Saat-saat paling sepi adalah ketika tengah malam atau entah jam berapa aku terbangun, mendapati diriku sendirian di sebuah ‘ruang hampa’ dalam kegelapan, hanya suara kendaraan yang bisa kudengar berdengung dari jalan. Selebihnya adalah suara tangis, bayang-bayang masa lalu, dan sebuah rasa sakit. Biasanya aku akan menutup wajahku dengan bantal, bantal yang terkadang sudah berdarah karena darah tak henti-hentinya keluar dari hidungku.
Aku harus meredam rasa sakit itu, jangan sampai ada rintihan keluar dari mulutku, jangan sampai ada yang mendengar tangisanku, jangan sampai ada yang tahu kalau malam itu ada perih yang menusuk-nusuk perutku. Jangan sampai!!! Karena kalau sampai ada rintihan yang terdengar oleh semua penghuni istana, semua orang akan terbangun, tergopoh-gopoh mereka menggedor pintu kamarku, mendobraknya, panik…dan aku akan berakhir di sebuah rumah pucat dengan jarum infus menusuk pergelangan tanganku.
Dan setiap kali aku menatap pintu gerbang rumah pucat itu, selalu ada yang meleleh dalam jiwaku. Bisakah ragaku dan nyawaku keluar bersamaan dari rumah pucat itu? ataukah hanya salah satunya saja? Ragaku keluar dari rumah pucat itu dan nyawaku tertinggal disana? Ahhh sungguh itu sangat menakutkan Teman!!!
Hal itu diperparah dengan bayangan seseorang di otakku. Aneh, dalam hidupku rasanya puluhan tokoh sudah masuk untuk menorehkan luka atau keluar dengan membawa luka, tapi mengapa bayangan dia yang kuingat? Mengapa bukan Pangeran? Mengapa bukan Satria? Kenapa harus seorang Prajurit?
Harusnya aku tahu sosok Prajurit adalah tokoh yang selama ini aku impikan. Dia datang ketika aku berpikir tak mungkin lagi keluar dari bayang-bayang Pangeran dan Satria. Dia datang tidak dengan kuda, tidak dengan pedang, hanya sebaris kalimat yang dia bawa. Sebaris kalimat yang lebih indah daripada I LOVE YOU yang seringkali didengungkan oleh Pangeran. Sebaris kalimat yang lebih merdu dibandingkan AKU SAYANG KAMU yang diucapkan Satria. Sebaris kalimat yang menjadi pertanyaan yang tak mampu aku jawab sejak ribuan tahun yang lalu, adakah di dunia ini yang peduli padaku? Dan dia datang membawa jawabannya, GW PEDULI SAMA LO! PEDULI! PEDULI! PEDULI!
Aku telah berhasil menghindarinya. Aku telah berhasil membuatnya kecewa berkepanjangan. Aku telah berhasil menolaknya masuk ke hidupku. Padahal lebih dari apapun, lebih dari sakit yang kurasakan setiap malam, Aku merindukannya! Sangat merindukannya! Seringkali aku berharap, dia bisa mendengar segala rintihanku, seringkali aku ingin bercerita padanya betapa menderitanya aku. Tapi semuanya kutahan, karena rasanya ada jiwa yang sedang terinjak-injak ketika nanti kudapati pandangan matanya adalah pandangan mata kasihan. Aku tak berani menatap mata itu. Aku sudah terbiasa dengan segala ungkapan simpati dan pandangan mata iba dari orang-orang di sekitarku. Tapi setiap kali membayangkan dia memandangku seperti pandangan mata orang-orang, aku tahu aku tak akan sanggup menghadapinya. Aku pasti menangis di bahunya dan minta dikasihani. Rasanya lebih sakit dari sakit yang kurasakan setiap malam.
Jadi, ketika pagi tiba, ketika adzan shubuh sayup-sayup terdengar merdu, aku akan bersujud, bersyukur atas telinga yang masih bisa mendengar adzan, bersyukur atas hidung yang masih bisa menghirup udara pagi, bersyukur untuk mata yang masih bisa melihat horizon di kaki langit, horizon yang dulu sekali seringkali kunikmati bersama Prajurit, dan bersyukur atas rasa yang masih mampu merasakan hangat mentari pagi. Sungguh seumur hidupku baru sekarang-sekarang ini bisa kunikmati pagi dengan penuh rasa haru. Andai bisa kunikmati semua itu dalam pelukannya.
Teman, tolonglah, aku tahu kau mengenalnya, tolong sampaikan pesanku padanya, aku sangat merindukannya, bilang sama dia, temani aku dengan segala cara yang bisa dia lakukan, hanya menemaniku saja…tolonglah…
(ditulis ketika squidword tak muncul di Bikini Bottom pagi ini, kemana sih dia? Sepertinya aku harus menulis
==
Tulisan ini diposting juga di Facebook ntah tanggal berapa, dan diposting kembali di blog dengan harapan punya peluang yg lebih besar untuk dibaca oleh yang bersangkutan...(ngarep mode on)


4 komentar:
Kenapa Harus Prajurit ?
hmmm kenapa yah? terus terang sulit untuk dideskripsikan...yg pasti gw jadi semacam: somebody dream about him every single time...gw menamakannya soldier syndrome :)
Apakah Seseorang yang kamu namakan "Prajurit" itu Benar benar nyata adanya ?... :d
tentu saja dia gak ada...ini kan cuma cerita...cuma kisah...bisa saja dia cuma khayalan :P weeekkk...bisa saja ketika aku menulisnya aku sedang berhalusinasi...bisa saja kan?
Poskan Komentar