Senin, 13 April 2009

JIKA AKU PUNYA DUA NYAWA, AKAN KUBERIKAN SEMUANYA PADAMU!

Prolog

Hmmm jadi ini rumahnya? Pantas dia tak pernah mengizinkanku untuk berkunjung, rumah ini begitu besar, tampaknya lebih pantas disebut istana. Rupanya dia tak ingin aku tertekan. Dan hey…Lihat aku sekarang! Tanganku bergetar ketika aku memijit bel. Seorang satpam membukakan pintu sedikit. Ahhh membayangkan akan bertemu dengannya saja sudah membuatku sangat tertekan apalagi ditambah dengan segala macam protokoler istana macam ini. Tetra, kenapa kau begitu susah untuk ku sentuh? Seolah kau hidup di khayangan, dan aku begitu sengsara hidup di bumi karena mendambakanmu.

***

Aku pikir satpam itu akan dengan ketus bertanya padaku. Rupanya aku salah, dia sangat ramah. Tapi tidak berarti tanpa wibawa dan lembek.

“mau bertemu dengan siapa Kang?”

”ini betul rumah tetra?”

“oh si akang mau bertemu neng tetra?”

“iya, tetranya ada?”

“mangga kalebet *, langsung ke kamarnya aja kang”

What? Langsung ke kamarnya? Mungkin dia sedang menunggu orang lain. Mungkin tadi pagi dia pesan pada akang satpam itu. Mang kalau ada yang cari tetra, suruh langsung ke kamar aja ya! Mungkin seperti itu pesannya. Sayangnya aku lebih dulu datang dari orang yang sedang ditunggunya. Aku anggap itu keberuntungan.

Aku mengikuti satpam yang ramah itu, dibawanya aku ke halaman belakang. Aku terkagum-kagum dengan hamparan bunga melati yang menutupi pekarangan. Teman, kalau kau sempat berkunjung ke rumah ini pasti kau teringat nyanyian anak-anak, lihat kebunku penuh dengan bunga…sayang, pemilik rumah ini tak tahu kalau bunga yang ada di dunia ini bukan hanya mawar dan melati saja. Mungkin nanti akan kusarankan padanya untuk menanam…Hmmm bunga matahari, hahaha ternyata pengetahuanku tentang bunga tak lebih baik dari si pemilik rumah.

Kami tiba di sebuah pintu kaca. Aku bisa mengintip isi kamarnya dari balik pintu. Kamar itu seperti yang pernah dideskripsikannya padaku. Besar, penuh dengan segala macam alat untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang wanita. Tapi aku tak bisa untuk tak mengatakan, kamar itu begitu hampa. Aku disuruhnya masuk. Satpam itu berlalu, aku tak sempat bertanya dimana dia? Apa aku harus bengong seharian di kamar ini menunggunya? Ahh untung saja aku melihat sosoknya dari balik kaca. Aku membuka pintu kaca yang lain. Dia masih asyik mondar-mandir di dalam kolam. Dulu ketika aku masih sering bersamanya, dia selalu mendesakku untuk menemaninya berenang. Aku tak pernah mau, tentu saja karena aku tak bisa berenang. Air dan aku tak pernah bisa berjodoh.

Aku terus memperhatikannya. Aku jadi menyesal kenapa dulu tak pernah mau diajak berenang olehnya. Teman, jika kau seorang laki-laki, pasti tahu rasanya melihat seorang wanita yang kau dambakan ada di hadapanmu dalam kostum renang. Ahhh indah teman, indah sekali. Jangan heran, jika aku hanya bisa bengong, tak ada keberanian untuk memanggilnya. Aku hanya berusaha menikmatinya saja. Gak salah kan?

