang perasaanku padamu....seperti ketika kau dulu bercerita tentang dia padaku....

Mungkin dia benar, aku datang padanya hanya ketika aku butuh bantuan! Bantuan untuk melupakanmu! Betapa jahatnya aku berpikir dia bisa seperti aku yang mampu mengenyahkan bayangan dia dari otakmu...

Mengapa kau masih tak bisa melepaskanku? Mengapa aku tak bisa melepaskanmu?
Mengapa aku selalu ingin beredar dalam hidupmu....Mengapa aku selalu merindukanmu?
Mengapa hanya kamu yang kupikirkan ketika aku jatuh dalam kesakitan....mengapa aku begitu ingin kau memelukku dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja? walau aku tahu itu bohong adanya...

Kalau saja aku bisa mengajukan satu permintaan....hanya satu yang akan kuminta: TEMANI AKU PLISS...dengan cara yang kau bisa....kau pun merindukanku bukan?***

Senin, 2009 Juni 15

YOU CAN RAPE ME, ANGEL!

TRACK 5


Aku sudah berusaha menjalankan Wine sepelan mungkin agar aku bisa lebih lama bersamanya. Tapi, sepelan apapun akhirnya sampai juga aku di depan rumahnya. Wah, ini pasti sebuah kontrakan penuh dengan cewek-cewek. Pasti gak ada penjaga kos atau semacamnya, cihuyyy…aku diajak masuk ke rumahnya, asyik.

“sama siapa tinggal disini?”
“berdua sama temen” Hah? Berdua? Jangan-jangan dia tinggal sama si Entit, pliss Tuhan jangan-jangan pliss...
”berdua? Sama Entit?”
”kok mas mikirnya gitu sih?”
”lha, tadi Entit bilang ’pulang pagi’ semacam itu lah, kupikir kalian tinggal satu rumah” kujaga nada suaraku agar tak terkesan minta konfirmasi atau pun menuduh.
”bukan! Dia suka numpang tidur disini, datangnya kadang malam banget, bahkan pagi” apa? Numpang tidur? Tidur sama dia dong? Ditidurin? Aduhhh Angel, pliss perkosa aku pliss...

”aku tinggal sama temenku orang Banyuwangi, cewek kok! Kapan-kapan deh kukenalin, sekarang dia lagi pulang” apa? Temannya lagi pulang? Berarti kalau si Entit nginep disini, mereka cuma berdua,aduh Angel. Gak bisa! Aku gak bisa biarin kalian berdua di rumah ini, aku gak bisa bayangin kalian berdua dalam satu kamar yang sama...ngapain? ya mau ngapain lagi? Jancikkk! Kenapa jadi panik gini? Angel pliss perkosa aku saja pliss...

”tapi dia udah tunangan sama tentara, jadi jangan macam-macam”
“heh? Kamu tunangan sama tentara?”
”temenku mas, temenku, bukan aku, gak konsen yah? Bentar kuambilin minum deh”

Dia beranjak dari tempat duduknya. Aku bisa lebih leluasa melihat benda-benda di rumah ini. Tak ada poto sama sekali. Sebuah lemari yang penuh dengan barang pecah-belah semacam keramik. Ah pasti beli di Dinoyo nih. Satu set kursi sederhana yang salah satunya sedang kududuki. Dua buah kamar. Apa? Cuma dua buah? Satu pasti ditempati temannya, satu lagi pasti ditempati olehnya. Terus si Entit kalau nginep tidur dimana? Oh Angel, perkosa aku pliss...
Mataku menangkap sebuah televisi 21 inch di pojok ruangan, terhalang oleh semacam hijab dari rotan, di depannya ada sebuah sofa. Hmmm, aku mencoba membangun pikiran positif, ah si Entit pasti tidur disana, gak mungkin kan mereka tidur satu kamar? Pura-pura naif aja deh, biar aman.

