Sabtu, 18 April 2009

BAHKAN MEMOTONG KUKUMU PUN AKU TAK MAMPU!

(baca aja postingan-postingan sebelumnya biar nyambung :D)


Sial! Sial! Sial! Semua orang kini menganggapku telah melakukan percobaan bunuh diri! Gara-gara suster sialan yang tak ada di tempat ketika aku kambuh. Memangnya aku harus bagaimana? Menjerit-jerit kesakitan biar semua orang panik? Padahal aku cuma sakit perut (Cuma sakit perut? Kenapa sampe perlu pake morfin segala?).

Jadi begini Teman, biar kujelaskan padamu, biar kamu mengerti, yeah…AKU TIDAK BERUSAHA UNTUK BUNUH DIRI! Memangnya aku tampak selemah itu? Sudah kubilang padamu Teman AKU AKAN HIDUP 200 tahun lagi! Ahhh kau tak percaya rupanya. Aku terpaksa menyuntikkan morfin itu ke tubuhku karena yeah aku kesakitan, dan yeah suster sialan itu tak ada untuk membantuku menyuntikkan cairan itu, dan yeah aku tolol karena tak tahu berapa banyak seharusnya morfin yang diperbolehkan masuk ke tubuhku, sekali lagi yeah rupanya dosisnya terlalu banyak. Dan yeah tentu saja aku fly. Tepat ketika mami dan dia masuk ke kamarku.

Nah, see now! I’m okay! Aku baik-baik saja kan? Masih bisa melakukan ritual pagiku yang terdiri dari…ah itu kapan-kapan saja kuceritakan. Biar tak terlalu panjang lebar seperti sungai Nil ceritaku ini (kenapa sungai Nil? Kenapa gak sungai Citarum? Arghhhh…).

Oke lebih baik kulanjutkan ceritaku ini. Hmmm…sebentar, adegan yang mana yah? Kepanikan orang-orang ketika aku mencoba bunuh diri? Arghhhh sudah kukatakan padamu teman, AKU TIDAK MENCOBA UNTUK BUNUH DIRI! Memangnya aku tampak selemah itu? Sudah kubilang padamu Teman AKU AKAN HIDUP 200 tahun lagi! Ahhh kau tak percaya rupanya. aku terpaksa…bla bla bla…maaf jadi seperti kaset busuk. Tentu aku tak ingat ketika semua orang panik, jadi tak ada yang bisa kuceritakan tentunya kau bersyukur aku tak ingat apa-apa, karena ceritaku ini tak akan lebih panjang lagi, hell yeah….

Akhirnya entah jam berapa, aku terbangun juga dari tidur panjangku. Dan sekali lagi, ada jarum infus di lengan. Ah tentu saja benda itu seperti bau kentut yang terbawa angin. Maunya ikuttt saja di setiap adegan. Aku tak merasa sakit lagi. Hanya ada perasaan kosong yang mengisi dadaku. Begitu hampa. Apa perlu kuceritakan bunga-bunga di taman juga yah? tahu kan kalau ada adegan fly itu selalu mengikutsertakan bunga-bunga bertebaran, tubuh bersayap…bla bla bla?. Sebenarnya persisnya tak seperti itu. Tapi apa perlu kudefinisikan? Yeah tentu saja harus. Biar kamu tahu Teman. Rasanya memang tak ada beban apapun di pundakku. Semua yang kuingat kemudian tak lagi membuatku sakit. Bahkan dalam hatiku pun. Hanya hampa yang kurasakan! Tanpa luka, tanpa kesedihan, tapi juga tanpa kebahagiaan! Aku masih mengingat tangisan mamah ketika mendengar apa yang kuceritakan, aku masih ingat juga tatapan abah. Tatapan takjub. Karena anak mereka ternyata bisa berkorban sebesar itu untuk diriku yang sangat-sangat hina dina, cacat, dan tak berdaya ini.