Dua puluh menit berlalu, dia keluar dari kolam renang, ahhh bayangkan teman, dia mungkin tak seseksi Dian Sastro, tapi tetap saja indah melihat butiran air di sekujur tubuhnya. Dia masih belum menyadari kehadiranku. Dia memakai mantel handuk. Mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Rambutnya pendek sekarang. Tak pernah kubayangkan ternyata dengan rambut sependek itu, dia masih saja indah. Aku bisa merasakan mataku melotot memperhatikan dia. Tanpa membuka mantelnya, dia membuka baju renang yang tadi dipakainya. Jangan tanya aku bagaimana caranya Teman? Tapi dia berhasil melakukannya. Aku sedikit berharap dia membuka mantel handuknya. Kali ini aku kurang beruntung. Dia sudah melihatku. Keningnya berkerut keheranan, tapi itu hanya sekejap saja. Detik kemudian dia sudah tersenyum dan menghampiriku.

“apa kabar?” dia menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

“baik, tetra apa kabar?”

“baik juga, sudah lama nonton tetra renang?”

“hmmm…lumayan”

“kenapa nggak manggil?”

“takut ganggu yang lagi asyik” kali ini dia tertawa. Dia tak melepaskan tanganku, dia menarikku masuk ke dalam.

“welcome…”

“thanks, persis seperti yang diceritakan”

“yeah…mau minum apa?”

“yang ada aja deh…”

“OK”

Dia membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol susu.

“aduh, pliss jangan itu”

“katanya yang ada aja”

Aku terpaksa menghampirinya dan melihat isi kulkas. Coca cola, pepsi, ah minuman bersoda semua. Tapi, masih ada sebotol frestea. Kuambil dan kubuka tutupnya. Dia tertawa melihatku. Hampir saja…aku terpaksa minum susu…

Dia kemudian meminta izin untuk membersihkan diri dan memakai pakaian. Aku menunggunya sambil menonton TV. Tentu saja tanpa konsentrasi, tadi aku sedikit berharap dia akan cuek dan berpakaian di hadapanku. Untuk kedua kalinya, aku tak beruntung lagi Teman.

Entah darimana suara lagu itu datang. Eternal Flame. Lagu kita berdua…close your eyes, give me your hand darling, do you feel my heart beating? Do you understand? Do you feel the same? Am I only dreaming?…kudengar dia bersenandung. Sedetik kemudian dia muncul dengan pakaian yang sudah kukenal, celana pendek gelap dan kaos putih, dia tertawa dan mengeluh.

“damn, kenapa harus lagu ini ya?”

Aku tak menjawab, yang kulakukan kemudian adalah menghampirinya, membuatnya menatapku. Kututup matanya dengan tanganku, kugenggam tangannya.

“wanna dance with me?” dia tersenyum, membuka matanya, dan tampak mau menginjak kakiku. Huh…pernah melihat orang berdansa dimana kaki si perempuan menginjak kaki pasangannya? Si laki-laki yang bergerak dengan kaki si perempuan di kakinya. Tampaknya itu yang akan dilakukan olehnya. Tentu saja kucegah.

“jangan…itu milik pangeran…”

“ah jangan merusak kesenangan”

Tak kuabaikan protesnya. Yang kulakukan adalah mengangkatnya dan membuat kakinya melayang. Kubisikkan satu kalimat…

“I miss you”

“miss you too” jawabnya dengan lembut sambil mengusap rambutku.

“wow, serasa jadi kuntilanak, gak nginjak tanah…” tiba-tiba dia berkomentar.

Aku tak menghiraukan protesnya. Aku terus bergerak.

“gak berat gini terus?”

“ringan kok…”

“hahaha, ringan? Apa itu kata yang sopan untuk kurus?”

Dia memang ringan. Aku bisa merasakan tulang rusuknya di tanganku. Yeah dia lebih kurus dari yang kukenal. Anehnya wanginya masih sama seperti yang kuingat. Dulu dia sering membukakan pintu tengah malam untukku. Wanginya juga sama. Sempat aku curiga, dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya sebelum membuka pintu. Sekarang aku tahu, memang seperti itulah wangi tubuhnya.

