Selasa, 01 September 2009

EDISI BERCELANA: SUDAH SEJAUH INI MASA KUBIARKAN MEREKA MEMAKSAKU MEMAKAI BIKINI

KELANA DUA

Hmmm….sudah jelas tujuanku adalah kota di ujung Jawa itu, kita sebut saja kota meriang. Tapi bagaimana aku sampai sana? Sudah dapat dipastikan aku tak bisa melalui jalan darat, aku pasti tergoda untuk kembali saking tersiksanya di jalan. Harus lewat udara. Hasrat untuk punya sayap dan mendadak bermetamorfosis jadi burung begitu menggelora. Mengingat itu adalah hal konyol yang kupikirkan jadi kuenyahkan hasrat itu segera.

Ku telpon beberapa agen perjalanan, tujuan pertama adalah Kota Buaya. Rencananya dari Kota Buaya akan kulanjutkan perjalanan menuju Kota Meriang lewat darat. Hmmm…tak ada tiket yang tersedia untuk penumpang mendadak seperti aku. Sampai 3 agen perjalanan kutelepon. Jawabnya selalu 2 atau 3 hari yang akan datang baru ada tiket tersedia untuk penerbangan menuju kota buaya. Ya ampun aku tak punya waktu 2 hari untuk menunggu. Sampai di agen yang keempat, operatornya agak bawel dan bertanya tujuanku sebenarnya. Kujawab saja ke Kota Meriang….dan Jenggot Merlin, ternyata ada dua kursi tersisa menuju kota itu berangkat sore. Bagaimana aku bisa lupa kalau di Kota Meriang sudah ada lanud (lapangan udara)? Segera kuminta supir memutar dan mengantarku ke bandara.

Hampir satu juta kuhabiskan untuk taksi dari rumah pucat menuju rumah terus ke terminal dan memutar menuju bandara. Hal itu membuatku sadar kalau modal untuk perjalanan ini akan tambah besar jika aku tak mengatur pengeluaran seefisien mungkin. Hmmm...tak mudah ternyata.

Singkat cerita sampailah aku di Kota Meriang. Masalah lagi nih. Dimana aku tinggal? Jelas tak mungkin pulang ke rumahku yang ada di kota ini, tapi untuk satu malam saja tak apalah. Besok bisa pindah. Jadi malam itu lagi-lagi dengan taksi aku menuju rumah. Agak kelaparan dan malam itu pun kulalui dengan mengigil kedinginan sendirian diiringi dengan dering telpon yang tak berhenti berdering hingga kupingku terbiasa. Aku sengaja tidak mencabutnya sekedar alibi aku tak di rumah itu. Sampai aku mulai tak yakin dengan apa yang kuperbuat. Tergoda untuk mengangkat telepon itu dan membiarkan mereka ’menangkapku’. Arghhhh....

Tapi ternyata aku bisa bertahan juga malam itu. Ketika pagi datang, kau tahu Teman apa yang kurasakan? Damainya bukan main. Alhamdulillah. Berhasil juga aku hidup hingga pagi, hingga matahari menjamah tubuh seksiku itu (kenyataannya jauh dari seksi, kerempeng abis....hahahaha).

Mereka pasti mencariku langsung ke kota ini. Mengingat hal itu, memang kurang kreatif sih pelarianku ini. Tapi aku memilih kota ini karena kupikir aku sudah mengenal kota ini sampai ke gang paling sempit sekalipun. Sehingga lebih mudah untuk menghilangkan jejak seandainya mereka mengendus keberadaanku. Masalahnya adalah gang sempit itu bisa kudatangi jikalau aku punya kendaraan. Disini aku tak ada kendaraan sama sekali. Hua hiks hiks hiks.

Tak mungkin kuhubungi teman-temanku untuk sekedar memberi tumpangan. Mereka pasti akan berpihak pada keluargaku dan membiarkan aku dirante kemudian diseret pulang. Ya ampun sudah lari saja aku masih terisolasi begini. Aku mulai putus asa dan ehemmm...aku mewek. Ha ha ha ha. Baiklah kalau begitu kuhubungi salah seorang temanku saja yang paling kupercaya dan sudah jutaan kali menjadi alibiku. Kita sebut namanya Boti.

Ketika akhirnya aku bertemu dengannya, tentu saja dia nampak menderita harus menanggung beban seberat itu. Bayangkan dia harus menyembunyikan seorang buronan seperti aku. Ketika kuceritakan semuanya dia terlihat sangat menahan diri untuk lari, menuju telpon dan menghubungi keluargaku.

Kali ini aku memohon bahkan mengemis memintanya agar bertahan. Aku berjanji tidak akan merepotkan, dan tidak akan menceritakan dimana aku tinggal untuk mempermudahnya. Siapa tahu dia didesak dan diinterogasi dengan kejam hingga dia terpaksa memberi tahu keberadaanku. Aku hanya minta dia sekali-kali belanja untukku mengingat sepertinya belum aman jika aku keluyuran. Kalau bisa aku memintanya untuk dicarikan kendaraan. Tahu apa yang dia usulkan? Dia memberitahuku agar aku naik angkot saja kemana-mana. Masya Allah....rasanya seperti dia memberiku semacam pistol untuk bunuh diri.

Sarannya akhirnya kuturuti. Yah mau gimana lagi? Uangku tidak akan cukup untuk membeli sebuah kendaraan yang layak.

(aku masih ada dalam pelarian, kisah ini masih panjang...tunggu lanjutannya ya...eh maaf yah judul tidak nyambung, hahahaha)

eh mih, lala baik-baik aja nih, sengaja posting cerita ini biar mami tahu lala baik-baik saja, lala akan pulang Mih, sekali ini ijinkan lala menikmati perjalanan lala, jangan khawatir...

1 komentar:

Karbonz Dioksit mengatakan...

kamu punya banyak teman. kehilangan teman seperti sayah tidak akan berarti apa-apa untuk kamu. jg kuatir sayah akan mengembalikan semua yang pernah kamu berikan pada sayah. bahkan jikalau genggaman tanganmu adalah utang. insya Allah sayah akan mengembalikannya.
hatur nuhun.
Sayah memaafkan kamu. jikalau maaf itu masih berharga utk kamu.