Dia sudah datang membawa minuman, hmmm teh sih tapi kok rasanya seperti dicampur susu?
”gak apa-apa kan ada susu-nya? Adanya itu teh susu, gak punya teh asli”
”gak apa-apa kok, asal gak naruh obat kuat aja di dalamnya...” apa barusan kubilang? Woalah....aku pasti sudah gendeng atau mungkin libidoku sudah mencapai ubun-ubun. Aku tak berani menatapnya. Marah, pasti dia marah.

”hahaha, gila, ngapain naruh obat kuat? Yey...curiga nih, lagi butuh perawatan Mak Erot” Oh Angel, kejutan lagi darinya, dia malah menggodaku. Jancik! Mana siap aku diserang seperti itu?
”hahaha, kirain ngajak pulang, kamu mau perkosa aku” Oh Angel (lagi) kali ini kalimat itu keluar juga dari mulutku.

”yey...jangan-jangan udah siap grakk!”
”apaan tuh yang siap grakk?”
”hahaha ada deh” Thanks Angel, kamu tak melanjutkan pembicaraan berbahaya itu, tapi kalau kamu mau, gak apa-apa kok kalau kamu mau cium aku...ihhh ngarep banget sih Red?!
”namanya siapa sih mas?”
”ah temen-temenku kan panggil aku Red”
”ih curang! Masa gak dikasih nama sama orang tuanya?” tubuhku menegang ketika dia mengucapkan kata orang tua. Ada kesedihan yang menyelusup dadaku. Sesak aku dibuatnya.
”Rangga”

”ohhh Rangga? Kenalin aku Cinta...serius dongs ah!”
”bener, namaku Rangga, tapi di rumah aku dipanggil Angga”
”mas angga...” sumpah mati! Aku mendengarnya mendesah sambil menyebut namaku. Sekali lagi dongs, pliss sekali lagi, perkosa aku...cepetan dongs cepetan!
”yah...”
”boleh kupanggil mas seperti itu?” sambil mendesah gitu? Boleh dongs. Tapi pliss jangan sering-sering yah, sempit nih celana.

“hmmm, gimana yah?”
“ih mau manggil gitu aja gak boleh?”
“lho siapa bilang gak boleh?”
”itu tadi...”
”boleh kok...” maksudku; boleh kok sayang.
”mas angga jangan kamu-kamu lagi dongs sama tetra”
”maunya dipanggil apa emang? Temen-temen panggil apa?”
”Tetet”
”ya udah kupanggil butet”
”ihhh GAK MAU YA?!” dia cemberut. Aku tertawa. Aduh kenapa ini celana makin sempit sih?

“di rumah aku dipanggil Lala”
“kok bisa dari tetra jadi lala?”
“dulu aku cadel mas, jadi dari tetra jadi tetla, ya udah deh lala jadinya”
“aneh, tapi aku panggil trala ah”
”wow! Belum ada tuh yang panggil kayak gitu sama tetra” ah lancar sekali teman. Dia mulai memanggil dirinya dengan namanya sendiri, bukan aku-aku lagi. Pertanda bagus bukan?

”mas angga gak ngerokok?”
”nggak”
”nggak karena di rumah tetra ya?”
“aku memang gak merokok”
“masa sih?”
“iyah! Bukan berarti aku banci lho yah?”
“terus kenapa gak merokok?”
“aku gak akan melakukan hal-hal yang gak berguna, dan merokok bagiku gak berguna” suer, aku tidak sedang merayunya, aku memang bukan seorang perokok. Langka bukan?

“wow! Mas Angga...” dia terpesona. Dan lagi-lagi dia menyebut namaku yang di telingaku terdengar penuh dengan desahan, kejutannya lagi, sambil menyebut namaku dia mengulurkan tangannya ke mukaku dan mengelusnya.

Aku malu teman. Wajahku itu, wajahku itu...bagaimana aku mendeskripsikannya ya? Aku pendek, kulitku hitam, dan wajahku....tolong bayangkan saja wajahnya Dide vokalis Hijau Daun, persis seperti itu, bagian memalukannya adalah wajahku penuh dengan bekas jerawat. Jadi mirip parutan kelapa. Ah aku malu, aku minder. Anehnya aku tak melihat dia merasa terganggu dengan wajahku. Dia mengelusnya tanpa beban, tanpa rasa jijik atau semacamnya. Yang terjadi malah celanaku makin sempit dan aku ketagihan elusannya. Ohhh Angel cepat perkosa aku!