Aku mencoba mengalihkan perhatiannya, kalau tidak, pasti dia akan mengoceh betapa tak seksinya dia, karena kekurusannnya itu.

“lagunya sudah habis”

“mau kuputar lagu yang pantas untuk berdansa?”

“ah jangan, pasti punya pangeran juga…”

“kalau terus menyebut nama itu, akan kusuruh satpam menyeretmu keluar…”

“sorry” aku meringis. Menurunkannya dari pangkuanku. Lagu yang terdengar begitu rancak. Pitbull-Blanco. Kita menari sambil tertawa. Kalau saja aku bisa bilang padanya. Hal ini mengingatkanku pada satu peristiwa menyakitkan, yeah aku pernah melihatnya menari seperti itu, tertawa seperti itu, tapi bukan bersamaku. Bersama seorang yang kukenal. Seseorang yang aku tahu dekat dengannya sama seperti aku. Seseorang yang membuatku sadar kalau aku sebenarnya sangat menginginkannya. Seseorang yang membuatku tahu, ternyata bukan aku saja yang bisa membuatnya bahagia.

Lagunya berganti, lagu lokal, tapi terdengar pas dengan isi hatiku. Asmirandah feat Robinhood-Salahkah kita. Bukan aku tak ingin cinta, tapi aku takut menyakitimu, dan kini aku jauh darimu, ada yang hilang dari hatiku…aku kembali mengangkatnya, aku ingin sekali bertanya…apa aku harus bertanya dulu? Tampaknya YA, aku harus bertanya!

“masih hafal…sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan…”

“kenapa dengan lagu itu?”

“apa sering mengingatkanmu pada sesuatu?”

“apa?”

Yeah tampaknya dia lupa, first kiss, dibalik panggung sebelum dia menyanyikan dua lagu keroncong dalam sebuah perlombaan. Bagaimana Teman, apa harus kuingatkan dia? Baiklah kau setuju denganku bukan kalau kuingatkan dia?

Hmmmm….

Ah…seperti yang sudah kuperkirakan, rasanya masih sama. Tidak teman! aku tak mau menjelaskan bagaimana rasanya, kau coba sendiri saja lah. Tapi maaf jangan sama dia, dia milikku. Coba saja dengan kekasihmu. Kalau sudah kau coba, bolehlah kita samakan persepsi tentang rasanya itu…

“aku ingat yang itu, aku tak bisa lupa” begitu katanya.

“aku juga ingat, wajahmu bersinar di panggung, sama seperti sekarang”

“oh yah?”

Sebuah ketukan di pintu membuatku melepaskan dia. Rupanya sudah waktunya untuk Tuan Putri makan siang, minum obat, dan tidur siang. Dia pasti benci sekali melakukan itu. Seperti bayi begitu selalu dia bilang tentang tidur siang. Anehnya walau dia tidur sesudah makan, berat badannya tak pernah bertambah, padahal teorinya, tidur setelah makan itu akan bikin gemuk. Rasanya aku ingin menciumnya sekali lagi, agar matanya terus berbinar, agar wajahnya tak berhenti bersinar. Dan bukannya hampa seperti mayat.

Aku menemaninya makan. Aku berniat menyuapinya. Sepertinya itu romantis. tapi rupanya menyuapinya adalah kesalahan.

“jangan plis…”

“kenapa?”

“aku bukan bayi, aku bisa sendiri”

“owh…”

Coba lihat betapa redup matanya, setelah dia mengatakan itu. Bibirnya bergetar. Aku bisa melihat usahanya untuk membendung tangis dari matanya. Ah teman, ingin rasanya aku menggantikan deritanya.

“masih ingat sebulan yang lalu kau bertanya bagaimana kalau tetra mati? Apa aa akan sedih?”

“yeah, kau tak menjawabnya, jadi kujawab sendiri saja, aa akan melanjutkan hidup, tentu saja, memang siapa aku bagimu?”

