Kamis, 30 April 2009

SRINTIL; SANG RONGGENG YANG MENGALAHKAN PESONA JULIET...

*sebelumnya: hmmm tanggal 1 Mei ya? Selamat hari buruh… Cahaya jangan berhenti berjuang ya! Aku akan ada selalu untuk menjadi bayangan bidadari untukmu*


Huh, ada sebuah pertanyaan yang selalu bingung kujawab, pertanyaan tentang kisah cinta siapakah yang paling mengharu biru, paling romantis, paling indah, dan paling menyakitkan?

Kupikir kisah Laila Majnun adalah kisah yang paling tragis sekaligus romantis mengalahkan Romeo-Juliet, tapi ketika aku kenal Dyah Pitaloka, seorang putri kerajaan sunda yang mati bunuh diri di lapangan Bubat, aku mulai berpikir Dyah Pitaloka lah yang punya kisah paling tragis tapi sungguh indah dan romantis. Pandangan itu berubah lagi ketika aku mengenal kisah ASOKA seorang raja dari India yang mengobarkan perang setelah kehilangan wujud ragawi seorang Putri bernama Kaverki. Pandangan itu terus berubah ketika lagi lagi aku mengenal kisah Edward Cullen dengan Issabella Swan dalam Twilligt.

Kini aku kembali tergugu dengan sebuah kisah yang pernah kubaca 5 tahun yang silam, sebuah trilogi yang belum kujumpai endingnya. Sebuah kisah lama milik Ahmad Tohari. Sebuah kisah yang menelurkan cerpen pertamaku. Kisah itu begitu indah, begitu tak biasa, tapi begitu menyentuh. Penuh kata bersayap dengan filosofi yang dalam. Kisah tentang seorang ronggeng dari sebuah Desa miskin dengan sumpah serapah cabul bernama Dukuh Paruk. Ronggeng itu bernama Srintil.

Kisah Srintil pernah kubaca ketika Zaman SMA, aku hanya membaca sampai bagian keduanya: Lintang Kemukus Dinihari. Hanya sampai ketika Srintil ditahan karena kepolosan dan kebebalannya membuatnya dituduh sebagai PKI. Dari kisah itu aku membuat sebuah cerpen, sebuah cerpen yang penuh tokoh-tokoh sastra. Hanya sampai disana Srintil membawa inspirasi bagiku. Selanjutnya kisah itu terlupakan dengan novel-novel metropop yang kemudian menjadi bacaan wajibku sebelum tidur.

Sampai ketika seminggu yang lalu aku mendapat sebuah email dari Rei berisi tiga buah Microsoft Reader kisah Srintil. Trilogi yang lengkap: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jentera Bianglala. Jujur, aku malas menyentuhnya, aku malas membacanya, ah sastra lama selalu bikin pusing dengan macam-macam kata-kata bersayapnya, khas zaman dulu, duluuu sekali, begitu aku berpikirnya. Padahal ketika SMA aku adalah pelahap sastra nomor satu. Entah kenapa keindahan sastra kemudian memudar ketika aku mengenal novel-novel metropop. Mungkin karena kisah dalam metropop begitu akrab dengan keseharianku.

Kebosanan akhirnya membuatku terpaksa menyentuh email dari Rei itu. Dan baru saja aku membaca satu alinea, aku sudah faham betapa jeniusnya seorang Ahmad Tohari. Pantas saja puluhan skripsi anak-anak fakultas sastra terlahir dari rahim bukunya itu. Bahasanya tidak zadul seperti Layar Terkembang, tidak begitu idealis seperti Atheis. Walau miskin dialog, tapi kaya dengan deskripsi alam dan deskripsi perasaan. Penuh dengan muatan ilmu biologi dan psikologi. Ilmu biologi-nya terlihat dari deskripsi segala jenis binatang yang pada abad 20 sudah dikatakan musnah, tentang bence, tentang kumbang tahi, tentang jangkrik dengan segala perilakunya. Sementara ilmu psikologi bisa dinikmati dari benturan perasaan yang dialami tokoh-tokohnya. Imajinasi luar biasa ketika seorang penulis bisa mendeskripsikan peristiwa kehilangan seorang ibu menjadi sebuah pencarian yang tak berujung pada sosok kasih sayang.

Ahhh…Kisah Srintil membuatku sangat ingin bertemu Ahmad Tohari (apa dia masih hidup?). Aku ingin melihat sosok penulis yang melahirkan Ronggeng Dukuh Paruk menjadi sebuah sastra bermuatan kisah cinta yang dipadu dengan biologi dan psikologi (apa Ahmad Tohari pernah belajar biologi? Apa dia pernah duduk di bangku kampus Psikologi? Ataukah dia hanya seorang pembaca alam yang amat terampil?), aku ingin berkenalan dengan penulis yang menciptakan Lintang Kemukus Dinihari menjadi sebuah novel feminisme yang jenius, aku ingin berbincang dengan penulis yang mereka-reka Jentera Bianglala menjadi ending yang mengharu-biru dari Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu. Lebih dari itu semua, aku ingin sekali bertanya padanya? Apa aku masih bisa berjumpa dengan Rasus, lelaki yang mau menikahi seorang mantan ronggeng sekaligus mantan tahanan politik yang juga dirawat di rumah sakit jiwa itu? Aku ingin meminta pada Ahmad Tohari agar ditunjukkan jalan menuju Dukuh Paruk. Aku ingin berguru pada Rasus, pada Srintil juga pada Sakum (seorang penabuh calung yang punya kepekaan rasa walau matanya keropos dan picek).

Ah malunya aku ketika mendapati aku menangis setelah menutup Jentera Bianglala. Tak bisa tidak aku menangis atas kemalangan Srintil, atas pendulum nasib yang begitu bertubi-tubi mencampakkan sisi kemanusiannya. Seorang Srintil yang terlahir dengan indang ronggeng, merasa bahwa menjadi ronggeng berarti menaklukan kelelakian, menjadi duta perempuan yang mempunyai kedudukan di samping lelaki, bukan di bawah atau di atas. Ah Srintil, andai kau benar-benar ada, ingin sekali aku berguru padamu. Tentang cinta yang penuh harapan, tentang sebuah kepasrahan pada naluri keperempuanan; naluri pengabdian, naluri kasih sayang! Srintil yang keluguannya dimanfaatkan sebagai penarik massa pada zaman huru-hara tahun 1965, Srintil yang kupikir berakhir di tahanan, tetapi ternyata tak hanya tahanan yang menjadi tempat berakhirnya, tapi Rumah Sakit Jiwa. Srintil yang masih beruntung karena seorang pangeran ada di sampingnya untuk menunggunya meraih kemanusiannya kembali. Seorang pangeran yang akan tetap menikahinya walau dia bekas ronggeng (yang itu tak jauh berbeda dengan kata sundal), mantan tahanan politik tahun 1965, sekaligus pasien Rumah Sakit Jiwa. Melebihi kisah Laila Majnun, bahkan Romeo Juliet sekalipun. Indah, romantis, tragis dan menyakitkan!!!

Cobalah Teman, tengok Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk nih. Aku menjamin dengan segala luka yang ada padaku, teman tidak akan dikecewakan oleh Srintil, Rasus, Sakum dan segenap tokoh yang ada di Dukuh Paruk. Pada akhirnya aku berdo’a apabila Ahmad Tohari sudah tidak bisa kujumpai, semoga dia masih sempat mewariskan indang penulisnya pada siapa pun yang kisahnya bisa kunikmati. Dan dengan segenap keyakinan yang ada pada diriku, aku nyatakan bahwa aku seorang pelahap kisah-kisah cinta yang pernah ditulis dengan sesungguh hati kukatakan, bahwa kisah cinta yang paling mengharu biru, paling romantis, paling indah, dan paling menyakitkan adalah kisah Srintil-Rasus dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Ada yang mau menyainginya? Dengan senang hati akan kunikmati….


MAK AGA; BATUK NENG? DI KOMIX AJA!

*Tulisan ini diposting juga di Facebook pada tanggal 24 April 2009, sebuah kenangan untuk Kartini yang kukenal*

Aku mendapat kunjungan dari wanita istimewa Teman, wanita desa sederhana yang hidupnya selalu didekasikan untuk orang lain. Aku memanggilnya Mak Aga. Ah wanita yang satu ini selalu saja membuatku bingung bagaimana mendeskripsikannya. Sudah lama aku ingin menulis tentang dia. Tapi tak pernah berhasil. Tentunya karena dia amat istimewa di hatiku.

Mak Aga adalah orang yang merawatku sejak bayi hingga aku berusia 6 tahun. Sebenarnya bergantian dengan Mak Iwin dan Mak Cacih (keduanya sudah almarhum, semoga Allah SWT menerima segala amal kebaikannya di dunia dan semoga mereka ditempatkan di sisiMu Ya Allah, amin). Ketiganya bersaudara. Tapi Mak Aga lah yang paling sering meminjamkan nenennya untuk ku…(aku sudah pernah bercerita kalau aku ini doyan nenen sampai kelas 6 SD? Kalau belum ingatkan aku untuk bercerita ya?!). Selain itu Mak Aga adalah ibunya mami, dan mami ini adalah anak kandung satu-satunya Mak Aga. Mak Aga dan Mak Iwin sendiri ‘gabug’, alias tidak punya anak kecuali anak tiri yang dibawa suami-suami mereka.

Kembali ke Mak Aga, dia datang menjengukku dengan membawa sebotol air putih. Ahhh, aku ingat ketika aku kecil setiap demam aku akan dibawa ke Bapak Mana, semacam orang sakti yang bisa menyembuhkan orang sakit (aku tidak akan menyebutnya ‘dukun’ rasanya konotasinya negatif sedangkan Bapak Mana ini adalah orang menyematkan kata Putri dalam namaku, selain itu dia juga orang yang mengajariku berhitung dan membaca jauh hari sebelum aku masuk TK). Di rumah Bapak Mana aku akan diberi segelas air putih yang telah diberi do’a (yeah jampi-jampi deh kasarannya). Sehari setelah diberi air putih itu biasanya aku langsung sembuh. Nah, pasti botol air putih itu dari Bapak Mana.

“dari Bapak Mana ya Mak?”

“bukan, Bapak Mana kan sudah meninggal neng…”

“innalillahi wa inna illaihi roji’un. Kapan Mak meninggalnya?”

“ah dulu udah lama, kan dulu eneng juga pernah dikasih tahu”

“kapan? Nggak pernah Mak”

“ah baong tuda, bedegong tara inget ka kolot teh” (ah nakal sih, sombong gak pernah ingat sama orang tua…)

“atuh ini dari siapa airnya?”

“dari Pak Sahri ini mah” ahhh dukun yang satu itu, walau anaknya satu TK denganku, aku gak pernah suka, terlalu klenik, anaknya pun sombong, sok kaya.

Hmmm, jadi Bapak Mana sudah meninggal. ‘Bapak, seadainya Bapak masih ada, lala pasti akan minta segayung saja air putih yang telah Bapak beri do’a, bapak pasti bisa menjadi perantara kesembuhan lala, seperti dulu waktu Lala kecil, bahkan kalaupun Bapak kasih satu sumur air untuk Lala minum, pasti Lala akan minum…Semoga Allah Swt membalas segala amal kebaikan Bapak, Semoga bapak mendapat tempat yang paling indah di sisiNya’

Yeah aku menangis menulisnya.

Ah aku belum juga bercerita tentang Mak Aga, malah kemana-mana.

Kita mulai dari fisiknya. Mak Aga punya perawakan tinggi langsing. Satu hal yang membuatku selalu bertanya-tanya, apa benar aku ini cucunya? Kenapa aku tak bisa setinggi Mak Aga? Mulai aku kecil, yang kuingat Mak Aga sudah berkeriput, rambutnya putih, terkadang dia memakai penghitam rambut kalau mau kondangan. Dulu dia sering ‘nyusur’, itu lho mengunyah sirih untuk membersihkan gigi. Hal yang sangat dahsyat dari dirinya adalah ehmmm (Maaf ya Mak!) kalau tidur, dengkurannya Masya Allah seperti alunan lagu rock, lebih nge-rock daripada lagu-lagunya Koil. Aku senang musik rock apalagi lagunya Koil yang ‘semoga cepat sembuh part II’ apalagi kalau lagunya itu di request oleh ehmmm buat…ehmmm…

sudah banyak request yang masuk salah satunya dari tittttt *sensor* dia request lagunya Koil yang judulnya semoga cepat sembuh part II, oke luka semoga kamu mendengarkan lagu ini, karena lagu ini untuk kamu…” hahahahaha… my dj, my dj….

Kembali ke Mak Aga, jadi karena aku suka musik rock, alunan dengkur Mak Aga tidak membuatku terganggu, malah kuanggap sebagai lagu pengantar tidur. Kalaupun terganggu, memangnya aku bisa apa? Nenennya Mak Aga dengan dengkurnya adalah satu paket, tak mungkin aku dapat nenennya tanpa mendengar dengkurnya. Hahaha…Kali ini aku bersyukur dengkurnya tidak ditularkan kepadaku.

