Tapi dia seolah tak tahu keadaanku, padahal wajahku sudah sangat pucat, tak ada rona disana, tubuhku lemas, mungkin dia sudah terbiasa, dia menyambutku dengan senyum yang biasa pula…senyum yang tak kubutuhkan, dan di akhir pertemuan dia sodorkan undangan itu, membuatku terhenyak, membuatku tak bisa lagi menyangkal, membuatku terhempas pada kerasnya kenyataan, undangan berwarna biru muda yang bagiku seperti sepotong surat dari pengadilan yang membuatku sadar bahwa vonis dua bulan yang lalu itu BENAR ADANYA, dan akan segera kuhadapi eksekusi itu entah kapan,
“Kapan?” lirih aku bertanya padanya,
“15 Maret, hari minggu, tak kemana-mana
“apa aku perlu datang…?”
“perlu, agar tahu saja sejauh mana kamu bisa menerima kenyataan…”
Yeah, sejak disampaikannya berita yang bagiku seperti vonis mati itu, aku sering menyangkal, aku tak akan mati hanya karena itu
Maka kujalani hari seolah aku memang akan hidup 1000 tahun lagi, walau pada kenyataannya aku sedang menghitung hari. Entah kapan, mungkin besok, atau detik yang akan datang, aku akan tersungkur, ragaku tak bisa lagi menanggung luka itu, mungkin esok atau sore nanti aku berbaring di ruang pucat dengan berbagai alat menusuk ragaku, mungkin malam nanti atau pagi esok tak bisa lagi kuhembuskan nafas, tak bisa lagi menghirup dinginnya malang, ah teman, pasti kau tak pernah merasakan kesakitan sekaligus ketakutan. Yeah aku manusia yang terlalu banyak salah, aku TAKUT MATI! Tapi hey, aku tak akan mati karena hal itu
Kusembunyikan undangan itu di tas paling bawah, kemudian kupindahkan di lemari baju paling bawah, aku tak akan melihatnya lagi, tak akan menyentuhnya, dan terutama TAK AKAN DATANG MEMENUHI UNDANGAN ITU!
Sepertinya undangan itu adalah kacamata untukku melihat kenyataan, yeah seharusnya kubakar, atau kumusnahkan sekalian, nyatanya aku memilih untuk menyimpannya, hanya agar aku masih bisa meraba kenyataan.
Banyak hal sia-sia dalam hidupku, aku ingin menyesal, nyatanya penyesalan tak bisa menyembuhkan luka-luka itu,
Mungkin bila saja aku bisa mencicipi aroma keluarga itu,
Mungkin bila saja aku bisa merasa kesakitan saat seorang manusia lahir dari rahimku,
Mungkin bila saja aku bisa menyentuh seorang lelaki, belahan hati, pujaanku, yang menganggap senyumku masih yang terindah walau penuh kerut…
Mungkin….bila semua itu ada dalam hidupku, aku tak akan se-merana ini menghadapi vonis itu…
Tak banyak yang bisa kulakukan sekarang, selain berusaha menghirup udara sebanyak mungkin, menikmati hidup dengan rasa tak nyaman, sendirian…yeah aku ingin sendirian saja, aku tak ingin jadi beban, aku tak ingin tergantung pada orang lain, cukup hanya aku yang merasa…tak akan kubagi duka dan luka-luka ini…tak akan kuberi kesempatan pada siapapun untuk merasakan luka-lukaku…karena pada kenyataannya tak akan ada yang sanggup menghilangkan luka apapun dari jiwaku…jadi kutunggu saja saat eksekusi itu dijatuhkan…Sendirian…!!! Jadi kenapa aku harus memenuhi undangan itu?
----
Note: 15 Maret 2009 diperingati sebagai hari kanker anak internasional
Hahahaha, bila tanggal itu akhirnya aku datang, bukan karena ingin mencari teman senasib atau apa, hanya ingin tahu sejauh mana aku bisa menghadapi kenyataannya, nyatanya???
Yeah…Aku masih tak percaya bahwa apa yang kurencanakan dalam hidup dalam sekejap hancur tak bersisa,
Aku yang bermimpi menjadi pembela bagi orang-orang pinggiran yang terancam terkurung di hotel prodeo, nyatanya hanya seorang pesakitan yang tak sanggup membela dirinya sendiri dari Takdir.
Aku yang bermimpi bisa membela mereka, anak-anak yang termusnahkan masa depannya di depan meja hijau, nyatanya hanya seorang anak yatim yang akan termusnahkan oleh tanah…
(untuk seorang pria kecil yang berduka pada tanggal ini)


3 komentar:
entah mungkin karena benar seperti itu adanya tulisannya, entah mungkin karena imajinasi saya, entah mungkin karena perasaan saya...
tapi benerkah yang saya bayangkan itu...atau cuma... ilusi, maya, virtual, bo'ongan...
aihh,
luka-luka.....
===============
tragedi memang tidak nyaman bila disadari hari ini. tapi, entah apa yang akan keluar darinya besok-besok, jika saja kita menyediakan diri untuk tidak melulu bergumul dalam emosi dan ego sendiri.
Jika kita bersedia untuk berlega hati cengengesan dengan anggunnya di hadapan cobaan.
==================
jelas di atas adalah komen sok tau saya...! sok filosofis...hahahaha maklum lah orang lagi belajar mengenal diri sendiri.
=====
yeah, memang semua yg tetra tulis selalu berusaha untuk menjadi cuman ilusi saja, tapi bukannya boong, cuman merasa perlu untuk mengolah luka itu agar bisa kunikmati saja akhi...
Ketika suatu harapan itu hanya sebongkah impian yang ketika terbangun maka akan menjadi suatu kenangan entah itu indah atau buruk.
Ketika suatu keinginan untuk mempunyai teman yang tidak memakai pakaian pamrih telah sirna.
Ketika semua beban begitu berat terasa, sepertinya aku ingin mengakhiri saja semuanya, agar beban itu tidak terasa lagi.
Tapi ...Ketika Harapan demi harapan sudah mulai susut, kering kerontang, aku hanya punya satu keinginan .... aku ada hadir untuk memenuhi harapan mereka .... dan sebagai penggembira mereka ...
F4S - Friend For Sharing
http://ffors.blogspot.com/
Poskan Komentar