Bagaimana aku bisa menjadi istri orang kalau hidupku saja harus penuh dengan orang-orang yang dibayar untuk melangkapi segenap organ tubuh yang sepertinya tidak kupunya. Kaki? Masih ada menggantung, tapi kaki itu paling bisa berjalan sepuluh langkah saja, maksimal. Aku perlu seorang sopir untuk berburu DVD misalnya? Atau sekalian ngecengin tukang DVD itu. Tangan? Hmmm sejujurnya kukatakan tangan ini hanya bisa untuk mengangkat gelas minum dan mengetik seperti ini. Oh tentu saja menyentuh…menyentuh dia, tangannya, wajahnya, bibirnya…hmmm…(kau harus mengingatkanku agar bersyukur karena masih bisa menyentuhnya). Eh ada lagi, mengangkat telepon, kebanyakan dari satpam. Ah tak ada affair apapun dengan satpam itu, pikiranmu selalu aneh-aneh saja teman! Perut? Pastinya aku perlu makan dongs, aku memang terbiasa makan masakan orang lain. Tapi bukannya sampai aku harus disuapi segala. Tepatnya sih bukan disuapi, tapi dipaksa. Satu-satunya makanan yang bisa masuk ke tubuhku tanpa protes adalah susu, susu coklat tentu saja. Tapi itu kan bukan makanan! Kalau belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke tubuhku, akan ada orang yang tiap jam mengecek untuk menanyakan apa aku sudah mau makan? Dan lihat kolam itu, minggu yang lalu aku masih bisa berenang di dalamnya. Setidaknya kecipak-kecipak mainan air. Sekarang kolam itu terlihat merana dan dendam padaku. Tangannya melambai-lambai menggoda, menggodaku untuk terjun dan tenggelam di dalamnya. Hey, apa itu seperti kalimat orang yang mau bunuh diri?

Yeah, tubuhku masih lengkap teman, aku masih punya kaki, masih punya tangan, masih punya perut yang walau kadang protes tapi tetap memerlukan makanan, ingatkan aku untuk bersyukur karena masih punya semua itu ya? Dan yang membuatku paling bersyukur setiap aku bisa melihat matahari terbit di pagi hari, masih bisa merasa dinginnya udara pagi, dan masih bisa menonton spongebob dan warga bikini bottom lainnya. Ngomong-ngomong aku paling suka sama squidword…gimana sih nulisnya? Itu lho yang gurita hijau berhidung panjang itu, eh gurita apa cumi-cumi sih? Arghhhh lupakan bikini bottom, jadi hal yang membuatku paling bersyukur adalah AKU MASIH DIBERI NYAWA! AKU MASIH DIBERI KEHIDUPAN! Tetapi…

ADA KANKER DI DARAHKU…ADA KANKER DI DARAHKU… ADA KANKER DI DARAHKU… ADA KANKER DI DARAHKU...

Damn!!! akhirnya aku bisa menulisnya, akhirnya bisa kubagi juga deritaku ini, hey aku tak menulis aku bisa membagi penyakitku lho…wekkk…percayalah, tidak menular, bukan sejenis AIDS atau kanker burung, eh…apa sih itu yang iklannya ada ayam mati mendadak itu…lapor pak kades, lapos pak camat…aduhhhh kok bisa lupa sih? Oh yah bener…Flu Burung…bukan itu kok, jadi tenang saja jangan takut kalau ingin berdekatan denganku. Tidak menular!

Dengan keadaan yang seperti itu, bagaimana aku bisa jadi istri orang? Istri itu seorang hamba sahaya bagi suaminya, hanya Tuhan saja yang bisa menandingi perintah seorang suami, bahkan orang tua bahkan penguasa pun tak bisa menandingi kekuasaan seorang suami bagi istrinya. Bagaimana bisa aku membenarkan dasi suamiku setiap pagi ketika dia mau pergi ke kantor? Eh ngomong-ngomong dia gak pake dasi ke kantornya, bahkan kolor dan kaos pun jadilah…hey emangnya dia kerja apaan sih? Mbuhhh…tukang becak kali. Eh tukang ojeg ding…tukang ojeg buatku (ingat kan ceritaku tentang kencan di atas motor itu?). Yeah, boro-boro melayani dia di dapur, atau di kamar, atau di ehmmm kamar mandi, bahkan hal sederhana pun aku tak yakin bisa melakukannya untuk dia. Dengan kata lain, menikahiku sama saja seperti menikahi wanita yang tak punya tangan.

Ya ampun, ceritanya ternyata belum ada dialog sama sekali. Baiknya kuceritakan satu dialog standar yang terjadi jutaan tahun sebelum masehi antara aku dan dia.

Tempus delicti: (ya ampun kan bukan kejahatan, kok ada deliknya sih? Ah semaunya gw wekkk, emang siapa yang jadi penulisnya, bukan lo kan?)kira-kira jam 11 malam, atau mungkin jam 2 atau jam 3, pokoknya sekitar itulah, sudah lama sih, kubilang kan terjadinya jutaan tahun sebelum masehi…jadi mana kuingat detail-detailnya.