Mak aga adalah orang yang penuh pengabdian, seolah-olah kebahagiannya adalah melihat orang-orang didekatnya bahagia. Itu pula yang menyebabkan dia sangat tulus merawatku. Pagi-pagi sudah ada air hangat untuk aku mandi, sepiring nasi goreng dan telur mata sapi untukku sarapan. Diantarnya aku sekolah ke TK. Siang hari jam 10 dia akan menjemputku. Berdua kami berjalan pulang. Panasnya minta ampun, melewati pematang sawah, bukan main teriknya matahari, huh aku cape, sekolahnya jauh sekali. Aku ngambek dan minta digendong. Dan wanita yang satu itu, dengan tak banyak bicara menyodorkan punggungnya, aku naik ke punggungnya, kami melanjutkan perjalanan di jalanan berbatu dan aku pun berceloteh riang bercerita tentang teman-temanku yang masih juga belum bisa membaca dan berhitung, sungguh bodoh mereka semua, lihat Lala dongs tak akan Lala lewatkan setiap papan yang ada hurufnya, pasti semua sudah bisa dibaca sama Lala…

Bosen berceloteh aku mulai terkantuk-kantuk di punggung Mak Aga. aku tertidur, hmmm mungkin aku tidak mendengkur, tapi dapat dipastikan aku ngiler…(malunya…) punggung Mak Aga pasti basah deh sama ilernya Lala…Maafin Lala ya Mak :-*

Ketika SMA aku kembali tinggal bersama Mak Aga. Jika mengingatnya aku selalu merasa sangat buruk sekali. Hubunganku dengan Mak Aga agak renggang walau kami satu rumah. Biasanya dia yang bermonolog sementara aku cuek saja membaca buku, mengerjakan PR atau menulis surat untuk IrVan, cinta pertamaku. Aku selalu pulang setelah Magrib, bukannya aku main atau bagaimana, tapi banyak les yang kuikuti belum lagi hobiku nongkrong di perpustakaan atau di kolam renang Tirta. Aku benar-benar tak punya waktu untuk menjalin perasaan dengan Mak Aga.

Terkadang tak kumakan sarapan yang dibikinkannya untukku. Bosan…itu itu saja, nasi goreng, telur mata sapi, kalau ada sayur, pasti sayur kacang…aku memang tidak pernah protes, tapi tetap saja dalam hati aku ngomel-ngomel. Untuk yang satu ini aku sudah menebus kesalahanku dengan gantian membuatkan sarapan untuknya. Dan dengan bercanda dia protes kalau masakanku keasinan “lala na geus hayang kawin meren nyak?” (lalanya udah mau kawin kali ya?) aku tertawa saja waktu itu. Dan ketika kucicipi masakanku, arghhh ternyata memang asin banget. Bagaimana Mak Aga bisa memakannya? Ah tentunya rasa asinnya tidak terasa karena kasih sayangnya itu. Aku tahu saat itu Mak Aga bahagia.

Ah sial aku menangis lagi, terharu!

Mak Aga itu gak pernah marah sekalipun. Selalu sabar. Selalu tabah. Dia juga lembut. Sangat penuh kasih sayang. Mungkin kata-kataku basi, tapi memang itulah Mak Aga di mataku. Aku terkadang bertanya-tanya darimana datangnya segala kekasaran sikapku? Darimana datangnya kekerasan hati yang ada di diriku? Nenekku begitu manisnya. Begitu sangat…wanita sekali. Bagaimana cucunya bisa se-ancur diriku?

Coba lihat apa yang dilakukannya padaku tadi pagi ketika aku batuk-batuk tiada henti. Dengan polosnya dia membawakanku obat batuk sachet “ah gak mempan obat-obatan dari dokter mah. Ini coba pake komix aja. Emak barusan beli dari warung di ujung jalan” Subhanallah, bagaimana aku tak tertawa (terharu) dengan segala kepolosan dan ketulusannya itu. Andai saja dengan sebungkus komix batukku itu bisa hilang, pasti Mak Aga gak khawatir lagi. Masalahnya ini Bukan Batuk Biasa Mak!

Semoga Mak Aga masih bisa menyaksikan pernikahan cucunya. Aku tahu hal itulah yang membuatnya berdo’a agar dia panjang umur, agar dia masih bisa menyaksikan pernikahan cucunya. Pernikahanku! (yang entah kapan terjadi, mengingat kandidat terakhir sudah sukses kuusir dengan jari berdarah-darah)

Hmmm bagaimana dengan kamu teman? adakah wanita istimewa di hidupmu? Tak perlu dia presiden, menteri, pebisnis hebat (atau pengacara bertarif ratusan juta tiap jam), tak perlu pula ia seorang ratu dari sebuah negeri maju, tokoh feminis, atau seorang istri kepala negara…cukup seorang wanita sederhana dari desa, seperti Mak Aga-ku itu…? Punyakah kalian? Aku tak keberatan kau bermonolog, aku akan mendengar kisahnya, tapi pasti tak ada yang sehebat Mak Aga-ku.

Sabtu, 25 April 2009

BERUSAHA UNTUK REALISTIS

Tak pernah kusangka ternyata menghadapi kematian tidak seindah yang kubayangkan,

teman, mohon maaf atas segala khilaf yang pernah kuuperbuat,
semoga masih ada waktu untuk kita bertemu lagi...

dan terima kasih atas semua kenangan indah yang pernah teman sematkan dalam memoriku...
semoga masih ada kenangan lain yg menunggu untuk kita lukis lagi...

wassalam

Tetra Putri Sr aka Lukanya Cinta Menyakitkan

Minggu, 19 April 2009

SEEKOR BADGIRL DI MATA TEGUH AMBON

Namaku Teguh. Dia memanggilku Teguh Ambon. Yups aku memang berasal dari Ambon. Rasanya seperti mendapat label orang kampung di dahiku. Anehnya aku tak protes. Bahkan sampai sekarang orang mengenalku dengan Teguh Ambon. Tak sengaja aku bertemu dengannya lagi di sebuah kota di Pulau Jawa, Kota Paris pada masanya.

Hmm…dia kurus sekali. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi saat pertama kali melihat dia lagi aku seperti melihat sosok mayat berjalan. Dia begitu pucat, kurus, dan matanya yang pernah menangisi kisahku itu tampak redup. Itu bukan Tetra yang kukenal. Tapi yah aku menemukannya disini. Di sebuah toko DVD, dia tampak asyik memilih DVD. Aku takut salah orang, jadi aku tak menyapanya. Tapi kemudian dialah yang melihatku, langsung mengenaliku, yeah aku memang tak banyak berubah. Masih tinggi, hitam (tapi manis, itu katanya sih tapi aku gak yakin), keriting, dan bermata sendu (itu pun katanya). Dia pun tersenyum dan menghampiriku.

Ketika dia mendekat aku tak bisa berkata-kata. Bibirku bergerak-gerak tak tahu apa yang harus kukatakan. Dia begitu…cantik walau dengan wajah pucat, mata redup dan tubuh kurusnya.

“hai Teguh, masih ingat aku kan?”

“Tetra…Tetra…Tetra…” entah kenapa aku memangilnya tiga kali seperti itu.

“ya, lagi ngapain disini?”

“lagi ngunjungin teman nih…”

“apa kabar?” dia bertanya.

“apik apik wae, hehehe, tetra tambah kurus aja…” ya ampun kenapa aku malah mengatakan itu, harusnya aku bertanya kembali kabarnya.

“iya nih gara-gara sibuk pacaran” jawaban yang sangat tetra sekali.

“sibuk pacaran sama satu orang apa banyak orang nih?”

“ah tahulah kau…”

“hahaha…” kami tertawa bersama.

Ketika kami keluar dari toko itu, aku mengajaknya ke sebuah café yang dekat dari sana. Tapi dia menolaknya, dia tampak berpikir sebelum akhinya mengajakku ke rumahnya. Dan inilah aku sekarang duduk si sebuah ruang tamu, menunggunya. Hmmm dia memang persis seperti yang pertama kali aku mengenalnya, dulu ratusan hari yang lalu; dia seorang Tuan Putri, hidup di sebuah istana dengan banyak pelayan yang selalu siap sedia melayani segala kebutuhannya. Ratusan hari yang lalu aku berpikir aku salah berpikir seperti itu, karena ratusan hari yang lalu tetra yang kukenal adalah tetra yang bekerja pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (jangan berpikir tentang seekor kupu-kupu malam ah). Pagi-pagi dia kembali ke kosnya yang sempit, sekamar dia berdua, sungguh berbeda dengan rumahnya sekarang. Siangnya dia kuliah, satu kampus denganku.

Awalnya aku tak terlalu mengenalnya, tapi dalam satu acara OSPEK jahanam, aku masih sangat ingat, tengah hari. Sungguh acara membosankan. Ngantuk. Tiba-tiba dia sudah ke depan kelas. Entah bagaimana awalnya, mungkin dia dihukum karena melakukan sesuatu atau mungkin dia sama ngantuknya denganku sehingga dilayaninya ajakan senior untuk maju ke depan kelas. Tahukah teman apa yang dilakukannya?

“namanya siapa?”

“Tetra, tetra putri”

“mau apa nih Tetra? Nyanyi? Nari?”

“boleh pinjam mix-nya?”

“boleh” seorang senior yang menanyainya memberikan mix yang sedang dipegangnya.

“Teman-teman, ngantuk sekali yah? Bagaimana kalau semua berdiri, kita bernyanyi Mars Fakultas Hukum…”

Dengan malas kami semua berdiri, dengan lantang dia memimpin kami bernyanyi…fakultas hukum fakultas pilihanku, pantang mundur meski sudah umur…fak hukum pilihanku…la la la la…tapi bukan itu saja yang dia lakukan…

“SALAM FH!” Damn! Kalau teman sempat menonton acara OSPEK Fak Hukum Universitas…Bra… pasti sepakat kalau yang dinamakan SALAM FH itu adalah tontonan menarik karena sangat norak tapi juga lucu. Jadi Salam FH itu, berdiri tegak kaki dibuka sedikit lebar, tangan kiri di pinggang, tangan kanan teracung ke atas, jangan lupa jari-jari tangan kanan mengepal, selipkan jempol diantara telunjuk dan jari tengah, itu lho mirip KUKU BIMA, kemudian pinggul di goyang sambil teriak, wess ewesss…serrr! Pada kata serrr tegakkan lagi badan. Uhhhh…sangat norak tapi lucu. Katanya itu simbol, pinggul bergoyang artinya walau bumi bergoyang, hukum harus tetap ditegakkan! Setegas Bima dengan Kukunya itu.

Dan yups dia memimpin kami melakukan ritual SALAM FH! Bayangkan seorang wanita imut-imut berdiri di depan memimpin segerombolan orang-orang bosan untuk melakukan ritual norak itu. Padahal kami paling ogah melakukan itu walau berdua sama senior pun. Ini dia lakukan di depan kelas dengan sukarela. Aku mulai bertanya-tanya siapa sih cewek ini? Apa urat malunya sudah putus atau bagaimana? Kejutan tidak sampai disana.

“masih mau yang asyik gak?”

“mauuuu…” semua orang menjawab dengan antusias.

“saya akan bernyanyi, sebuah lagu daerah saya, eh saya berasal dari sunda…tolong jangan protes, karena seorang teman pernah bilang bahwa suara saya sangat merdu, semerdu Rhoma Irama, padahal saya berpikir suara saya semerdu Paramitha Rusadi”

Tak ada yang tak tertawa di ruangan itu. Oke mungkin cewek yang mengaku bernama Tetra ini mungkin urat malunya sudah putus. Tapi dia lucu dan sangat menghibur…dan inilah Tetra Putri yang pertama kali kukenal mulai bernyanyi…


Tilu puluh menit urang didieu, henteu nyoara…

Jeung kuring reuwas kudu nungguan lila…

Kecap ti anjeun…


Mungkin perlu kursus ngarangkai kecap

Kanggo nyoara

Jeung kuring kehel, kudu jujur ka anjeun, tentang rasa ieu

Jam dinding nyengseurikeun karna kuring cicing jeung teuuu ngomong

Hayang nyareukan diri sorangan, nu teu walakaya di payunen anjeun

Aya nu sanes…dina imut anjeun, nu nyieun letah kuring teu bisa gerak

Aya katumbiri dina bola panon anjeun

Jeung maksa kuring ngomong abdi deudeuh ka anjeun…


Orang sunda ada yang kenal lagu daerah itu? Aku yakin gak ada selain dia. Tentu saja karena itu adalah lagu JAMRUD-KATUMBIRI DINA PANON ANJEUN eh Pelangi di Matamu versi sunda. Ohhh Tuhan…cewek yang mengaku bernama Tetra ini selain lucu, menghibur, she is smart too. Dan jangan lupa dia juga cute. Tepuk tangan takjub bergemuruh, anehnya kantuk seolah pergi jauh dari ruangan itu.

Begitulah ketika waktunya makan siang, semua orang tampaknya berlomba-lomba untuk mengenalnya. Dan cerita dia menyanyi lagu Jamrud dengan versi sunda itu menyebar sampai seantero kampus (yeah aku berlebihan memang!). Hal itu salah satu alasan kenapa dia jadi sangat beken di kampus kami. Selain karena hal-hal buruk yang dilakukannya. Baiklah kukatakan dengan jujur padamu Teman, dia seorang badgirl teman. badgirl yang dibenci sekaligus dikagumi. Apa namanya cewek yang berganti cowok setiap minggu? Membuat beberapa dosen walkout dari kelasnya? Atau tak sadar ke kampus dengan memakai sendal jepit dan menghabiskan waktu 30 menit untuk memprotes dosen karena dia langsung diusir dari kelas sampai akhirnya dia diijinkan untuk masuk kembali? Yeah…tak ada lagi kata yang tepat selain badgirl.

Sayangnya aku baru bisa mengenalnya beberapa bulan kemudian, ketika aku dan dia mengikuti sebuah pencucian otak (itu istilah dia) dari sebuah organisasi ekstra kampus, organisasi hijau (itu pun istilah dia). Momen itu tidak kusia-siakan. Aku banyak bertukaran pikiran dengannya. Dan seperti yang sudah kuduga. She is very smart. Walau terkadang terlihat polos dan naif.

Sebagaimana normalnya seorang laki-laki aku pernah mengangankan untuk jadi salah satu cowoknya. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Di kampus kami dia termasuk mahasiswa blok cemara. Satu blok yang terdiri dari kawanan mahasiswa borju yang biasa nongkrong di bawah cemara, mengobrol omong kosong, malam hari terkadang mabuk-mabukan. Walaupun dia berada di kawanan seperti itu. Dia salah satu jenis anomali. Berbeda dari kawanannya. Dia bergaul dengan siapapun. Termasuk denganku. Teguh dari Ambon seorang pentolan blok hijau. Blok mahasiswa yang sering terlibat konflik dengan aparat karena demo-demo yang oleh blok cemara dicemooh habis-habisan, blok mahasiswa yang berjuang (?) di bawah panji-panji organisasi hijau.

