Selasa, 14 April 2009

GIVE ME ONE REASON TO MARRY YOU!


Jika ada yang bertanya padaku, apa yang paling kubenci di dunia ini?

Aku pasti bisa langsung menjawab dengan sangat YAKIN!

AKU BENCI PERKAWINAN! Tepatnya AKU BENCI PESTA PERKAWINAN!

Ketika kecil seorang yang sering bermain denganku dengan kejamnya mengusirku ketika dia akan menikahkan putrinya, saat itu aku merasa tak diinginkan. Rasanya ingin menyusup ke dalam tanah. Itu terjadi ketika usiaku kira-kira 6 tahun.

Hal itu berlanjut ketika kelas 1 SD aku menumpahkan air ke baju pengantin, waktu itu aku didandani dan disuruh untuk pegang kipas, tentu saja untuk mengipasi si pengantin.

Aku dimarahi habis-habisan karena hampir saja mereka batal kawin karena baju pengantinnya basah.

Aku juga pernah memecahkan piring ketika prasmanan, pernah membuat seorang anak menangis ketika akad nikah berlangsung yang membuat si pengantin pria gak konsen ketika mengucapkan akad nikahnya.

Tampaknya Tetra kecil menjadi momok menakutkan bagi pasangan pengantin.

Ketika aku beranjak dewasa, aku mulai mengamati beberapa perkawinan yang pernah kuhadiri:

- Lilis namanya, temanku SD, sekarang dia sudah janda dua kali, sempat bercerita padaku tentang affairnya dengan seorang bujangan yang membuat dia merasa sangat terhina,

- Bi Piah, namanya, dijodohkan, 3 minggu kemudian pulang ke rumah orang tuanya, berita buruknya dia cerai, dan terpaksa menjual sawah orang tuanya untuk biaya perceraian (sebenarnya untuk mengembalikan biaya perkawinan yang dituntut mantan suaminya), berita baiknya: DIA MASIH PERAWAN, tepatnya dia janda yang masih perawan,

- Selanjutnya Bi Nyai, yang merasa beruntung menikah dengan seorang duda kaya, waktu itu mas kawinnya adalah mas kawin termahal yang pernah diberikan di kampungku, mas kawinnya Bi Nyai Satu Juta. 6 bulan kemudian pulang dengan tubuh membiru karena dipukuli suaminya. Rupanya si duda kaya itu mengidap schizofrenia (baca: GILA)

- Ceuceu, begitu kupanggil dia, seorang istri yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya karena suaminya pengangguran, masih awet sampai sekarang, tapi awet rajet.

- Momi, seorang istri yang melahirkanku begitu seringnya disiksa sama suaminya, yang kupanggil Papi, karena seringnya mereka melempar barang, aku sempat pobia sama piring beling, gelas beling…SYERAM!!! Ditambah lagi ada malam-malam dimana si anak ini (yg itu adalah aku sendiri) menangis sendirian tanpa tahu harus bercerita pada siapa, seperti orang gila mengusap rambutnya sambil berkata: cup cup…jangan nangis Lala! cup cup… oh betapa mengerikannya! tak dapat kubayangkan akan ada anak seperti itu lagi, tambah mengerikan seandainya anak itu lahir dari rahimku!

Tetra remaja pun mulai berpikir kenapa orang harus menikah kalau untuk menderita seperti itu?

Aku kuliah, bekerja di sebuah Firma Hukum, banyak menangani kasus perceraian,

  • seorang ibu yang berusaha mempertahankan suaminya agar tak menikahi wanita yang seusia dengan anaknya

  • seorang istri pejabat nekat ingin bercerai karena gak tahan dipukuli, ditendang sama suaminya

  • seorang wanita muda yg terpaksa nikah karena telah hamil duluan berusaha melindungi anaknya dengan menggugat suaminya yang anak pengusaha kaya agar mau memberi nafkah padanya

  • seorang lelaki, masih temanku juga, sangat benci pada istrinya karena tak pernah peduli pada anak dan bisanya cuma foya-foya,

  • seorang lelaki, teman juga, menderita ditinggal istri dan harus menghidupi anak semata wayangnya,

  • seorang teman yg pernah cukup dekat denganku, menikah dengan masih menyimpan bayangan wajahku di pikirannya, setahun kemudian mengaku dia tak bisa menyentuh istrinya tanpa membayangkan kalau istrinya itu adalah aku, DASAR ORANG GILA! Gak kebayang sakitnya perasaan si istri ketika suaminya itu orgasme dan meneriakkan namaku! Tapi tetap saja spermanya ternyata membuatnya punya anak!

  • Dan ternyata ada juga perempuan-perempuan yang curhat padaku, dia bersanding di pelaminan dengan bayangan laki-laki lain di otaknya! Ahhh sepertinya perkawinan seperti itu hanya menghasilkan tetra baru yang menangis malam-malam sendirian, sambil…

Dan Lihat sekarang aku! Berdiri di depan cermin, dengan kebaya bertebaran dimana-mana, bukan! Aku bukannya mau menikah hari ini, hanya ingin menghadiri sebuah pesta perkawinan! Lihat aku, diwajibkan untuk berdandan berjam-jam hanya untuk datang, bersalaman, berfoto, makan, dan pulang! Padahal gedung pernikahannya besar sekali, padahal menu makanannya beragam, padahal baju pengantinnya mewah dan indah… dan itu semua hanya dinikmati, dikagumi olehku selama 20 menit saja! Betapa sia-sianya. Padahal sebenarnya aku tidak kenal dengan pengantin itu, aku tak tahu siapa itu Kun Prasetyo, SE, siapa itu Titin Sumartini, SE, aku tak mengenal mereka, yang ku tahu mereka klien dari kantornya mami…arghhh…dan tahukah Teman? Untuk ke tempat si Kun menikah ini, kita sempat muter-muter karena gak jelas gedung pernikahannya dimana, dan lihat sekarang, bedakku luntur, maskaraku luntur…dan aku sedikit berkeringat! Arghhhh [pingsan]

