Minggu, 08 November 2009

AKANKAH KAU KEMBALI?

Dalam hatiku aku sungguh tahu,
jika tak sekejap pun dalam benakmu ada sekedar ingin melihatku lagi,

Namun, masih saja benakku menanamkan suatu keyakinan sebaliknya!
Suatu hari, yah hanya satu hari saja...
Suatu hari, akan ada masa dimana aku bisa meyakinkan diri bahwa sudah saatnya aku berlalu tanpa membawa mata coklatmu dalam benakku, tanpa menyimpan rasa sentuhmu pada wujud ragawiku...

Mungkin itu akan kuyakini pada satu hari dimana aku melihat dengan jelas bayangmu bersama orang lain, atau hanya bayangmu yang penuh dengan kedamaian tanpa aku dan imajiku di sampingmu...

Sementara menunggu satu hari itu, aku masih disini, di perempatan jalan tempat dulu kau pernah tersenyum sinis padaku,
aku masih di sini, beredar dalam kesemuan, menjadi palsu, dan meminjam wujud seseorang untuk menjadi wujud imajiku...

Pun telah ada seseorang yang melengkapi kepalsuanku dengan menjadi pemeran pendamping pria dalam lakonku...

Hanya saja, demi bertahannya seorang lala, tak akan ada lagi Pemburu Kedua...
Pemburu hanya satu, sama halnya seperti prajurit atau siapapun tokoh-tokoh imajinasiku...

Aku menunggu hingga letih otakku mengalihkan lara pada senyum tulus,
hingga ringkih tubuhku meminjamkan semangat imitasi pada gerak gesitku,

Aku disini...hanya ingin tahu...
APA AKU SEJELEK ITU?
APA AKU SEMENGERIKAN ITU?

Yeahhh...pasti kau sangat membenciku yach?

Sayang dhaniku...
:(( ketika kau membaca ini, tolong jangan muntah...

I LOVE YOU :-*
I cant forget u, who ever you are...you stole my heart :(

Jumat, 23 Oktober 2009

TETAP PAHLAWAN DI MATAKU

aku hanya ingin menyentuhmu :((
merekammu kembali dalam otakku...

aku tahu yang kau lakukan adalah sebuah pengorbanan :(
agar aku tenang dengan si teman ilusiku itu...

sungguh aku hanya ingin menyentuhmu sekali lagi saja...
dan kalau boleh kucium pipimu juga...

aku sayang sama kamu :(
yah aku sayang kamu :((

tak tega menjadikanmu bajingan...
tetap pahlawan di mataku....

Rabu, 21 Oktober 2009

UNTUK SEORANG PAHLAWAN

Dear Dhani Ahmad :-*

Sayangku, ini adalah kali terakhir saya menulis tentang kamu. [lihat! Siapa yang menulis ini? Si saya! Kamu kenal kan si saya yang itu? Si saya yang real! Si Penulis yang kamu kenal lewat rekaman 2 x 24 jam itu]

Pliss tolong, kamu tidak perlu kehilangan kehidupan kamu hanya demi seorang Tetra Putri. Kembalilah pada hidupmu. Saya tak akan mengganggu hidupmu lagi, bahkan sebatas sms pun [tentu saja karena kan saya sudah tidak tahu nomormu lagi, jangan pernah kasih tahu yach ;)) nanti saya bisa hafal, GAWAT! Hehehe]

Ya saya memang telah tahu dimana kamu berada, tapi saya memilih melihatmu dari kejauhan, telah cukup bagi saya tahu bahwa kamu baik-baik saja.

Saya minta maaf jika selama ini permainan ini begitu menyakitkan. Sungguh tiada terkira penyesalan saya. Tapi sekedar penyesalan tidak akan bisa merubah apapun. Sama seperti halnya saya yang masih kekeh dengan pesan saya “saya akan ada jika kamu butuh, saya akan pergi jika saya mengganggu”

Dan tampaknya kamu begitu ingin lepas dari saya, bahkan sampai memalsukan kematian kamu sendiri! Jadi walau saya sering membohongi kamu dan mempermainkanmu, saat ini percayalah saya ingin kamu baik-baik saja.

Kembalilah pada saya jika kamu mau. Tapi pliss kamu HARUS kembali pada hidupmu, jangan lagi menghilang hanya sekedar untuk menghindari saya. Kembalilah!

Jika ini masih berarti saya hanya ingin bilang: SAYA SANGAT MENYAYANGI KAMU. Maaf jika yang saya punya hanya kata-kata. Tapi YA SAYA SANGAT MENYAYANGI KAMU.

