Kamis, 26 Maret 2009
JAWA POS HARI INI...
yeah sang suami masih kritis teman...jadi cuman 4 bulan kira-kira waktunya sampai saat itu tiba, kisah itu membuatku kembali takut...dengan kalap aku menelpon seseorang, dan memaksa untuk bertemu...aku pun menemui dia di tempat kerjanya, huh aku tak suka tempat kerjanya, selalu beraroma kematian...
aku tak bisa lagi berpura-pura, kuperlihatkan kisah itu, dia selalu punya kalimat bagus untuk menyembunyikan kebenaran, selalu bisa membuatku merasa lebih baik...huh...menyakitkan harus membicarakan kenyataan...
beruntungnya dia punya kabar baik untukku, sudah ditemukan orang yang rela berkorban untuk menjadi penyambung nyawaku...ada sedikit kelegaan,
terus terang terkadang aku ingin sekali menceritakan semuanya, berdiskusi mendiskusikan vonis itu,dan ketika akhirnya kulakukan, hatiku pedih tak terkira...masih saja aku ketakutan, terkadang aku juga ingin dikasihani, tapi ketika ada yang mengasihaniku bukannya malah merasa baik, tapi aku makin terpuruk...
dengan si dia yang sangat tahu pun aku seringnya malah mengoceh tentang tokoh-tokoh dalam hidupku bukan mengoceh tentang apa yang aku alami...
aku masih belum mau berpamitan teman, tapi memang dalam waktu dekat aku akan pergi ke negeri sebrang, yah untuk menyambung nyawa tentunya...
hmmm, baiknya mungkin kukatakan saja disini...AKU TAKUT TEMAN! SANGAT TAKUT!!!
harus kuakui teman,apa yang kutulis kemaren hanyalah kebohongan saja...
kalau boleh jujur, sebenarnya kecuali blogku yang menyakitkan ini...aku sebenarnya cukup tabah, cukup sabar, cukup tak putus asa, tapi juga cukup ketakutan...
KALAU MAMAKMU MAMAKKU JUGA DAN MERTUAMU MERTUAKU JUGA, APA SUAMIMU JADI SUAMIKU JUGA?
Teman, pernahkah suatu sore teman pulang ke rumah dan mendapati di ruang tengah bertebaran alat kontrasepsi (baca: kondom), baju berserakan dan celana dalam ada di bawah pintu kamarmu?
Bukan teman, ini bukan adegan di sebuah film ataupun di shitnetron…
Ini adalah kejadian yang kualami sore kemarin….
Seperti layaknya manusia normal, aku shock tiada terkira, kupikir adegan ini tak akan pernah kusaksikan, tapi ternyata aku sampai juga pada kejadian yang memang sudah kuperkirakan jauh hari sebelumnya ini…
Yah teman, aku tahu konsep tinggal dengan orang yang sudah bersuami kedengarannya saja sudah aneh dan asing, sudah 4 bulan aku tinggal bersama Mak Cik, awalnya aku menolak tinggal bersamanya, tapi dengan bujukan Rei (suami Mak Cik) ditambah lagi aku memang belum sanggup untuk tinggal sendiri di rumahku yang lumayan susah untuk dibersihkan itu (karena sedikit luas), kusanggupi untuk tinggal bersama Mak Cik, baru dua bulan kemudian aku tahu alasan sebenarnya adalah karena mereka perlu orang yang bisa menggenapi uang kontrakan dimana kami akan tinggal itu : ) )
Ada banyak suka, ada banyak duka yang kualami, sukanya aku jadi sedikit faham konsep berumah tangga, terbuka mataku bahwa konsep perkawinan adalah bentuk lain dari kasih sayang, bentuk lain dari cinta, uhhhh indahnya…
Mak Cik mengajariku berbagai keterampilan berumah tangga, mulai dari keterampilan di dapur sampai keterampilan di kasur :) hahaha…emang agak gila, tapi Ya Mak Cik menceritakan apapun padaku, hal yang tak bisa kulakukan padanya, sampai ke daerah paling intim sekalipun, sekali-kali dibongkarnya koleksi BF Rei dan kami nonton bareng sambil ketawa-ketiwi, komen sana-sini…sekali lagi INI MEMANG GILA! Perbuatan Mak Cik (mengajak nonton bareng BF) merupakan kesalahan Mak Cik yang terbesar, karena sesudahnya aku bisa pusing dan muntah-muntah…(hal ini tak kuceritakan padanya)
Suatu hari, suatu aku dapat kabar bahagia, Mak Cik hamil, aku ikut bahagia walau tak bisa kupungkiri AKU IRI! Setiap minggu aku antar dia ke dokter kandungan untuk check up, bahkan setiap pagi aku akan menyelinap masuk ke kamar Mak Cik, tidur disampingnya, memeluk sambil mengusap-usap perutnya…itu berlangsung tiap pagi (tentu saja kecuali Rei pulang), memang yang hamil Mak Cik, tapi aku juga merasa memiliki bayi itu…
Sampai suatu malam, dari kamar mandi Mak Cik menjerit memanggilku…ada bercak darah di celana dalam Mak Cik, sedikit saja teman, tapi sudah cukup membuat Mak Cik panik dan membuatku bingung tak mengerti, aku suruh dia tanya ke ibu mertuanya atau ke mamaknya (Mak Cik memanggil ibu kandungnya dengan Mamak), tapi dia gak mau, katanya nanti mereka khawatir, terbersit pikiran untuk menghubungi mami, tapiiii kuurungkan nanti disangkanya aku yang pregnant, wah bisa repot tuh…akhirnya kuhubungi setiap rumah sakit, dari seorang bidan aku dapat keterangan biasanya itu gejala keguguran, Mak Cik mulai nangis, aku sudah pengen pingsan saja, kukuatkan diriku, kusiapkan kendaraan, kubopong Mak Cik ke mobil, dengan kalut kubawa Mak Cik ke rumah sakit…