Aku masih ingat suatu malam kami berdua berada di sekret organisasi hijau. Jangan tanya padaku kenapa kami bisa hanya berdua seperti itu. Aku juga tidak ingat. Dia tampak kusut. Agak meracau tak jelas. Tentang keluarganya yang dibilangnya membuangnya. Aku pun tergerak untuk bercerita tentang keluargaku. Sebuah kisah memilukan, sebuah trauma yang hanya kuceritakan padanya. Aku anak Ambon Teman, Ambon? Kota itu pasti teman tahu, kota yang pernah terlibat konflik, bahkan sampai sekarang. Disanalah aku hidup bersama kedua orangtuaku dan dua orang adik. Awalnya kami bahagia. Sampai suatu konflik SARA membuat kami terpisah. Aku terpaksa mengungsi ke Kota Malang, kota dimana aku bertemu dengannya. Sampai sekarang Teman, aku belum berani pulang.

Dia menangis mendengar ceritaku, entahlah apa itu karena ceritaku atau karena dia mengingat nasibnya. Tak pernah kusangka dia kemudian memelukku, tersedu-sedu di bahuku. Mengusap rambut keritingku, menatap mataku, kemudian mengelusnya dengan tangannya, kemudian memelukku lagi. Dia tak mengatakan apa-apa, dia hanya menangis dan memelukku. Anehnya, sejak saat itu aku merasa aku tak sendirian lagi.

Hubungan baik itu tak berjalan lama. Sampai pemilihan presiden kampus. Kampus kami adalah sebuah republik teman, namanya keren, sungguh keren, REPUBLIK DEMOKRATIK MAHASISWA, satu-satunya republik yang ada di kampus kami. Dan lembaga pemerintahannya pun berbeda, bukan BEM, bukan pula EM, tapi BPM, Badan Pemerintahan Mahasiswa. Kalau di kop surat namanya menjadi mentereng. Badan Pemerintahan Mahasiswa Republik Demokratik Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas…Bra…huh keren. Sayangnya kabinetnya tak seimbang, hanya terdiri dari kawan baik. Dia bilang penuh dengan poliTIKUS Busuk. Sama busuknya seperti penghuni gedung senayan di ibukota. Tapi apa dia lebih baik?

Dia menggalang semacam kekuatan di luar blok cemara dan blok hijau. Dia menjadi semacam provokator untuk menolak PEMILU. Dia mengajak mahasiswa lain untuk GOLPUT! Sungguh berbahaya. Dan dia melakukannya sendirian. Awalnya baik blok cemara maupun blok hijau meremehkan usahanya. Kami biarkan dia berceloteh setiap pagi membagikan semacam brosur yang isinya tentang betapa bobroknya republik kami. Tapi bummm! Kejutan terjadi ketika waktu nyoblos tiba. Kandidat blok hijau yang sangat mumpuni untuk jadi presiden, kalah tipis oleh kandidat dari blok cemara yang tukang bolos kuliah, IP nasakom, pemabuk, jungkies dan temperamental. Bukannya berarti kandidat blok hijau lebih baik, tapi kandidat blok hijau setidaknya lebih waras.

Penyebabnya, tentu saja karena dia!

Jadi begini ceritanya Teman, kampus kami punya massa mengambang yang tentu jumlahnya lebih besar daripada massa pendukung blok hijau maupun blok cemara. Massa mengambang ini diprediksikan bisa dipengaruhi (dengan bermacam kampanye tentunya) dan dengan pasti mendukung kandidat blok hijau karena kandidat blok hijau terkenal lebih waras daripada kandidat blok cemara. Karena celotehannya tiap pagi inilah massa mengambang yang diperkirakan akan memilih kandidat blok cemara menjadi GOLPUT! Hal ini berakibat kurangnya dukungan pada kandidat blok hijau dan keuntungan besar untuk kandidat blok cemara.

Di pemilihan presiden mahasiswa selanjutnya banyak yang mengikuti jejaknya. Tapi tak ada yang seberhasil dan seberani dia. Selain karena dia melakukannya secara terbuka; mencantumkan nama lengkap, NIM, dan nomor HP di setiap brosurnya (setelah PEMILU selesai dia membuang nomor itu) dia juga melakukannya sendirian tanpa ada kepentingan apapun di dalamnya. Selain itu, sebenarnya dia punya faktor x, yaitu kedua kandidat presiden adalah sahabatnya. Pada siapa kandidat blok hijau meminjam catatan, buku-buku kuliah, atau meminta tumpangan? Pada TETRA PUTRI. Siapa yang setiap kali menyeret kandidat blok cemara dari got atau dari jalanan atau dari pub karena mabuk dan tak sadar setiap dini hari? Tentu saja orangnya TETRA PUTRI. Karena itulah tak ada yang berani menerornya walaupun dia mencantumkan nama dan nomor HP. Dia punya semacam backing. Dan backingnya itu adalah orang-orang yang dilawannya.

Di kemudian hari, dia sempat meminta maaf kepada temannya yang menjadi kandidat blok hijau, tapi bukan berarti dia mengakui kesalahannya. Dia merasa tak pernah salah. Dia menyampaikan aspirasinya, kebetulan aspirasinya menjadi inspirasi bagi kawan-kawan kami sehingga banyak yang mengikuti jejaknya. Dia meminta maaf karena perbuatannya membuat persahabatan mereka putus. Dan kandidat blok hijau tak pernah berhenti mencaci-makinya di setiap kesempatan.

Akhirnya aku yang turun tangan. Kuperingatkan kandidat blok hijau bahwa perbuatannya itu bisa menjadi awal terjadinya perpecahan dalam republik kami bahkan mengarah pada tawuran massa. Karena dia kemudian lebih merapat ke blok cemara bahkan pernah kudengar dia ditawari jabatan sebagai menteri dalam kabinet, jabatan yang tentu saja ditolaknya. Segala usahanya itu bukan dalam rangka mencari jabatan. Dia tak butuh itu. Dia tak punya waktu untuk terlibat dengan kebusukan republik, dia cukup sibuk dengan magangnya di sebuah firma hukum. Apa yang dilakukannya tak lebih dari kemuakkannya atas sikap para politiKus kampus yang menurutnya tak pantas menjadi wakil mahasiswa, terlalu mendahulungan kepentingan golongan, begitu katanya.

Karena secara tidak langsung dia menjadi penyebab kemenangan kandidat blok cemara dia tentunya akan dilindungi oleh blok cemara. nah, kalau dia terus menerus dicaci maki oleh kandidat blok hijau bersama kawanannya, aku takut ada sentimen solidaritas di pihak blok cemara, bisa saja karena rasa pembelaan padanya memnybabkan kedua blok saling serang. Huh, dia hampir menjadi penyebab darah tertumpah di republik mentereng kami itu. Heran juga bagaimana dia menahan sentimen solidaritas kawanan blok cemara itu yah?

Pada pemilihan selanjutnya dia hampir menjadi kandidat presiden wanita pertama di republik kami. Dia didukung oleh blok cemara dan sebagian besar massa mengambang. Sayangnya dia tak mau. Karena…ah kan sudah kubilang dia tak punya waktu untuk terlibat dengan kebusukan republik.

Tak kusangka cewek badgirl itu akan kutemui lagi sekarang. Dan inilah kami sekarang, mengobrol tentang masa-masa genting itu di depan sebuah kolam renang yang ada di istananya. Tak banyak yang bisa kuceritakan padanya selain kesibukanku di sebuah LSM dan fakta bahwa sampai detik ini aku belum juga bisa menyamakan kedudukan dengannya sebagai sarjana hukum. Dia memang tampak antusias mendengarkan segala ceritaku. Sampai aku sadar aku sedang bermonolog diawasi sebuah mata redup yang cukup menyenangkan. Ahhhh cewek badgirl satu ini, tak pernah berubah sedikitpun; selalu saja bisa membuatku merasa tak sendirian. Sayangnya ketika kupancing dia untuk menceritakan kehidupannya, anehnya aku merasa telah mendengar ceritanya itu dari orang-orang. Aku tak heran, dia memang anomali, sangat berbeda dari kawanannya. Jadi pantaslah kalau dia selalu jadi buah bibir.

Di akhir perjumpaan kami, dia mengundangku untuk sering-sering berkunjung. Walau aku tahu itu basa-basi, tapi aku berjanji padanya aku akan datang setiap saat ketika aku butuh sebuah mata yang mendengarkan dan sebuah telinga yang mengawasi, matanya, telinganya. Jika saat itu datang lagi pada kami, jika kami bisa berjumpa dengan manis seperti ini lagi, aku berharap aku bisa mendengarkan cerita yang berbeda dari yang kudengar dari orang-orang tentang dia***

* untuk seorang sahabat dari tanah konflik, melihat hidup dari matamu membuatku tahu, ternyata aku pernah melewati hidup yg menyenangkan, smoga masih ada kapan-kapan lagi yah...*




Sabtu, 18 April 2009

BAHKAN MEMOTONG KUKUMU PUN AKU TAK MAMPU!

(baca aja postingan-postingan sebelumnya biar nyambung :D)


Sial! Sial! Sial! Semua orang kini menganggapku telah melakukan percobaan bunuh diri! Gara-gara suster sialan yang tak ada di tempat ketika aku kambuh. Memangnya aku harus bagaimana? Menjerit-jerit kesakitan biar semua orang panik? Padahal aku cuma sakit perut (Cuma sakit perut? Kenapa sampe perlu pake morfin segala?).

Jadi begini Teman, biar kujelaskan padamu, biar kamu mengerti, yeah…AKU TIDAK BERUSAHA UNTUK BUNUH DIRI! Memangnya aku tampak selemah itu? Sudah kubilang padamu Teman AKU AKAN HIDUP 200 tahun lagi! Ahhh kau tak percaya rupanya. Aku terpaksa menyuntikkan morfin itu ke tubuhku karena yeah aku kesakitan, dan yeah suster sialan itu tak ada untuk membantuku menyuntikkan cairan itu, dan yeah aku tolol karena tak tahu berapa banyak seharusnya morfin yang diperbolehkan masuk ke tubuhku, sekali lagi yeah rupanya dosisnya terlalu banyak. Dan yeah tentu saja aku fly. Tepat ketika mami dan dia masuk ke kamarku.

Nah, see now! I’m okay! Aku baik-baik saja kan? Masih bisa melakukan ritual pagiku yang terdiri dari…ah itu kapan-kapan saja kuceritakan. Biar tak terlalu panjang lebar seperti sungai Nil ceritaku ini (kenapa sungai Nil? Kenapa gak sungai Citarum? Arghhhh…).

Oke lebih baik kulanjutkan ceritaku ini. Hmmm…sebentar, adegan yang mana yah? Kepanikan orang-orang ketika aku mencoba bunuh diri? Arghhhh sudah kukatakan padamu teman, AKU TIDAK MENCOBA UNTUK BUNUH DIRI! Memangnya aku tampak selemah itu? Sudah kubilang padamu Teman AKU AKAN HIDUP 200 tahun lagi! Ahhh kau tak percaya rupanya. aku terpaksa…bla bla bla…maaf jadi seperti kaset busuk. Tentu aku tak ingat ketika semua orang panik, jadi tak ada yang bisa kuceritakan tentunya kau bersyukur aku tak ingat apa-apa, karena ceritaku ini tak akan lebih panjang lagi, hell yeah….

Akhirnya entah jam berapa, aku terbangun juga dari tidur panjangku. Dan sekali lagi, ada jarum infus di lengan. Ah tentu saja benda itu seperti bau kentut yang terbawa angin. Maunya ikuttt saja di setiap adegan. Aku tak merasa sakit lagi. Hanya ada perasaan kosong yang mengisi dadaku. Begitu hampa. Apa perlu kuceritakan bunga-bunga di taman juga yah? tahu kan kalau ada adegan fly itu selalu mengikutsertakan bunga-bunga bertebaran, tubuh bersayap…bla bla bla?. Sebenarnya persisnya tak seperti itu. Tapi apa perlu kudefinisikan? Yeah tentu saja harus. Biar kamu tahu Teman. Rasanya memang tak ada beban apapun di pundakku. Semua yang kuingat kemudian tak lagi membuatku sakit. Bahkan dalam hatiku pun. Hanya hampa yang kurasakan! Tanpa luka, tanpa kesedihan, tapi juga tanpa kebahagiaan! Aku masih mengingat tangisan mamah ketika mendengar apa yang kuceritakan, aku masih ingat juga tatapan abah. Tatapan takjub. Karena anak mereka ternyata bisa berkorban sebesar itu untuk diriku yang sangat-sangat hina dina, cacat, dan tak berdaya ini.

Bagaimana aku bisa menjadi istri orang kalau hidupku saja harus penuh dengan orang-orang yang dibayar untuk melangkapi segenap organ tubuh yang sepertinya tidak kupunya. Kaki? Masih ada menggantung, tapi kaki itu paling bisa berjalan sepuluh langkah saja, maksimal. Aku perlu seorang sopir untuk berburu DVD misalnya? Atau sekalian ngecengin tukang DVD itu. Tangan? Hmmm sejujurnya kukatakan tangan ini hanya bisa untuk mengangkat gelas minum dan mengetik seperti ini. Oh tentu saja menyentuh…menyentuh dia, tangannya, wajahnya, bibirnya…hmmm…(kau harus mengingatkanku agar bersyukur karena masih bisa menyentuhnya). Eh ada lagi, mengangkat telepon, kebanyakan dari satpam. Ah tak ada affair apapun dengan satpam itu, pikiranmu selalu aneh-aneh saja teman! Perut? Pastinya aku perlu makan dongs, aku memang terbiasa makan masakan orang lain. Tapi bukannya sampai aku harus disuapi segala. Tepatnya sih bukan disuapi, tapi dipaksa. Satu-satunya makanan yang bisa masuk ke tubuhku tanpa protes adalah susu, susu coklat tentu saja. Tapi itu kan bukan makanan! Kalau belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke tubuhku, akan ada orang yang tiap jam mengecek untuk menanyakan apa aku sudah mau makan? Dan lihat kolam itu, minggu yang lalu aku masih bisa berenang di dalamnya. Setidaknya kecipak-kecipak mainan air. Sekarang kolam itu terlihat merana dan dendam padaku. Tangannya melambai-lambai menggoda, menggodaku untuk terjun dan tenggelam di dalamnya. Hey, apa itu seperti kalimat orang yang mau bunuh diri?