Locus delicti: sebuah kamar, sebuah tempat tidur, wangi kok, gak bau apek, kalau yang ini aku selalu ingat. Tentu saja, kamarku kan gak pernah bau!

Case position:

Jadi pada waktu kira-kira dini hari itu saudara tetra bersama seorang yang menjadi tokoh dalam kisah ini, sedang saling bercerita, tepatnya sih saudara tetra berusaha menyelidiki tentang tipe wanita yang ingin dijadikan istri oleh tokoh kita itu. Berikut adalah rekaman pembicaraan yang berhasil direkam dari kamera cctv yang entah bagaimana terpasang di TKP (apa cctv bisa merekam suara juga yah? Di cerita ini anggaplah bisa).

“aa, emangnya maunya aa itu istri yang kayak gimana sih?”

“ya…yang biasa aja, yang gimana ya? Gak punya standar sih, yang penting cocok”

“ohhh…gto yah? Gak ada yang spesifik ya? Misalnya tetra mah klo punya suami pengen dia tuh kalo selimut tetra kemana-mana ketika tidur dia benerin…”

“hahaha, selimut berjari? Selimut yang bisa grepe-grepe ya?”

“ihhh serius tahu!”

“hmmm, sebenarnya pengennya istri yang bisa motongin kuku, soalnya suka susah kalau mo motong kuku…”

“owh…kok sama sih? Tetra juga paling susah klo mo motong kuku”

Stop pada adegan ini!

Waktu itu pikiran saudari tetra kacau balau, mengingat ternyata dia tidak punya kategori sebagai tipe istri idaman tokoh kita itu, karena rupanya saudari tetra ini juga mengalami kesulitan yang sama dalam hal memotong kuku. (yang ini tentu saja tidak tertangkap dari kamera cctv , tapi berdasar pengakuan saudari tetra sendiri setelah diinterogasi selama…selama-lamanya dah…).

Kita kembali ke masa sekarang.

Pagi harinya, dia sudah ada di samping tempat tidurku. Memandangku dengan wajah lelah, mata yang sangat menderita. Apa yang harus kukatakan padanya agar dia merasa terhibur, selain…

“sebal deh, aa pasti nyangka tetra mau bunuh diri deh…”

“hahaha, nggak kok neng, masa tetra selemah itu? Tetra akan hidup 200 tahun lagi”

“hey, jangan curi dialogku dongs…” oke. Yang ini cuman halusinasi,hehe. Maaf ya!

“bohong ah…pasti deh aa mikirnya macem-macem…”

“nggak, sungguh!”

“ya udah deh, sarapan yuk!”

“eh gak mau ke kamar mandi dulu?”

“hehehe, lupa, gendong dongs!”

Bagus! Eks calon suamiku sudah berubah profesi dari tukang ojeg jadi tukang gendong! Jamu kaliii digendong, maaf! Garing ya?

Kita percepat adegannya sampai saat sesudah sarapan.

“aa tolong ambilin pemotong kuku dongs, kayakna ada di laci…eh sekalian gunting atau silet kalau ada…”

“buat apa? Ya buat potong kuku!”

“kok ada gunting sama silet segala?”

“lha siapa tahu sama pemotong kuku gak berhasil, jadi bisa pake gunting atau silet”

“aduh aa gak bisa motongin kuku neng, panggil orang aja ya?”

“eh bukan kuku tetra yang panjang, kuku aa tuh yang panjang-panjang…”

“aaduhh…biarin deh…”

“he…nyesel lho ntar klo gak mau tetra potongin kuku, siapa tahu ini adegan terakhir kita?” lagi-lagi dialog halusinasi!

Dia tampak ketakutan. Tapi aku maksa. Aku bisa bayangkan, pasti aku terlihat seperti monster dengan senjata pemotong kuku di matanya. Sayangnya, dia gak lagi dalam keadaan siap untuk diserang. Tak ada panah dan gondewa (perentang panah itu namanya gondewa kan?) dipunggungnya. Dia prajurit tanpa senjata menghadapi monster pemotong kuku. MENYERAHLAH!!! MENYERAHLAH! Tentu saja tak seperti itu, tapi YA dia menyerah!

Dia duduk di sebelahku, aku pegang tangannya, kuusap sebentar, setelah ini tangan itu gak akan bisa kugenggam lagi. Kuarahkan pemotong kuku itu ke kuku di ujung jarinya (memangnya ada kuku di ujung telinga yah tet?) liat, alot banget nih kuku…keliatannya malah kukunya mau lepas dari jari-jarinya. Dia meringis. Aku menyerah.