Pernahkah teman mengatakan “semua akan baik-baik saja” padahal teman tahu kalau itu bohong? Itulah yang kualami malam itu,ditambah hujan lebat, petir menyambar, jalanan licin dan berlubang, tidak teman, aku tidak mendramatisir, tapi memang seperti itulah keadaan malam itu, teman tahu kan kalau aku fobia dengan petir, malam itu air mata mak cik membuatku bisa menahan diri dari fobia…
Sampai di rumah sakit, tak ada dokter kandungan yang tersisa, Mak Cik meminta pulang saja, kita akhirnya pulang, berusaha tidur, menunggu pagi…
Paginya kita kembali ke rumah sakit, masih ada harapan, siapa tahu kandungan masih bisa diselamatkan, kalau perlu Mak Cik bed rest sampai melahirkan, begitulah aku dan Mak Cik saling menguatkan, hingga tibalah saatnya Mak Cik diperiksa, anehnya aku tak boleh masuk untuk menemani…sial…
Ketika Mak Cik keluar, dia memelukku, menangis meraung-raung, yeah teman she lost her baby…
Hari pertama sejak Mak Cik keguguran dia terus mengoceh tak percaya kalau bayinya sudah gak ada, bagaimana bisa? Dokter juga tidak memberi keterangan banyak, hanya dibilangnya, rahim mak cik sudah bersih, tak ada lagi janin yang hidup disana…arghhh, jam 10 malam dia merengek-rengek membujukku untuk membeli test pack yang paling mahal, dia mau tes pack ulang, masa sih bisa bayi bisa tiba-tiba hilang begitu hanya karena ada setitik noda darah kecil saja di celana dalam? Yeah malam itu juga hujan teman, tapi tak ada petir, aku pun keluar untuk memenuhi permintaan Mak Cik…dengan muka kusut…aku berdiri di depan kasir alfamart…(jam10 malam alfamart inilah satu-satunya yang buka dan deket dengan tempat tinggalku)
“Mbak, beli test pack”
Sekilas aku melihat kerut aneh di matanya, ah ini orang pasti menyangka aku yang telat datang bulan, perawakanku yang kecil agak kurus dan wajahku yang innocent rupanya membuat si Mbak kasir menyimpulkan klo aku belum ada pantas-pantasnya untuk membeli tes pack itu. Aku masih bersyukur Mak Cik tidak merengek-rengek minta dibeliin kondom rasa stroberi : ) )
Tahukah teman, test pack itu gak pernah terpakai, karena paginya Mak Cik memutuskan untuk datang ke dokter lain…dan teman, sekali ini harus kukatakan padamu bahwa ada perbedaan besar antara dokter yang dibayar dengan kartu askes dan dokter yang dibayar dengan kartu debet, sekali ini kita datang ke dokter di rumah sakit tanpa askes…dan hasilnya? Sayangnya Mak Cik tetap kehilangan bayinya, hanya saja, kalau dokter pertama mengatakan janin sudah hilang tanpa bekas, di dokter kedua terlihat janin Mak Cik masih ada tapi tidak lagi bernyawa, bisa dibayangkan kalau janin yang meninggal itu tidak diketahui masih ada di dalam rahim, sungguh berbahaya teman, rahim Mak Cik bisa infeksi…dan dokter yang dibayar dengan kartu debet ini punya kalimat-kalimat yang bisa menentramkan Mak Cik, dibilangnya bahwa janin gak tumbuh sempurna, makanya Tuhan menghendaki bayi itu tidak sampai lahir ke dunia…ditambah lagi dokter menceritakan tentang pengalaman pertamanya hamil dan kehilangan bayi juga sama seperti Mak Cik, ada sedikit senyum di bibir Mak Cik…
Sekali lagi aku dibikin IRI sama Mak Cik, teman-teman kantornya datang berkunjung, yang paling bikin ngiri adalah Ibu mertuanya yang datang jauh-jauh dari Probolinggo untuk menemani Mak Cik, belum lagi Rei yang pulang sehari sebelum UTS…sungguh pengorbanan yang luar biasa Teman, aku sedikit menarik diri menyaksikan keluarga bahagia yang sedang diterpa musibah itu…sedikit miris…
Hari-hari selanjutnya kuisi dengan berbagai aktivitas untuk menghibur Mak Cik, setiap malam dia masih menangis Teman, hal yang paling sulit adalah memberitahu Mamak dan Bapak Mak Cik, ketika telpon, pertama Mamak menanyakan apa sudah dihubungi Bude, soalnya katanya Bude mau menyiapkan baju-baju bayi, wahhh Mak Cik nangis terpaksa aku yang ambil alih, kukatakan sama Mamak kalau janin Mak Cik meninggal di dalam…arghhhh…karena gak tahan tiap malam harus dengar rengekan Mak Cik, akhirnya kubilang padanya,
“hey Mak Cik, Mak Cik masih beruntung masih ada Ibu, Mas Rei yang menemani…masih ada mamak, bapak yang tiap hari telpon menanyakan kabar…coba lihat dungs tetra nih, pernah Mak Cik lihat tetra sakit ada keluarga yang beredar di sekeliling tetra? TAK ADA MAK CIK…jangan menangis Mak Cik, tiga bulan lagi Mak Cik bisa mulai berusaha punya bayi lagi…”
Rupanya perkataanku itu bisa membuat tangisnya reda, dibilangnya…”Tetet, kalau tetet merasa gak ada keluarga, Mamak aku bisa jadi mamakmu juga, mertuaku anggap saja mertuamu juga…”
Aku takjub mendengar apa yang dibilang Mak Cik, dengan nada bercanda aku bilang padanya, “apa suamimu juga berarti suamiku juga?”