Yeah, tubuhku masih lengkap teman, aku masih punya kaki, masih punya tangan, masih punya perut yang walau kadang protes tapi tetap memerlukan makanan, ingatkan aku untuk bersyukur karena masih punya semua itu ya? Dan yang membuatku paling bersyukur setiap aku bisa melihat matahari terbit di pagi hari, masih bisa merasa dinginnya udara pagi, dan masih bisa menonton spongebob dan warga bikini bottom lainnya. Ngomong-ngomong aku paling suka sama squidword…gimana sih nulisnya? Itu lho yang gurita hijau berhidung panjang itu, eh gurita apa cumi-cumi sih? Arghhhh lupakan bikini bottom, jadi hal yang membuatku paling bersyukur adalah AKU MASIH DIBERI NYAWA! AKU MASIH DIBERI KEHIDUPAN! Tetapi…

ADA KANKER DI DARAHKU…ADA KANKER DI DARAHKU… ADA KANKER DI DARAHKU… ADA KANKER DI DARAHKU...

Damn!!! akhirnya aku bisa menulisnya, akhirnya bisa kubagi juga deritaku ini, hey aku tak menulis aku bisa membagi penyakitku lho…wekkk…percayalah, tidak menular, bukan sejenis AIDS atau kanker burung, eh…apa sih itu yang iklannya ada ayam mati mendadak itu…lapor pak kades, lapos pak camat…aduhhhh kok bisa lupa sih? Oh yah bener…Flu Burung…bukan itu kok, jadi tenang saja jangan takut kalau ingin berdekatan denganku. Tidak menular!

Dengan keadaan yang seperti itu, bagaimana aku bisa jadi istri orang? Istri itu seorang hamba sahaya bagi suaminya, hanya Tuhan saja yang bisa menandingi perintah seorang suami, bahkan orang tua bahkan penguasa pun tak bisa menandingi kekuasaan seorang suami bagi istrinya. Bagaimana bisa aku membenarkan dasi suamiku setiap pagi ketika dia mau pergi ke kantor? Eh ngomong-ngomong dia gak pake dasi ke kantornya, bahkan kolor dan kaos pun jadilah…hey emangnya dia kerja apaan sih? Mbuhhh…tukang becak kali. Eh tukang ojeg ding…tukang ojeg buatku (ingat kan ceritaku tentang kencan di atas motor itu?). Yeah, boro-boro melayani dia di dapur, atau di kamar, atau di ehmmm kamar mandi, bahkan hal sederhana pun aku tak yakin bisa melakukannya untuk dia. Dengan kata lain, menikahiku sama saja seperti menikahi wanita yang tak punya tangan.

Ya ampun, ceritanya ternyata belum ada dialog sama sekali. Baiknya kuceritakan satu dialog standar yang terjadi jutaan tahun sebelum masehi antara aku dan dia.

Tempus delicti: (ya ampun kan bukan kejahatan, kok ada deliknya sih? Ah semaunya gw wekkk, emang siapa yang jadi penulisnya, bukan lo kan?)kira-kira jam 11 malam, atau mungkin jam 2 atau jam 3, pokoknya sekitar itulah, sudah lama sih, kubilang kan terjadinya jutaan tahun sebelum masehi…jadi mana kuingat detail-detailnya.

Locus delicti: sebuah kamar, sebuah tempat tidur, wangi kok, gak bau apek, kalau yang ini aku selalu ingat. Tentu saja, kamarku kan gak pernah bau!

Case position:

Jadi pada waktu kira-kira dini hari itu saudara tetra bersama seorang yang menjadi tokoh dalam kisah ini, sedang saling bercerita, tepatnya sih saudara tetra berusaha menyelidiki tentang tipe wanita yang ingin dijadikan istri oleh tokoh kita itu. Berikut adalah rekaman pembicaraan yang berhasil direkam dari kamera cctv yang entah bagaimana terpasang di TKP (apa cctv bisa merekam suara juga yah? Di cerita ini anggaplah bisa).

“aa, emangnya maunya aa itu istri yang kayak gimana sih?”

“ya…yang biasa aja, yang gimana ya? Gak punya standar sih, yang penting cocok”

“ohhh…gto yah? Gak ada yang spesifik ya? Misalnya tetra mah klo punya suami pengen dia tuh kalo selimut tetra kemana-mana ketika tidur dia benerin…”

“hahaha, selimut berjari? Selimut yang bisa grepe-grepe ya?”

“ihhh serius tahu!”

“hmmm, sebenarnya pengennya istri yang bisa motongin kuku, soalnya suka susah kalau mo motong kuku…”

“owh…kok sama sih? Tetra juga paling susah klo mo motong kuku”

Stop pada adegan ini!

Waktu itu pikiran saudari tetra kacau balau, mengingat ternyata dia tidak punya kategori sebagai tipe istri idaman tokoh kita itu, karena rupanya saudari tetra ini juga mengalami kesulitan yang sama dalam hal memotong kuku. (yang ini tentu saja tidak tertangkap dari kamera cctv , tapi berdasar pengakuan saudari tetra sendiri setelah diinterogasi selama…selama-lamanya dah…).

Kita kembali ke masa sekarang.

Pagi harinya, dia sudah ada di samping tempat tidurku. Memandangku dengan wajah lelah, mata yang sangat menderita. Apa yang harus kukatakan padanya agar dia merasa terhibur, selain…

“sebal deh, aa pasti nyangka tetra mau bunuh diri deh…”

“hahaha, nggak kok neng, masa tetra selemah itu? Tetra akan hidup 200 tahun lagi”

“hey, jangan curi dialogku dongs…” oke. Yang ini cuman halusinasi,hehe. Maaf ya!

“bohong ah…pasti deh aa mikirnya macem-macem…”

“nggak, sungguh!”

“ya udah deh, sarapan yuk!”

“eh gak mau ke kamar mandi dulu?”

“hehehe, lupa, gendong dongs!”

Bagus! Eks calon suamiku sudah berubah profesi dari tukang ojeg jadi tukang gendong! Jamu kaliii digendong, maaf! Garing ya?

Kita percepat adegannya sampai saat sesudah sarapan.

“aa tolong ambilin pemotong kuku dongs, kayakna ada di laci…eh sekalian gunting atau silet kalau ada…”

“buat apa? Ya buat potong kuku!”

“kok ada gunting sama silet segala?”

“lha siapa tahu sama pemotong kuku gak berhasil, jadi bisa pake gunting atau silet”

“aduh aa gak bisa motongin kuku neng, panggil orang aja ya?”

“eh bukan kuku tetra yang panjang, kuku aa tuh yang panjang-panjang…”

“aaduhh…biarin deh…”

“he…nyesel lho ntar klo gak mau tetra potongin kuku, siapa tahu ini adegan terakhir kita?” lagi-lagi dialog halusinasi!

Dia tampak ketakutan. Tapi aku maksa. Aku bisa bayangkan, pasti aku terlihat seperti monster dengan senjata pemotong kuku di matanya. Sayangnya, dia gak lagi dalam keadaan siap untuk diserang. Tak ada panah dan gondewa (perentang panah itu namanya gondewa kan?) dipunggungnya. Dia prajurit tanpa senjata menghadapi monster pemotong kuku. MENYERAHLAH!!! MENYERAHLAH! Tentu saja tak seperti itu, tapi YA dia menyerah!

Dia duduk di sebelahku, aku pegang tangannya, kuusap sebentar, setelah ini tangan itu gak akan bisa kugenggam lagi. Kuarahkan pemotong kuku itu ke kuku di ujung jarinya (memangnya ada kuku di ujung telinga yah tet?) liat, alot banget nih kuku…keliatannya malah kukunya mau lepas dari jari-jarinya. Dia meringis. Aku menyerah.

“huh kayakna harus pake gunting”

“gunting?” ada kengerian dalam suaranya.

“hu uh, tenang aja gak usah takut. Aa kan pernah bilang aa pengen punya istri yang bisa motongin kuku aa, nih tetra lagi belajar motongin kuku aa…”

“hah?” kengeriannya bertambah, huh pasti dia lagi membayangkan seumur hidupnya terjebak dengan monster sadis pemotong kuku.

Ahhh gunting ternyata terlalu besar untuk memotong kuku sependek itu. Kuambil silet.

“neng, tolong berhenti neng…”

“diam ah, tetra lagi belajar menjadi istrinya aa…katanya aa mau tetra jadi istrinya aa, gimana sih ah”

“tapi gak perlu kayak gini belajarnya, silet itu bisa melukai aa”

“oh jadi aa mau tetra yang terluka karena silet ini, gitu?” aku tak tahan, rasanya ada gelombang air mata yang siap jebol.

“bukan gitu neng”

“YA UDAH DIAM DONGS!”

Tanganku gemetar, aku pegang jari telunjuknya dengan tangan kiriku, dan silet di tangan kananku…pelan…sretttt…sukses! Maksudnya sukses telunjuknya terluka. Aku menangis. Kumasukkan telunjuknya ke mulutku. Kuhisap mungkin darahnya gak keluar lagi. Aku tersedu-sedu.

“maafin tetra aa..maafin tetra…” aku menutup wajahku dengan tangan. Menangis dan putus asa!

Tapi ada berita baik Teman, (sempat-sempatnya kasih berita baik!) itu cuma halusinasi. Karena setelah sukses membuat telunjuknya terluka, aku acungkan jari yang pelan-pelan mulai meneteskan darah itu ke hadapannya, kutatap tajam matanya sambil berteriak…

“LIHAT KAN SEKARANG! BAHKAN UNTUK MEMOTONG KUKUMU SAJA AKU TAK BISA!”

“tapi neng tak perlu…”

“tak perlu apa? Pernah berpikir gak memotong kukumu saja aku tak bisa apalagi bercinta denganmu! Memangnya kamu siap tak bercinta seumur hidupmu? Oh yah maaf aku lupa, aku akan mati dan kau bisa buka puasa, kau bisa bercinta dengan siapa saja setelah aku mati!”

“neng…”

“tolong pergi! Tolong jangan ganggu aku lagi! Tolong! Pliss!”

Dia menatapku tak percaya.

“MO*ET YA! Kataku pergi! Pergi!”

Dia bangkit, berdiri dan keluar dari kamarku. Aku tersedu. Air mata itu tak bisa lagi kutahan. Kututupi wajahku. Maafin tetra aa…tetra sayang banget sama aa…

Aku menangis…membayangkan betapa kejamnya diriku menyakitimuaku menangis…(Rossa-Hati Yang Kau Sakiti, dengan sedikit modifikasi)

DAMN! Kenapa harus lagu itu sih?


*maaf teman, ceritanya berakhir sampai disini*


Jumat, 17 April 2009

TERNYATA ARI LASSO YANG PUNYA JAWABANNYA!

(biar nyambung, baiknya baca dolo episode pertama dan episode kedua and sebagai referensi yang ini juga boleh dibaca )

Dengan pikiran sangat kacau, aku pulang. Bukan pengusiran ibunya yang membuatku kacau. Tapi keadaanya yang membuatku sadar aku tak punya banyak waktu. Hal itu pula yang membuatku tak bisa lagi membuang-buang waktu. Aku masih basah kuyup ketika kukatakan niatku pada abah dan mamah (kedua orang tuaku). Kuyakinkan mereka berdua. Tampaknya kepanikan dalam sikapku membuat abah dan mamah berpikir jernih. Mereka mulai menyusun rencana untuk terlebih dahulu menelpon ibunya. Aku bersyukur dulu sempat mengajaknya ke rumahku sehingga mamah dan abah sedikitnya sudah kenal dengan siapa aku ingin menikah. Untuk sesaat aku lega. Separuh perjalanan sudah kutempuh.

Jam 7 malam, aku sudah duduk bersama kedua orang tuaku di ruang tamu rumahnya. Dari basa-basi orang tuaku dengan ibunya aku kembali lega, tampaknya mereka punya visi yang sama, yaitu membuat aku dan dia bahagia. Kebahagian kamilah yang penting. Bukan status sosial atau di gedung mana kami akan menyelenggarakan resepsi.

Ketika akhirnya dia muncul, menyalami tangan abah, menyalami tangan mamah, aku terkejut ketika mamah memeluk dan menciuminya. Ah perempuan memang susah ditebak. Termasuk perempuan yang melahirkanku itu. Ada satu hal yang menggelitik pikiranku. Tapi aku tak bisa menjabarkannya. Dia masih cantik, masih sama seperti yang kukenal. Tapi…entah ada apa yang salah dengan dirinya. Ketika akhirnya dia menyalamiku dia tersenyum. Sempat dia berbisik mengucapkan terima kasih tapi dengan nada sinis tentu saja. Dia pasti tak tahu rencanaku malam ini yang datang dengan kedua orang tuaku.

