Sabtu, 02 Mei 2009

CAHAYA; AH DIA MAUNYA LANGSUNG ENAK! CESS CESS!!!

....blah blah blah.....


“hah? Bener-bener kurang ajar dia! Monyet banget!”

“hu uh taik kucing anak kemaren sore juga, apa maksudnya bilang Pantes saja?”

“anjing anjing anjing…” aku melantunkan makian dengan cepat.

“astagfirullah, subhanallah, subhanallah…”

“ALLAHU AKBAR!” kami bertakbir hampir bersamaan diiringi dengan tawa.

Ah teman, kalian tidak akan mengerti. Bukan berarti kalimat zikir itu kita jadikan lelucon, tapi ini semacam kenangan indah. Dulu kami sering jalan bersama seorang teman yang jilbabnya paling lebar di kampus kami. Dia selalu tampak rikuh dan parno. Takut ketahuan dia jalan-jalan ke MATOS padahal organisasi putih tempat dia bernaung mengharamkan kegiatan apapun yang dilakukan di MATOS. Apalagi kalau perginya bersama seorang wanita bengal yang jalan bersamanya hanya memakai celana pendek di atas paha dan tengtop yang ditutupi sebuah kardigan yang akan dibukanya jika sampai tujuan (yang dibukanya kardigannya bukan celana pendeknya, hehehe). Ah kalian pasti sudah tahu kalau wanita bengal itu adalah aku. Aku dan Aya biasanya terlibat pembicaraan yang berakhir dengan makian. Makian favorit Aya adalah bajingan dan taik kucing sedang aku monyet dan anjing. Nah, ketika kami sibuk mengeluarkan segala jenis penghuni Ragunan, Teman yang jilbabnya paling lebar itu akan berzikir dan mengingatkan kami. Kami malah sering menggodanya dengan sering-sering memaki. Sampai akhirnya dia cape sendiri dan berhenti mengingatkan kami. Ah…Uzi, dimana kamu sekarang? Kami merindukanmu.

“tet, masih disana?”

“iya ada ada”

“ah tuh kan kalau Aya cerita panjang lebar, mesti tetet gak pernah konsen”

“hehehe, diulang lagi dungs”

“males!”

“ya udah deh!” aku tak memaksa, paling dia juga akan ngulangin ceritanya, aku mulai berhitung, satu…dua…ti…

“eh, tadi aku cerita kalau aku sempat ketemu sama Wiwin”

“wah bagaimana kabarnya tuh?”

“dia baik saja, masih nyungseb di Surabaya. Dia nanyain tuh, sempat bisik-bisik gini; Aya, ini antara kita-kita saja ya? Si Tetet itu sebenarnya udah merit, mau merit, atau masih jauh meritnya?”

“lho kok nanya gto? Dijawab apa?”

“ya mbuh, kujawab; Win, ini antara kita aja, swear Aya gak tahu gimana kabarnya si Tetet, udah sebulan gak pernah komunikasi lagi sejak kita berantem di YM ngomongin Nabi Muhammad SAW yang pernah kasih perintah buat masturbasi ketika mau perang itu”

“hahaha, syukurlah…”

“lha lagian kan emang Tetet gak pernah cerita tho kalau masalah kayak gto?”

“hehehe”

“terus aku bilang, kayak gak tahu si Tetet aja, dia tuh AYAM, mana berani kawin? Maunya cesss cesss langsung enak!”

“ah monyet nih! Jadi kalau di belakangku kalian ngomongnya kayak gitu”

“hahahaha, lha emang bener kan?”

“tahu ah…” dia tertawa terbahak-bahak, aku hanya tersenyum saja. Sebenarnya agak sakit dibilang seperti ayam yang takut kawin dan maunya langsung enak, tapi aku tak bisa menyangkal, setidaknya untuk saat ini mungkin memang seperti itu adanya.

“terus terus…ada kabar apa lagi nih?” hening sejenak, ada suara tangis tertahan aku mengerti, tak mungkin dia bela-belain menghubungiku hanya untuk bergosip tentang teman-teman kita saja.

“kupeluk lagi ya?”

“hmmm, eh Tetet tahu gak si Ika itu kerja dimana sekarang?” ah…belum sampai inti rupanya. okelah kulayani.

“gak tahu, emang gak satu kerjaan sama kembarannya si Wika itu?”

“nggak tuh Tet! Kata Midul juga mereka itu gak satu kantor, kan kalau si Wika di Departemen apa gto?”

“hahaha, terus terus…”

“sebenarnya ya Tet, aku tuh gak pernah suka sama Si Ika, dia tuh aduh…gimana ya?”

“sombong? Somse?”

“nah itu dia! Kupikir Cuma Aya aja yang merasa seperti itu, Tetet juga ya?”

“iyalah, si Wika aja sempat pengen cerai lho sama dia”

“hah? Si Wika kembarannya yang kemana-mana bareng itu? Pengen cerai juga?”

“iya…!”

“ dia cerita sama Tetet?”

“ya iyalah”

“wah emang kamu tuh tempat sampah semua orang ya?”

“hahahaha, nggak lah, kebetulan aja dia cerita” gak peka, menjadi tempat sampah itu bukan sebuah pujian Tet!

“nah kemaren itu, aku tuh chatingan juga sama dia, dia bilang dia di jakarta sekarang sudah kerja, nah pas kutanya dia kerja dimana? Dia gak jawab, ku buzz beberapa kali gak dijawab juga! Kupikir itu dari dulu emang dia gak suka sama aku!”

“ah paling dia malu kerjaannya ecek-ecek”

“iya mungkin begitu kali ya? Dia mungkin pinter ya? Okelah kalau itu, Aya juga ngerti, tapi kalau masalah fisik, aduhhhh dia tuh gak ada seujung kuku pun! Masa ya dia juga pernah bilang gini, waktu itu Aya sama Tetet belum deket banget, Tetet jalan di depan aku sama Ika, dia bilang kayak gini: aduh plis deh dandanannya norak banget”

“hah? Kok norak emangnya aku pakai apa waktu itu?”

“baju merah kayaknya”

“aku memang suka warna merah kan?”

“iya! Emang siapa dia ngomong kayak gto? Sok cantik banget! Tetet yang semlohay aja masa dibilang kayak gto?”

“hahahaha….”

Hening sejenak, ada tarikan nafas yang berat terdengar!

“kupeluk lagi ya? Muachhh cup cup cup”

“bentar yah Aya tutup pintu kamar dulu”

“oke, kutunggu”

Beberapa menit kemudian…

“Tet”

“iya sayang? Cerita lah…”

*aduh Si Aya mau ngomong apa seh sebenarnya? sabar...ketahuan kuk ntar di episod selanjutnya...*

4 komentar:

Hansen mengatakan...

cerita : CAHAYA itu Mengenai apa sih ??

Koq berliku-liku bangedz kayanya ???

Bikin Bingung antara yg cerita dengan yg diceritain.. pa karna penggunaan bahasanya yg saya kurang ngerti yach ??

senja merah mengatakan...

uggh begitu roman nya...

cYpUd eNdUt mengatakan...

penasarannnnnnnnnn

LUKA mengatakan...

@ hansen: hihihi...sebenarnya luka lg belajar bikin dialog, ternyata gak begitu sukses...hihihihi, ceritanya tentang pembicaraan dua orang sahabat, cahaya sama tetet, nah disini yang cerita itu si tetet-nya...//jangan2 emang karena kita membosankan yah? xixixix

@ senja merah: ah gak romannya di cerita ini mah

@ cypud: sabarrrr....hihihihi