I LOVE YOU DHANIKU :-*
[saya sangat menyesal ketika saya disampingmu, saya tidak menghempaskan rasa malu saya dan nekad membisikkan kalimat itu di telinga kamu, barangkali saja kalimat itu berarti buat kamu dan bisa membuat suatu perbedaan *ngarep*]

Kembalilah! Jangan takut! Saya tidak akan mengganggumu lagi :)

xCintamu
Lala

NB: kamu baca juga kan cerita saya di ‘catatan’ sebelah?

Sabtu, 12 September 2009

EDISI BERCELANA: KEMANAPUN AKU PERGI...

KELANA TUJUH

”ngaripuhkeun kolot we hayuh sia mah jadi jelema teh”
[terekam jutaan tahun lalu berasal dari makian ayahanda, papi tercinta almarhum :-*]
***
Direkam oleh: A Bud

Shock bukan main ketika melihatnya terbaring dengan mata sendu dan berleleran air mata, sementara kepalanya tergantung di pinggir tempat tidur, tak ada isak tangis sama sekali, hanya wajah sepucat kapas dan dengung laptop lirih menyenandungkan lagu Close To You-Gail Blanco yang ada di sampingnya. Aku menghampirinya dengan panik, air matanyalah yang membuatku yakin kalau dia masih bernafas.

Kuulurkan tanganku, kuangkat kepalanya ke atas kasur, tak lupa kuusap air matanya dengan ujung telunjukku.

”jangan menangis, ke dokter ya?”
Dia mengangguk. Aku segera membawa dia ke dokter pribadinya. Diputuskan malam itu dia harus opname. Tak membuang waktu aku segera membawanya ke salah satu rumah sakit di kota ini. Kupastikan dia mendapat ruang terbaik dan pelayanan terbaik.

Kenapa Tuhan? Setelah dia kembali padaku, masih juga ada yang mengintai untuk memisahkan kami.
***
Direkam oleh T3T

Setelah resmi kepala gundul dul dul pacul abis, lingkar dada mengecil hingga bra longgar dan membuat nenen lonjak-lonjak setiap aku jalan, plus tak ada lagi celana yang muat saking longgarnya karena pinggangku mengecil (sampai terpaksa harus memakai jepitan kayak celana jojon) akhirnya...aku limbung juga.

Aku selalu ingin tahu jika saja tak ada orang yang menemukanku akankah sekarang aku bercumbu dengan maut? Mungkin saja kan? Tapi kenapa aku masih diselamatkan? Kenapa masih ada orang yang tersesat pada waktu dan tempat yang tepat untuk menolongku?

Aku ingat suatu hari di awal aku sakit, aku menyeret diriku menuju myz, bersusah payah membuka pintunya, dan menenangkan diri. Aku tahu konyol jika aku memaksa diri untuk membawa diriku sendiri ke rumah sakit. Teman-temanku kos-ku tak satupun ada di kosan untuk kumintai pertolongan, kutelpon satu persatu tak ada yang angkat. Sementara temanku yang lain yang kuhubungi via telpon nampak sibuk dengan urusannya. Jadi aku kembali menyeret langkahku menuju rumah sebelah, aku mengetuk pintu, dan mengenyahkan segala gengsi. Dan yah akhirnya sang tetangga yang sering kumaki karena keberisikannya itulah yang kemudian mengantarku ke rumah sakit.
[apa kabar Mas Agus? Masih ingatkah dikau dengan perempuan ganas yang suka ngomel-ngomel ketika kalian nonton BF dengan berisik?].

Pernah juga suatu waktu oksigen di kamarku menyusut, tenggorokanku tercekik, tak ada suara yang keluar dari mulutku, sebelah tubuhku kaku, gelap....di sisa-sisa kesadaranku kujatuhkan tubuhku ke lantai dan ngesot menuju pintu, kubuka pintu...hanya sampai sana. Entah berapa jam aku tak sadarkan diri, ketika aku terbangun, ruangan masih gelap, sebelah tubuhku pun masih kaku, sakit yang tiada tara kurasakan pelan-pelan menjalar dari dadaku. Kupukul dinding sekuat tenaga, terus kupukul hingga teman-temanku terbangun dan membawaku ke UGD salah satu rumah sakit.

