Kamis, 26 Maret 2009

KALAU MAMAKMU MAMAKKU JUGA DAN MERTUAMU MERTUAKU JUGA, APA SUAMIMU JADI SUAMIKU JUGA?

Teman, pernahkah suatu sore teman pulang ke rumah dan mendapati di ruang tengah bertebaran alat kontrasepsi (baca: kondom), baju berserakan dan celana dalam ada di bawah pintu kamarmu?

Bukan teman, ini bukan adegan di sebuah film ataupun di shitnetron…

Ini adalah kejadian yang kualami sore kemarin….

Seperti layaknya manusia normal, aku shock tiada terkira, kupikir adegan ini tak akan pernah kusaksikan, tapi ternyata aku sampai juga pada kejadian yang memang sudah kuperkirakan jauh hari sebelumnya ini…

Yah teman, aku tahu konsep tinggal dengan orang yang sudah bersuami kedengarannya saja sudah aneh dan asing, sudah 4 bulan aku tinggal bersama Mak Cik, awalnya aku menolak tinggal bersamanya, tapi dengan bujukan Rei (suami Mak Cik) ditambah lagi aku memang belum sanggup untuk tinggal sendiri di rumahku yang lumayan susah untuk dibersihkan itu (karena sedikit luas), kusanggupi untuk tinggal bersama Mak Cik, baru dua bulan kemudian aku tahu alasan sebenarnya adalah karena mereka perlu orang yang bisa menggenapi uang kontrakan dimana kami akan tinggal itu : ) )

Ada banyak suka, ada banyak duka yang kualami, sukanya aku jadi sedikit faham konsep berumah tangga, terbuka mataku bahwa konsep perkawinan adalah bentuk lain dari kasih sayang, bentuk lain dari cinta, uhhhh indahnya…

Mak Cik mengajariku berbagai keterampilan berumah tangga, mulai dari keterampilan di dapur sampai keterampilan di kasur :) hahaha…emang agak gila, tapi Ya Mak Cik menceritakan apapun padaku, hal yang tak bisa kulakukan padanya, sampai ke daerah paling intim sekalipun, sekali-kali dibongkarnya koleksi BF Rei dan kami nonton bareng sambil ketawa-ketiwi, komen sana-sini…sekali lagi INI MEMANG GILA! Perbuatan Mak Cik (mengajak nonton bareng BF) merupakan kesalahan Mak Cik yang terbesar, karena sesudahnya aku bisa pusing dan muntah-muntah…(hal ini tak kuceritakan padanya)

Suatu hari, suatu aku dapat kabar bahagia, Mak Cik hamil, aku ikut bahagia walau tak bisa kupungkiri AKU IRI! Setiap minggu aku antar dia ke dokter kandungan untuk check up, bahkan setiap pagi aku akan menyelinap masuk ke kamar Mak Cik, tidur disampingnya, memeluk sambil mengusap-usap perutnya…itu berlangsung tiap pagi (tentu saja kecuali Rei pulang), memang yang hamil Mak Cik, tapi aku juga merasa memiliki bayi itu…

Sampai suatu malam, dari kamar mandi Mak Cik menjerit memanggilku…ada bercak darah di celana dalam Mak Cik, sedikit saja teman, tapi sudah cukup membuat Mak Cik panik dan membuatku bingung tak mengerti, aku suruh dia tanya ke ibu mertuanya atau ke mamaknya (Mak Cik memanggil ibu kandungnya dengan Mamak), tapi dia gak mau, katanya nanti mereka khawatir, terbersit pikiran untuk menghubungi mami, tapiiii kuurungkan nanti disangkanya aku yang pregnant, wah bisa repot tuh…akhirnya kuhubungi setiap rumah sakit, dari seorang bidan aku dapat keterangan biasanya itu gejala keguguran, Mak Cik mulai nangis, aku sudah pengen pingsan saja, kukuatkan diriku, kusiapkan kendaraan, kubopong Mak Cik ke mobil, dengan kalut kubawa Mak Cik ke rumah sakit…