Dia terlihat mengantuk, kulirik jam, wow...01: 30, setengah dua pagi waktu Malang. Dinginnya sudah pasti, di udara dingin itu aku bersama seorang wanita yang cukup hot, di dalam sebuah rumah, cuma kami berdua, woalah setan ada dimana kamu? Kenapa tak jua kau goda aku sampai aku punya keberanian untuk menyentuhnya. Dia terus-terusan menguap...pliss Angel, kamu tidak sedang berusaha mengusirku kan? Ohhh pliss Angel? Bukannya kamu mengajakku pulang karena ingin memperkosaku kan? Ahhhh dia menguap lagi...setan sialan! Kalau lagi dibutuhkan saja gak tahu minggat kemana...awas kalau ketemu, akan kubuat botak kamu setan! (aku membayangkan setannya gondrong).

”ya sudah aku pulang yah?!”
“kok pulang sih? Tetra sendirian dongs?” apa? Ini beneran apa basa-basi sih?
“jadi aku tidur disini?” berharap sangat...sangat...sangat...
“ya udah deh kalau mau pulang...”

“eh gimana sih? Aku pulang nggak nih?” kali ini aku mendengar nada tak sabar dan sangat berharap dalam suaraku, bodo amat! Aku memang berharap kok.
“yo wisss pulang lah” aduh lagi-lagi, lucu sekali mendengarnya mengucapkan kata ‘yo wiss’, logat sundanya itu lho gak matching sama bahasa jawa yang diucapkannya...aduhhhh cium aku dongs Angel!

Aku kecewa. Terbayang di pelupuk mataku, aku di kamar mandi...ahhhh...terpaksa sekali lagi kubuang benih-benih itu di toilet...teganya kamu Angel! Aku pun bangkit. Dia mengantarku ke depan rumah, setidaknya satu ciuman saja pliss! Parah banget memang. Tapi aku lelaki, wajar kan?

“mas...” oh dia memanggilku, deg-degan aku dibuatnya, jantungku seolah sedang lari maraton, berdegup kencang, aku berbalik dan menghadapnya.
“makasih yah” ahhhh cuma sebuah elusan di wajahku seperti tadi, tapi cukup membuatku tersenyum lebar.
“sama-sama, jangan sungkan, anytime”

Dia pun tersenyum. Saat itu seharusnya aku mengambil inisiatif, ngapain kek, menyentuh tangannya kek, mengelus wajahnya seperti dia mengelus wajahku, atau bahkan menciumnya...tapi aku bukan lelaki seperti itu. Walau celanaku bukan main sempitnya. Jauh di lubuk hatiku, aku ingin menjadi temannya, bukan teman tidurnya. Aku ingin terus dekat dengannya. Bukan dekat dengannya di tempat tidur. Aku menginginkannya seperti seorang lelaki dewasa menginginkan seorang wanita pujaannya.

Aku pulang, tapi senyumku teramat lebar. Sudah lama aku tak tersenyum seperti ini. Sudah lama sekali sejak...ahhh, nanti saja itu kuceritakan. Karena sekarang ada yang amat mendesak harus kukerjakan. Bagaimana caranya sampai ke rumahku dengan cepat, berlari cepat menuju kamar mandi...dan....ah kalian lelaki dewasa, tahu pasti apa yang akan kulakukan. Terserah kalian bilang apa! Aku bukan lelaki munafik!

*wahahaha ni pasti penulisnya lagi mendamba vitamin O nihhhh dasar penulis bezatssss!!!*



Jumat, 2009 Juni 05

RED CHRONICLE; I’M JAVA MAN, SO WHAT?!