Dan sekarang aku terbaring di ruang pucat masih rumah sakit yang sama seperti dulu. Bedanya hanya seseorang yang menemaniku sudah berganti. Kupandangi dia. Aku berusaha mengenyahkan segala prasangka buruk tentang keringkihan diriku ini. Sampai akhirnya aku menyerah pada kesadaran bahwa dimanapun aku berada, kemanapun aku berlari akan ada orang-orang seperti dia yang jadi korban dari keringkihanku ini. Pada akhirnya aku harus pulang jua. Aku harus kembali ke kotakku. Kotak yang kemarin kutinggalkan. Yeah aku harus kembali agar tak ada lagi orang panik dan shock karena ketidakberdayaanku.

”Mas...” aku memanggilnya.
”ya....perlu apa? Biar kuambilkan”
”tetra mau pulang”
”iyah nanti kita pulang ya? Kita masak lagi...belanja lagi...nonton...sahur dan buka bareng...” keningku mengernyit mendengar kalimat panjangnya yang di telingaku terdengar seperti igauan itu.
”maksudku, hubungi keluargaku, suruh mereka menjemputku, nomornya ada di...”
”aku sudah menelpon mereka, mungkin sore mereka sudah sampai sini”

”owh makasih yah mas”
”iya sama-sama”
”maksudku makasih untuk semua yang udah mas lakukan tadi malam, makasih udah kasih aku tumpangan dan terima kasih sudah menemaniku belanja, nonton, masak, sahur, buka...walau aku gak puasa, hehehe”

”ngomong apa sih arek iki?”
“iyah mungkin mas gak sadar kalau apa yang sudah mas lakukan itu berarti banyak buat tetra” air mataku meleleh.
“hey, udah dong jangan nangis lagi, jangan takut ya…”
”aku gak takut, eh aku sudah gak takut lagi, hanya saja aku selalu sedih kalau ada orang yang selalu direpotkan sama aku”

”jangan sedih...biasa...hidup itu saling tolong...”
”hehehe PPKn banget tuh hidup harus saling tolong....”
”nah ketawa lebih manis”
”kok baru nyadar sih? Aku bukan hanya manis tahu, tapi juga seksi” aku berkata begitu sambil memelorotkan kerah baju hingga setengah tiang, eh setengah dada.
wa bencekno arek iki...”
”eh mas ambil laptopnya mas dongs, hehehe, mau panen nih...”
“oalah pantes bangun pagi-pagi kirain kangen sama aku ternyata facebook maneh...”
”kayak dirimu nggak aja wew, coba sini kan blackberrynya. Sehari tanpa bb bisa gak?”
”ya bisa dongs” dia berkata begitu sambil buru-buru menyimpan bb-nya di saku baju. Disembunyikan dariku.

”huahahahaha katanya bisa....”
”oalah perlu iki buat urusan kerjaku”
”alah...udah ah ambilin laptopnya, nanti tanemanku busuk....”

Hmmm, dan pertanyaanku pun terjawab sudah, kenapa aku masih belum juga bisa bercumbu dengan maut? Tentu saja karena ada pagi yang begitu indah untuk kuisi.

[kuisi dengan macul, nanem, en panen, jangan lupa ternak hayam, meri, sapi, kuda, kelenci, embe, dan segenap domba baik domba bodas maupun domba hideung, heyyyaaaa...huahahahahaha--yang gak maen Farm Ville gak bakal ngerti, huehehehe]

Jumat, 11 September 2009

SEMOGA CEPAT...

Baiklah, aku kalah...yeah aku kalah...
Kau sedang membalasku kan sekarang?

Baiklah, aku tahu rasanya sekarang...
yeah sakit sekali...bingung...dan sangat rindu...

Semoga cepat aku bisa menyentuhmu...
Dan setelah itu seperti yang kutahu kelanjutannya...

Dan Ya aku siap...aku siap jika kau pergi...

:( :((

Kamis, 10 September 2009

AKU TELAH MENGERTI KEBOHONGANMU

BIDADARI:

“Dengar ya, aku sudah tak mau bertemu denganmu, aku tak bisa melihatmu mengasihaniku, membuatmu selalu ingin di dekatku, membuat pekerjaanmu kacau balau, sudah saatnya kamu melanjutkan hidup sayangku, tentunya tanpa aku…aku senang jika kamu sudah punya rencana untuk melanjutkan hidup…pliss tolong jangan masukkan aku dalam agenda hidupmu…”

Aku menutup telepon dan menyeret koper menuju bandara, selamat tinggal sayangku…mungkin ini bisa menjauhkanmu dariku…

PEMBURU:

Aku menuju ke kotamu, tunggulah!

BIDADARI:

Hmmm, akan seperti apa ya jika dia melihatku sekarang? Masihkah dia mengenaliku?


