KELANA TIGA
Masalah lagi nih. Aku ternyata pesakitan yang membutuhkan seorang spesialis di sampingku. Gak mungkin kuhubungi my man (dokterku dulu ketika aku berada di kota ini). Bisa-bisa dia pun melaporkan keberadaanku pada Sang Ratu. Arghhhh….dan tak banyak dokter yang bisa kuajak kongkalikong agar memberiku saja obat-obatan pereda sakit. Apalagi aku tak membawa referensi apapun dari dokterku di kota kambing, kota dimana istana Sang Ratu berada yang kutinggalkan itu.
Tapi mungkin my man mau sedikit berbaik hati. Semoga saja bisa kubujuk :(
Benar saja ketika aku menghubunginya ternyata dia sudah dihubungi duluan oleh Sang Ratu. My man begitu khawatir. Aku sampai mewek lagi di telepon gara-gara begitu mengenaskannya apa yang diceritakan Sang Ratu padanya yang diceritakan kembali padaku. Aku goyah lagi...ingin rasanya pulang dan memeluknya serta berjanji tak akan lagi kulakukan hal konyol macam ini.
Urusan my man kupending dulu. Setelah aku memintanya berjanji agar tak melaporkanku. Ada yang lebih mendesak lagi. Rasanya tak perlu kuceritakan. Tapi hal ini membuatku tahu kemana tujuanku. Yeah aku menuju kontrakan Boti yang sekarang menemani Mak Cik. Dulu aku tinggal bersama Mak Cik, tapi kemudian setelah aku pindah ke Kota Kambing dia tinggal bersama temanku si Boti itu.
Sialnya lagi dia pun ternyata sudah dihubungi oleh Sang Ratu. Aku berbohong padanya, kubilang aku ada urusan di kota ini. Dan segera pulang setelah urusannya selesai. Akhirnya setelah kukarang tentang masalah penerbitan buku-ku yang akan diurus oleh salah satu penerbit lokal, Mak Cik mau menampungku. Aku memintanya agar dia tak menghubungi keluargaku dulu sebelum urusanku selesai. Dia menyanggupinya.
Hanya perlu tiga hari untuk berada di rumah Mak Cik dan menciptakan sebuah alibi untuk seseorang. Tiga hari itu pula yang kumanfaatkan untuk mencari tempat tinggal yang kira-kira tak akan diendus oleh antek Sang Ratu. Ternyata tak mudah mencari tempat tinggal yang layak, apalagi aku tidak tahu sampai kapan aku tinggal di kota ini.
Sekali lagi aku terpaksa menghubungi temanku yang sekiranya belum dikenal oleh Sang Ratu. Sebut saja namanya Abu, seorang kakak tingkat yang pernah kutolong untuk menyusun skripsi, hehehe masih bujangan lho...[ngedip-ngedip sambil berkhayal yang aneh-aneh]. Rencananya aku minta tolong agar dibolehkan tinggal di rumahnya dan akan kubilang padanya kalau rumahku yang ada di kota ini sudah terjual.
Sepertinya keberuntungan ada di pihakku. Si Abu bekerja di Kota Buaya dan hanya sebulan sekali dia pulang ke rumahnya. Bahkan kalau pulang pun, dia jarang pulang ke rumah itu. Dia lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya yang juga berada di kota meriang. Syukurlah aku tak perlu kumpul sapi dengannya. Dia pun mengizinkanku tinggal di rumahnya untuk waktu yang tidak ditentukan. Alhamdulillah. Bukan hanya itu saja dia pun menawarkan seorang pembantu. Tapi aku menolaknya, sama aja dongs kayak di Istana kalau masih ada orang yang susah payah memperhatikan segala kebutuhanku.
Segera aku hengkang dari kontrakan Mak Cik dan menuju tempat baruku. Baru aku sadar kalau rumah Abu begitu sempurna. Gak terlalu besar sehingga mudah untuk dibersihkan. Ada TV juga dan yang terpenting mudah dijangkau dengan angkot. Idihhhhh malunya jadi miss angkot, wakakakak.