Mulai lagi dengan obrolan basa-basi, ketika akhirnya obrolan meningkat ke arah yang lebih serius dan berakhir pada:

“jadi sekarang, tinggal tunggu jawaban si eneng saja…”

Dia tak nampak resah dengan pernyataan yang mengandung pertanyaan itu. Itu sudah membuatku yakin, semuanya akan berakhir bahagia. Hapilly ever after. Akhirnya…

“tetra mau bicara dulu sama Mamah sama Abah, di kamar tetra…”

Mendengar apa yang dikatakannya alarm di otakku berbunyi. Ada yang salah, pasti ada yang salah. Kedua orang tuaku saling berpandangan. Ibunya pun terlihat heran. Tapi dia sudah berdiri dan mengajak kedua orang tuaku masuk ke kamarnya. Tak bisa kuceritakan bagaimana perasaanku. Persis seperti menunggu seorang algojo yang akan menggantungku. Aku diam, ibunya pun diam. Kami menunggu dalam bisu. Ingin sekali aku mengintip dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Rasanya cukup lama ketika akhirnya mamah keluar, dia menangis. Abah menggeleng-gelengkan kepala. Ibunya tampak shock melihat mereka berdua. Aku berusaha tidak mengamuk. Dia tak muncul lagi ke ruang tamu. Mungkin dia sedang tertawa terbahak-bahak, merasa sangat PUAS dengan permainannya. Permainan yang aku tahu melukainya juga.

Abah duduk disampingku, masih sempat kudengar dia berkata:

“dia wanita yang pantas diperjuangkan, kalau bukan sekarang, masih ada lain kali, kita bisa kesini tiap malam sampai akhirnya dia mau”

Bingung dengan apa yang dikatakan abah, mamah yang masih menangis menyodorkan sebuah mp3. Aku memutarnya, aku berharap aku salah, aku cari lagu lain, mungkin bukan lagu itu maksudnya, tapi hanya ada satu lagu disana, satu lagu yang membuatku sadar tentang apa yang aneh pada dirinya. Mata redupnya, wajah pucatnya, baju putihnya, ditambah dengan lagu Ari Lasso- Aku Harus Pergi mengalun…

Sayangku ku harus pergi, tak usah engkau tangisi, ciumlah bibirku ini, karena esok aku tak di sini. Ku lihat dari matamu, ku pahami ketakutanmu, tahukah kau aku rasakan, aku pun tenggelam dalam kepedihan. Pejamkan mata, mimpikan aku di dalam tidurmu, kan ku bawa bayang wajah, untuk menemani kakiku melangkah, kemana pun aku pergi. Sayangku aku harus pergi, tak usah engkau sesali, tahukah kau yang aku rasakan, aku pun tenggelam dalam kepedihan, aku pun tenggelam dalam kepedihan…

Ibunya tampak berlari menuju kamar, aku mengikutinya dari belakang, ibunya menjerit, aku berlari, memeluknya, Sayangku ku harus pergi, tak usah engkau tangisi, tapi aku menangis, masih kulihat jarum suntik dan sebuah botol kecil di samping tempat tidurnya, aku tahu cairan di dalamnya adalah morfin, morfin yang biasa digunakannya ketika dia tak bisa lagi menahan rasa sakit akibat penyakit sialan itu! Ciumlah bibirku ini, karena esok aku tak di sini, tak kuperhatikan kepanikan di sekelilingku, aku disana memeluknya dan menciuminya seolah aku tak akan melihatnya lagi. Ku lihat dari matamu, ku pahami ketakutanmu, tahukah kau aku rasakan, aku pun tenggelam dalam kepedihan. Matanya masih terbuka, dia masih melihatku, tapi pelan-pelan mata itu redup…hampir terpejam. Aku memeluknya lebih erat, kubisikkan padanya bahwa dia akan hidup 200 tahun lagi untuk menemaniku, kubisikkan padanya agar dia tak usah takut, karena aku akan disampingnya terus. Tapi sesungguhnya, aku lah yang merasa sangat ketakutan. Pejamkan mata, mimpikan aku di dalam tidurmu, kan ku bawa bayang wajah, untuk menemani kakiku melangkah, kemana pun aku pergi. Aku tahu seumur hidupku, hanya akan ada wajah pucat itu yang menemani tidurku, bagaimana bisa kulupa? Sayangku aku harus pergi, tak usah engkau sesali, tahukah kau yang aku rasakan, aku pun tenggelam dalam kepedihan, aku pun tenggelam dalam kepedihan. Bagaimana aku tidak akan menyesal seumur hidupku kalau kau meninggalkan aku dengan merana seperti ini?


*walau tampaknya sudah klimaks, tetap saja masih to be continued Teman, tentu saja karena penulisnya kan masih hidup*

Kamis, 16 April 2009

APA UKURAN BISA JADI JAWABANNYA?

( sebelum baca postingan ini, baiknya baca dolo postingan ini dan sebagai referensi yang ini juga boleh dibaca)

Teman, tampaknya cerita ini akan makin membosankan jika kuceritakan sampai se-detail mungkin. Jadi akan kusingkat saja ceritanya. Kita mulai pada bagian dimana seorang perempuan terbangun dan menganggap bahwa apa yang baru dialaminya hanyalah mimpi indah. Tapi rupanya dia salah. Dan seperti bisa ditebak, perempuan itu adalah aku.

Mengingat bahwa apa yang terjadi padaku itu bukan sekedar mimpi, menimbang bahwa mungkin ini adalah kencan terakhir yang bisa kulakukan bersamanya, aku pun dilanda panik, aku pun memutuskan untuk mencoba berbagai macam baju, tetap saja rasanya terlalu berlebihan. Sempat bingung juga apa aku harus mandi susu? Manycure? Pedycure? Wax? Hahaha…bercanda! Pada akhirnya ketika dia muncul, aku berharap dia bisa melihat usahaku untuk tampak cantik di matanya, ehmmm walau aku cuma memakai celana pendek dan kaos. Hahaha, jadi persiapan yang berjam-jam itu pun berakhir dengan aku yang dia kenal dan aku yang (sangat) apa adanya. Tapi aku tak peduli, aku tak mau terlihat terlalu bergembira, tak ingin pula dia tahu bahwa aku (agak) ketakutan.

Dan hey, dia pun berstyle sama seperti yang kukenal, sepotong jeans dan kaos hitam. Huhu hitam adalah warna kebangsaannya. Sementara warna kebangsaanku adalah merah. Tapi sekarang aku lebih menyukai warna putih. Membuatku selalu teringat pada kain kafan. Satu hal yang mengejutkan dia membawaku menggunakan sepeda motor. Sungguh sangat berani. Aku sempat berpikir dia akan membunuhku. Tapi rupanya sepeda motor membuatku bisa memeluk dan hmmm merekam wangi tubuhnya.

“masih ingat roti bakar yang di simpang wilis itu gak?”

“ingat dongs”

“sekarang kita cari ada gak roti bakar senikmat itu di kota ini”

“boleh…masih ingat gak sama cowok yang pacarnya itu agak gendut gitu yang kita ketemu di sana?”

“heh?”

“itu lho yang ternyata cowoknya itu orang UNMER yang pernah ikut pelatihan di Batu bareng tetra”

“siapa?”

“ahhh selalu deh, apa-apa itu gak pernah ingat!”

“heh”

“lupakan aja deh!”

Sebenarnya aku baru ‘ngeh’ kalau pertemuan di simpang wilis dengan cowok yang aku lupa namanya itu bukan ketika aku bersama dia. Hahaha. Hampir saja aku merusak kesenangan. Sialnya dia tetap pengen tahu kejadian itu, dan apa yang terjadi. Terpaksa deh kuceritakan padanya.

“sorry, sebenarnya bukan sama Aa…”

“tuh pan?”

“ah jadi pengen cerita, tapi percuma kalau gak bikin cemburu…”

“hahaha, lewatkan aja pas bagian kiss kiss nya”

“apaan sih? Gak gtoan kok?”

“apa dongs? Grepe-grepe?”

“NGGAK IH!”

“wew ngadat! Berarti iya!”

“sejak kapan sih nyebelin gitu?”

“siapa gurunya yah?”

“dasar MO*ET”

Ya ampun dia malah tertawa dengan nikmatnya. Sementara aku kesal setengah mati. Semenit kemudian, tampaknya dia memulai pembicaraan yang sangat kuhindari.

“bagaimana?”

“apanya yang bagaimana?”

“itunya?”

“itu apanya?”

“ya itu…”

“kalau mau tanya ukuran dada Tetra, pasti bisa ditebak lah…”

“heh?”

“tetra juga sudah gak penasaran lagi seberapa punya aa”

“apaan sih?”

“huh pasti kecil, jempol kakinya aja imut gitu”

“hahahaha…”

“ya ampun Neng! Dulu-dulu aa sudah suruh ngukur sendiri”

“waktu itu kan lagi gak ada penggaris”

Yess berhasil. Aku berhasil mengalihkan perhatiannya. Sayangnya, aku masih tetap harus menghadapi pertanyaan itu.

“neng, tentang apa yang aa bicarakan ditelpon itu…”

“tetra tahu, aa gak serius, tenang saja. Belum ada bayi kok, jadi gak akan ada yang minta pertanggungjawaban aa” buru-buru aku memotong.

“NENG! AA SERIUS, TOLONGLAH!”

“OK” dengan hati kacau aku berusaha terlihat sedang berkonsentrasi.

“aa serius, aa mau nemenin neng”

“boleh”

“bener? Gak akan lari lagi?”

“masa tetra mau larang orang yang mau nemenin Tetra? Siapapun boleh, kalau dia gak repot”

“OK!” dia tampak gak sabar. “aa mau nikahin neng!”

“heh?”

“ya, aa mau neng jadi istri aa”

“susah…”

“apanya yang susah, tinggal neng bilang mau aja…”

“susah, masa tetra dilamar di pinggir jalan kek gini? Gak ada cincin? Gak ada bunga? Gak romantis ahhh…” aku masih berusaha mengelak.

“apa neng mau aa berlutut di tengah jalan itu sambil berpuisi, oh tetra will you marry me? Atau neng mau aa lihat aa mengucapkan salam FH di tengah jalan itu lengkap dengan ewes-ewes serr, goyang pinggul, dan kuku bima biar neng yakin kalau aa gak main-main?”

“heh?”

“akan aa lakukan!” dia beranjak dari duduknya.

“aduh jangan pliss!!!”

Untungnya aku masih waras, kutahan dia. Tak terbayangkan kalau aku dalam keadaan sama gilanya seperti dirinya. Pasti dia sukses mempermalukan dirinya dan aku akan terpaksa menjawab tanpa hati nurani (kayak partai aja). Terpaksa aku pun menjawab dengan jawaban standar. Setidaknya aku masih bisa mengulur waktu.

“tetra kan sudah bilang, tetra masih berpikir, tunggu beberapa saat saja lagi”

Dia diam, 10 menit kemudian dia sudah bertanya lagi.

“bagaimana?”

“apanya yang bagaimana?”

“itunya?”

“itu apanya?”

“ya itu…”

“kalau mau tanya ukuran dada Tetra, pasti bisa ditebak lah…”

“arghhh…katanya beberapa saat lagi berpikirnya. Udah 10 menit neh”

“ahhh bukan itu maksudnya”

“apa dongs maksudnya?”

“Tetra perlu berpikir dan itu gak cukup hanya 10 menit”

“ok. Aa tunggu beberapa saat lagi, tapi paling lama 1 hari yang itu sama dengan 24 jam, besok malam aa sudah harus dengar jawaban IYA! Tak ada jawaban lain!”

Maaf teman sebenarnya aku juga tak ingin cerita tentang detail-detail seperti itu. aku kan sudah berjanji untuk tak menceritakan kisah membosankan.

Jadi singkat cerita setelah dari tempat roti bakar, rencana awal kita nonton terpaksa batal. Karena…sebenarnya ini memalukan. Tapi ya, batal nonton KARENA AKU MIMISAN! Kenapa sih tak bisa ditahan sampai pulang? Ini pertama kalinya dia melihatku mimisan. Dan tentu saja DIA PANIK! Dia memaki dirinya karena nekat membawaku keluar malam-malam dan pake sepeda motor. Aku sudah yakinkan dia kalau aku baik-baik saja. Tentu saja dia tak percaya!

Bagian indahnya adalah HUJAN turun. Waaa bayangin aja deh! So romantic. Basah-basahan di atas motor. Huhhh…sampai sekarat pun rasanya tak akan aku lupa. Bersandar di punggungnya diiringi hujan deras. Aku memintanya untuk tak berhenti. Dan yeah kita menerobos hujan. Berita baiknya tidak ada petir malam itu. Berita buruknya AKU PINGSAN sesaat setelah sampai pintu rumah. Andai bisa kuceritakan detail kepanikan dia. Sayang, aku tak bisa. Karena…tentu saja aku kan pingsan, pastinya gak ingat apa-apa.

Yang kuingat kemudian adalah ada jarum infus di tanganku. Seorang dokter yang tidak kukenal sedang berdebat dengan Mami tentang apa aku perlu dibawa ke rumah sakit. Mendengar kata rumah sakit sudah cukup membuatku punya alasan untuk berjuang agar sadar. Aku tak mau kesepian di rumah pucat itu. Mami tampak lega ketika aku sadar. Dokter pun tampak lega, tentunya bukan karena aku sudah sadar, tapi karena dia tak perlu lagi berdebat dengan Mami. Maaf Dok, aku sudah berburuk sangka!

Menyadari dia tak ada di sampingku, aku mulai berpikir bahwa aku berhalusinasi lagi. Pasti itu cuma mimpi indah saja. Aku cuma bisa tersenyum membayangkan ketololanku. Lagi-lagi aku salah. Kenapa dia tak ada disampingku adalah bukan karena apa yang kualami hanya mimpi belaka, tapi karena dia langsung diusir oleh Mami. Mami cukup beruntung malam ini, karena dia punya seseorang untuk dimaki atas sakit yang diderita putrinya itu.

Aa tunggu beberapa saat lagi, tapi paling lama 1 hari yang itu sama dengan 24 jam, besok malam aa sudah harus dengar jawaban IYA! Tak ada jawaban lain! Mungkin akan lebih mudah jika aku sudah tahu seberapa besar itunya, mungkin ukuran bisa membantuku menjawab pertanyaannya itu. Kecil? NO! Besar? YES! Pendek? NO! Panjang? Yess! Huh andai bisa semudah itu. Apa perlu aku suruh dia membuka celananya dulu dihadapanku ya? Bagaimana menurutmu Teman?