“huh kayakna harus pake gunting”

“gunting?” ada kengerian dalam suaranya.

“hu uh, tenang aja gak usah takut. Aa kan pernah bilang aa pengen punya istri yang bisa motongin kuku aa, nih tetra lagi belajar motongin kuku aa…”

“hah?” kengeriannya bertambah, huh pasti dia lagi membayangkan seumur hidupnya terjebak dengan monster sadis pemotong kuku.

Ahhh gunting ternyata terlalu besar untuk memotong kuku sependek itu. Kuambil silet.

“neng, tolong berhenti neng…”

“diam ah, tetra lagi belajar menjadi istrinya aa…katanya aa mau tetra jadi istrinya aa, gimana sih ah”

“tapi gak perlu kayak gini belajarnya, silet itu bisa melukai aa”

“oh jadi aa mau tetra yang terluka karena silet ini, gitu?” aku tak tahan, rasanya ada gelombang air mata yang siap jebol.

“bukan gitu neng”

“YA UDAH DIAM DONGS!”

Tanganku gemetar, aku pegang jari telunjuknya dengan tangan kiriku, dan silet di tangan kananku…pelan…sretttt…sukses! Maksudnya sukses telunjuknya terluka. Aku menangis. Kumasukkan telunjuknya ke mulutku. Kuhisap mungkin darahnya gak keluar lagi. Aku tersedu-sedu.

“maafin tetra aa..maafin tetra…” aku menutup wajahku dengan tangan. Menangis dan putus asa!

Tapi ada berita baik Teman, (sempat-sempatnya kasih berita baik!) itu cuma halusinasi. Karena setelah sukses membuat telunjuknya terluka, aku acungkan jari yang pelan-pelan mulai meneteskan darah itu ke hadapannya, kutatap tajam matanya sambil berteriak…

“LIHAT KAN SEKARANG! BAHKAN UNTUK MEMOTONG KUKUMU SAJA AKU TAK BISA!”

“tapi neng tak perlu…”

“tak perlu apa? Pernah berpikir gak memotong kukumu saja aku tak bisa apalagi bercinta denganmu! Memangnya kamu siap tak bercinta seumur hidupmu? Oh yah maaf aku lupa, aku akan mati dan kau bisa buka puasa, kau bisa bercinta dengan siapa saja setelah aku mati!”

“neng…”

“tolong pergi! Tolong jangan ganggu aku lagi! Tolong! Pliss!”

Dia menatapku tak percaya.

“MO*ET YA! Kataku pergi! Pergi!”

Dia bangkit, berdiri dan keluar dari kamarku. Aku tersedu. Air mata itu tak bisa lagi kutahan. Kututupi wajahku. Maafin tetra aa…tetra sayang banget sama aa…

Aku menangis…membayangkan betapa kejamnya diriku menyakitimuaku menangis…(Rossa-Hati Yang Kau Sakiti, dengan sedikit modifikasi)

DAMN! Kenapa harus lagu itu sih?


*maaf teman, ceritanya berakhir sampai disini*


5 komentar:

aidamisha mengatakan...

gunakan treatment yg ketat..santai az..minumobat teratur..

ga usah di gede2in masalah
soal nya kanker macam lintah apapun jenis kankernya..

sebanyak apa uang kita ga bisa ambil praktis..

itu yg ku alami..butuh bertahun2 untuk sembuh...yg penting setelah tau punya kanker jangan di biarkan..berobat.dan lbh beriman..

taqdir tak bisa di ubah manusia.tapi nasih manusia wajib berusaha merubah nya ke yg lbh baek

good health

bambangtris mengatakan...

oh...
kanker darah toh...
kanker darah yah..
ck...ck...ck...
emhh... tak kira kanker payudara.


klo kanker darah mah
coba di kerokin pake balsem ajah ...


*kabuuurrr...*

LUKA mengatakan...

@ akhi bams: [ngakak]
@ teh aida: hatur nuhun teh

cYpUd eNdUt mengatakan...

beneran luka,cypud masih gag ngeh!luka sakit beneran kah?ato cuman halusinansi tetra ja?

gondewa mengatakan...

tul tuuuuh, taqdir tak bisa di ubah manusia.tapi nasih manusia wajib berusaha merubah nya ke yg lbh baek