“Dengar ya, aku sudah tak mau bertemu denganmu, aku tak bisa melihatmu mengasihaniku, membuatmu selalu ingin di dekatku, membuat pekerjaanmu kacau balau, sudah saatnya kamu melanjutkan hidup sayangku, tentunya tanpa aku…aku senang jika kamu sudah punya rencana untuk melanjutkan hidup…pliss tolong jangan masukkan aku dalam agenda hidupmu…”
Aku menutup telepon dan menyeret koper menuju bandara, selamat tinggal sayangku…mungkin ini bisa menjauhkanmu dariku…
PEMBURU:
Aku menuju ke kotamu, tunggulah!
BIDADARI:
Hmmm, akan seperti apa ya jika dia melihatku sekarang? Masihkah dia mengenaliku?
DI KOTA BIDADARI:
PEMBURU:
Aku sudah di kota ini 3 hari. Tapi tak kutemui jejaknya sekalipun...dimana dia?
BIDADARI:
Sayang ada dimana sekarang? Ya ampun Lala tunggu, sayang kok gak muncul-muncul....
Kenapa gak menghubungi Lala?
PEMBURU:
Bagaimana bisa menghubungimu? Telponmu mati...
BIDADARI:
Lho sayang kan bisa telpon temennya Lala, sayang dimana sekarang?
PEMBURU:
Di jalan Bandung nih, nunggu teman, jam1 nanti berangkat ke Surabaya,
BIDADARI:
Ohh....
***
”eh ini dari bandung yah? Eh Tangerang?”
“iya...”
“ada yang namanya Dhani gak? Bisa tolong panggilkan dia, pliss...”
lelaki yang dimintai tolong memperhatikan wanita yang tampak kebingungan itu, sebelum dia memanggil orang yang dicari wanita tersebut, di matanya wanita itu terlihat seperti mayat, pucat, memakai kaos putih yang terbungkus sweater warna putih juga, celana pendek, dan kepalanya tertutup kupluk, matanya tampak was-was, lelaki yang dimintai tolong mengerutkan kening, heran dan bertanya-tanya dalam hati, siapanya Dhani nih? Kenapa tiba-tiba bintang seperti berjatuhan ketika dia berjalan? Kenapa burung-burung tiba-tiba terbang menuju ke arahnya? Seperti dia sebuah magnet, lihat saja semua mata dari setiap makhluk menatapnya....mengagumkan sekaligus misterius!
”Dhan...ada yang nyari nih?”
”siapa?”
”cepet kesini makanya”
Orang yang dicari mendekati mereka, dia menatap sang wanita.
“siapa ya?”
Wanita itu tersenyum sedikit miris karena orang yang mengaku kekasihnya itu sudah tak mengenalinya, dengan sedikit berjinjit dia ulurkan tangannya untuk mengusap wajah si lelaki.
“sayangku....”
Pemburu tersentak kaget, menatap penuh rindu,
”cintaku....”
diciuminya tangan sang bidadari. Mereka berpelukan.
”cun lala-nya sayangku...”
Muach :-* diciumnya pipi sang bidadari...lalu....
***
”Tet...tet...bangun sahur....!”
”heh...”
Arghhhhh sialan lan lan lan...Cuma mimpi rupanya...kuusap pipiku, ciuman itu...aku tersenyum, kedamaian lagi...huh kuhirup dengan penuh perasaan. Hmmm lebih baik kutelpon dia.
”hallo, sayang dimana?”
”di Cepu nih...”
“tinggal dimana?”
“di rumah orang...”
“hmmm....lala kangen....”
Bla bla bla....
Suara dengung komputer, suara ketukan keyboard di latar belakang...pernah kudengar suara itu ketika kutelpon dia di ruang kotaknya.
Ha ha ha ha. Sigh. Ternyata dia masih disana. Yeah romantisme usang seperti tadi memang hanya hadir dalam mimpi. Di dunia nyata yang tersisa tinggal KEBOHONGAN!
Note: yeah aku tahu, kau pasti tertawa prajurit dan kemudian menudingku ”rasain...karma tuh...” sama sepertimu aku pun tertawa dengan keras...lebih keras dari tawamu!


0 komentar:
Poskan Komentar