KELANA SATU
Hmmm, ini pastilah petualangan yang paling mengasyikkan yang kujalani.
Kau tahu teman, katanya manusia itu punya daya tahan yang kuat terhadap segala macam cobaan, tapi yang namanya kesepian bisa meluluhlantakkan pertahanan macam apapun. Itulah yang terjadi padaku. Berbulan-bulan terkurung dalam sebuah kamar dengan aktifitas yang terbatas. Sungguh membuatku gila. Apalagi jika ditambah dengan segala macam perhatian yang memang kubutuhkan tapi terasa sangat menodai harga diriku sebagai seorang manusia dewasa.
Sebut saja aku mencari pembenaran atas tindakan gila yang kulakukan.
Pliss tolong bayangkan situasi dimana kalian punya segala hal untuk membangun masa depan. Akui saja kalau kalian punya apapun yang diimpikan setiap orang. Koreksi, maksudku...kalian punya apapun yang diimpikan SETIAP WANITA. Populer, disukai banyak pria (sebut saja dengan: dirimu bisa meng-ignore setiap laki-laki yang kalian tidak suka), punya banyak teman yang bersedia mati-matian membelamu, pintar, lulusan terbaik sebuah PTN, punya pengalaman di bidang yang akan kalian geluti, anak tiri seorang penguasa, punya seorang ibu yang amat menyayangi kalian, adik-adik yang lucu menggemaskan yang membuat kalian terbahak dengan tindak-tanduknya, punya segala macam fasilitas untuk hidup nyaman. Intinya...kalian diciptakan sebagai seorang wanita yang banyak diimpikan baik oleh setiap lelaki dan perempuan. Koreksi lagi; KALIAN PUNYA APAPUN...(kecuali kekasih yang setia, dada besar, dan keahlian memasak...ah setiap orang pasti punya kelemahannya kan?)
Tiba-tiba saja dengan sekejap, bummmm kehidupan menyenangkan kalian itu terenggut. Berbagai macam obsesi yang menghiasi benak kalian pelan-pelan kalian delet karena kalian berusaha untuk realistis dan sadar sesadar-sadarnya kalau obsesi yang kalian bangun itu pada akhirnya tak akan bisa kalian wujudkan jika kalian terbaring tak berdaya, terkurung, asosial, dan terpaksa membuat sejuta alibi untuk teman-teman kalian yang mencari kalian ketika kalian menghilang.
Bayangkan saja jika kehidupan mobile kalian harus berhenti tiba-tiba, tanpa kalian diminta bersiap-siap. Sebut saja karena kalian terlalu nyaman menjadi populer dan punya segalanya, kalian tidak bisa menerima ke-invalid-an kalian itu. Atau sebut saja kalian berusaha untuk sekedar ”merasa hidup” kembali.
Begitulah, kukatakan pada kalian aku bukan seorang pengecut yang lari dari kenyataan, bukan pula seseorang yang menghindar dari putaran nasib. Hohoho. Tolong mengertilah Teman aku hanya berusaha untuk ”merasa hidup” kembali.
Jadi ketika aku sudah berada di puncak kebosanan dan kegilaanku. Akhirnya, dengan tidak sadar dan didasari oleh hasrat impulsif: AKU LARI. Hahahaha. Sangat Tetra sekali ya? Hahahaha.
Gak terlalu susah sih. Pertama, karena memang hari itu aku sudah diperbolehkan pulang, mengingat bahwa pasti orang rumah menjemputku pada sore hari, pagi-pagi aku pun segera berkemas setelah mendapat resep untuk menyambung hidup beberapa saat lamanya. Kemudian tergesa-gesa membayar semua biaya pengobatan dengan credit card yang baru sebulan ini kumiliki. Dan sengaja pura-pura lupa dengan meninggalkannya. Credit card itu pasti tidak akan berguna banyak. Sehari setelah Sang Ratu (aka mami) mengetahui kepergianku, sudah pasti diblokirnya segera.
Setelah itu kembali ke kamar untuk menyimpan tas baju yang ternyata gak kuat untuk kuseret kemana-mana. Dengan modal dompet tanpa uang cash aku keluar dari rumah pucat, menyetop taksi, menuju ke apotek setelah terlebih dahulu menyedot sebagian uang yang ada di ATM.