Aduhhh aku salah ngomong Teman, Mak Cik cemberut, aku tak diperbolehkan lagi menemaninya tidur tiap pagi setelah subuh, kalau ingin membangunkan dia, aku terpaksa harus menelponnya dari kamarku…karena aku sungkan kalau harus mengetuk pintu…kesannya gimana gto…
Sore kemarin adalah (kira-kira) satu bulan setelah peristiwa Mak Cik kehilangan bayinya, Rei pulang, rupanya mereka sudah mulai bikin baby lagi...mereka cukup gak sabar untuk menahannya hingga malam hari…sore ketika aku pulang di ruang tengah tempat biasanya aku dan Mak Cik menonton tv sambil saling bercerita, sebuah air bad terhampar, kondom yang masih utuh tersebar di tengah air bad, dan celana dalam Mak Cik ada di bawah pintu kamarku…uhhhh….
Menurut Teman, mungkin ini saatnya aku harus pindah saja ke rumahku, tapiii…aku masih tak bisa hidup sendirian saja…terlalu menakutkan, bagaimana kalau misalnya aku mimisan tengah malam…HP mati tak bisa menghubungi siapa-siapa…telpon rumah dicabut karena belum bayar…terus hujan…terus petir…arghhhhh….
Atau bagaimana kalau kamu saja Teman yang menemani aku? Gratis tinggal bersamaku, resikonya cuman…Teman harus mau mencicipi masakanku yang terkadang (sebenarnya sering sih) GAGAL TOTAL ITU!!! Bagaimana? Mau
Kalau teman ini berjenis kelamin lelaki…resikonya ditambah YAITU HARUS MAU JADI SUAMIKU dengan resiko siap-siap jadi
Senin, 23 Maret 2009
TUNGGU LALA YA PAPI SAYANG :-*
seperti pernah dilakukannya ketika aku kecil dulu...
kalau aku sayang banget sama dia...
akan kulakukan apapun untuk
menjadi apapun yang dia minta...
Note: Teman, jika aku mati apa kau akan bersedih?
Selasa, 17 Maret 2009
15 MARET 2009
Tapi dia seolah tak tahu keadaanku, padahal wajahku sudah sangat pucat, tak ada rona disana, tubuhku lemas, mungkin dia sudah terbiasa, dia menyambutku dengan senyum yang biasa pula…senyum yang tak kubutuhkan, dan di akhir pertemuan dia sodorkan undangan itu, membuatku terhenyak, membuatku tak bisa lagi menyangkal, membuatku terhempas pada kerasnya kenyataan, undangan berwarna biru muda yang bagiku seperti sepotong surat dari pengadilan yang membuatku sadar bahwa vonis dua bulan yang lalu itu BENAR ADANYA, dan akan segera kuhadapi eksekusi itu entah kapan,
“Kapan?” lirih aku bertanya padanya,
“15 Maret, hari minggu, tak kemana-mana
“apa aku perlu datang…?”
“perlu, agar tahu saja sejauh mana kamu bisa menerima kenyataan…”
Yeah, sejak disampaikannya berita yang bagiku seperti vonis mati itu, aku sering menyangkal, aku tak akan mati hanya karena itu
Maka kujalani hari seolah aku memang akan hidup 1000 tahun lagi, walau pada kenyataannya aku sedang menghitung hari. Entah kapan, mungkin besok, atau detik yang akan datang, aku akan tersungkur, ragaku tak bisa lagi menanggung luka itu, mungkin esok atau sore nanti aku berbaring di ruang pucat dengan berbagai alat menusuk ragaku, mungkin malam nanti atau pagi esok tak bisa lagi kuhembuskan nafas, tak bisa lagi menghirup dinginnya malang, ah teman, pasti kau tak pernah merasakan kesakitan sekaligus ketakutan. Yeah aku manusia yang terlalu banyak salah, aku TAKUT MATI! Tapi hey, aku tak akan mati karena hal itu
Kusembunyikan undangan itu di tas paling bawah, kemudian kupindahkan di lemari baju paling bawah, aku tak akan melihatnya lagi, tak akan menyentuhnya, dan terutama TAK AKAN DATANG MEMENUHI UNDANGAN ITU!
Sepertinya undangan itu adalah kacamata untukku melihat kenyataan, yeah seharusnya kubakar, atau kumusnahkan sekalian, nyatanya aku memilih untuk menyimpannya, hanya agar aku masih bisa meraba kenyataan.
Banyak hal sia-sia dalam hidupku, aku ingin menyesal, nyatanya penyesalan tak bisa menyembuhkan luka-luka itu,
Mungkin bila saja aku bisa mencicipi aroma keluarga itu,
Mungkin bila saja aku bisa merasa kesakitan saat seorang manusia lahir dari rahimku,
Mungkin bila saja aku bisa menyentuh seorang lelaki, belahan hati, pujaanku, yang menganggap senyumku masih yang terindah walau penuh kerut…
Mungkin….bila semua itu ada dalam hidupku, aku tak akan se-merana ini menghadapi vonis itu…
Tak banyak yang bisa kulakukan sekarang, selain berusaha menghirup udara sebanyak mungkin, menikmati hidup dengan rasa tak nyaman, sendirian…yeah aku ingin sendirian saja, aku tak ingin jadi beban, aku tak ingin tergantung pada orang lain, cukup hanya aku yang merasa…tak akan kubagi duka dan luka-luka ini…tak akan kuberi kesempatan pada siapapun untuk merasakan luka-lukaku…karena pada kenyataannya tak akan ada yang sanggup menghilangkan luka apapun dari jiwaku…jadi kutunggu saja saat eksekusi itu dijatuhkan…Sendirian…!!! Jadi kenapa aku harus memenuhi undangan itu?
----
Note: 15 Maret 2009 diperingati sebagai hari kanker anak internasional
Hahahaha, bila tanggal itu akhirnya aku datang, bukan karena ingin mencari teman senasib atau apa, hanya ingin tahu sejauh mana aku bisa menghadapi kenyataannya, nyatanya???