Aduhhh salah lagi deh…

“sebenarnya aku bingung, aku ingin menjawab dengan kalimat yang membuatmu bisa bertahan, tapi aku tak punya kalimat itu”

“apa sekarang kau sudah punya kalimat itu?”

“ya aku sudah punya jawabannya”

“so, bagaimana kalau aku mati? Apa kau akan bersedih?”

“jika aku punya dua nyawa, akan kuberikan semuanya padamu, kau pasti akan bisa hidup dengan dua nyawa yang kuberikan itu kan?”

“wow” dia terperangah, tak percaya pada apa yang telah kuucapkan padanya. Sebenarnya itu slogan sebuah klub hooligan di kroasia. Aku baru saja menonton liputannya di sebuah TV swasta. Barusan saja ketika aku menunggunya berpakaian. Semoga saja dia tidak tahu.

Dia menyudahi makan siangnya. Seorang yang mirip perawat datang, aku melihatnya meringis ketika perawat itu menyuntik lengannya. Suntikan itu membuatnya kembali redup. Aku menggendongnya menuju tempat tidur. Kuputar sebuah film untuk menemaninya, cold mountain-jude law&nicole kidman. Huh melihat film itu serasa bercermin pada kisah aku dengannya. Sebelum dia terlelap sempat dia berkata padaku.

“maafin tetra ya, tetra tahu ini masih asing buat aa, biasanya tetra yang menonton aa tidur, sekarang jadi aa yang terpaksa menunggu dan menonton tetra tidur…”

Jujur, aku tak tahan untuk tak menangis, untung saja dia sudah terlelap ketika aku mengusap air mata yang terlanjur keluar. Teman, dia adalah wanita pertama yang membuatku menangis. Kucium keningnya, kubisikkan di telinganya…

“I LOVE YOU”

Aku tertawa, benar apa yang dibilangnya, ini memang asing bagiku, bahkan aneh, karena biasanya dulu dia yang diam-diam membisikkan kalimat itu di telingaku. Tentu saja aku mendengarnya tapi aku pura-pura terlelap. Dan sekarang aku yang melakukannya. Sungguh asing…Aneh!

***

Epilog

Seorang perempuan terbangun dari tidurnya, dia melirik ke samping tempat tidur mencari sosok yang tadi menemaninya. Senyum getir mengembang di bibirnya ketika tak ada sosok yang dicarinya itu. Ah rupanya cuma mimpi, tapi mimpinya sangat indah… masih diingatnya kalimat indah itu…jika aku punya dua nyawa, akan kuberikan semuanya padamu, kau pasti akan bisa hidup dengan dua nyawa yang kuberikan itu kan?

Terlalu banyak nonton TV, sampai-sampai kalimat-kalimatnya terbawa mimpi…hahaha…sungguh menyedihkan…

Telepon di sudut kamarnya berdering, dia bangkit untuk mengangkatnya…

See! Bahkan tak ada yang membenarkan selimutku!

“hallo, ya mang, ada apa?”

“Neng, tadi kata si akangnya kalau neng sudah bangun, disuruh siap-siap, katanya mau diajak nonton”

WHAT??? Aku pasti berhalusinasi lagi, tadi itu mimpi atau bukan sih?

“si akangnya mau nginep gak neng? Kalau mau nginep, kamar tamu mau dibersihkan?”

WHAT???

*to be continued*


* mangga kalebet (sunda) = silahkan masuk


4 komentar:

cYpUd eNdUt mengatakan...

wowo its so cool,buruan posting lanjutanna geh!!

LUKA mengatakan...

sabar cypud, lukanya masih sibuk dengan serangan xserdadu [ngakak]

cYpUd eNdUt mengatakan...

jah serdadu eang mana luk?

LUKA mengatakan...

tuh di shoutbox [guling] bisa diapus gak sih yah?