TRACK 5
Aku sudah berusaha menjalankan Wine sepelan mungkin agar aku bisa lebih lama bersamanya. Tapi, sepelan apapun akhirnya sampai juga aku di depan rumahnya. Wah, ini pasti sebuah kontrakan penuh dengan cewek-cewek. Pasti gak ada penjaga kos atau semacamnya, cihuyyy…aku diajak masuk ke rumahnya, asyik.
“sama siapa tinggal disini?”
“berdua sama temen” Hah? Berdua? Jangan-jangan dia tinggal sama si Entit, pliss Tuhan jangan-jangan pliss...
”berdua? Sama Entit?”
”kok mas mikirnya gitu sih?”
”lha, tadi Entit bilang ’pulang pagi’ semacam itu lah, kupikir kalian tinggal satu rumah” kujaga nada suaraku agar tak terkesan minta konfirmasi atau pun menuduh.
”bukan! Dia suka numpang tidur disini, datangnya kadang malam banget, bahkan pagi” apa? Numpang tidur? Tidur sama dia dong? Ditidurin? Aduhhh Angel, pliss perkosa aku pliss...
”aku tinggal sama temenku orang Banyuwangi, cewek kok! Kapan-kapan deh kukenalin, sekarang dia lagi pulang” apa? Temannya lagi pulang? Berarti kalau si Entit nginep disini, mereka cuma berdua,aduh Angel. Gak bisa! Aku gak bisa biarin kalian berdua di rumah ini, aku gak bisa bayangin kalian berdua dalam satu kamar yang sama...ngapain? ya mau ngapain lagi? Jancikkk! Kenapa jadi panik gini? Angel pliss perkosa aku saja pliss...
”tapi dia udah tunangan sama tentara, jadi jangan macam-macam”
“heh? Kamu tunangan sama tentara?”
”temenku mas, temenku, bukan aku, gak konsen yah? Bentar kuambilin minum deh”
Dia beranjak dari tempat duduknya. Aku bisa lebih leluasa melihat benda-benda di rumah ini. Tak ada poto sama sekali. Sebuah lemari yang penuh dengan barang pecah-belah semacam keramik. Ah pasti beli di Dinoyo nih. Satu set kursi sederhana yang salah satunya sedang kududuki. Dua buah kamar. Apa? Cuma dua buah? Satu pasti ditempati temannya, satu lagi pasti ditempati olehnya. Terus si Entit kalau nginep tidur dimana? Oh Angel, perkosa aku pliss...
Mataku menangkap sebuah televisi 21 inch di pojok ruangan, terhalang oleh semacam hijab dari rotan, di depannya ada sebuah sofa. Hmmm, aku mencoba membangun pikiran positif, ah si Entit pasti tidur disana, gak mungkin kan mereka tidur satu kamar? Pura-pura naif aja deh, biar aman.
Dia sudah datang membawa minuman, hmmm teh sih tapi kok rasanya seperti dicampur susu?
”gak apa-apa kan ada susu-nya? Adanya itu teh susu, gak punya teh asli”
”gak apa-apa kok, asal gak naruh obat kuat aja di dalamnya...” apa barusan kubilang? Woalah....aku pasti sudah gendeng atau mungkin libidoku sudah mencapai ubun-ubun. Aku tak berani menatapnya. Marah, pasti dia marah.
”hahaha, gila, ngapain naruh obat kuat? Yey...curiga nih, lagi butuh perawatan Mak Erot” Oh Angel, kejutan lagi darinya, dia malah menggodaku. Jancik! Mana siap aku diserang seperti itu?
”hahaha, kirain ngajak pulang, kamu mau perkosa aku” Oh Angel (lagi) kali ini kalimat itu keluar juga dari mulutku.
”yey...jangan-jangan udah siap grakk!”
”apaan tuh yang siap grakk?”
”hahaha ada deh” Thanks Angel, kamu tak melanjutkan pembicaraan berbahaya itu, tapi kalau kamu mau, gak apa-apa kok kalau kamu mau cium aku...ihhh ngarep banget sih Red?!
”namanya siapa sih mas?”
”ah temen-temenku kan panggil aku Red”
”ih curang! Masa gak dikasih nama sama orang tuanya?” tubuhku menegang ketika dia mengucapkan kata orang tua. Ada kesedihan yang menyelusup dadaku. Sesak aku dibuatnya.
”Rangga”
”ohhh Rangga? Kenalin aku Cinta...serius dongs ah!”
”bener, namaku Rangga, tapi di rumah aku dipanggil Angga”
”mas angga...” sumpah mati! Aku mendengarnya mendesah sambil menyebut namaku. Sekali lagi dongs, pliss sekali lagi, perkosa aku...cepetan dongs cepetan!
”yah...”
”boleh kupanggil mas seperti itu?” sambil mendesah gitu? Boleh dongs. Tapi pliss jangan sering-sering yah, sempit nih celana.
“hmmm, gimana yah?”
“ih mau manggil gitu aja gak boleh?”
“lho siapa bilang gak boleh?”
”itu tadi...”
”boleh kok...” maksudku; boleh kok sayang.
”mas angga jangan kamu-kamu lagi dongs sama tetra”
”maunya dipanggil apa emang? Temen-temen panggil apa?”
”Tetet”
”ya udah kupanggil butet”
”ihhh GAK MAU YA?!” dia cemberut. Aku tertawa. Aduh kenapa ini celana makin sempit sih?