Yeah…Aku masih tak percaya bahwa apa yang kurencanakan dalam hidup dalam sekejap hancur tak bersisa,
Aku yang bermimpi menjadi pembela bagi orang-orang pinggiran yang terancam terkurung di hotel prodeo, nyatanya hanya seorang pesakitan yang tak sanggup membela dirinya sendiri dari Takdir.
Aku yang bermimpi bisa membela mereka, anak-anak yang termusnahkan masa depannya di depan meja hijau, nyatanya hanya seorang anak yatim yang akan termusnahkan oleh tanah…
(untuk seorang pria kecil yang berduka pada tanggal ini)
Sabtu, 14 Maret 2009
BOLEH KU TAHU RASANYA?
Dari sebuah folder yang tak terdelet...
Smoga dikuatkan niat dan imannya. Pandangan pertama menggoda.
Detak andrenalin tak henti, menyambut kerinduan seekor bidadari.
From: 081572163
Rindu ku peluk manja, bidadari kesepian, jauh ku tangis rindu, bunga malam.
Lelah ku bisu jauh, ruang bisu di hati.
From: 081572163
Kala sang pujangga mmluk seekor bidadari, akankah ada cinta. Namun ku yakin ku merindukanmu Cinta. Hangatkan hatiku dengan senyummu.
From: 081572163
Maaf ya sayang, terpaksa kubuka mata ketika bibirmu argh…aku penasaran seh, msh kuingat ujung hidungmu dan matamu yg terpejam, hingga kuikuti jejakmu: kupejamkan mataku & kunikmati.
Send to: 081572163
Sejauh apapun dia mnikmati bibirmu, dadamu, bahkan tubuhmu. Namun kuyakin hatimu takkan pernah mati untukku. Sungguh sayang.
From: 081572163
Selama masih aku bisa bernafas, meskipun ku tak pernah tau engkau ada dimana, ku slalu merindukanmu. Tu me manques! I LOVE YOU!
From: 081572163
Tubuh menggigil, hati membeku, sehelai kain tak tersisa, telentang pasrah menunggu, mata tajam menatap bibir merah. Ingin kulewati malam indah dalam pelukmu.
From: 081572163
Bagaimana bisa kuenyahkan ujung hidung itu dari otakku, bagaimana bisa kulupakan rasa sentuhannya, jika d ruang yg sama tempat dia menyentuhku aku berbaring stiap saat disana.
Send to: 081572163
Kuingin bkn sekedar bibir, dada, atau vagina di tubuh seekor bidadari. Yg kubutuhkan kehangatan sayang dan cinta tulus menemani saat terakhir hingga jatuh air mata.
From: 081572163
Bidadari itu ingin dibutuhkan, ingin juga merasa diinginkan, tapi
Send to: 081572163
Mungkin bidadari itu trlalu mudah memberikan vaginanya saat mrasa membutuhkan kasih sayang. Hatinya tlh mati.
From: 081572163
Hey bagaimana klo ada seekor bidadari yg vaginanya sdh terjamah ribuan lelaki jatuh hati padamu? Dia berikan kasih sayang dan tubuhnya padamu, apa kau mau menerimanya?
Send to: 081572163
Yg kuinginkan vagina belum terjamah. Namun yg kubutuhkan bkn itu. Kbth kasih sayang dan cinta dari hati yg tulus seekor bidadari.
From: 081572163
Nah BEGITULAH LELAKI!
Btw mau kukasih satu rahasia? Tahu knp lukanya cinta itu menyakitkan?
Send to: 081572163
Bukankah sudah kudengar rahasia itu?
From: 081572163
Ah belum, kau sama sekali gak tahu knp cinta itu bisa bgt menyakitkan:
Karena aku tak bisa meraihnya, krn cinta bgt utopis bagiku, hanya khayalan, dongeng.
Send to: 081572163
Pepatah bijak mengatakan :
Cinta bkn diraih, dcari, tp akan dtg sendiri.
Kala diraih, saat tak kena wajar cinta akan menyakitkan.
From: 081572163
Cinta itu dtg padaku tp indifferent.
Jd kupikir cinta itu utopis.
Send to: 081572163
Mgkn bkn saat.
Benarkah?
Benar itu cinta?
Ato Cinta Pemuas Vagina?
From: 081572163
Aku tahu kapan aku jatuh cinta n kapan aku hanya ingin disentuh!
Send to: 081572163
Tapi tak pernah tahu kapan dicintai.XP
From: 081572163
(GOLLLL!!! KENA!!!)
Gudnite, sleep tight. Do miss me always
From: 081572163
Skor akhir: 1-0 untuk pujangga…
Jumat, 13 Maret 2009
SEKALI BERARTI, SESUDAH ITU MATI!
NAFAS TERAKHIR
(Java Jive)
aku tak seperti dulu lagi,
wajar bila kau memilih,
kau layak dapat yg terbaik,
bukan aku yang tak berdaya kini,
lubuk hatiku tergerak saat kau kecup bibirku,
rasakan cintamu yang tulus,
yang tak pernah kurasakan dulu,
aku merasakan dalamnya cinta untuk diriku,
kamu menyatakan semua terjadi hanya lah untuk diriku
sungguh haru yang tersimpul dalam nafas yang terakhirku…
aku merasakan dalamnya cinta untuk diriku,
kamu menyatakan semua terjadi hanyalah untuk…aku….
Rabu, 11 Maret 2009
SEPERTI JAUH, TAPI KAU SELALU ADA...
-Dari sebuah catatan yang belum sempat terpostingkan-
Prolog:
Hmmm aku tahu rasanya sekarang,
Aku tahu rasanya bagaimana penantian itu bisa begitu menyiksa,
Menunggu, menunggunya, seperti yg sering dia tulis: menunggu di ujung horizon
Dan itu memang menyakitkan…
Ingin terlelap tapi ketika terlelap setiap suara seakan memanggil, mungkin itu dia datang,
tp ternyata bukan dia, tak ada siapa2 disana, di balik pintu itu hanya ada angin yg menerpa, gelap yg terlihat dan dingin yg menyesakkan tulang, hmmm…bidadari…bidadariku…
sang putriiii itu tak datang malam ini….