Sebenarnya Baru dua minggu yang lalu aku juga menghadiri sebuah pesta perkawinan, awalnya aku bersemangat sekali karena itu adalah pesta perkawinan yang akan kuhadiri bersama momi, bisa dibilang untuk pertama kalinya, karena walau aku pernah menghadiri sebuah pesta perkawinan bersamanya, tapi rasanya itu DULU sekali…sudah lama sekali aku tak ingat lagi.

Sialnya aku mengenal pengantinnya, lebih sial lagi aku bertemu dengan mantan kekasihnya yg pernah dulu dikenalkannya padaku, tambah sial ketika tahu kalau Anto si pengantin meninggalkankan kekasihnya yang cantik molek untuk seorang perempuan rada gendut TAPI KAYA! kesialanku tambah lagi ketika tahu Anto mati-matian menyediakan uang ratusan untuk membeli seperangkat perhiasan untuk mas kawin yang diminta calon istrinya. Padahal Anto hanyalah seorang karyawan koperasi dan orang tuanya hanyalah seorang guru! Huh tiba-tiba saja aku melihat wajah Anto begitu tertekan ketika menyalamiku. Kenapa sial bagiku? Tentu saja, karena aku makin tak percaya terhadap lembaga perkawinan.

Sebenarnya, ada satu perkawinan yang membuatku bisa menikmati indahnya sebuah perkawinan, walau itu cuman 5 menit saja! Yaitu ketika si Mamang, adiknya Momi menikah! Itupun karena ada momen setelah si Mamang mengucapkan akad nikah, aku ingin sekali menangis, dan aku menangis, betapa indahnya perkawinan itu, lihat dunia, mamangku yang sama pobianya seperti aku menikah juga dengan seorang wanita cantik yang diharapkan tidak matre seperti kekasih mamang sebelumnya. Si Mamang rupanya melihatku mewek, eh dia malah ikut mewek, entah aku berpikiran apa, aku ke depan ke tempat penghulu dan si Mamang beserta pengantinnya duduk, kukeluarkan tisu, bukannya aku memberikannya, malah kuhapus air mata si Mamang dengan tisu itu, si Mamang juga agak gila rupanya, dia malah memelukku, jadilah kita bertangis-tangisan di pelaminan, dan sempat-sempatnya dia mencium pipiku dan berbisik di telingaku, DAMN! Dia minta maaf! Maaf untuk apa? Oh ya, tentu saja, karena dia tak akan lagi bisa menemaniku seperti biasanya…DASAR MON*ET! Perkawinan ternyata membuat suatu hubungan persaudaraan, pertemanan, PUTUS! Mamang! Imas, teman SD-ku! Mbak Yusi teman satu kos dulu! Teh Aci teman satu pesantren! Semuanya pergi…semuanya lupa…karena MEREKA SUDAH MENIKAH!

Ada lagi perkawinan yang sedikit saja memberiku sebuah kepercayaan bahwa perkawinan gak jelek-jelek amat, yaitu perkawinan Mak Cik, belum ada setahun sih, tapi sekarang aku tak bersamanya lagi, jadinya ketika disuguhi dagelan perkawinan seperti perkawinan si Anto dan si Kun itu, aku kembali tak percaya…bagiku perkawinan tak lebih dari penjara yang disediakan untuk sepasang manusia saling menyiksa dan menyakiti!!!

Usiaku hampir 23 tahun sekarang, tapi aku masih saja mencari alasan yang bagus untuk menikah! Ada yang bisa memberikan satu alasan bagus untuk menikah? Karena ada seseorang yang hmmm…(keselek sebentar)…MELAMARKU! Dan seujurnya, walau takut, walau bencinya setengah mati, aku pengen juga kawin...=))



9 komentar:

cYpUd eNdUt mengatakan...

iyah emg harus ada alasan yg tepat untuk menikah

LUKA mengatakan...

nah itu dia, apa alasannya? [pingsan]

bambangtris mengatakan...

Satu atau dua kali kesalahan, dan kita akan menemukan keputusan yang benar.

Poinnya adalah jangan pernah takut mengambil keputusan walaupun akhirnya kita menyadari itu keputusan yang salah....
Karena mungkin memilih bagian salah itu adalah hal penting untuk menemukan arah dan keputusan yang benar. Bukan begitu??

cYpUd eNdUt mengatakan...

denga perkawinan kamu akan menemukan kehidupan baru yang bahagia!!!

LUKA mengatakan...

@ akhi bams: BEGITUUU!!!
@ cypud: gak yakin tuh!

LUKA mengatakan...

@ lintang: sayangnya saya memilih ari lasso utk jawabannya, bukan yovie n nuno dengan janji sucinya...[sad]

LUKA mengatakan...

@ lintang: sayangnya saya memilih ari lasso utk jawabannya, bukan yovie n nuno dengan janji sucinya...[sad]

Blue mengatakan...

Kawin ???? Hayu atuh ayeuna ....=P~
Nikah...? Hmmm.......

lintang mengatakan...
Posting ini telah dihapus oleh penulisnya.