Padahal anda tahu berapa usia putri saya? 23 tahun! 23 tahun tapi bahkan untuk makan dengan benar saja masih harus diajari dengan betul. Ah anda jadi berpikir kalau putri saya itu mengidap semacam kelainan jiwa seperti autis atau apalah itu namanya. Sama sekali bukan! Dia juga sama seperti anda, sama hal nya seperti saya juga, dia hanya manusia biasa, manusia biasa yang sangat normal!
Coba katakan pada saya salahkah saya mencintai dan menyayangi putri saya hingga selalu dibikinnya saya ini sesak nafas karena amat mencemaskannya? Apa salah, saya bekerja jungkir balik, kaki di kepala, kepala di kaki hanya untuk memberikan dia yang terbaik? Ya setidaknya terbaik menurut saya. Dan apakah salah, jika saya over protektif terhadapnya sampai saya selalu berusaha menjaganya seperti barang pecah belah? Takut sekali saya dia hancur berkeping-keping tanpa bisa saya sambung lagi pecahan-pecahannya. Takut sekali saya jika dia sudah marah, takut dia meninggalkan saya lagi. Sedih sekali jika saya temui dia tersenyum dan tertawa hanya untuk menyenangkan saya. Sedih rasanya setiap melihat dia berbohong pada saya hanya agar saya tidak mencemaskannya. Dan merana hati ini jika melihatnya terbaring tak berdaya tanpa ada yang bisa saya lakukan untuk menolongnya. Tidakkah dia tahu itu?
Tolong, katakan pada saya bahwa saya bertindak dengan benar ketika saya selalu menelponnya hanya untuk bertanya bagaimana kabarnya? Katakan pada saya bahwa saya tidak melakukan kesalahannya dengan menyuruhnya untuk tak menjamah internet? Karena terbukti internet selalu membuatnya lupa waktu! Katakan jika saya salah karena selalu memaksanya untuk punya kehidupan yang lebih menyenangkan? Dengan tidak takut bersosialisasi, tidak takut untuk melukai hati orang, dan tidak takut untuk menjadi beban bagi orang lain!
Heran saya, apa sih yang ada dalam pikirannya? Bunuh diri pelan-pelan atau bagaimana? Apa tak sedikitpun dia berpikir tentang orang yang menyayanginya? Saya? Adik-adiknya? Seluruh emaknya, bapaknya, aki-akinya, mamahnya, teman-temannya? Apa dia tak pernah berpikir bahwa melihatnya merana dan berjuang sendirian adalah hal yang amat menyakitkan bagi saya dan juga bagi mereka semua?
Amponnnnn Gusti...saya memang pernah melakukan kesalahan dengan merenggut masa kecilnya dan tiga perempat kehidupannya tanpa bersama saya, tak bisa kah saya menebus kesalahan saya itu dengan menjaga dan memberikan yang terbaik untuknya? Apa yang harus saya lakukan?
Ah, maafkan saya karena prolognya terlalu panjang, sedangkan anda belum juga mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat saya berkeluh kesah seperti ini pada anda.
Seperti inilah ceritanya....
Banyak sekali pekerjaan yang harus saya kerjakan di kantor, terlalu banyak sidang yang ditunda, terlalu banyak keluhan klien, terlalu banyak bawahan yang kerja tanpa tanggung jawab membuat beban stress saya ada di level paling tinggi. Dan ketika saya pulang dari kantor menjelang tengah malam, saya sempatkan masuk ke kamar putri saya sekedar untuk melihatnya pura-pura tertidur! Ah memang saya bodoh bisa dikadali olehnya, saya amat tahu hanya sekejap saja dia bisa tidur, sisanya entah apa yang dilakukannya? Saya sempat curiga dia sering memasukkan lelaki ke kamarnya, dan kalau pun itu terjadi, di pikiran saya yang tak waras, saya berharap putri saya MBA. Memang gila, tapi jika anda terlalu bingung dan tak tahu lagi bagaimana caranya agar putri anda bisa bahagia dan segara memberikan cucu pada anda, kemungkinan MBA bagi putri anda sepertinya bukan solusi yang hanya disandarkan karena putus asa. Apa betul begitu? Koreksi jika saya salah, dan tolong jangan bilang anda tidak tahu apa itu MBA!