(kapan-kapan kulanjutkan lagi ya? Aku masih baik-baik saja, nggak usah khawatir :p )
Tapi mungkin my man mau sedikit berbaik hati. Semoga saja bisa kubujuk :(
Benar saja ketika aku menghubunginya ternyata dia sudah dihubungi duluan oleh Sang Ratu. My man begitu khawatir. Aku sampai mewek lagi di telepon gara-gara begitu mengenaskannya apa yang diceritakan Sang Ratu padanya yang diceritakan kembali padaku. Aku goyah lagi...ingin rasanya pulang dan memeluknya serta berjanji tak akan lagi kulakukan hal konyol macam ini.
Urusan my man kupending dulu. Setelah aku memintanya berjanji agar tak melaporkanku. Ada yang lebih mendesak lagi. Rasanya tak perlu kuceritakan. Tapi hal ini membuatku tahu kemana tujuanku. Yeah aku menuju kontrakan Boti yang sekarang menemani Mak Cik. Dulu aku tinggal bersama Mak Cik, tapi kemudian setelah aku pindah ke Kota Kambing dia tinggal bersama temanku si Boti itu.
Sialnya lagi dia pun ternyata sudah dihubungi oleh Sang Ratu. Aku berbohong padanya, kubilang aku ada urusan di kota ini. Dan segera pulang setelah urusannya selesai. Akhirnya setelah kukarang tentang masalah penerbitan buku-ku yang akan diurus oleh salah satu penerbit lokal, Mak Cik mau menampungku. Aku memintanya agar dia tak menghubungi keluargaku dulu sebelum urusanku selesai. Dia menyanggupinya.
Hanya perlu tiga hari untuk berada di rumah Mak Cik dan menciptakan sebuah alibi untuk seseorang. Tiga hari itu pula yang kumanfaatkan untuk mencari tempat tinggal yang kira-kira tak akan diendus oleh antek Sang Ratu. Ternyata tak mudah mencari tempat tinggal yang layak, apalagi aku tidak tahu sampai kapan aku tinggal di kota ini.
Sekali lagi aku terpaksa menghubungi temanku yang sekiranya belum dikenal oleh Sang Ratu. Sebut saja namanya Abu, seorang kakak tingkat yang pernah kutolong untuk menyusun skripsi, hehehe masih bujangan lho...[ngedip-ngedip sambil berkhayal yang aneh-aneh]. Rencananya aku minta tolong agar dibolehkan tinggal di rumahnya dan akan kubilang padanya kalau rumahku yang ada di kota ini sudah terjual.
Sepertinya keberuntungan ada di pihakku. Si Abu bekerja di Kota Buaya dan hanya sebulan sekali dia pulang ke rumahnya. Bahkan kalau pulang pun, dia jarang pulang ke rumah itu. Dia lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya yang juga berada di kota meriang. Syukurlah aku tak perlu kumpul sapi dengannya. Dia pun mengizinkanku tinggal di rumahnya untuk waktu yang tidak ditentukan. Alhamdulillah. Bukan hanya itu saja dia pun menawarkan seorang pembantu. Tapi aku menolaknya, sama aja dongs kayak di Istana kalau masih ada orang yang susah payah memperhatikan segala kebutuhanku.
Segera aku hengkang dari kontrakan Mak Cik dan menuju tempat baruku. Baru aku sadar kalau rumah Abu begitu sempurna. Gak terlalu besar sehingga mudah untuk dibersihkan. Ada TV juga dan yang terpenting mudah dijangkau dengan angkot. Idihhhhh malunya jadi miss angkot, wakakakak.
(kapan-kapan kulanjutkan lagi ya? Aku masih baik-baik saja, nggak usah khawatir :p )


0 komentar:
Poskan Komentar