====
Aku pikir aku bisa melepasnya, membiarkan dia terbang, membiarkan dia berjuang sendirian, nyatanya aku tak mampu, dan di ujung rasa perih itu aku menemui temannya (mungkin aku bisa bertanya tentang keadaannya), seorang wanita yg bekerja di sebuah bank swasta, terpaksalah aku membuka rekening di bank itu demi bisa berkomunikasi dengan wanita itu, aku pun memilih mengantri di antrian paling panjang menuju wanita tersebut, tak kuhiraukan anjuran satpam agar aku memilih teller yang lain, aku menunggu mengantri dengan pikiran kusut,
‘
Dan ketika sampai giliranku, dia terkejut, tapi tetap profesional dengan menanyakan keperluanku padanya, dan di tengah pembukaan rekening tak jua kusampaikan padanya apa yg ingin kusampaikan, aku hanya mengangguk-ngangguk mendengarkan penjelasannya, ketika selesai pun aku masih tak mampu bicara, sekedar bertanya tentang kabarnya, sekedar menyinggung sedikit pembicaraaan tentang dia, akhirnya ya sudahlah nyatanya aku memang tak mampu menjauh, tapi juga tak mampu untuk mendekat lg,
‘
Keluar dari bank itu aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan, menemuinya di jam kerja seperti ini? Datang padanya lagi ketika horizon tiba? Aku tahu aku tak akan melakukan itu, aku telah berjanji untuk melepasnya, yg perlu kulakukan hanyalah mengeraskan hati, bermain dengan pikiran seperti yg sering kulakukan, *walau merasa rindu aku akan berpikir aku tak sedang merindukannya*
‘
Ketika bengong itulah wanita tersebut keluar dari bank, tampaknya sudah waktunya pulang, ini kesempatanku terakhir, jadi kuberanikan diri menghampirinya, kutawarkan diri untuk mengantarnya pulang, mungkin aku berharap aku bisa bertemu dengannya walau sekilas, walau mungkin hanya melihat punggungnya sekalipun,
‘
Di perjalanan aku pun masih tak bisa bicara tentangnya, aku sedikit berharap dia akan bertanya, atau menyampaikan sedikit informasi tentang kabar kekasihku, tapi dia pun diam, kalaupun dia bicara, hanya masalah kerjanya saja yg keluar dari bibirnya,
‘
Tanpa kusangka dia memintaku mengantarnya ke kantor bidadariku, cemas, takut, gak tahu harus bersikap bagaimana bila bertemu dengannya, semoga dia tak sempat melihatku,
‘
Tapi rupanya doaku tak terkabul, ketika sampai di kantornya dia melihatku, tanpa kusangka dia mengedipkan mata dan tersenyum, senyum yang sama stiap kali dia menyambutku di ujung lelah, kedipan mata yang sama setiap kali dia merayuku,
‘
dia baik-baik saja, itulah yg terlihat, aku segera pamit, tanpa menyapanya, tiba-tiba saja ada perih yang meluluh lantakkan pertahanan yg kupunya, sekejap kuputuskan untuk kembali, menyapanya, menggenggam tangannya, dan berjanji tak akan lagi kuulangi apa yg telah kuperbuat padanya, berjanji tak akan lagi berusaha menjauh dan meninggalkannya,
‘
aku memang kembali tapi di jalan aku berpapasan dengannya, tak mungkin aku memintanya berhenti, jadi kuteruskan perjalananku dan kembali berputar ke jalan lain, aku pulang…pulang dengan hampa…dan senyum itu…kedipan mata itu…membuatku tak bisa tidur…bahkan game yg biasanya cukup untuk mengalihkan pikiranku darinya, tak lagi bisa mengenyahkan senyum sialan itu…arghhhhh %$^&%*^(
‘
Dan di suatu senja ketika aku berusaha menjalani aktivitas normalku, dia datang, dan lagi lagi senyum itu, kedipan mata itu, bibir merah basah itu…arghhhhh….
Aku jarang melihatnya dengan busana kerja dan dandanan dewasa, setiap aku datang dia spt seorang gadis remaja yg selalu ingin dimanja, kali ini dia tampak berbeda di mataku, mungkin karena aku merindukannya, tapi dia memang beda apabila sudah bergelut dengan pekerjaannya, bicara yg agak kaku dan serius, senyum tulus yg membuat setiap orang bisa bicara apapun padanya, mata yg tegas dan penuh pengertian, mungkin itulah sosok yg sebenarnya, sosok yg terlihat di mata dunia, tapi bukan sosok yg kukenal,
‘
Di pertemuan itu dia bertanya…
“putri masih boleh main kesini lagi?”
“sejak kapan gak boleh?”
“hmmm…”
“siapa yg bilang gak boleh? Klo aa ada, aa bukakan pintu buat neng”
“oh, terima kasih yah”
‘
Setelah itu dia pergi,dan untuk pertama kalinya aku tak menyesal telah memberinya kesempatan, tapiiii akulah kini yg bingung, karena selalu ingin segera pulang, takut dia datang dan aku tak ada disana, seperti malam setelah pertemuan itu, aku menunggu, menunggunya datang padaku…tapi tak ada suara mobil yang masuk pekarangan, tak ada yg mengetuk pintu, tak ada yang datang…sampai pagi aku menungunya, tak bisa memejamkan mata, saat itulah aku tahu rasanya…aku tahu rasanya menunggu seperti yg dia lakukan setiap kali, menunggu di ujung horizon seperti yg sering dia tulis, menunggu dan ketika dia tak datang rasanya ada sesak yg menghujam dadaku, ada batu yg menyumbat aliran darah di nadiku,
“bidadari jangan sampai aku katakan kata P dan L itu, angkat batu itu segera bidadari…PLisss…”
‘
Epilog:
Pagi ketika bumi dan langit bersatu dalam satu garis, Satu sms masuk di nomor 0817*****7
“hmmm…”
Sms itu dari Prajurit untuk bidadari…
Minggu, 08 Maret 2009
BLEEDING KISS...