*maaf yatapi kisahnya masih to be continued*

Selasa, 14 April 2009

GIVE ME ONE REASON TO MARRY YOU!


Jika ada yang bertanya padaku, apa yang paling kubenci di dunia ini?

Aku pasti bisa langsung menjawab dengan sangat YAKIN!

AKU BENCI PERKAWINAN! Tepatnya AKU BENCI PESTA PERKAWINAN!

Ketika kecil seorang yang sering bermain denganku dengan kejamnya mengusirku ketika dia akan menikahkan putrinya, saat itu aku merasa tak diinginkan. Rasanya ingin menyusup ke dalam tanah. Itu terjadi ketika usiaku kira-kira 6 tahun.

Hal itu berlanjut ketika kelas 1 SD aku menumpahkan air ke baju pengantin, waktu itu aku didandani dan disuruh untuk pegang kipas, tentu saja untuk mengipasi si pengantin.

Aku dimarahi habis-habisan karena hampir saja mereka batal kawin karena baju pengantinnya basah.

Aku juga pernah memecahkan piring ketika prasmanan, pernah membuat seorang anak menangis ketika akad nikah berlangsung yang membuat si pengantin pria gak konsen ketika mengucapkan akad nikahnya.

Tampaknya Tetra kecil menjadi momok menakutkan bagi pasangan pengantin.

Ketika aku beranjak dewasa, aku mulai mengamati beberapa perkawinan yang pernah kuhadiri:

- Lilis namanya, temanku SD, sekarang dia sudah janda dua kali, sempat bercerita padaku tentang affairnya dengan seorang bujangan yang membuat dia merasa sangat terhina,

- Bi Piah, namanya, dijodohkan, 3 minggu kemudian pulang ke rumah orang tuanya, berita buruknya dia cerai, dan terpaksa menjual sawah orang tuanya untuk biaya perceraian (sebenarnya untuk mengembalikan biaya perkawinan yang dituntut mantan suaminya), berita baiknya: DIA MASIH PERAWAN, tepatnya dia janda yang masih perawan,

- Selanjutnya Bi Nyai, yang merasa beruntung menikah dengan seorang duda kaya, waktu itu mas kawinnya adalah mas kawin termahal yang pernah diberikan di kampungku, mas kawinnya Bi Nyai Satu Juta. 6 bulan kemudian pulang dengan tubuh membiru karena dipukuli suaminya. Rupanya si duda kaya itu mengidap schizofrenia (baca: GILA)

- Ceuceu, begitu kupanggil dia, seorang istri yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya karena suaminya pengangguran, masih awet sampai sekarang, tapi awet rajet.

- Momi, seorang istri yang melahirkanku begitu seringnya disiksa sama suaminya, yang kupanggil Papi, karena seringnya mereka melempar barang, aku sempat pobia sama piring beling, gelas beling…SYERAM!!! Ditambah lagi ada malam-malam dimana si anak ini (yg itu adalah aku sendiri) menangis sendirian tanpa tahu harus bercerita pada siapa, seperti orang gila mengusap rambutnya sambil berkata: cup cup…jangan nangis Lala! cup cup… oh betapa mengerikannya! tak dapat kubayangkan akan ada anak seperti itu lagi, tambah mengerikan seandainya anak itu lahir dari rahimku!

Tetra remaja pun mulai berpikir kenapa orang harus menikah kalau untuk menderita seperti itu?

Aku kuliah, bekerja di sebuah Firma Hukum, banyak menangani kasus perceraian,

  • seorang ibu yang berusaha mempertahankan suaminya agar tak menikahi wanita yang seusia dengan anaknya

  • seorang istri pejabat nekat ingin bercerai karena gak tahan dipukuli, ditendang sama suaminya

  • seorang wanita muda yg terpaksa nikah karena telah hamil duluan berusaha melindungi anaknya dengan menggugat suaminya yang anak pengusaha kaya agar mau memberi nafkah padanya

  • seorang lelaki, masih temanku juga, sangat benci pada istrinya karena tak pernah peduli pada anak dan bisanya cuma foya-foya,

  • seorang lelaki, teman juga, menderita ditinggal istri dan harus menghidupi anak semata wayangnya,

  • seorang teman yg pernah cukup dekat denganku, menikah dengan masih menyimpan bayangan wajahku di pikirannya, setahun kemudian mengaku dia tak bisa menyentuh istrinya tanpa membayangkan kalau istrinya itu adalah aku, DASAR ORANG GILA! Gak kebayang sakitnya perasaan si istri ketika suaminya itu orgasme dan meneriakkan namaku! Tapi tetap saja spermanya ternyata membuatnya punya anak!

  • Dan ternyata ada juga perempuan-perempuan yang curhat padaku, dia bersanding di pelaminan dengan bayangan laki-laki lain di otaknya! Ahhh sepertinya perkawinan seperti itu hanya menghasilkan tetra baru yang menangis malam-malam sendirian, sambil…

Dan Lihat sekarang aku! Berdiri di depan cermin, dengan kebaya bertebaran dimana-mana, bukan! Aku bukannya mau menikah hari ini, hanya ingin menghadiri sebuah pesta perkawinan! Lihat aku, diwajibkan untuk berdandan berjam-jam hanya untuk datang, bersalaman, berfoto, makan, dan pulang! Padahal gedung pernikahannya besar sekali, padahal menu makanannya beragam, padahal baju pengantinnya mewah dan indah… dan itu semua hanya dinikmati, dikagumi olehku selama 20 menit saja! Betapa sia-sianya. Padahal sebenarnya aku tidak kenal dengan pengantin itu, aku tak tahu siapa itu Kun Prasetyo, SE, siapa itu Titin Sumartini, SE, aku tak mengenal mereka, yang ku tahu mereka klien dari kantornya mami…arghhh…dan tahukah Teman? Untuk ke tempat si Kun menikah ini, kita sempat muter-muter karena gak jelas gedung pernikahannya dimana, dan lihat sekarang, bedakku luntur, maskaraku luntur…dan aku sedikit berkeringat! Arghhhh [pingsan]

Sebenarnya Baru dua minggu yang lalu aku juga menghadiri sebuah pesta perkawinan, awalnya aku bersemangat sekali karena itu adalah pesta perkawinan yang akan kuhadiri bersama momi, bisa dibilang untuk pertama kalinya, karena walau aku pernah menghadiri sebuah pesta perkawinan bersamanya, tapi rasanya itu DULU sekali…sudah lama sekali aku tak ingat lagi.

Sialnya aku mengenal pengantinnya, lebih sial lagi aku bertemu dengan mantan kekasihnya yg pernah dulu dikenalkannya padaku, tambah sial ketika tahu kalau Anto si pengantin meninggalkankan kekasihnya yang cantik molek untuk seorang perempuan rada gendut TAPI KAYA! kesialanku tambah lagi ketika tahu Anto mati-matian menyediakan uang ratusan untuk membeli seperangkat perhiasan untuk mas kawin yang diminta calon istrinya. Padahal Anto hanyalah seorang karyawan koperasi dan orang tuanya hanyalah seorang guru! Huh tiba-tiba saja aku melihat wajah Anto begitu tertekan ketika menyalamiku. Kenapa sial bagiku? Tentu saja, karena aku makin tak percaya terhadap lembaga perkawinan.

Sebenarnya, ada satu perkawinan yang membuatku bisa menikmati indahnya sebuah perkawinan, walau itu cuman 5 menit saja! Yaitu ketika si Mamang, adiknya Momi menikah! Itupun karena ada momen setelah si Mamang mengucapkan akad nikah, aku ingin sekali menangis, dan aku menangis, betapa indahnya perkawinan itu, lihat dunia, mamangku yang sama pobianya seperti aku menikah juga dengan seorang wanita cantik yang diharapkan tidak matre seperti kekasih mamang sebelumnya. Si Mamang rupanya melihatku mewek, eh dia malah ikut mewek, entah aku berpikiran apa, aku ke depan ke tempat penghulu dan si Mamang beserta pengantinnya duduk, kukeluarkan tisu, bukannya aku memberikannya, malah kuhapus air mata si Mamang dengan tisu itu, si Mamang juga agak gila rupanya, dia malah memelukku, jadilah kita bertangis-tangisan di pelaminan, dan sempat-sempatnya dia mencium pipiku dan berbisik di telingaku, DAMN! Dia minta maaf! Maaf untuk apa? Oh ya, tentu saja, karena dia tak akan lagi bisa menemaniku seperti biasanya…DASAR MON*ET! Perkawinan ternyata membuat suatu hubungan persaudaraan, pertemanan, PUTUS! Mamang! Imas, teman SD-ku! Mbak Yusi teman satu kos dulu! Teh Aci teman satu pesantren! Semuanya pergi…semuanya lupa…karena MEREKA SUDAH MENIKAH!

Ada lagi perkawinan yang sedikit saja memberiku sebuah kepercayaan bahwa perkawinan gak jelek-jelek amat, yaitu perkawinan Mak Cik, belum ada setahun sih, tapi sekarang aku tak bersamanya lagi, jadinya ketika disuguhi dagelan perkawinan seperti perkawinan si Anto dan si Kun itu, aku kembali tak percaya…bagiku perkawinan tak lebih dari penjara yang disediakan untuk sepasang manusia saling menyiksa dan menyakiti!!!

Usiaku hampir 23 tahun sekarang, tapi aku masih saja mencari alasan yang bagus untuk menikah! Ada yang bisa memberikan satu alasan bagus untuk menikah? Karena ada seseorang yang hmmm…(keselek sebentar)…MELAMARKU! Dan seujurnya, walau takut, walau bencinya setengah mati, aku pengen juga kawin...=))



Senin, 13 April 2009

JIKA AKU PUNYA DUA NYAWA, AKAN KUBERIKAN SEMUANYA PADAMU!

Prolog

Hmmm jadi ini rumahnya? Pantas dia tak pernah mengizinkanku untuk berkunjung, rumah ini begitu besar, tampaknya lebih pantas disebut istana. Rupanya dia tak ingin aku tertekan. Dan hey…Lihat aku sekarang! Tanganku bergetar ketika aku memijit bel. Seorang satpam membukakan pintu sedikit. Ahhh membayangkan akan bertemu dengannya saja sudah membuatku sangat tertekan apalagi ditambah dengan segala macam protokoler istana macam ini. Tetra, kenapa kau begitu susah untuk ku sentuh? Seolah kau hidup di khayangan, dan aku begitu sengsara hidup di bumi karena mendambakanmu.

***

Aku pikir satpam itu akan dengan ketus bertanya padaku. Rupanya aku salah, dia sangat ramah. Tapi tidak berarti tanpa wibawa dan lembek.

“mau bertemu dengan siapa Kang?”

”ini betul rumah tetra?”

“oh si akang mau bertemu neng tetra?”

“iya, tetranya ada?”

“mangga kalebet *, langsung ke kamarnya aja kang”

What? Langsung ke kamarnya? Mungkin dia sedang menunggu orang lain. Mungkin tadi pagi dia pesan pada akang satpam itu. Mang kalau ada yang cari tetra, suruh langsung ke kamar aja ya! Mungkin seperti itu pesannya. Sayangnya aku lebih dulu datang dari orang yang sedang ditunggunya. Aku anggap itu keberuntungan.

Aku mengikuti satpam yang ramah itu, dibawanya aku ke halaman belakang. Aku terkagum-kagum dengan hamparan bunga melati yang menutupi pekarangan. Teman, kalau kau sempat berkunjung ke rumah ini pasti kau teringat nyanyian anak-anak, lihat kebunku penuh dengan bunga…sayang, pemilik rumah ini tak tahu kalau bunga yang ada di dunia ini bukan hanya mawar dan melati saja. Mungkin nanti akan kusarankan padanya untuk menanam…Hmmm bunga matahari, hahaha ternyata pengetahuanku tentang bunga tak lebih baik dari si pemilik rumah.

Kami tiba di sebuah pintu kaca. Aku bisa mengintip isi kamarnya dari balik pintu. Kamar itu seperti yang pernah dideskripsikannya padaku. Besar, penuh dengan segala macam alat untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang wanita. Tapi aku tak bisa untuk tak mengatakan, kamar itu begitu hampa. Aku disuruhnya masuk. Satpam itu berlalu, aku tak sempat bertanya dimana dia? Apa aku harus bengong seharian di kamar ini menunggunya? Ahh untung saja aku melihat sosoknya dari balik kaca. Aku membuka pintu kaca yang lain. Dia masih asyik mondar-mandir di dalam kolam. Dulu ketika aku masih sering bersamanya, dia selalu mendesakku untuk menemaninya berenang. Aku tak pernah mau, tentu saja karena aku tak bisa berenang. Air dan aku tak pernah bisa berjodoh.

Aku terus memperhatikannya. Aku jadi menyesal kenapa dulu tak pernah mau diajak berenang olehnya. Teman, jika kau seorang laki-laki, pasti tahu rasanya melihat seorang wanita yang kau dambakan ada di hadapanmu dalam kostum renang. Ahhh indah teman, indah sekali. Jangan heran, jika aku hanya bisa bengong, tak ada keberanian untuk memanggilnya. Aku hanya berusaha menikmatinya saja. Gak salah kan?

Dua puluh menit berlalu, dia keluar dari kolam renang, ahhh bayangkan teman, dia mungkin tak seseksi Dian Sastro, tapi tetap saja indah melihat butiran air di sekujur tubuhnya. Dia masih belum menyadari kehadiranku. Dia memakai mantel handuk. Mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Rambutnya pendek sekarang. Tak pernah kubayangkan ternyata dengan rambut sependek itu, dia masih saja indah. Aku bisa merasakan mataku melotot memperhatikan dia. Tanpa membuka mantelnya, dia membuka baju renang yang tadi dipakainya. Jangan tanya aku bagaimana caranya Teman? Tapi dia berhasil melakukannya. Aku sedikit berharap dia membuka mantel handuknya. Kali ini aku kurang beruntung. Dia sudah melihatku. Keningnya berkerut keheranan, tapi itu hanya sekejap saja. Detik kemudian dia sudah tersenyum dan menghampiriku.

