aku tak tahu mana yang membuatku sedih?
apakah kenyataan bahwa aku sudah memperlakukan diriku sendiri dengan berlaku seperti orang gila..yeah rasanya tak pantas aku mencari penghiburan dengan menghubungi orang yang sekiranya mau menemaniku...payah yah Teman? sungguh aku malu sesudahnya, siapakah aku bagi mereka? bukan apapun, bukan sesuatu...
mungkin sedihku adalah karena aku tak mampu berarti bagi orang-orang yang kusayangi, yeah aku terlalu menjadi ilusi, menjadi halusinasi, atau menjadi imajinasi seperti yang dikatakan seseorang padaku...
dia tidak tahu betapa aku menangis ketika dia menangis, aku memaki diriku sendiri yang terlalu lemah untuk bisa di sampingnya...ingin sekali kubisikkan padanya bahwa "aku akan selalu ada" tak mengapa itu bohong asal dia merasa lebih baik, tapi kenyataannya lagi-lagi pertanyaan itu, siapakah aku baginya? bukan apapun, bukan sesuatu...akhirnya walaupun aku bisa bilang padanya bahwa aku akan selalu ada...aku tak yakin itu bisa membuatnya lebih baik...
aku tahu bagaimana kehilangan di saat kita belum bisa berarti buat seseorang itu, aku tahu rasanya...masalahnya bisakah aku menghiburnya? hmmm rasanya tidak... kenapa? tentu saja karena aku bukan apapun! bukan apapun! bukan apapun! bukan apapun! yah bahkan menjawab pertanyaanku "kenapa? ada apa?" dia tak mau menjawabnya...
atau mungkin sedihku adalah karena sebuah kenyataan bahwa ketika aku tak bisa menghentikan tangisku, ketika aku memanggil dengan lirih diiringi hati pedih setiap orang yang mengaku sayang padaku...tak ada satupun diantara mereka hadir di sampingku...ha ha ha...
apakah kenyataan bahwa aku sudah memperlakukan diriku sendiri dengan berlaku seperti orang gila..yeah rasanya tak pantas aku mencari penghiburan dengan menghubungi orang yang sekiranya mau menemaniku...payah yah Teman? sungguh aku malu sesudahnya, siapakah aku bagi mereka? bukan apapun, bukan sesuatu...
mungkin sedihku adalah karena aku tak mampu berarti bagi orang-orang yang kusayangi, yeah aku terlalu menjadi ilusi, menjadi halusinasi, atau menjadi imajinasi seperti yang dikatakan seseorang padaku...
dia tidak tahu betapa aku menangis ketika dia menangis, aku memaki diriku sendiri yang terlalu lemah untuk bisa di sampingnya...ingin sekali kubisikkan padanya bahwa "aku akan selalu ada" tak mengapa itu bohong asal dia merasa lebih baik, tapi kenyataannya lagi-lagi pertanyaan itu, siapakah aku baginya? bukan apapun, bukan sesuatu...akhirnya walaupun aku bisa bilang padanya bahwa aku akan selalu ada...aku tak yakin itu bisa membuatnya lebih baik...
aku tahu bagaimana kehilangan di saat kita belum bisa berarti buat seseorang itu, aku tahu rasanya...masalahnya bisakah aku menghiburnya? hmmm rasanya tidak... kenapa? tentu saja karena aku bukan apapun! bukan apapun! bukan apapun! bukan apapun! yah bahkan menjawab pertanyaanku "kenapa? ada apa?" dia tak mau menjawabnya...
atau mungkin sedihku adalah karena sebuah kenyataan bahwa ketika aku tak bisa menghentikan tangisku, ketika aku memanggil dengan lirih diiringi hati pedih setiap orang yang mengaku sayang padaku...tak ada satupun diantara mereka hadir di sampingku...ha ha ha...
rasanya aku bisa menghirup luka itu dengan begitu damainya...dengan begitu pasrahnya...
entah adakah yang tersisa bagiku ketika aku kembali?
dan memangnya kenapa aku harus kembali? tidak ada siapapun disana...lengang....terlalu lengang...lengang yang bisa membunuhku pelan-pelan...
"terima kasih untuk semuanya, ini sudah waktunya luka berkelana...walau entah kapan kereta itu menjemputku...tapi aku tak bisa berjanji aku akan kembali...maaf...."


1 komentar:
maaf, hanya itu yang terucap dari mulutku..
bukan maksud tidak mau berbagi cerita.. namun aku tidak yakin berita yang kudengar adalah benar adanya.. hingga benar adanya.
mungkin tidak lah butuh pembelaan, pembenaran alibi dsb.
hingga tidak bisa membalas sepatah kata.. hingga mati.
benar2 mati.. padahal memcoba mempergunakan sisa waktu untuk bisa bersama...
"jika mau dengar alibi, pembelaan dan pembenaran."
Poskan Komentar