"Mendekatlah, peluk aku..."
.....
"apa yang sedang kau pikirkan mas?"
"aku ingin mengecupmu..."
"ih...apaan sih? hmmm...tidak berpikir aku murahan kan?"
"apa selama ini aku berpikir seperti itu?"
"mana tetra tahu? bisa aja kan?"
"aku sungkan, bukalah kerudungmu..."
"gak bisa, rambutku tinggal sedikit..."
"tak apa, aku ingin melihatnya...."
....
"oh...mas...gak nyangka mas bisa senyata ini, bisa kusentuh..."
"sudah, sini...rasakan setuhanku sayang...."
....

duh, aku begitu tak ingin melewatkan momen itu,
jadi kubuka mataku ketika bibirmu...
hmmm kulihat ujung hidungmu, kulihat matamu yang terpejam,
hingga kuikuti jejakmu...kututup mataku, dan kunikmati...
...
"eh maaf, mimisan..."
....
=)) =)) =)) aduh malu-maluin aja sih...
22:02
Jika sekarang aku berbaring di tempat yang sama ketika dia...
Bagaimana bisa kuenyahkan ujung hidung
dan mata terpejam itu dari otakku?
Bagaimana bisa kulupakan rasa sentuhannya?
Jumat, 06 Maret 2009
DAMN! I'M FALLIN LOVE... IT'S FEEL SO HURT!
Can I hear ur voice once again?
can I see ur smile once again?
can I touch ur skin once again?
can I record ur face in my mind for once again?
can I kiss u again???

Ribuan penyakit pernah hinggap di tubuhku,
bahkan seganas kanker pun kuhadapi,
TAPI TAK ADA YANG PALING MENYAKITKAN DARI JATUH CINTA!!!
CONFESSION...
huahahahaha......
makasih yah bagi yg udah ngingetin gw,
lu bener temen, gw memang lagi putus asa, tapi untuk hal yg gak lo tahu...
JADI JANGAN SOTOY DEH LO!!!!
=)) =)) =))
Ah...maaf yah pria anomali, kamu tak bisa lagi jadi tokoh dalam blog luka ini...
but makasih buat semua memori indahnya :-*
Kamis, 05 Maret 2009
BOLEH KUMINTA DIA UNTUK JADI SUAMIKU KAN TUHAN?
Hmmm, kemaren, yah kemarin teman, kebahagian itu menyapaku, atau sebutlah kesenangan (just fun not happy, takut ada yang protes haha), seorang yang mengaku fans berat blogku memaksa untuk ketemu, sebut saja dia sebagai pria anomali, terus terang aku sudah buat 1001 manuver agar dia jadi illfeel dan tak mau menemuiku, seperti:
aku bilang aku tak mau ketemu karena belum siap, alasan yang mengada-ada, tapi itu bisa menahannya untuk satu hari,
aku bilang aku lesbian tak tertarik pada laki-laki, dan sebenarnya tokoh-tokoh yang ada di blog itu sebenarnya perempuan, pangeran, satria, prajurit, etc semuanya perempuan, sempat terpikir untuk bilang saja aku bencong (masakan bencong bisa seseksi itu suaranya…)
manuver terakhir aku bilang saja padanya aku ini gendut, sebenarnya aku tidak secantik itu, kukasihkan saja blog temanku dan kuperlihatkan FS temanku yang memang (ehmmm…) gendut but sexy, dia tanya paswordnya, gampang aku tahu kok passwordnya, bikin FS sama blognya aja bareng kok sama aku, arghhhh sialnya passwordnya udah diganti, akhirnya kupaksa temanku muncul lewat cam agar dia percaya, anehnya…dia tetap saja memaksaku untuk ketemu…dia bilang, dia gak peduli aku segendut apa, dia nekat…dia mau ketemu sama aku,
Kalau sudah begitu aku harus bagaimana lagi? Akhirnya disepakati lah kita ketemu, dan aku bilang padanya, jangan nyesel yah....dia tetap saja maksa,
Aku senewen juga mengingat ketemuan dengan seorang teman maya di real itu biasanya suka jadi kacau, dan bukannya tambah deket, malah jadi jauh…
dua malam aku gak bisa tidur, di pikiranku hanya ada pertemuan dengannya, apa yang kukerjakan tidak lagi sistematis, aku bego sebego-begonya,
Hari H, jam6 pagi dia telpon katanya ketinggalan kereta jam 5 dan akan menunggu kereta berikutnya jam8, aku langsung sms teman yang kupinjam raganya, kubilang padanya, bon kita berhasil dia kayaknya batal kesini (sebenarnya aku meminta temanku itu untuk menemuinya, tapi dia gak mau, katanya urus saja urusanmu sendiri, wuih…)
Ternyata aku salah, sejam kemudian dia bilang dia sudah ada di kereta menunggu kereta berangkat menuju Malang, arghhhh…aku masih tak yakin, tapi aku persiapkan diriku sebaik-baiknya (dibaca dandan abis-abisan...hahaha), kutunggu dia di sebuah café dekat Stasiun Malang Kota, aku menunggu dengan deg-degan, seperti apakah dia di dunia nyata? Seperti apakah orang yang nekat ketemu sama aku padahal sudah kubilang aku ini menyakitkan, aku ini gendut, aku ini tak cantik, aku ini hanya seorang cewek yang bla bla bla…
Jam 11, dia menelpon udah sampe stasiun, dan menuju ke café tempat aku menunggunya sambil chating (tentu saja, memangnya aku bisa nunggu sambil bengong dengan perasaan tak karuan?)