Pernahkah teman mengatakan “semua akan baik-baik saja” padahal teman tahu kalau itu bohong? Itulah yang kualami malam itu,ditambah hujan lebat, petir menyambar, jalanan licin dan berlubang, tidak teman, aku tidak mendramatisir, tapi memang seperti itulah keadaan malam itu, teman tahu kan kalau aku fobia dengan petir, malam itu air mata mak cik membuatku bisa menahan diri dari fobia…

Sampai di rumah sakit, tak ada dokter kandungan yang tersisa, Mak Cik meminta pulang saja, kita akhirnya pulang, berusaha tidur, menunggu pagi…

Paginya kita kembali ke rumah sakit, masih ada harapan, siapa tahu kandungan masih bisa diselamatkan, kalau perlu Mak Cik bed rest sampai melahirkan, begitulah aku dan Mak Cik saling menguatkan, hingga tibalah saatnya Mak Cik diperiksa, anehnya aku tak boleh masuk untuk menemani…sial…

Ketika Mak Cik keluar, dia memelukku, menangis meraung-raung, yeah teman she lost her baby

Hari pertama sejak Mak Cik keguguran dia terus mengoceh tak percaya kalau bayinya sudah gak ada, bagaimana bisa? Dokter juga tidak memberi keterangan banyak, hanya dibilangnya, rahim mak cik sudah bersih, tak ada lagi janin yang hidup disana…arghhh, jam 10 malam dia merengek-rengek membujukku untuk membeli test pack yang paling mahal, dia mau tes pack ulang, masa sih bisa bayi bisa tiba-tiba hilang begitu hanya karena ada setitik noda darah kecil saja di celana dalam? Yeah malam itu juga hujan teman, tapi tak ada petir, aku pun keluar untuk memenuhi permintaan Mak Cik…dengan muka kusut…aku berdiri di depan kasir alfamart…(jam10 malam alfamart inilah satu-satunya yang buka dan deket dengan tempat tinggalku)

“Mbak, beli test pack”

Sekilas aku melihat kerut aneh di matanya, ah ini orang pasti menyangka aku yang telat datang bulan, perawakanku yang kecil agak kurus dan wajahku yang innocent rupanya membuat si Mbak kasir menyimpulkan klo aku belum ada pantas-pantasnya untuk membeli tes pack itu. Aku masih bersyukur Mak Cik tidak merengek-rengek minta dibeliin kondom rasa stroberi : ) )

Tahukah teman, test pack itu gak pernah terpakai, karena paginya Mak Cik memutuskan untuk datang ke dokter lain…dan teman, sekali ini harus kukatakan padamu bahwa ada perbedaan besar antara dokter yang dibayar dengan kartu askes dan dokter yang dibayar dengan kartu debet, sekali ini kita datang ke dokter di rumah sakit tanpa askes…dan hasilnya? Sayangnya Mak Cik tetap kehilangan bayinya, hanya saja, kalau dokter pertama mengatakan janin sudah hilang tanpa bekas, di dokter kedua terlihat janin Mak Cik masih ada tapi tidak lagi bernyawa, bisa dibayangkan kalau janin yang meninggal itu tidak diketahui masih ada di dalam rahim, sungguh berbahaya teman, rahim Mak Cik bisa infeksi…dan dokter yang dibayar dengan kartu debet ini punya kalimat-kalimat yang bisa menentramkan Mak Cik, dibilangnya bahwa janin gak tumbuh sempurna, makanya Tuhan menghendaki bayi itu tidak sampai lahir ke dunia…ditambah lagi dokter menceritakan tentang pengalaman pertamanya hamil dan kehilangan bayi juga sama seperti Mak Cik, ada sedikit senyum di bibir Mak Cik…