TRACK 4

Aku puas…sangat puas! Jebakan Wine kena, tepat sasaran. Ketika kugiring Angel Cry menuju Wine, aku sempat melihat pandangan tajam Ketua, oh itu pasti artinya ”awas lu macem-macem sama cewek gue!” Kubalas dengan pandangan sama tajamnya dengan sedikit senyum penuh kemenangan, cukup untuk memberinya sinyal ”tenang bung! Janur kuning belum melengkung, siapa lebih kreatif dia yang akan menang” hahahaha.

Aku membukakan pintu Wine, dan mempersilahkan dia masuk, dengan senyum mengembang dia pun duduk di belakang kemudi, dan inilah yang tidak kuperkirakan sebelumnya, kupikir dia akan bertanya tentang berbagai macam aksesoris yang kupasang pada Wine, tapi aku salah dia menyalakan MP3 dan....

kamuuu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?....”

Jancikkkk Jancikkk! Kangen band mengalun dengan dangdutnya. Wajahku pasti merah padam. Dia tertawa, menertawakanku. Ohhh hancur sudah reputasimu Wine yang macho dan cool, ternyata di balik macho-nya tersimpan hati melayu. Oh, kenapa tak kupasang Netral yang Hujan Di Hatiku yang Lebih garang dan lebih jantan?

”tak ku sangka ternyata...”
”kenapa memangnya? Jangan heran kalau lelaki shincan seperti aku kalau menyukai kangen band” ada nada sinis dalam suaraku.
”bukan gitu mas, ternyata ada juga orang yang menyukai kangen band selain aku...” Aku terperangah, ini benar-benar malam penuh kejutan, penuh keberuntungan buatku. Padahal aku sama sekali tidak menyukai Kangen Band, lagu itu kebetulan saja nyempil di Mp3 ku.

”jadi selain suka shincan, suka dengerin kangen band, hobinya apa lagi nih?”
”hobi?” hobiku berdekatan denganmu Angel! Menghirup wangi tubuhmu, memandang senyummu, kalau saja kau ijinkan aku juga pasti suka sekali mengelus rambutmu dan meletakkan kepalamu di dadaku. Wuihhhhh mupeng abis! Untung kalimat gombal kurang ajar itu tidak sampai berloncatan dari mulutku. ”hobiku ngetrack juga dongs, gak mungkin kumpul disini kalau gak suka track-trackan”
”ohh...” tampaknya dia tidak tertarik dengan hobiku.

”dimana mobilmu diparkir?”
”aku tadi datang sama Entit, si Angel Cry lagi masuk bengkel”
”bengkel mana?”
”ah deket kok dari sini, bridal car di belakang UM”
”ohhh...” aku ingin sekali bilang agar lain kali dia servis di tempatku, tapi rasanya akan ada nada sombong dari bibirku, jadi aku diam saja dan kembali merasa bodoh karena tak bisa menghidupkan pembicaraan.

“Mas udah kerja?” yesss! Dia memanggilku mas sodara-sodara.
“sudah”
“dimana?”
“di bengkel”
“wah coba kenal dari dulu kan bisa masukin si Angel Cry di bengkel sampeyan ya?” lucu sekali mendengarnya berkata ‘sampeyan’ dengan logat sundanya itu lho? Aduhhh gak tahannn...

“kapan-kapan juga bisa...” diam lagi, kangen band melolong, kuputuskan untuk bertanya “kamu sendiri, masih kuliah atau sudah kerja?”
“aku masih kuliah mas, tapi kerja juga”
”wuih hebat bengg...kuliah dimana? Kerja dimana?”
”di fakultas hukum Bra...kerjanya di kantor hukum Aristoteles and Partner”
”calon pengacara dongs?”
”hehehe...”
”pantesan deket sama Ketua” Dia tampak gerah ketika kusebut Ketua.