DI KOTA BIDADARI:


PEMBURU:

Aku sudah di kota ini 3 hari. Tapi tak kutemui jejaknya sekalipun...dimana dia?

BIDADARI:

Sayang ada dimana sekarang? Ya ampun Lala tunggu, sayang kok gak muncul-muncul....

Kenapa gak menghubungi Lala?

PEMBURU:

Bagaimana bisa menghubungimu? Telponmu mati...

BIDADARI:

Lho sayang kan bisa telpon temennya Lala, sayang dimana sekarang?

PEMBURU:

Di jalan Bandung nih, nunggu teman, jam1 nanti berangkat ke Surabaya,

BIDADARI:

Ohh....


Ternyata dia memang tak berniat menemuiku, dia kesini bukan untuk membawaku pergi, entah siapa yang ditemuinya di kota ini. Argggg lebih baik aku mencarinya ke jalan itu...

***

”eh ini dari bandung yah? Eh Tangerang?”

“iya...”

“ada yang namanya Dhani gak? Bisa tolong panggilkan dia, pliss...”

lelaki yang dimintai tolong memperhatikan wanita yang tampak kebingungan itu, sebelum dia memanggil orang yang dicari wanita tersebut, di matanya wanita itu terlihat seperti mayat, pucat, memakai kaos putih yang terbungkus sweater warna putih juga, celana pendek, dan kepalanya tertutup kupluk, matanya tampak was-was, lelaki yang dimintai tolong mengerutkan kening, heran dan bertanya-tanya dalam hati, siapanya Dhani nih? Kenapa tiba-tiba bintang seperti berjatuhan ketika dia berjalan? Kenapa burung-burung tiba-tiba terbang menuju ke arahnya? Seperti dia sebuah magnet, lihat saja semua mata dari setiap makhluk menatapnya....mengagumkan sekaligus misterius!

”Dhan...ada yang nyari nih?”

”siapa?”

”cepet kesini makanya”

Orang yang dicari mendekati mereka, dia menatap sang wanita.

“siapa ya?”

Wanita itu tersenyum sedikit miris karena orang yang mengaku kekasihnya itu sudah tak mengenalinya, dengan sedikit berjinjit dia ulurkan tangannya untuk mengusap wajah si lelaki.

“sayangku....”

Pemburu tersentak kaget, menatap penuh rindu,

”cintaku....”

diciuminya tangan sang bidadari. Mereka berpelukan.

”cun lala-nya sayangku...”

Muach :-* diciumnya pipi sang bidadari...lalu....

***

”Tet...tet...bangun sahur....!”

”heh...”

Arghhhhh sialan lan lan lan...Cuma mimpi rupanya...kuusap pipiku, ciuman itu...aku tersenyum, kedamaian lagi...huh kuhirup dengan penuh perasaan. Hmmm lebih baik kutelpon dia.

”hallo, sayang dimana?”

”di Cepu nih...”

“tinggal dimana?”

“di rumah orang...”

“hmmm....lala kangen....”

Bla bla bla....

Suara dengung komputer, suara ketukan keyboard di latar belakang...pernah kudengar suara itu ketika kutelpon dia di ruang kotaknya.

Ha ha ha ha. Sigh. Ternyata dia masih disana. Yeah romantisme usang seperti tadi memang hanya hadir dalam mimpi. Di dunia nyata yang tersisa tinggal KEBOHONGAN!

Note: yeah aku tahu, kau pasti tertawa prajurit dan kemudian menudingku ”rasain...karma tuh...” sama sepertimu aku pun tertawa dengan keras...lebih keras dari tawamu!

Minggu, 06 September 2009

EDISI BERCELANA; CEK KANDUNGAN LEBIH BAIK DARIPADA INI

KELANA ENAM

Ada yang aneh ketika melihat Abud sudah berdiri di depan pintu dengan canggung. Karena seharusnya dia sudah kembali ke Surabaya. Tapi beruntung juga aku, lagi butuh tumpangan gini, ada seseorang yang bisa kumanfaatkan. He he he.

”kok masih di sini? Bukannya pulang ke Surabaya?”
”Gak jadi, males, biar arek-arek saja yang ngurus disana...”
”ohhh...kebetulan dongs...anter tetra ke dokter dongs mas...”
”ke dokter? Ngapain?”
Dengan iseng aku mengusap perutku, ”cek kandungan nih”
”hah? Kamu lari dari rumah karena hamil Tet?” dia menanggapi dengan serius dan terlihat panik.
”ha ha ha, kenapa takut aku menjebak mas terus minta pertanggungjawaban gitu?”
”eh...” dia tampak salah tingkah.
“udah entar juga mas tahu, mau gak anter tetra?”

