Kamis, 14 Mei 2009

HIHIHI, KETAHUAN YAH TULISAN YANG PENGEN KAWIN?!

Kalau ada orang yang bertanya padaku, siapakah penulis novel bergenre metropop yang paling aku sukai? Aku akan dengan yakin menjawab: CLARA NG. bukan saja karena novel-novelnya punya imajinasi yang amat liar,tapi juga lucu. Membaca novel Clara Ng adalah hiburan yang amat sangat menghibur.

Aku berkenalan dengannya mulai dari The Unreality Show. Novel yang satu itu uh bukan main liarnya. Tentang beberapa orang yang terjebak dalam sebuah acara reality show. Mereka harus hidup dalam satu rumah dan menjalani kehidupan layaknya manusia biasa. Kocak abis deh. Setelah The Unreality Show, aku mengenal Indiana Chronicle, ada 3 novelnya: Blues, Lipstick dan Bridesmaid. Masih kocak dan menghibur. Bercerita tentang Indiana Lesmana dan gaya hidup metropolitannya. Mengingatkanku akan kehidupanku sendiri pada waktu itu. Bedanya adalah aku punya pekerjaan amat menantang dan tidak membosankan seperti Indi.

Setelah itu aku vakum dengan Clara Ng, sampai kemudian seorang teman bertanya aku minta apa sebagai imbalan karena telah membantunya. Aku bilang padanya belikan aku novel Clara Ng. seminggu kemudian aku mendapat paket novel Clara Ng yang amat berbeda. Judulnya Gerhana Kembar. Ih novel yang satu itu, bahasanya sangat surat-kabar sekali. Mungkin karena novel itu terlahir dari cerita bersambung yang di muat di salah satu surat kabar nasional. Tak ada lucu-lucunya, tapi masih menarik dalam hal keunikan temanya, tema tentang Lesbian. Oh tentu saja tidak porno sama sekali. Kalau saja kisah cintanya itu antara laki-laki dan perempuan aku pasti akan menyanjungnya setengah mati. Hanya saja karena kisah cintanya tentang perempuan dengan perempuan, “Makasih deh, aku sama sekali tak tertarik, jambu makan jambu dongs ah…”

Sampai 3 hari yang lalu, entah ada angin apa tiba-tiba Suaminya Mami memberiku sebuah novel Clara Ng yang lain. Kuterima dengan penuh rasa curiga.”Ada apa nih? Kok tiba-tiba? Masih mau berusaha mengambil hati? Aduh tak usah yey…hey my step-father I never like u…NEVER…NEVER…NEVER!” Eh kok malah curhat yah? Ah tapi mengingat itu Clara Ng, kuterima juga pemberiannya. Rupanya dia sempat mendengar aku berkeluh kesah tentang “Gerhana Kembar punya Clara Ng yang ini kuk membosankan gini ya?” dan dia kemudian berinisiatif untuk membelikan aku novel Clara Ng yang lain (ah keteguhan Imanku ternyata cuman setebal Novel Clara Ng…).

Memang tidak mengecewakan. Tiga Venus yang diberikan Suaminya si Mami itu benar-benar sangat Clara NG. Bercerita tentang tiga wanita yang terdiri dari: lajang, janda, dan ibu rumah tangga tulen. Tadinya kupikir ceritanya seperti Desperate Housewife, tapi sedikit berbeda. Kalau boleh menyimpulkan ceritanya seperti Desperate Housewife yang digabungkan dengan He’s The Girl. Itu lho film yang bertukar jiwa antara seorang laki-laki sama perempuan. Nah jadi ketiga wanita itu tiba-tiba jiwanya bertukar tempat, si Ibu Rumah Tangga menjadi Janda, si Janda menjadi Lajang, dan si Lajang menjadi Ibu Rumah Tangga. Seru…coba baca deh! Dijamin ngakak guling-guling.

Yang menarik dalam Tiga Venus adalah kisah si Lajang, ada kutifannya yang sangat nendang abis. Begini katanya: “siapa takut menjadi perawan tua? Hari gini, menikah bukan lagi sekedar institusi romantis nggak jelas. Menikah adalah kerjasama dua pihak yang saling menguntungkan. Persis kayak merger dua perusahaan gede. Masalahnya, saya belum berhasil menemukan perusahaan yang sehat. Yang saya temukan kebanyakan perusahaan sekarat”…Kurang ajar sekali bukan?

Ketika sampai halaman 61 itu, aku menghentikan kegiatan membacaku. Dan kemudian berpikir. Hmmm, sebetulnya setuju banget! Hari gini gto dimana perceraian bukan lagi sekedar proses yang semata-mata dibenci Tuhan, orang bercerai seperti makan kacang beracun dan mahal. Bayangkan sudah berbahaya, mahal pula! Tapi orang berduyun-duyun pergi ke pengadilan untuk melakukannya. Ahhhh lembaga yang satu itu (baca: perkawinan) selalu saja membuatku merinding.

Yang kulihat adalah romantisme perkawinan hanya terjadi di awal. Selebihnya adalah kompromi. Tepat sekali seperti kata Emily perkawinan tak lebih baik daripada merger perusahaan besar. Mengandung resiko amat besar jika ternyata perusahaan yang kita merger hanya berupa perusahaan yang hampir kolaps. Ah sungguh berbahaya! Terkadang aku kagum sama orang-orang yang di usia muda sudah berani mengambil keputusan untuk menikah. Bukan main keberanian mereka! Sementara aku berkali-kali ehmmm…lari dari lembaga yang satu itu. Kalau boleh membela diri, aku menghindar tak lebih karena Perusahaan Yang Akan KuMerger adalah perusahaan yang sakit yang hanya berusaha numpang hidup dari segala kelemahan dan kelebihanku. Perusahaan yang sungguh egois! Dan sekarang kalau boleh jujur, ada perusahaan sehat yang mau merger denganku, masalahnya adalah Perusahaanku sekarang sedang kembang-kempis, sekarat, hampir pailit…ah pahit sekali Teman, andai perkawinan seperti layaknya bisnis hanya untuk keuntungan semata, tentu tak akan kusia-siakan kesempatan sebesar itu…hanya saja…ahhh mungkin aku terlalu banyak berpikir, menimbang, tanpa berani memutuskan!

Pernah aku mendapatkan seorang klien yang mau bercerai, tapi masih sempat-sempatnya dia berwasiat: orang yang takut menikah sama saja dengan orang yang takut hidup! Sungguh sampai sekarang aku tak tahu apa maksud dari wasiat bapak yang satu itu. Oh mungkin karena aku belum mencobanya barangkali (mencoba untuk menikah, kawin!). Tapi tetap saja….

Ah jadi ingat laporan seorang teman, tentang gosip yang sempat beredar tentang aku…”ah dia itu AYAM, mana berani dia kawin…maunya langsung tancap gas! Langsung enak…cessss…” KURANG AJAR!


*diposting juga di pesbuk ntah tanggal berapa, ntah dengan judul apa...*

1 komentar:

ATeChNiQuE mengatakan...

Ia tak mengenal konsep “kecuali”.Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis?
Saya ATeChNiQuE Peace ^_^