“apa kabar?” dia menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

“baik, tetra apa kabar?”

“baik juga, sudah lama nonton tetra renang?”

“hmmm…lumayan”

“kenapa nggak manggil?”

“takut ganggu yang lagi asyik” kali ini dia tertawa. Dia tak melepaskan tanganku, dia menarikku masuk ke dalam.

“welcome…”

“thanks, persis seperti yang diceritakan”

“yeah…mau minum apa?”

“yang ada aja deh…”

“OK”

Dia membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol susu.

“aduh, pliss jangan itu”

“katanya yang ada aja”

Aku terpaksa menghampirinya dan melihat isi kulkas. Coca cola, pepsi, ah minuman bersoda semua. Tapi, masih ada sebotol frestea. Kuambil dan kubuka tutupnya. Dia tertawa melihatku. Hampir saja…aku terpaksa minum susu…

Dia kemudian meminta izin untuk membersihkan diri dan memakai pakaian. Aku menunggunya sambil menonton TV. Tentu saja tanpa konsentrasi, tadi aku sedikit berharap dia akan cuek dan berpakaian di hadapanku. Untuk kedua kalinya, aku tak beruntung lagi Teman.

Entah darimana suara lagu itu datang. Eternal Flame. Lagu kita berdua…close your eyes, give me your hand darling, do you feel my heart beating? Do you understand? Do you feel the same? Am I only dreaming?…kudengar dia bersenandung. Sedetik kemudian dia muncul dengan pakaian yang sudah kukenal, celana pendek gelap dan kaos putih, dia tertawa dan mengeluh.

“damn, kenapa harus lagu ini ya?”

Aku tak menjawab, yang kulakukan kemudian adalah menghampirinya, membuatnya menatapku. Kututup matanya dengan tanganku, kugenggam tangannya.

“wanna dance with me?” dia tersenyum, membuka matanya, dan tampak mau menginjak kakiku. Huh…pernah melihat orang berdansa dimana kaki si perempuan menginjak kaki pasangannya? Si laki-laki yang bergerak dengan kaki si perempuan di kakinya. Tampaknya itu yang akan dilakukan olehnya. Tentu saja kucegah.

“jangan…itu milik pangeran…”

“ah jangan merusak kesenangan”

Tak kuabaikan protesnya. Yang kulakukan adalah mengangkatnya dan membuat kakinya melayang. Kubisikkan satu kalimat…

“I miss you”

“miss you too” jawabnya dengan lembut sambil mengusap rambutku.

“wow, serasa jadi kuntilanak, gak nginjak tanah…” tiba-tiba dia berkomentar.

Aku tak menghiraukan protesnya. Aku terus bergerak.

“gak berat gini terus?”

“ringan kok…”

“hahaha, ringan? Apa itu kata yang sopan untuk kurus?”

Dia memang ringan. Aku bisa merasakan tulang rusuknya di tanganku. Yeah dia lebih kurus dari yang kukenal. Anehnya wanginya masih sama seperti yang kuingat. Dulu dia sering membukakan pintu tengah malam untukku. Wanginya juga sama. Sempat aku curiga, dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya sebelum membuka pintu. Sekarang aku tahu, memang seperti itulah wangi tubuhnya.

Aku mencoba mengalihkan perhatiannya, kalau tidak, pasti dia akan mengoceh betapa tak seksinya dia, karena kekurusannnya itu.

“lagunya sudah habis”

“mau kuputar lagu yang pantas untuk berdansa?”

“ah jangan, pasti punya pangeran juga…”

“kalau terus menyebut nama itu, akan kusuruh satpam menyeretmu keluar…”

“sorry” aku meringis. Menurunkannya dari pangkuanku. Lagu yang terdengar begitu rancak. Pitbull-Blanco. Kita menari sambil tertawa. Kalau saja aku bisa bilang padanya. Hal ini mengingatkanku pada satu peristiwa menyakitkan, yeah aku pernah melihatnya menari seperti itu, tertawa seperti itu, tapi bukan bersamaku. Bersama seorang yang kukenal. Seseorang yang aku tahu dekat dengannya sama seperti aku. Seseorang yang membuatku sadar kalau aku sebenarnya sangat menginginkannya. Seseorang yang membuatku tahu, ternyata bukan aku saja yang bisa membuatnya bahagia.

Lagunya berganti, lagu lokal, tapi terdengar pas dengan isi hatiku. Asmirandah feat Robinhood-Salahkah kita. Bukan aku tak ingin cinta, tapi aku takut menyakitimu, dan kini aku jauh darimu, ada yang hilang dari hatiku…aku kembali mengangkatnya, aku ingin sekali bertanya…apa aku harus bertanya dulu? Tampaknya YA, aku harus bertanya!

“masih hafal…sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan…”

“kenapa dengan lagu itu?”

“apa sering mengingatkanmu pada sesuatu?”

“apa?”

Yeah tampaknya dia lupa, first kiss, dibalik panggung sebelum dia menyanyikan dua lagu keroncong dalam sebuah perlombaan. Bagaimana Teman, apa harus kuingatkan dia? Baiklah kau setuju denganku bukan kalau kuingatkan dia?

Hmmmm….

Ah…seperti yang sudah kuperkirakan, rasanya masih sama. Tidak teman! aku tak mau menjelaskan bagaimana rasanya, kau coba sendiri saja lah. Tapi maaf jangan sama dia, dia milikku. Coba saja dengan kekasihmu. Kalau sudah kau coba, bolehlah kita samakan persepsi tentang rasanya itu…

“aku ingat yang itu, aku tak bisa lupa” begitu katanya.

“aku juga ingat, wajahmu bersinar di panggung, sama seperti sekarang”

“oh yah?”

Sebuah ketukan di pintu membuatku melepaskan dia. Rupanya sudah waktunya untuk Tuan Putri makan siang, minum obat, dan tidur siang. Dia pasti benci sekali melakukan itu. Seperti bayi begitu selalu dia bilang tentang tidur siang. Anehnya walau dia tidur sesudah makan, berat badannya tak pernah bertambah, padahal teorinya, tidur setelah makan itu akan bikin gemuk. Rasanya aku ingin menciumnya sekali lagi, agar matanya terus berbinar, agar wajahnya tak berhenti bersinar. Dan bukannya hampa seperti mayat.

Aku menemaninya makan. Aku berniat menyuapinya. Sepertinya itu romantis. tapi rupanya menyuapinya adalah kesalahan.

“jangan plis…”

“kenapa?”

“aku bukan bayi, aku bisa sendiri”

“owh…”

Coba lihat betapa redup matanya, setelah dia mengatakan itu. Bibirnya bergetar. Aku bisa melihat usahanya untuk membendung tangis dari matanya. Ah teman, ingin rasanya aku menggantikan deritanya.

“masih ingat sebulan yang lalu kau bertanya bagaimana kalau tetra mati? Apa aa akan sedih?”

“yeah, kau tak menjawabnya, jadi kujawab sendiri saja, aa akan melanjutkan hidup, tentu saja, memang siapa aku bagimu?”

Aduhhh salah lagi deh…

“sebenarnya aku bingung, aku ingin menjawab dengan kalimat yang membuatmu bisa bertahan, tapi aku tak punya kalimat itu”

“apa sekarang kau sudah punya kalimat itu?”

“ya aku sudah punya jawabannya”

“so, bagaimana kalau aku mati? Apa kau akan bersedih?”

“jika aku punya dua nyawa, akan kuberikan semuanya padamu, kau pasti akan bisa hidup dengan dua nyawa yang kuberikan itu kan?”

“wow” dia terperangah, tak percaya pada apa yang telah kuucapkan padanya. Sebenarnya itu slogan sebuah klub hooligan di kroasia. Aku baru saja menonton liputannya di sebuah TV swasta. Barusan saja ketika aku menunggunya berpakaian. Semoga saja dia tidak tahu.

Dia menyudahi makan siangnya. Seorang yang mirip perawat datang, aku melihatnya meringis ketika perawat itu menyuntik lengannya. Suntikan itu membuatnya kembali redup. Aku menggendongnya menuju tempat tidur. Kuputar sebuah film untuk menemaninya, cold mountain-jude law&nicole kidman. Huh melihat film itu serasa bercermin pada kisah aku dengannya. Sebelum dia terlelap sempat dia berkata padaku.

“maafin tetra ya, tetra tahu ini masih asing buat aa, biasanya tetra yang menonton aa tidur, sekarang jadi aa yang terpaksa menunggu dan menonton tetra tidur…”

Jujur, aku tak tahan untuk tak menangis, untung saja dia sudah terlelap ketika aku mengusap air mata yang terlanjur keluar. Teman, dia adalah wanita pertama yang membuatku menangis. Kucium keningnya, kubisikkan di telinganya…

“I LOVE YOU”

Aku tertawa, benar apa yang dibilangnya, ini memang asing bagiku, bahkan aneh, karena biasanya dulu dia yang diam-diam membisikkan kalimat itu di telingaku. Tentu saja aku mendengarnya tapi aku pura-pura terlelap. Dan sekarang aku yang melakukannya. Sungguh asing…Aneh!

***

Epilog

Seorang perempuan terbangun dari tidurnya, dia melirik ke samping tempat tidur mencari sosok yang tadi menemaninya. Senyum getir mengembang di bibirnya ketika tak ada sosok yang dicarinya itu. Ah rupanya cuma mimpi, tapi mimpinya sangat indah… masih diingatnya kalimat indah itu…jika aku punya dua nyawa, akan kuberikan semuanya padamu, kau pasti akan bisa hidup dengan dua nyawa yang kuberikan itu kan?

Terlalu banyak nonton TV, sampai-sampai kalimat-kalimatnya terbawa mimpi…hahaha…sungguh menyedihkan…

Telepon di sudut kamarnya berdering, dia bangkit untuk mengangkatnya…

See! Bahkan tak ada yang membenarkan selimutku!

“hallo, ya mang, ada apa?”

“Neng, tadi kata si akangnya kalau neng sudah bangun, disuruh siap-siap, katanya mau diajak nonton”

WHAT??? Aku pasti berhalusinasi lagi, tadi itu mimpi atau bukan sih?

“si akangnya mau nginep gak neng? Kalau mau nginep, kamar tamu mau dibersihkan?”

WHAT???

*to be continued*


* mangga kalebet (sunda) = silahkan masuk


Rabu, 08 April 2009

anarkyskywalker :))