Mari kita lanjutkan ceritanya. Ya jadi ketika saya masuk ke kamarnya, dia tak ada di sana, sedikit panik, takut dia berubah jadi gila lagi dan meninggalkan saya dengan hati merana. Saya segera pergi ke kamar adiknya. Dan disanalah dia, agak manyun di depan komputer, sekali-sekali senyum, terkadang ngakak, manyun lagi. Ah jika anda tidak tahu teknologi bernama internet, anda akan langsung menyeretnya ke jalan Riau 11 (Riau 11 adalah bekas alamat Rumah Sakit Jiwa di Bandung). Tapi karena saya yakin anda sudah mafhum tentang ganasnya kanker internet yang merubah kehidupan anda 180 derajat itu, sama seperti saya pastilah anda hanya akan menarik nafas panjang dan menekan kekesalan anda. Yang membuat saya tambah kesal adalah ketika mendapati sepiring nasi dan ayam bumbu tergeletak di samping komputer tanpa ada tanda-tanda telah dijamah olehnya. Saya pun segera menegurnya.
”lala can emam?” (lala belum makan?)
”eh mih, belon euy” dia agak terkejut dengan sapaan saya, dan tampak panik, sempat juga saya menangkap gerakan tangannya yang menggenggam mouse, hahaha dia menutup semua halaman yang sedang dibukanya, hanya tersisa hukum onlen dot com. Aduh lala lala, kamu pikir mami ini orang tua bodoh yang tidak tahu kenakalan kamu heh?
”mam atuh buruan, tiis pan sanguna” (makan cepet, dingin kan nasinya)
”he eh mih” dia mengambil piringnya dan nampak jijik dengan hidangan didalamnya. Huh siapa suruh menunda-nunda makan? Makanan jadinya dingin dan basi! Makan tuh makan! Saya mengawasinya, dan sangat tahu dia tidak nyaman dengan itu.
”ya udah atuh, habisin ya mamnya, mami beberesih dulu”
”oke deh, siappp grakkk! You know that your wish is my command”
Ah saya suka itu! Sangat suka! Jadi saya membelai kepalanya yang tertutup kupluk dengan lembut! Sayanggggggg banget :-* muach....
Mungkin karena saya sangat hafal segala kelicikannya, jadi saya kembali ke kamar adiknya setengah jam kemudian. Dan benar saja, piringnya kembali tergeletak merana di samping komputer. Grrrr, saya tahan kemarahan saya. Sabar sabar jeng!!
”euh kebiasaan, sini ah dihuapan ku mami” (sini mami suapin)
”eh hehehehe, jangan dungs, lala juga bisa sendiri Mih” saya tetap memaksa untuk menyuapinya.
”tadi pagi mam apa?”
”bubur mih”
”siangnya?”
”bikin teh doang”
”mana ada tenaga kalau makannya seperti itu?”
”emang tenaga untuk apa mih? Gak macul ini kan? Kalau cuma duduk di depan komputer, baca buku, tidur mah gak butuh tenaga mih” huh sedih sekali saya mendengar kesinisannya.
”lho katanya mau bohay? Katanya dadanya mau tumbuh, pinggulnya mau besar, kalau mamnya susah, mana bisa neh nenen sebesar nenen Farah Quinn?” saya berkata seperti itu sambil nyolek payudaranya, ah nakal sekali saya ini. Kalau anda lelaki saya yakin anda ingin sekali ada dalam posisi saya. Ya kan? Ya walaupun payudara putri saya jauh dari kata menggairahkan.
”eitttt....nyolek-nyolek punya orang, kayak gak punya aja....” dia menjawab sambil menutup dadanya dan membalas menyolek payudara saya. Saya tahu apa komentar anda, pasti anda akan bilang: ’keluarga macam apa tuh?’ Hahahaha hanya sekedar memuaskan keingintahuan anda, saya katakan pada anda satu fakta tentang keluarga kami, yeah keluarga kami memang agak kurang waras!