DAN DIA PUN DATANG SODARA-SODARA!!!
Dan kuberi tahu padamu Teman, Dia itu lebih cakep daripada poto yang kulihat di imagenya, baru kulihat sejenak saja, tanganku sudah gatal ingin menyentuhnya dan hatiku langsung berbunga-bunga (ok, kata ini sangat anak TK sekali, tapi sekali ini izinkan aku menggunakan kata itu saja teman), di otakku tiba-tiba saja bermunculan berjuta kata indah, dan bibirku selain mengulum senyum juga sudah tidak tahan ingin menghamburkan kata-kata indah itu…
Dan hey kita ketemu, dia mengucapkan salam, kita kenalan,
“tetra putri…”
“pria anomali…jadi mana bon yang gendut itu?”
“ah lupakan saja…jangan disebut-sebut lagi ya? Aku malu…”
“hahaha…surprise banget tetra lebih cantik dari potonya, gak percuma aku nekat ketemu…pantes prajurit bilang INDAH…”
Ya ampun itu kan kata-kata yang ingin kukatakan padanya, aku hanya tersenyum saja, sudah pasti pipi dan telingaku merah banget…hahahaha…nice experience…
Jadi?
Dia pengen buktiin kemampuanku masak, jadi aku masuk Hypermat-Matos buat belanja, terus terang aku belum bisa masak tanpa Mak Cik, tapi kali ini biarlah, biar dia tahu aku apa adanya saja, dan jrenggg jrenggg jrenggg dan aku masak rawon (dengan bumbu instan…biar cepet dan memang aku gak tahu cara konvensional bikin rawon, walau begitu tetep aja kan masih susah ngurus dagingnya...), kupikir aku berhasil, sempat lupa pula apakah aku sudah memasukkan garam atau belum, kucoba, kayakna belum, kumasukkan lagi lah garam, beberapa menit kemudian kucicipi, dan…
“arghhhhh PAIT!!!” aku panik, dia muncul ke dapur, aku gemeteran shock, dia cicipi lah rawon itu,
“hey, tenang enak kok…gak pait, gak asin, udah pas…”
Dia yakinkan aku sampai aku pun yakin kalau rawon itu baik-baik saja, mungkin lidahku saja yang sedang keseleo…dan hey dia lahap sekali, malah aku yang makan menye-menye…gak semangat, sulit rasanya menelan, gimana mau makan klo tangan ini rasanya udah pengen sentuh-sentuh saja…hahahaha (nampak jarang dibelai yah?)
Selesai makan, kita…ehmmm…AKHIRNYA AKU MENYENTUHNYA!!!
Ya ampun dia yang sudah beberapa bulan ini menjadi matahariku di tengah malam, yang selalu mau kutelpon jam berapapun…yang mau mendengarkan kisah luka-lukaku, pembaca pertama dari semua postingan yang ada di blog luka ini…TERNYATA BISA NYATA JUGA! AKU BISA MENYENTUHNYA TEMAN, kurekam wajahnya di otakku, kutelusuri wajahnya dengan jariku, kutatap matanya…dan kata-kata itu berhamburan lah dari mulutku tak bisa tertahan lagi…
“aku tak percaya, matahari tengah malamku bisa kusentuh seperti ini, bisa kurasakan dengan jariku, bisa kutatap matanya dengan mataku, bisa kuremas tangannya…bisa kukagumi setiap inci wajahnya…mata yang memabukkan ini, hidungnya…pipinya…ehmmm bibirnya…pasti mimpi ya? Katakan ini bukan mimpi…!”
Aku mulai berbisik di telinganya…
“nggak sayang, ini bukan mimpi…” begitu jawabnya,
Kembali kulihat matanya, kutelusuri setiap ini wajahnya dengan jariku, kuusap rambutnya…kubisikkan nama itu di telinganya…dan :-* ya teman aku :-* DI LEHERNYA!
“aw…” dia meringis, barulah aku sadar…
MENGERIKAN!!! Bagaimana bisa aku jadi tak terkendali seperti itu?
“sorry…gak buleh nyentuh yah?”
“hmmm…buleh, siapa bilang gak boleh? Hmmm…aku sungkan…”
Arghhhhh pria anomaliku…
Kita akhirnya berpisah dengan baik-baik, dan aku pun mengerti jika seandainya itu adalah pertemuan pertama dan terakhir, aku bisa mengerti…pada kenyataannya aku sadar otakku bukannya merekam nyanyian pernikahan, tapi suara desahan di sudut kamar… (kau tahu kan apa maksudku Teman?)
Walau begitu anehnya aku berdo’a…
”YA TUHAN JADIKAN DIA JODOHKU!!!BERIKAN AKU ANUGERAH YANG TERAKHIR…BERIKAN AKU KESEMPATAN UNTUK MENCICIPI AROMA KELUARGA SEKALI SAJA DALAM HIDUPKU”
Kulihat punggungnya di balik kaca kereta, dia tak menoleh,
Hey dia sudah bertemu dengan idolanya kan? Dan dia telah menjadi tokoh dalam blogku sekarang?
Kau memang layak mendapatkannya pria anomaliku…
Minggu, 01 Maret 2009
SUDAH PAS TAKARANNYA
"klo mau bahagia,
gak usah berharap
orang lain yang membahagiakan kita,
bahagiain diri kita sendiri aza dolo..."