Dia gak punya alasan untuk menolak lagi. Jadilah dia mengantarku ke rumah My Man yang sudah kutelepon lebih dulu. My Man tampak heran ketika aku diantar oleh Abud. Isengnya pun kumat.

“waduh, lama tak besuo rupanyo non Tetra udah ado yang punyo yo?”
“ha ha ha...doain aja deh Dok, semoga dia mau tanggung jawab nih” aku menanggapi keisengannya dengan kembali mengelus perutku. My Man mengerti dia tertawa ketika melihat kedipan isengku dan sekaligus melihat kengerian di wajah Abud.

Rasanya tak perlu kuceritakan bagaimana prosedur standar pemeriksaan seorang dokter. Intinya Mas Abud kemudian tahu apa yang terjadi padaku. Aku memandangnya sedikit iba. Selama ini dia sudah mendapat beberapa kali serangan jantung gara-gara aku. Aku mengerti jika dia kemudian diam tak banyak cakap. Dia perlu mencerna segala informasi yang baru masuk ke otaknya. Sampai akhirnya dia bicara juga.

“eh buka puasa dimana nih kita?” aduhhh jadi inget kalau perbekalanku menipis. Kalau makan kayak kemaren lagi, bisa-bisa aku bangkrut hanya karena utang. Tiba-tiba aku punya ide, ide yang cukup berbahaya, tapi tidak salah kalau dicoba. Kupikir aku sudah cukup mahir.

”mas mau nyicipin masakan Tetra gak?”
”masakan kamu?emangnya bisa masak?”
”ya dibuktiin dulu dongs...mau ya mas? Ayolah mas...aku gak punya uang kalau makan kayak kemaren, kita masak, mas yang biayain belanja, aku yang masak...cukup adil kan?”
“hmmm...boleh deh....jadi kita belanja nih sekarang?”
“iya dongs...ke Matos aja yuk...”

Hmmm, ah yang gampang aja bikin sop, goreng ayam, ehem...ada pisang yang menggoda, goreng pisang juga ah...bumbunya jangan lupa, garam, tepung wat goreng ayam, bumbu instan untuk sop, tepung wat goreng pisang....yang lainnya menyusul aja deh.

Tiba di rumah jam 16:30. dia sedikit takjub melihatku memotong sayuran, ayam, kemudian meracik bumbu. Dia terlihat ngeri ketika aku menambahkan garam pada adonan tepung untuk menggoreng pisang. Kubilang padanya kalau aku masih bisa kok bedain mana garam mana gula pasir. Kutambahkan sedikit garam biar nantinya gurih. Dia manggut-manggut sekali lagi memandangku dengan takjub.

Kuminta dia memotong pisang, potongannya pun berbeda, bukannya dipotong miring seperti goreng pisang standar, tapi pertama pisang dibagi jadi dua, terus pisang yang telah dipotong dibelah tiga, tapi jangan sampai putus, biar bumbunya meresep. Dia bekerja sama dengan baik. Sampai ketika adzan magrib tiba aku belum selesai masak. Tapi dia cukup sabar menunggu dan menikmati tontonan yang tak biasa (menonton aku memasak maksudnya). Aduhhh kenapa tiba-tiba aku merasa sangat seksi ya?

Sampai aku berhasil menuntaskan masakanku. Aku tidak peduli gimana rasanya buat dia. Yang pasti aku akan memakannya mengingat aku tidak mungkin lagi bisa senang-senang makan makanan di luar.

Dan leganya ketika dia begitu lahap. Aku yakin dia gak pura-pura menikmati. Aku pikir aku telah lumayan mahir dalam hal ini. Ha ha ha senengnya. Seperti main rumah-rumahan nih. Biarin dah....entar malam dia akan kuusir lagi kok.

Sudah makan, sudah shalat, agak bingung, mau ngapain lagi? Dia begitu asyik dengan blackberrynya. Ah lebih baik maen pesbuk aja deh. Romantis sekali, satu ruangan, yang satu asyik maen blackberry sambil ketawa-ketiwi. Sementara yang satu lagi cekikikan menatap laptop. Sama-sama maen pesbuk.

Sampai rasa itu datang lagi...

Yeah malam itu aku tak jadi mengusir dia, dan masa-masa damai dalam perjalananku sepertinya akan segera berakhir....