Akhirnya saya tak tahan juga melihatnya tersiksa karena harus menelan makanan. Jadi saya menyuruhnya untuk melanjutkan makan sendiri. Dan saya dengan agak berlari keluar dari kamar sekedar ingin menarik nafas panjang dan meredakan segala amarah, kesedihan, dan putus asa yang tiba-tiba menyeruak menyerang pertahanan saya.
Ketika saya kembali ke kamarnya, saya mendapati piringnya kembali merana, tersisa setengah piring nasi di piringnya, sedangkan ayamnya tak tersisa sedikitpun, membuat saya curiga, masa tulang ayamnya juga dimakan sih? Terdorong oleh kecurigaan saya itu, saya mendekati tempat sampah yang ada di pojok kamar, dan benar saja, ada muntahan nasi di sana, dan daging ayam yang baru secuil dimakan olehnya tampak sebal memandang saya. CUKUP SUDAH! SEKALI INI SAYA NAIK DARAH!
”NANAONAN IEU TEH? DITITAH DAHAR WE NI HESE NYAK! SAKITU AWAK TINGGAL TULANG OGE! TEU GEULIS IEUH MANEH TEH MUN AWAK JIGA CONGCORANG NANGKA KITU! KALAKUAN TEH GEUNINGAN JIGA BUDAK TK KENEH ATUH?” (apa-apaan ini? Disuruh makan aja susahnya minta ampun! Padahal badan tinggal tulang juga! Gak cantik kamu ini kalau badan seperti congcorang nangka gitu! Kelakuan kok masih kayak anak TK aja sih?)
Interupsi sebentar, jika anda tidak tahu congcorang nangka, beginilah bentuknya...
Dan inilah bentuk tubuh putri saya jutaan tahun yang lalu, jutaan tahun yang lalu aja bisa sekering ini, apalagi sekarang? bener-bener zombie! sama tipisnya seperti congcorang...
lanjuttttt....Banyak yang saya katakan padanya, rasanya saya mengeluarkan beban emosi saya selama satu bulan ini. Lalan dan acep, adik putri saya itu terbangun. Sementara dia bengong, yang membuat hati saya miris, dia menutup matanya dengan tangan, menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesungging senyum-- entah menertawakan saya atau apa—menghiasi bibirnya. Tak ada keluhan sama sekali, hanya senyum miris yang saya dapat darinya. Saya amat tersinggung! Tanpa pikir panjang saya renggut piring nasi yang ada di samping komputer,saya lemparkan ke dinding, pranggg….sejumput nasi menempel di pipinya, matanya amat terluka dan tidak berdaya! Anehnya dia diam, ya ampun bahkan marah sekalipun dia sudah tak bisa. Penyesalan itu yang saya rasakan kemudian! Menyesal sekali melihatnya menjadi mayat hidup seperti itu.
Seisi rumah terbangun, saya hanya bisa menyuruh mereka kembali ke kamarnya masing-masing, dan saya pun kembali ke kamar saya, masih terbayang wajahnya yang terluka, masih jelas diingatan saya sejumput nasi yang menempel di pipinya. Oh Tuhan apa yang sudah saya lakukan? Mengapa menambah luka hatinya? Mengapa malam ini saya tak bisa menahan emosi saya? Mengapa saya sama kekanak-kanakkannya seperti dia?
Saya butuh seseorang untuk menentramkan hati saya, saya menelpon suami saya yang memang kerjanya di luar kota. Saya menangis mengadukan kecerobohan saya. Dan suami saya itu anda tahu? Dia adalah oase saya, tempat saya menemukan mata air sejuk di tengah panasnya gurun pasir, dia adalah kehangatan tempat saya bermanja-manja di tengah dinginnya hawa kutub utara yang ganas itu. Saya bersyukur masih punya sandaran di tengah kemelut saya itu. Dia menawarkan untuk berbicara dengan putri saya, saya melarangnya, karena saya tahu putri saya masih belum bisa menerima suami saya sepenuhnya. Suami saya itu adalah ayah tiri dari anak-anak saya. Sedang suami pertama saya meninggal dunia dua tahun setelah saya melahirkan Lalan, anak keempat kami.