:54] anarkiskywalker: itu bukan definisi
[17:54] anarkiskywalker: persetan lah dgn definisi2 yg kau dapat dari buku2 tebalmu, mahasiswa!
[17:55] anarkiskywalker: itu realitas yg ada
[18:16] lala.lalan: yah kalo mau ngomong sama mahasiswa harus pake bahasa mahasiswa biar mereka ngerti, kecuali klo sama penganggguran spt tetra nih, bolehlah abang masukkan segala macam realita...pasti kukunyah dah!!!
[18:18] anarkiskywalker: halahh
[18:18] anarkiskywalker: mahasiswa juga bisa pake bahasa tukang becak
[18:18] anarkiskywalker: tukang becak yg gak mudeng bahasa mahasiswa yg melangit
[18:18] anarkiskywalker: tauk??
[18:19] lala.lalan: nah itu bahasa abang yg bilang negara itu bla bla bla...apa itu namanya klo bukan bahasa langit?
[18:19] anarkiskywalker: ohya?
[18:20] lala.lalan: apa tukang becak tahu apa itu SISTEM?
[18:20] anarkiskywalker: tau lah
[18:20] lala.lalan: too much teory will kill u!!!
[18:20] anarkiskywalker: yg mereka gak mau tau adalah DEFINISI !!!
[18:20] anarkiskywalker: kau bicara DEFINISI tadi
[18:21] anarkiskywalker: aku benci orang2 yg berkutat seputar DEFINISI
[18:21] lala.lalan: biar aku tahu siapa itu yg ngomong spt itu?
[18:21] anarkiskywalker: yg bicara AKU
[18:21] anarkiskywalker: kenapa memangnya?
[18:21] lala.lalan: oh jadi KAU yang bicara...
[18:21] lala.lalan: baiklah...
[18:22] anarkiskywalker: dasar KAU orang yg senang LABEL
[18:22] anarkiskywalker: perlu tau siapa yg bicara
[18:22] lala.lalan: biar aku bisa bertanya langsung pada orang itu...
[18:23] lala.lalan: apa dasar kau kasih pendapat bahwa negara itu spt itu?
[18:23] lala.lalan: aku ingin tahu!
[18:24] anarkiskywalker: mau tahu?
[18:24] lala.lalan: IYAH AKU MAU TAHU!
[18:25] anarkiskywalker: begini, sebab aku pun benci pada orang2 yg memandang negara sebagai objek yg perlu dikritisi ketika terjadi kegagalan sistem... padahal, negara serta militernya hanyalah merupakan institusi yg melindungi kepentingan segelintir orang... kepentingan kita apa sihh? semuanya adalah soal ekonomi!!!
[18:26] lala.lalan: setubuh...pas bagian soal ekonominya
[18:26] anarkiskywalker: nah
[18:26] anarkiskywalker: sekarang lihat...
[18:27] anarkiskywalker: sistem ekonomi seperti apa yg cocok dan ideal utk orang2 yg menginginkan KEKAYAANNYA yg sekarang bertahan atau bahkan bertambah?
[18:28] lala.lalan: jadi kekuasaan yg sedang dijemput besok hari itu dalam rangka mempertahankan sistem ekonomi yg sudah ada? begitu?
[18:28] anarkiskywalker: mungkin tidak semua calon penguasa yg besok menanti dicontreng berwatak demikian
[18:28] anarkiskywalker: tapi apa kau tidak tahu,
[18:29] lala.lalan: kasih tahu aku bang!
[18:29] anarkiskywalker: negara ini sudah tidak berdiri di atas kakinya sendiri lantaran hutang2nya yg belum terbayar?
[18:29] anarkiskywalker: jadi..
[18:29] anarkiskywalker: sorry to say, pemimpin kita adalah boneka
[18:30] anarkiskywalker: siapapun dia yg menang
[18:30] anarkiskywalker: besok
[18:30] lala.lalan: hmmmm masuk akal...
[18:30] anarkiskywalker: atau kapan
[18:30] anarkiskywalker: selama sistem ekonominya masih yg INI
[18:30] anarkiskywalker: perubahan itu tidak pernah terjadi
[18:31] lala.lalan: kata kau tadi, tidak semua petarung besok itu spt itu, kenapa kau tak pilih yg menurut kau tak spt itu?
[18:31] lala.lalan: bukan malah tak memilih sama sekali?
[18:31] anarkiskywalker: ahh, kau tidak menangkap pembicaraanku
[18:31] anarkiskywalker: harus kucopy paste?
[18:32] lala.lalan: OK OK lupakan saja...
[18:32] lala.lalan: intinya karena hutang kan?
[18:33] lala.lalan: ada satu pertanyaan yg gatel banget pengen kutanyakan sama abang...
[18:33] lala.lalan: bolehkah aku bertanya bang?
[18:34] anarkiskywalker: kita butuh tameng
[18:34] anarkiskywalker: dan senjata
[18:34] anarkiskywalker: juga orang2 pintar bangsa sendiri yg mau ngebangun negara ini sendiri
[18:35] anarkiskywalker: tanya saja
[18:36] lala.lalan: nanti saja hal itu kutanyakan, tameng spt apa bang itu? senjata macam apa yg dibutuhkan negeri ini?>
[18:37] anarkiskywalker: tameng, ngejaga bangsa ini dari intervensi politik negara laen
[18:37] anarkiskywalker: senjata, utk ngelawan mereka yg nekat masuk
[18:37] anarkiskywalker: singkat kata: PERANG
[18:37] lala.lalan: wowwwwww.....
[18:37] lala.lalan: PERANG FISIK?
[18:37] anarkiskywalker: ya, jika harus
[18:38] lala.lalan: kata kau tadi militer itu...
[18:38] anarkiskywalker: militer memihak pada orang kaya kan sekarang?
[18:38] anarkiskywalker: sekarang bagaimana jika situasinya berbalik?
[18:38] lala.lalan: yeah
[18:38] anarkiskywalker: militer memihak pada rakyat
[18:38] anarkiskywalker: lalu kudeta
[18:39] lala.lalan: ahhhhhhhhh jadi nantinya rakyat yg berkuasa?
[18:39] lala.lalan: rakyat yg mana bang?
[18:39] lala.lalan: tukang becak itu? kameramen? penganguran penyakitkan?
[18:40] anarkiskywalker: oke, kalo gitu saya ganti katanya... memihak pada orang-orang yg selama ini tertindas sistem ekonomi ini
[18:41] lala.lalan: yg kutanyakan: siapa nanti yg berkuasa bang setelah kudeta itu?
[18:41] anarkiskywalker: kapan2 kita sambung lagi
[18:41] anarkiskywalker: aku ada urusan lain
[18:41] lala.lalan: SIAPApun yg berkuasa dianya tetap akan jadi penguasa yg notabene bisa jadi ORANG KAYA PULA!!!
[18:42] lala.lalan: ya sudah
[18:42] lala.lalan: met kerja met berjuang bang
[18:42] anarkiskywalker: komentar terakhir utk statement terakhirmu
[18:42] anarkiskywalker: "dengan SISTEM yg BENAR, tidak ada ORANG KAYA atau ORANG MISKIN.."
[18:42] anarkiskywalker: itu dulu
[18:43] lala.lalan: OK kusimpan pembicaraan kita biar tak lupa

Sabtu, 04 April 2009

BEBERAPA JAM SEBELUM MEMBASMI KUTU

BUZZ!!!
lala.lalan: yeah
lala.lalan: I'm

lala.lalan: headache beybeh

74M5: lah
74M5: ko bisa?
lala.lalan: I need vitamin O
74M5: apa tuh??
lala.lalan: tak tahu vitamin O
lala.lalan: ?
lala.lalan: bah terlalu....
lala.lalan: terlalu kau...
74M5: lah ko jadi batako


lala.lalan: my full name is TETRA PUTRI SEMBIRING

lala.lalan: I have boru...so I'm absolutely BATAK
lala.lalan: kau mau apa bah?
lala.lalan: acem kale kau nih?
74M5: boruna boruju
74M5: boro boro beli celana, boro boro beli baju
lala.lalan: dasar orang sunda,,,
lala.lalan: tak tahu kau klo cowok marga.,...klo cewek dibilangnya boru
lala.lalan: masih tak tahu kau apa itu vitamin O?
74M5: holong mangalap holong
74M5: kemaren tuh gw baca di metromini ada tulisan gitu
74M5: artinya paan tet?
lala.lalan: bah acem!
74M5: mang apa artinya?
lala.lalan: tak tahu lah awak nih...tak pernah awak hidup di kampung batak...
lala.lalan: cuman kesampaian nama sama logat aja
74M5: tapi kan darah kau mengalir darah batak
lala.lalan: tak selamanya batak bisa bahasa batak
lala.lalan: tak selamanya sunda bisa bahasa sunda...
lala.lalan: yg nyiptain fesbuk sapa yah aa udin?
74M5: itu tuh
74M5: si saha teh lupa
lala.lalan: ahhhh
74M5: kalo ga salah si Mark Zuckerberg
lala.lalan: telat kau
lala.lalan: aku sudah tahu duluan...

74M5: tapi yg kenalan duluan ya aku
74M5: kemaren di pasar uler
74M5: ketemu

lala.lalan: si Mark itu sungguh kurang ajar
74M5: lagi belanja kolor bwt ulernya
lala.lalan: acemmmm!!!
74M5: kurang ajar kenapa?
lala.lalan: dibilangnya aku luna maya...
lala.lalan: aduh gak level yey ekke sama luna maya...
74M5: iyalah.. bedanya aja 70 level
74M5: diatas kau
lala.lalan: salah kau yey...
74M5: oh
74M5: 80?
lala.lalan: aku tuh isabella swan...
74M5: 90?
74M5: 190?
lala.lalan: bukan luna maya...
lala.lalan: ah macam kau tinggi saja hey

74M5: ga kangen sama c lucuna aa udin?
lala.lalan: aa udin belum tahu juga apa itu vitamin O?
74M5: Oral
74M5: Oray
lala.lalan: ORGASME

lala.lalan: I see u
74M5: mw orgasme?
lala.lalan: suddenly I'M headache...
lala.lalan: bcos I need vitamin O

lala.lalan: bcos of u juga sih
lala.lalan: ihhhhhhh aa udin...
lala.lalan: tak dikasih jatah kau sama bojo kau itu?
74M5: tak pula malam ini
74M5: sial kali aku ini
74M5: tak paham kali dia
lala.lalan: makanya kau harus bisa bikin dia orgasme biar dia pengen nambah
74M5: justru kecapean ida
74M5: *dia
74M5: dari siang tuh orgasme terus
lala.lalan: kau kasih apa dia?
74M5: kasi kuda
lala.lalan: waaa bisa robek ituna bojo kau
74M5: ituna apa ni?
74M5: harus jelas dan spesifik...
lala.lalan: vagina...masa kau tak tahu barang apa itu?
74M5: orang dikasina juga kuda betina

74M5: cuma bwt alas doang.. daripada di kasur yg statis..
74M5: kan kalo sambil naek kuda bisa ajrut2an
lala.lalan: Oh My God...
lala.lalan: tak hancur paha kau kena punggung kuda?
74M5: tena
74M5: tena kodong
lala.lalan: bicara tentang kuda membuatku makin mendamba vitamin O
74M5: nah pasti kau tidak tau

74M5: yaaaaaaaaaahh.. rugi bandar dong
lala.lalan: ya sudah....
lala.lalan: nanti kucari gedebong pisang saja

74M5: eh tapi siap ga nih>?
lala.lalan: siap dungs
74M5: siap lahir bathin?
lala.lalan: siap....//sambil menarik nafas yg sudah tersendat-sendat
74M5: oohh...
74M5: jangan dulu ngiler c imutnya
lala.lalan: cepatlahhh
lala.lalan: sudah di ujung nih
74M5: yaudah kalau sudah di ujung
74M5: eksekusi saja kau
lala.lalan: ngempet lagi dahhhhh

74M5: headache atw horny?
lala.lalan: dua2nya dah

74M5: sini aa in c imutnya
lala.lalan: tak mau aa udin
lala.lalan: si imutna baru aja cukuran

74M5: justru itu.. area nya jadi luas
74M5: asik deh
lala.lalan: kau tahu bapak2 yg abis cukuran janggot
lala.lalan: nah bayangin deh tuh...
74M5: kayak ampelas ya
lala.lalan: anda benar
74M5: tapi kan lebih jelas seperti orang abiz digebukin.. bengkak2 gitu deeeh

74M5: ops.. jgn diraba2 gitu dong
74M5: tar tambah memar

lala.lalan: belajar dari mana kau bahaasa ituuu?

74M5: kalo tangan gatel kan bisa digaruk disana
74M5: ya ga jauh beda lah ama parutan kelapalala.lalan: setdah...
lala.lalan: tak tahan headache... yuk babay...jangan heay...

Jumat, 03 April 2009

PASTI MOAL AYA NU BOGOHEUN DEH...

- ya ampun percuma aja seh, gak guna…
- dicobaan heula ah…aman…moal nanaon…
- aman sih aman, tapi kan jadi bau
- nyak geus atuh, isuk dipotong weh
- sama siapa dipotongnya?
- ngke manggil urang salon ka dieu
- gak mau ah
- terus dek dipotong kusaha?
- hmmm…sama…gimana?
- yey lain ahlina, teu bisa…
- tetra percaya pasti bisa kok…
- ulah nyesel nyak mun jadi goreng
- siap…yang penting seperti agnes monica deh…

30 menit kemudian…

- udah belum?
- hmmm kela nyak dek nelpon hula…
- (lha kuk nelpon…)
- jeng, nu kamari urang salon nu daekeun dipanggil teh sabaraha no telponna nyak?
- (apaan sih kuk manggil orang salon? Mulai curiga…ngesot…ngesot menuju cermin…)
- ARGHHHHHHH MAMI….NANAONAN SIH RAMBUTNA LALA DIRUKSAK KIEU SIH?

(kesalahan terbesar hari ini adalah membiarkan ibumu memotong rambutmu dengan model rambut agnes monica ancur…kecuali kalau kau berpikir bahwa model rambut pitak sebelah itu trend baru tahun 2009…)

Kamis, 02 April 2009

SEKARAT DULU, BARU BISA BEGINI...

rose Pictures, Images and Photos

---untukmu---


Teman, sungguh tak ada yang lebih baik dari ini…

Tak percuma aku kesakitan sampai rasanya aku tak bertulang lagi…

Tak ada yang lebih baik dari pagi hari dimana seseorang disampingmu sudah membuka mata dan sedang mengawasimu dengan penuh sayang…

Tak ada yang lebih baik dari pelukan pagi yang menghangatkan,

Tak ada yang lebih baik dari kecupan selamat pagi dari seseorang yang selalu kau rindukan,

Teman, sungguh, percaya padaku ini seperti apa yang kudambakan dalam mimpi…

Dimana seseorang yang selama ini tak bisa terjangkau menemanimu sarapan, bercerita padamu tentang aktivitas yang akan dijalani hari itu, dan terlebih dia sempat menanyakan apa yang kau perlukan hari ini?

“mau beli hp baru?”

“mau ganti laptop?”

“mau pasang wireless ke kamar biar bisa onlen seharian?”

“mau jalan-jalan? Atau mau main ke ciamis?”

Ahhh teman, sungguh aku tak perlu semua itu, cukup dia saja, setiap pagi…ada untuk tersenyum…


Teman, sungguh tak ada yang lebih baik dari ini…

Tak percuma kutempuh perjalanan yang melelahkan untuk bersamanya…

Tak ada yang lebih baik dari telpon yang kuterima darinya setiap waktu…

“Sudah makan? Sudah minum obat? Lagi apa?”

Ahhh sungguh…untuk senyummu pagi tadi, semua akan kulakukan…

Tak ada yang lebih baik dari sore hari dimana aku bisa melihat sisa kelelahannya,

dia yang mencium keningku, bercanda denganku, dan mulai ngoceh tentang bagaimana menumbuhkan rambutku…

Aku dan dia rupanya sama terobsesi dengan rambut…ah senangnya ketika diberinya ntah ramuan apa ke rambutku…sungguh…itu lebih baik dari sentuhan salon manapun…

Walau kita sama-sama tahu apa yang dia lakukan adalah sia-sia belaka…

Rambutku akan tetap habis tak tersisa…

(yang ada malah kepalaku wangi seledri, sungguh sangat sedap untuk disop,hehehe)


Teman, sungguh tak ada yang lebih baik dari ini…

Tak percuma kutelan ribuan pil pahit itu…

Tak ada yang lebih baik selain bersamanya sepanjang malam…bercerita, mengganti waktu yang terlewatkan…sampai aku tertidur, sering aku terbangun, dia akan bangun untuk memeluk dan menyelimutiku…diusapnya rambutku…hingga aku tertidur lagi…


Ah teman…

Terkadang dia terlalu berusaha untuk membuatku nyaman,

Terkadang aku tahu di belakangku dia akan bersedih,

Yeah itu pengalaman baru baginya…menghadapiku dalam keadaan hidup segan mati tak mau….

Andai saja dia tahu, bahwa mengetahui dia membalas perasaanku selama ini SUDAH CUKUP BAGIKU!!!


Biar kupetik mawar yang tumbuh di halaman rumahku, kalau dia pulang sore nanti kuberikan padanya, mungkin juga aku akan bilang….

rose Pictures, Images and PhotosLALA SAYANG BANGET SAMA MAMI…

Tentu saja sambil kukecup dia…:-*