KELANA TUJUH
”ngaripuhkeun kolot we hayuh sia mah jadi jelema teh”[terekam jutaan tahun lalu berasal dari makian ayahanda, papi tercinta almarhum :-*]
***
Direkam oleh: A BudShock bukan main ketika melihatnya terbaring dengan mata sendu dan berleleran air mata, sementara kepalanya tergantung di pinggir tempat tidur, tak ada isak tangis sama sekali, hanya wajah sepucat kapas dan dengung laptop lirih menyenandungkan lagu Close To You-Gail Blanco yang ada di sampingnya. Aku menghampirinya dengan panik, air matanyalah yang membuatku yakin kalau dia masih bernafas.
Kuulurkan tanganku, kuangkat kepalanya ke atas kasur, tak lupa kuusap air matanya dengan ujung telunjukku.
”jangan menangis, ke dokter ya?”
Dia mengangguk. Aku segera membawa dia ke dokter pribadinya. Diputuskan malam itu dia harus opname. Tak membuang waktu aku segera membawanya ke salah satu rumah sakit di kota ini. Kupastikan dia mendapat ruang terbaik dan pelayanan terbaik.
Kenapa Tuhan? Setelah dia kembali padaku, masih juga ada yang mengintai untuk memisahkan kami.
***
Direkam oleh T3TSetelah resmi kepala gundul dul dul pacul abis, lingkar dada mengecil hingga bra longgar dan membuat nenen lonjak-lonjak setiap aku jalan, plus tak ada lagi celana yang muat saking longgarnya karena pinggangku mengecil (sampai terpaksa harus memakai jepitan kayak celana jojon) akhirnya...aku limbung juga.
Aku selalu ingin tahu jika saja tak ada orang yang menemukanku akankah sekarang aku bercumbu dengan maut? Mungkin saja kan? Tapi kenapa aku masih diselamatkan? Kenapa masih ada orang yang tersesat pada waktu dan tempat yang tepat untuk menolongku?
Aku ingat suatu hari di awal aku sakit, aku menyeret diriku menuju myz, bersusah payah membuka pintunya, dan menenangkan diri. Aku tahu konyol jika aku memaksa diri untuk membawa diriku sendiri ke rumah sakit. Teman-temanku kos-ku tak satupun ada di kosan untuk kumintai pertolongan, kutelpon satu persatu tak ada yang angkat. Sementara temanku yang lain yang kuhubungi via telpon nampak sibuk dengan urusannya. Jadi aku kembali menyeret langkahku menuju rumah sebelah, aku mengetuk pintu, dan mengenyahkan segala gengsi. Dan yah akhirnya sang tetangga yang sering kumaki karena keberisikannya itulah yang kemudian mengantarku ke rumah sakit.
[apa kabar Mas Agus? Masih ingatkah dikau dengan perempuan ganas yang suka ngomel-ngomel ketika kalian nonton BF dengan berisik?].
Pernah juga suatu waktu oksigen di kamarku menyusut, tenggorokanku tercekik, tak ada suara yang keluar dari mulutku, sebelah tubuhku kaku, gelap....di sisa-sisa kesadaranku kujatuhkan tubuhku ke lantai dan ngesot menuju pintu, kubuka pintu...hanya sampai sana. Entah berapa jam aku tak sadarkan diri, ketika aku terbangun, ruangan masih gelap, sebelah tubuhku pun masih kaku, sakit yang tiada tara kurasakan pelan-pelan menjalar dari dadaku. Kupukul dinding sekuat tenaga, terus kupukul hingga teman-temanku terbangun dan membawaku ke UGD salah satu rumah sakit.
Dan sekarang aku terbaring di ruang pucat masih rumah sakit yang sama seperti dulu. Bedanya hanya seseorang yang menemaniku sudah berganti. Kupandangi dia. Aku berusaha mengenyahkan segala prasangka buruk tentang keringkihan diriku ini. Sampai akhirnya aku menyerah pada kesadaran bahwa dimanapun aku berada, kemanapun aku berlari akan ada orang-orang seperti dia yang jadi korban dari keringkihanku ini. Pada akhirnya aku harus pulang jua. Aku harus kembali ke kotakku. Kotak yang kemarin kutinggalkan. Yeah aku harus kembali agar tak ada lagi orang panik dan shock karena ketidakberdayaanku.
”Mas...” aku memanggilnya.
”ya....perlu apa? Biar kuambilkan”
”tetra mau pulang”
”iyah nanti kita pulang ya? Kita masak lagi...belanja lagi...nonton...sahur dan buka bareng...” keningku mengernyit mendengar kalimat panjangnya yang di telingaku terdengar seperti igauan itu.
”maksudku, hubungi keluargaku, suruh mereka menjemputku, nomornya ada di...”
”aku sudah menelpon mereka, mungkin sore mereka sudah sampai sini”
”owh makasih yah mas”
”iya sama-sama”
”maksudku makasih untuk semua yang udah mas lakukan tadi malam, makasih udah kasih aku tumpangan dan terima kasih sudah menemaniku belanja, nonton, masak, sahur, buka...walau aku gak puasa, hehehe”
”ngomong apa sih arek iki?”
“iyah mungkin mas gak sadar kalau apa yang sudah mas lakukan itu berarti banyak buat tetra” air mataku meleleh.
“hey, udah dong jangan nangis lagi, jangan takut ya…”
”aku gak takut, eh aku sudah gak takut lagi, hanya saja aku selalu sedih kalau ada orang yang selalu direpotkan sama aku”
”jangan sedih...biasa...hidup itu saling tolong...”
”hehehe PPKn banget tuh hidup harus saling tolong....”
”nah ketawa lebih manis”
”kok baru nyadar sih? Aku bukan hanya manis tahu, tapi juga seksi” aku berkata begitu sambil memelorotkan kerah baju hingga setengah tiang, eh setengah dada.
”wa bencekno arek iki...”
”eh mas ambil laptopnya mas dongs, hehehe, mau panen nih...”
“oalah pantes bangun pagi-pagi kirain kangen sama aku ternyata facebook maneh...”
”kayak dirimu nggak aja wew, coba sini kan blackberrynya. Sehari tanpa bb bisa gak?”
”ya bisa dongs” dia berkata begitu sambil buru-buru menyimpan bb-nya di saku baju. Disembunyikan dariku.
”huahahahaha katanya bisa....”
”oalah perlu iki buat urusan kerjaku”
”alah...udah ah ambilin laptopnya, nanti tanemanku busuk....”
Hmmm, dan pertanyaanku pun terjawab sudah, kenapa aku masih belum juga bisa bercumbu dengan maut? Tentu saja karena ada pagi yang begitu indah untuk kuisi.
[kuisi dengan macul, nanem, en panen, jangan lupa ternak hayam, meri, sapi, kuda, kelenci, embe, dan segenap domba baik domba bodas maupun domba hideung, heyyyaaaa...huahahahahaha--yang gak maen Farm Ville gak bakal ngerti, huehehehe]


1 komentar:
skrg bagaimana kabarnya mbak tetra putri?
Poskan Komentar