Kemarin rasanya semua begitu sempurna, dia selalu punya sesuatu yang bisa membuatku terperangah kemudian tersanjung, rasa yang kupunya pada dirinya pun begitu pas takarannya, tidak terlalu berbusa, tapi juga bukan berarti tak ada, awalnya memang kurasakan rasa itu seperti ombak di lautan, ganas, awalnya juga aku tidak berniat untuk jatuh hati padanya, tak ada klik sama sekali ketika aku memutuskan untuk mendekatinya karena dia begitu berbeda dari komunitasnya, tak ada firasat bahwa suatu hari aku akan begitu jatuh cinta padanya, bahkan seorang teman heran melihatku bisa tertawa-tawa bersamanya,
Aku tidak ingin menganggapnya siapa-siapa, aku hanya ingin ketika aku butuh dia ada, sekali lagi pada awalnya memang seperti itulah posisinya, kemudian makin hari ada semacam beban di pundakku, aku ingin tahu dia, apa yang dirasakannya, apa dia sedang marah, apa dia sedang suntuk, rasanya ada yang mengigit hatiku ketika sebuah hubungan hanya melulu seorang memberi dan melulu yang lain menerima, aku mulai memposisikan diriku agar dia juga butuh aku, ku pikir aku gagal,
Sampai dia membiasakan diri memanggilku sayang, tahukah teman setiap dia memanggilku sayang, rasanya mengigil, ngeri karena aku merasa bahagia, takut kalau suatu hari dia tak memanggilku sayang lagi,
Dia memang seorang pria anomali, tak sama seperti kebanyakan pria, dia selalu memberi, kadang tak memberiku kesempatan untuk berbuat yang sama pada dirinya, sekali lagi itu beban buatku, sekali-kali dibilangnya kata itu, yah kata sakti itu…I LOVE U, membuatku makin ngeri dan takut, biasanya aku pura-pura gak denger, atau malah protes manja, sungguh aku tak sanggup bila dia katakan itu sekali lagi, tapi aku juga ingin dia selalu mengatakannya, untuk meyakinkan diriku, bahwa ketika aku berbuat egois dia masih punya perasaan yang sama padaku,
Suatu hari kuberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya, dengan grogi abis, dag dig dug, takut, ngeri, aku bilang padanya kata sakti itu, saat itu aku sudah punya firasat bahwa aku tak akan lagi bertemu dengannya, dan ketika pada akhirnya aku tak bisa bertemu dengannya, dia tak berusaha untuk mencariku, aku menyerah…kupikir aku memang bukan seseorang istimewa buat dirinya,
Sekali lagi aku salah, dia datang dengan kecemasan yang luar biasa, agak sedikit sinting karena baru menemukanku seminggu kemudian, ah pria anomaliku….
Rasa itu makin membuatku ngeri, takut aku menyakiti, takut aku tersakiti, sampai satu kesalahpahaman membuatku memutuskan untuk pergi darinya….
Tapi teman, aku tak sanggup, akhirnya memang dengan tak tahu malunya aku sendiri yang berdiri di hadapannya dan meminta maaf dengan segala kesintingan yang kupunya,
Saat itu aku sadar semua telah kembali ke titik nadir, dimana dia tahu kenapa aku bisa punya luka yang begitu menyakitkan, ku pikir dia tak punya lagi rasa itu…kalau memang masih ada, takarannya sudah berkurang….
Dalam hal ini aku sudah melakukan perbuatan yang tepat untuk memangkas rasa yang besar itu, termasuk juga hatiku….yah sekarang takarannya pas, tidak terlalu berbusa, tapi juga bukan berarti gak ada…tidak pula rasa itu kecil adanya….hanya memang sudah pas…
Rasa yang pas itu, kembali harus diuji dengan suatu kenyataan, dia sama sekali tidak anomali…dia sama seperti kebanyakan pria…
Tadi malam, ketika sedang berdua dengannya, seorang ntah siapa menghampiri kami, bisa kubilang mengganggu, aku terkejut, agak sakit hati…cemburu ketika melihat mata yang biasanya menatapku dengan penuh rasa itu juga punya binar yang sama ketika dia menatap si pengganggu itu…suaranya bahkan tawanya…secara terang-terangan aku diusir, tapi memang lebih baik aku menyingkir daripada harus menonton pameran kemesraan itu…
huh…dia berjanji akan kembali padaku, aku tunggu sampai pagi, menahan rasa perih di perutku yang memang selalu datang ketika aku tak bisa tidur, kutahan obat tidur yang biasanya sedikit menolong menghilangkan perih itu, aku harus memaksa dokter agar memberiku morfin saja…huh…
Dan pagi ini ketika aku bertemu dengannya, dia tak menjelaskan siapa si pengganggu itu, kenapa tak kembali padaku malam tadi, padahal aku menunggunya, dan aku pun tak berani bertanya…
Sungguh itu memang bukan gayaku, bukan gayaku untuk berdiam diri dan seolah tak terjadi apa-apa, biasanya aku akan meledak, mencecarnya, sampai dia terpaksa mengaku apa yang sebenarnya terjadi tadi malam…
Baru aku sadar kalau bersamaku dia selalu pura-pura, tak pernah jujur, selalu saja menahan perasaannya, tak pernah mengizinkanku untuk tahu apa yang ada dalam pikirannya, dia memang senang membiarkan diriku berjalan sendirian di tengah kegelapan, yang lebih parah lagi dia membiarkanku saja ketika aku punya pikiran buruk tentangnya, dia tak pernah menolongku untuk selalu percaya padanya….
Apa aku terlalu berlebihan?
Apa aku terlalu banyak menuntut?
Ya kemarin rasanya semua begitu sempurna…rasaku padanya pun takarannya sudah pas,
Sayangnya hari ini aku mulai tak yakin lagi, uhhhh bahkan sedikit malu pernah punya pikiran untuk memintanya mengatakan semacam kata “will you marry me?” lagi, malu juga pernah punya pikiran ketika dia mengatakan itu sekali lagi aku tak akan protes dan memintanya untuk tak pernah mengatakannya di depanku karena ngeri, tapi aku akan bilang AKU MAU…:))
Hahahaha…kembali ke titik nadir lagi saja lah Luka…sudah pernah kubilang
Dan tak usah berharap ada seorang anomali lain yang akan berlaku layaknya pahlawan…
NO HERO FOR U LUKA!!!
jadi ingat kata prajurit, katanya:"klo mau bahagia,