Setelah itu pembicaraan benar-benar kacau balau, aku diam, dia bingung, akhirnya dia pamit. Baru kali ini aku menyesal jadi cowok cupu. Padahal aku pernah punya pacar, teman wanitaku juga banyak. Aku bukan tipe pria yang suka kencing di celana ketika melihat cewek. Aku juga bukan tipe pria yang pura-pura memusuhi cewek yang kusuka. Aku normal! Tapi dia lain Teman. Dia berbeda dari kawanannya. Lihat saja apa yang dilakukannya padaku dengan sekali sapaannya? Aku bermetamorfosis dengan cepat dari seekor cowok cupu menjadi pria yang berani bersaing dengan Ketua yang Sempurna dan seorang Playboy Kawakan. Kalau bukan gendeng apalagi namanya itu?

Aku termenung entah untuk berapa lama, musik masih berdebum menderu-deru di telingaku. Celotehan manusia seperti gaung lebah di udara. Tapi tak bisa kunikmati semuanya, aku bengong, sekali ini aku benar-benar menyesali nasibku. Kalau saja dia datang lagi, kalau saja aku punya bahan pembicaraan untuk kubicarakan dengannya, kalau saja dia datang menepuk bahuku...
”mas, anterin aku pulang dongs?” hah? Ini halusinasi tingkat tinggi. Gendeng, gendeng...
”mas...bisa anterin aku pulang?” woalah biyung, apa ambulan sudah datang untuk menjemputku menuju Rumah Sakit Seger Waras?

”HEI MAS!” aku kaget, woalah ternyata sama sekali bukan halusinasi Rek! Dia nyata, matanya memandangku dengan kesal. Bibirnya mengerucut cemberut. Gemessss!

”eh, sorry, gak kedengeran...kenapa kenapa? Dianter pulang? Sama aku? Tadi katanya kesini bareng Entit? Kok pulangnya sama aku?” aku tak bisa menahan kalimat itu keluar dari mulutku, ohhh itu kesalahan besar Teman. Sungguh besar!
”heh? Gak mau ya udah deh, telpon taksi aja” dia ngeloyor pergi sambil mengeluarkan Handphonenya. Aku buru-buru bertindak cepat, kukejar dia, kupegang tangannya.

”hey, jangan marah gitu dong, ayo kalau mau pulang ku antar”
”ikhlas nih? Gak terpaksa?”
”ikhlas! Ridho!”
”bener...?”
”bener”
”beneran ikhlas?”
”ealah arek iki bencekno!” aduhhhh kelepasan lagi bicara bahasa jawa.

Benar saja, dia yang sedang cemberut dan kesal, tiba-tiba tersenyum, aku tak merasa lega dengan senyumnya. Aku tahu senyum itu menertawakanku. Gantian aku yang merasa kesal sekarang. Kesalku makin bertambah ketika aku melihat Entit menghampiri kami.

”A, tetra pulang sama Mas Red ya?” kenapa mesti minta ijin dia segala sih Angel? Memangnya dia suamimu?
“oh, ya udah deh, aa pulang pagi ya Neng” apa itu maksudnya? Aa pulang pagi ya Neng? Benar-benar pembicaraan sepasang pasutri.
“terserah deh! Yuk mas...” dia menggamit tanganku. Bukannya aku merasa jadi pemenang, tapi sebaliknya aku merasa menjadi juara yang menjadi abu. Sia-sia. Tetap saja walau jadi juara pertama aku hanya seorang supir baginya. Jancikkk!

Di jalan, aku diam, sungguh kesal aku dibuatnya! Rasanya ada sepatu yang amat besar sedang menginjak-injak kepalaku. Aku lelaki! Tepatnya aku lelaki yang merasa terhina! Tampaknya dia juga sedang kesal dan marah, tentu saja untuk alasan yang berbeda. Benar saja, dia mulai mengeluarkan rentetan Entit-nya...muak aku dibuatnya.

”monyet banget! Ngeselin banget dia jadi orang? Mas udah lama kenal dia?”
“siapa? Entit?”
“iya! Siapa lagi?”
“lumayan lah!”
“dia orangnya gimana sih?” oh bagus sekali, aku supir sekaligus spy, mata-mata!
“gimana ya? Ya gitu deh”
“gitu gimana?”
“suka ya sama dia?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Kuintip wajahnya, wow ada semburat merah di pipinya, KURANG AJAR!