Masalah yang kedua, aku perlu pulang ke rumah terlebih dahulu untuk membawa perlengkapan yang kubutuhkan untuk perjalananku. Hmmm...bagaimana caranya masuk rumah tanpa ada staf yang melihatku? Tak jua kutemui jalan keluarnya. Kelamaan berpikir aku akhirnya tiba di rumah, kusuruh supir taksi menunggu, dan dengan lunglai aku masuk, berbasa-basi sejenak dengan staf istana yang menyapaku. Menuju kamar. Hasrat untuk lari begitu menggelegak. Baiklah, ini saatnya bersenang-senang. Kondisimu sedang sangat-sangat stabil. Cukuplah sampai kota tujuan. Kapan lagi punya kesempatan untuk lari lagi? Pastinya gak akan datang sampai setahun sekali pun.
Akhirnya, kukumpulkan segala macam perlengkapan yang kira-kira kubutuhkan. 5 helai bra, 5 helai cd, 5 helai celana pendek, 2 celana panjang, 6 helai kaos, 2 baju hangat, mukena, 5 kupluk, 2 kerudung, peralatan mandi, kosmetik, dan...kotak perhiasan (aku tidak tahu kenapa aku terdorong untuk membawanya, mungkin insting untuk bertahan saja). Kupikir sudah cukup. Srettt srettt kukancing dan kuseret keluar. Arghhh hampir saja duniaku tertinggal, laptopku itu, sebagian nyawaku ada disana, hmmm jangan tertawa ya? Tapi laptopku kuberi nama TETI. Wakakakak...
Sampai teras aku ditanya oleh salah seorang staf,
”mau kemana neng?”
”tetra ke pesantren dulu ya mau anter baju sama buku bekas nih....”
”gak dianter sama Cani?” (cani adalah uda, supirku itu)
“gak usah deh, taksinya masih nunggu tuh...”
“ohhh...”
“ya udah ya mang, tetra berangkat dulu....jangan lupa nanti suruh orang bawa tas baju di rumah sakit...”
“iya neng...”
Ya ampun polos banget tuh orang, gak kenal tabiat ekstremku rupanya. Masuk taksi dan meminta supir untuk cepat-cepat mengantarku ke terminal....
[pending dulu yah ceritanya...kapan-kapan kulanjutkan lagi...]
jangan khawatir Mih...lala baik-baik saja :-*
Kau tahu teman, katanya manusia itu punya daya tahan yang kuat terhadap segala macam cobaan, tapi yang namanya kesepian bisa meluluhlantakkan pertahanan macam apapun. Itulah yang terjadi padaku. Berbulan-bulan terkurung dalam sebuah kamar dengan aktifitas yang terbatas. Sungguh membuatku gila. Apalagi jika ditambah dengan segala macam perhatian yang memang kubutuhkan tapi terasa sangat menodai harga diriku sebagai seorang manusia dewasa.
Sebut saja aku mencari pembenaran atas tindakan gila yang kulakukan.
Pliss tolong bayangkan situasi dimana kalian punya segala hal untuk membangun masa depan. Akui saja kalau kalian punya apapun yang diimpikan setiap orang. Koreksi, maksudku...kalian punya apapun yang diimpikan SETIAP WANITA. Populer, disukai banyak pria (sebut saja dengan: dirimu bisa meng-ignore setiap laki-laki yang kalian tidak suka), punya banyak teman yang bersedia mati-matian membelamu, pintar, lulusan terbaik sebuah PTN, punya pengalaman di bidang yang akan kalian geluti, anak tiri seorang penguasa, punya seorang ibu yang amat menyayangi kalian, adik-adik yang lucu menggemaskan yang membuat kalian terbahak dengan tindak-tanduknya, punya segala macam fasilitas untuk hidup nyaman. Intinya...kalian diciptakan sebagai seorang wanita yang banyak diimpikan baik oleh setiap lelaki dan perempuan. Koreksi lagi; KALIAN PUNYA APAPUN...(kecuali kekasih yang setia, dada besar, dan keahlian memasak...ah setiap orang pasti punya kelemahannya kan?)
Tiba-tiba saja dengan sekejap, bummmm kehidupan menyenangkan kalian itu terenggut. Berbagai macam obsesi yang menghiasi benak kalian pelan-pelan kalian delet karena kalian berusaha untuk realistis dan sadar sesadar-sadarnya kalau obsesi yang kalian bangun itu pada akhirnya tak akan bisa kalian wujudkan jika kalian terbaring tak berdaya, terkurung, asosial, dan terpaksa membuat sejuta alibi untuk teman-teman kalian yang mencari kalian ketika kalian menghilang.