Baru setelah saya tenang, pikiran saya kembali jernih. Saya memberanikan diri masuk ke kamar itu. Dia tak ada di sana, setelah membetulkan selimut Acep dan Lalan--dua anak lelaki saya di kamar itu-- saya mencarinya ke kamarnya. Dan hanya Tuhan yang tahu betapa paniknya saya ketika mendapati dia tak ada di manapun. Saya masuk kamar putri saya yang kedua, dia pun tak ada disana.
Untungnya sebelum saya membangunkan seisi rumah, saya melihat siluet bayangannya di bawah sinar bulan tiga perempat. Sungguh lega melihatnya utuh dan tampak tak terguncang dengan apa yang terjadi. Mungkin dia sudah terbiasa dengan amarah saya.
Dia sedang berbicara di telpon dengan seseorang. Pasti pacarnya. Dan saya tak ingin mengganggu jika saja saya tak ingat bahwa berdiri di bawah rembulan dengan pakaian tipis seperti itu akan sangat buruk akibatnya bagi kesehatannya. Jadi saya menegurnya, mungkin karena saya teramat sedih, saya tak bisa mengucapkan kata apapun, saya hanya menuntunnya (sebenarnya menyeret) ke dalam kamar, saya begitu ingin menggendongnya, tapi rasanya itu hanya akan membuat saya makin sengsara, jadi saya mendorongnya ke tempat tidur, menyelimutinya, dia tidak berkata apapun, tapi saya bisa melihat kegelisahannya, dan senyum sinisnya. Tak ada gunanya saya berlama-lama di kamarnya, jadi saya keluar dari kamar itu setelah mengingatkannya untuk berdoa sebelum tidur.
Rasanya lama sekali sebelum saya bisa tertidur, ketika terbangun, saya berharap saya baru melalui mimpi buruk, tapi melihat keempat anak saya tampak tak bergairah, saya sadar bahwa apa yang terjadi tadi malam itu bukanlah mimpi.
Tak ada celotehan riang ketika sarapan pagi, dia pun tampak memaksakan diri duduk bersama saya dan adik-adiknya. Biasanya dia hanya minum teh atau susu saja di pagi hari, tapi kali ini dia mengambil nasi ke piringnya, mie goreng, dan telur. Saya dan adik-adiknya terpesona dengan pemandangan itu, dia menyendok nasinya besar-besar, dimasukkan ke mulutnya, kunyah-kunyah sebentar, glek glekkkkk…diambilnya air putih, diminumnya, terus seperti itu, dengan bantuan air putih dia berhasil menghabiskan tiga perempat makanan di piringnya, sampai ketika saat dia akan meminum air putih, entah bagaimana kejadiannya gelasnya terpeleset dari tangannya, air yang ada di dalamnya tumpah, dan pecah ke lantai, dan lagi-lagi dia menutup mata dengan tangannya, geleng-geleng kepala, dan ada senyum miris nyaris putus asa di mulutnya. Arghhhh…dia berpamitan untuk ke belakang, dan kami bisa mendengarnya memuntahkan seluruh makanan yang telah masuk ke perutnya.
Terdorong oleh ketidakberdayaan dan kepengecutan saya, ditambah dengan kesedihan yang tak tertahankan, saya berangkat ke kantor tanpa mencium anak-anak saya satu persatu. Saya pasti sudah tertular sikap ‘mayat hidupnya’ sekarang. Bukan main sesaknya hati ini dia buat….
*udah di posting di blog nih mih, makasih udah cekikikan lagih :P masih buleh internetan kan? plisss [sambil usapp-usap rambut mami sayangggg banget muach :-*]*


2 komentar:
neng jadi budak jgn bandel2 kitu ah,kasian atuh si momy
hehe,nice story tet!
wew cypud jadi maluuuu :">
Poskan Komentar