”hmmm, emang keliatan banget ya?” suaranya menjadi lembut. Jancik! Jancik!
”hahaha, nggak sih, cuma firasat aja” ya iyalah keliatan banget!
”ohhh....aku cocok gak sama dia mas?” cocoknya kamu sama aku Angel. Gitu aja kok gak ngerti sih?
”cocok”
”bener?!”
”bener...”
”gak boong?”
”nggak”
”ah boong jelas-jelas gak cocok gitu”

”ealah bencekno arek iki!” Oh Tuhan kenapa kalimat itu selalu datang tak diundang seperti itu sih? Kulihat ujung matanya berkedut, keningnya mengernyit diikuti sebuah senyuman. Senyuman menertawakan! Ohhh ingin rasanya mengerem Wine dan melemparkan wanita yang sudah membuatku merasa jungkir balik ini ke pinggir jalan.

”apa sih bencekno itu? Kok lucu kedengarannya” ya Angel, bagimu aku memang badut.
”masa gak tahu? Udah berapa lama di Malang?”
“hampir 4 tahun, sering denger juga sih, Cuma gak tahu arti sebenarnya”
“makanya belajar bahasa Jawa dongs”
“gak ah! Suka diketawain. Apa sih bencekno itu?
”apa ya?”
”nyebelin ya artinya?”
”heh? Bukan kok!” iyah bencekno itu artinya, kamu nyebelin banget Angel. Kamu memanfaatkan aku. Kamu membuatku menjadi supir. Kamu membuatku jadi mata-mata.Kamu juga membuatku menjadi badut. Apa lagi yang akan kau perbuat denganku hah? Tolong, perkosa aku saja ya? Pliss!

”iyah ah nyebelin...”
”bencekno ituuu...” pura-pura berpikir...”hmmm kayakna memang nyebelin”
”tuh kan? Jadi aku nyebelin ya?” banget! Nyebelin BANGET!
”hahaha, nggak kok!” wanita suka dibohongi kan?
”huh sebal...”

Oh Tuhan wanita ini, bagaimana aku mendeskripsikannya? Lihat wajahnya, lihat matanya, lihat rambutnya, lihat bibirnya, hmmm...lihat pahanya?! Hey Red, eling...eling!!!

Arghhhh...Mau tak mau kekesalanku berkurang. Bagiku wanita yang ada di sampingku ini masih menarik. Bagaimanapun nyebelinnya, tak bisa menghapus rasa kagumku. Pelan-pelan aku merasa hidup, pelan-pelan aku merasa dia memang seorang angel, seorang bidadari...tepat seperti lagu d’massiv yang mengalun saat itu...

’ Rasa Gundah Yang Kini Melanda Perlahan Pergi
Rasa Sakit Yang Terus Menghujan Perlahan Sirna
Ku Rasa Tenang Saatku Bayangkan Wajahmu
Dan Kamu, Mengisi, Hatiku Yang Kosong
Dan Kamu, Warnai, Hidupku Yang Sepi
Rasa Perih Yang Dulu Menyiksa Perlahan Hilang
Rasa Bahagia Yang Kurasakan Saat Mengenalmu
Ku Rasa Tenang Saatku Bayangkan Wajahmu

Mungkin kalian para lelaki akan bilang kalau aku tak lebih dari seekor lelaki yang tunduk di bawah kaki perempuan, mungkin kalian akan bilang aku hanya Julius Cesar yang terpaksa bertekuk lutut di bawah kaki seorang Cleopatra. Kalian tahu betul kalau aku sama sekali bukan seseorang seperti Julius Cesar. Dan kalian juga tahu kalau dia memang seorang Cleopatra, jadi bukankah wajar jika aku rela menjadi apapun untuknya? Aku toh hanya manusia biasa...hanya lelaki biasa, amat biasa...dan lelaki biasa ini dengan percikan senyum seorang Cleopatra, siap bersaing dengan siapapun, bahkan dengan Julius Cesar sekalipun!

*masih permulaan teman. Perjuangan Red masih panjang...tolong jangan bosan dulu ya?!*