“di rumah aku dipanggil Lala”
“kok bisa dari tetra jadi lala?”
“dulu aku cadel mas, jadi dari tetra jadi tetla, ya udah deh lala jadinya”
“aneh, tapi aku panggil trala ah”
”wow! Belum ada tuh yang panggil kayak gitu sama tetra” ah lancar sekali teman. Dia mulai memanggil dirinya dengan namanya sendiri, bukan aku-aku lagi. Pertanda bagus bukan?
”mas angga gak ngerokok?”
”nggak”
”nggak karena di rumah tetra ya?”
“aku memang gak merokok”
“masa sih?”
“iyah! Bukan berarti aku banci lho yah?”
“terus kenapa gak merokok?”
“aku gak akan melakukan hal-hal yang gak berguna, dan merokok bagiku gak berguna” suer, aku tidak sedang merayunya, aku memang bukan seorang perokok. Langka bukan?
“wow! Mas Angga...” dia terpesona. Dan lagi-lagi dia menyebut namaku yang di telingaku terdengar penuh dengan desahan, kejutannya lagi, sambil menyebut namaku dia mengulurkan tangannya ke mukaku dan mengelusnya.
Aku malu teman. Wajahku itu, wajahku itu...bagaimana aku mendeskripsikannya ya? Aku pendek, kulitku hitam, dan wajahku....tolong bayangkan saja wajahnya Dide vokalis Hijau Daun, persis seperti itu, bagian memalukannya adalah wajahku penuh dengan bekas jerawat. Jadi mirip parutan kelapa. Ah aku malu, aku minder. Anehnya aku tak melihat dia merasa terganggu dengan wajahku. Dia mengelusnya tanpa beban, tanpa rasa jijik atau semacamnya. Yang terjadi malah celanaku makin sempit dan aku ketagihan elusannya. Ohhh Angel cepat perkosa aku!
Dia terlihat mengantuk, kulirik jam, wow...01: 30, setengah dua pagi waktu Malang. Dinginnya sudah pasti, di udara dingin itu aku bersama seorang wanita yang cukup hot, di dalam sebuah rumah, cuma kami berdua, woalah setan ada dimana kamu? Kenapa tak jua kau goda aku sampai aku punya keberanian untuk menyentuhnya. Dia terus-terusan menguap...pliss Angel, kamu tidak sedang berusaha mengusirku kan? Ohhh pliss Angel? Bukannya kamu mengajakku pulang karena ingin memperkosaku kan? Ahhhh dia menguap lagi...setan sialan! Kalau lagi dibutuhkan saja gak tahu minggat kemana...awas kalau ketemu, akan kubuat botak kamu setan! (aku membayangkan setannya gondrong).
”ya sudah aku pulang yah?!”
“kok pulang sih? Tetra sendirian dongs?” apa? Ini beneran apa basa-basi sih?
“jadi aku tidur disini?” berharap sangat...sangat...sangat...
“ya udah deh kalau mau pulang...”
“eh gimana sih? Aku pulang nggak nih?” kali ini aku mendengar nada tak sabar dan sangat berharap dalam suaraku, bodo amat! Aku memang berharap kok.
“yo wisss pulang lah” aduh lagi-lagi, lucu sekali mendengarnya mengucapkan kata ‘yo wiss’, logat sundanya itu lho gak matching sama bahasa jawa yang diucapkannya...aduhhhh cium aku dongs Angel!
Aku kecewa. Terbayang di pelupuk mataku, aku di kamar mandi...ahhhh...terpaksa sekali lagi kubuang benih-benih itu di toilet...teganya kamu Angel! Aku pun bangkit. Dia mengantarku ke depan rumah, setidaknya satu ciuman saja pliss! Parah banget memang. Tapi aku lelaki, wajar kan?
“mas...” oh dia memanggilku, deg-degan aku dibuatnya, jantungku seolah sedang lari maraton, berdegup kencang, aku berbalik dan menghadapnya.
“makasih yah” ahhhh cuma sebuah elusan di wajahku seperti tadi, tapi cukup membuatku tersenyum lebar.
“sama-sama, jangan sungkan, anytime”
Dia pun tersenyum. Saat itu seharusnya aku mengambil inisiatif, ngapain kek, menyentuh tangannya kek, mengelus wajahnya seperti dia mengelus wajahku, atau bahkan menciumnya...tapi aku bukan lelaki seperti itu. Walau celanaku bukan main sempitnya. Jauh di lubuk hatiku, aku ingin menjadi temannya, bukan teman tidurnya. Aku ingin terus dekat dengannya. Bukan dekat dengannya di tempat tidur. Aku menginginkannya seperti seorang lelaki dewasa menginginkan seorang wanita pujaannya.
Aku pulang, tapi senyumku teramat lebar. Sudah lama aku tak tersenyum seperti ini. Sudah lama sekali sejak...ahhh, nanti saja itu kuceritakan. Karena sekarang ada yang amat mendesak harus kukerjakan. Bagaimana caranya sampai ke rumahku dengan cepat, berlari cepat menuju kamar mandi...dan....ah kalian lelaki dewasa, tahu pasti apa yang akan kulakukan. Terserah kalian bilang apa! Aku bukan lelaki munafik!
*wahahaha ni pasti penulisnya lagi mendamba vitamin O nihhhh dasar penulis bezatssss!!!*


0 komentar:
Poskan Komentar