Bayangkan saja jika kehidupan mobile kalian harus berhenti tiba-tiba, tanpa kalian diminta bersiap-siap. Sebut saja karena kalian terlalu nyaman menjadi populer dan punya segalanya, kalian tidak bisa menerima ke-invalid-an kalian itu. Atau sebut saja kalian berusaha untuk sekedar ”merasa hidup” kembali.
Begitulah, kukatakan pada kalian aku bukan seorang pengecut yang lari dari kenyataan, bukan pula seseorang yang menghindar dari putaran nasib. Hohoho. Tolong mengertilah Teman aku hanya berusaha untuk ”merasa hidup” kembali.
Jadi ketika aku sudah berada di puncak kebosanan dan kegilaanku. Akhirnya, dengan tidak sadar dan didasari oleh hasrat impulsif: AKU LARI. Hahahaha. Sangat Tetra sekali ya? Hahahaha.
Gak terlalu susah sih. Pertama, karena memang hari itu aku sudah diperbolehkan pulang, mengingat bahwa pasti orang rumah menjemputku pada sore hari, pagi-pagi aku pun segera berkemas setelah mendapat resep untuk menyambung hidup beberapa saat lamanya. Kemudian tergesa-gesa membayar semua biaya pengobatan dengan credit card yang baru sebulan ini kumiliki. Dan sengaja pura-pura lupa dengan meninggalkannya. Credit card itu pasti tidak akan berguna banyak. Sehari setelah Sang Ratu (aka mami) mengetahui kepergianku, sudah pasti diblokirnya segera.
Setelah itu kembali ke kamar untuk menyimpan tas baju yang ternyata gak kuat untuk kuseret kemana-mana. Dengan modal dompet tanpa uang cash aku keluar dari rumah pucat, menyetop taksi, menuju ke apotek setelah terlebih dahulu menyedot sebagian uang yang ada di ATM.
Masalah yang kedua, aku perlu pulang ke rumah terlebih dahulu untuk membawa perlengkapan yang kubutuhkan untuk perjalananku. Hmmm...bagaimana caranya masuk rumah tanpa ada staf yang melihatku? Tak jua kutemui jalan keluarnya. Kelamaan berpikir aku akhirnya tiba di rumah, kusuruh supir taksi menunggu, dan dengan lunglai aku masuk, berbasa-basi sejenak dengan staf istana yang menyapaku. Menuju kamar. Hasrat untuk lari begitu menggelegak. Baiklah, ini saatnya bersenang-senang. Kondisimu sedang sangat-sangat stabil. Cukuplah sampai kota tujuan. Kapan lagi punya kesempatan untuk lari lagi? Pastinya gak akan datang sampai setahun sekali pun.
Akhirnya, kukumpulkan segala macam perlengkapan yang kira-kira kubutuhkan. 5 helai bra, 5 helai cd, 5 helai celana pendek, 2 celana panjang, 6 helai kaos, 2 baju hangat, mukena, 5 kupluk, 2 kerudung, peralatan mandi, kosmetik, dan...kotak perhiasan (aku tidak tahu kenapa aku terdorong untuk membawanya, mungkin insting untuk bertahan saja). Kupikir sudah cukup. Srettt srettt kukancing dan kuseret keluar. Arghhh hampir saja duniaku tertinggal, laptopku itu, sebagian nyawaku ada disana, hmmm jangan tertawa ya? Tapi laptopku kuberi nama TETI. Wakakakak...
Sampai teras aku ditanya oleh salah seorang staf,
”mau kemana neng?”
”tetra ke pesantren dulu ya mau anter baju sama buku bekas nih....”
”gak dianter sama Cani?” (cani adalah uda, supirku itu)
“gak usah deh, taksinya masih nunggu tuh...”
“ohhh...”
“ya udah ya mang, tetra berangkat dulu....jangan lupa nanti suruh orang bawa tas baju di rumah sakit...”
“iya neng...”
Ya ampun polos banget tuh orang, gak kenal tabiat ekstremku rupanya. Masuk taksi dan meminta supir untuk cepat-cepat mengantarku ke terminal....
[pending dulu yah ceritanya...kapan-kapan kulanjutkan lagi...]
jangan khawatir Mih...lala baik-baik saja :-*


1 komentar:
Kita tidak bisa merubah kartu-kartu yang dibagikan Tuhan.. Cuman bagaimana kita harus memainkannya..
Poskan Komentar