Sekali lagi aku dibikin IRI sama Mak Cik, teman-teman kantornya datang berkunjung, yang paling bikin ngiri adalah Ibu mertuanya yang datang jauh-jauh dari Probolinggo untuk menemani Mak Cik, belum lagi Rei yang pulang sehari sebelum UTS…sungguh pengorbanan yang luar biasa Teman, aku sedikit menarik diri menyaksikan keluarga bahagia yang sedang diterpa musibah itu…sedikit miris…

Hari-hari selanjutnya kuisi dengan berbagai aktivitas untuk menghibur Mak Cik, setiap malam dia masih menangis Teman, hal yang paling sulit adalah memberitahu Mamak dan Bapak Mak Cik, ketika telpon, pertama Mamak menanyakan apa sudah dihubungi Bude, soalnya katanya Bude mau menyiapkan baju-baju bayi, wahhh Mak Cik nangis terpaksa aku yang ambil alih, kukatakan sama Mamak kalau janin Mak Cik meninggal di dalam…arghhhh…karena gak tahan tiap malam harus dengar rengekan Mak Cik, akhirnya kubilang padanya,

“hey Mak Cik, Mak Cik masih beruntung masih ada Ibu, Mas Rei yang menemani…masih ada mamak, bapak yang tiap hari telpon menanyakan kabar…coba lihat dungs tetra nih, pernah Mak Cik lihat tetra sakit ada keluarga yang beredar di sekeliling tetra? TAK ADA MAK CIK…jangan menangis Mak Cik, tiga bulan lagi Mak Cik bisa mulai berusaha punya bayi lagi…”

Rupanya perkataanku itu bisa membuat tangisnya reda, dibilangnya…”Tetet, kalau tetet merasa gak ada keluarga, Mamak aku bisa jadi mamakmu juga, mertuaku anggap saja mertuamu juga…”

Aku takjub mendengar apa yang dibilang Mak Cik, dengan nada bercanda aku bilang padanya, “apa suamimu juga berarti suamiku juga?”

Aduhhh aku salah ngomong Teman, Mak Cik cemberut, aku tak diperbolehkan lagi menemaninya tidur tiap pagi setelah subuh, kalau ingin membangunkan dia, aku terpaksa harus menelponnya dari kamarku…karena aku sungkan kalau harus mengetuk pintu…kesannya gimana gto…

Sore kemarin adalah (kira-kira) satu bulan setelah peristiwa Mak Cik kehilangan bayinya, Rei pulang, rupanya mereka sudah mulai bikin baby lagi...mereka cukup gak sabar untuk menahannya hingga malam hari…sore ketika aku pulang di ruang tengah tempat biasanya aku dan Mak Cik menonton tv sambil saling bercerita, sebuah air bad terhampar, kondom yang masih utuh tersebar di tengah air bad, dan celana dalam Mak Cik ada di bawah pintu kamarku…uhhhh….


Menurut Teman, mungkin ini saatnya aku harus pindah saja ke rumahku, tapiii…aku masih tak bisa hidup sendirian saja…terlalu menakutkan, bagaimana kalau misalnya aku mimisan tengah malam…HP mati tak bisa menghubungi siapa-siapa…telpon rumah dicabut karena belum bayar…terus hujan…terus petir…arghhhhh….

Atau bagaimana kalau kamu saja Teman yang menemani aku? Gratis tinggal bersamaku, resikonya cuman…Teman harus mau mencicipi masakanku yang terkadang (sebenarnya sering sih) GAGAL TOTAL ITU!!! Bagaimana? Mau kan? Mau ya? Ya ? ya?

Kalau teman ini berjenis kelamin lelaki…resikonya ditambah YAITU HARUS MAU JADI SUAMIKU dengan resiko siap-siap jadi DUREN kira-kira setahun atau dua tahun lagi : ) )….

2 komentar:

Agung mengatakan...

Ck ck ck...

bambangtris mengatakan...

hahaahaha...
kalo saya jadi suaminya mak cik mau ajah dah.... ga apa-apa. saya bolehkan
hahahahah
binggo!!
rejeki kali...

(muhammad dhani & the Swinger, madu 3 mode on)
hahahah

kalau istri tua merajuk..
hahahaha