TRACK 6
Seperti yang kalian duga, hari-hari berikutnya, pekerjaanku adalah hanyalah menunggu telepon darinya. Tapi, bahkan satu misscall pun tak kuterima. Oh aku memang payah, harusnya aku bertanya nomor hp-nya, nomor rumahnya. Aku cukup punya gengsi untuk bertanya pada teman-temanku. Apa nanti mereka bilang? Oh si Red sekarang masuk bursa persaingan juga akhirnya? Gak tanggung-tanggung saingannya Ketua yang terhormat dan Playboy kawakan, buruannya si Angel Cry lagi. Wanita berparas manis, tidak terlalu cantik tapi sangat menggoda iman itu. Oh tidak! Terima kasih banyak!
Tapi walaupun nanti aku punya nomor Hp-nya rasanya aku tak akan berani menelponnya. Apa nanti yang akan kubilang padanya? Biarlah aku menunggu saja! Dan menunggu itu Teman, bisa membuatmu gendeng se-gendeng-gendengnya. Sialnya, gak ada lagi acara nongkrong-nongkrong di jalan bersama anak-anak Majak. Yang aku tahu anak-anak Majak tidak lagi nongkrong di jalanan, tapi sudah masuk cafe baru yang ada di Malang, executif flame...dan aku tak punya semangat untuk mendengar musik dugem diputer kencang-kencang dengan manusia-manusia teler. Ohhh sekali lagi TIDAK! THANK YOU VERY MUCH! Padahal mungkin itu satu-satunya jalan untuk bertemu dengannya lagi. Ah mungkin aku seharusnya main saja ke rumahnya. Tapi untuk alasan apa? Kangen? Ahhh dia bisa menertawakanku habis-habisan. Tepat di saat penantianku itu, sebuah kabar kuterima dari sebrang pulau. Aku harus pulang ke Madura.
Teman, sungguh aku ingin sekali bercerita tentang perjalananku itu. Tapi aku tak berani, biarlah ini menjadi rahasia hidupku. Satu-satunya orang yang akan kubagi cerita sedihku hanyalah seorang wanita pujaan yang akan jadi istriku kelak. Kalau nasib pada akhirnya menjodohkan aku bersanding dengan si Angel Cry di pelaminan, mungkin kalian akan bisa menyimak kisahku. Jadi tolong berdo’a untukku, agar dia menjadi wanita yang terbaik dan terakhir dalam hidupku. Biar bisa kuceritakan kisah hidupku selengkapnya untukmu Teman.
Akhirnya aku kembali ke Malang tiga minggu kemudian. Masih membawa beban dari rumah. Masih senewen, frustasi, stress, depresi, apalah namanya yang pasti keadaanku sedang sangat memprihatinkan. Aku bekerja di bengkel sampai badanku lengket dengan oli, padahal aku bisa saja hanya duduk-duduk menghadapi meja dan komputer, mengatur ini itu, memerintah kesana-kemari. Tapi pikiranku sedang kacau Teman, dan aku tak mau jadi gendeng beneran, maka kusibukkan diriku. Bayangan Angel Cry hanya sekilas-sekilas saja hinggap di otakku. Selebihnya kosong, cape, lelah.
Sampai suatu sore. Sebuah nomor esia malang masuk ke hp-ku. Aku tak menyangka bisa mendengar suaranya lagi.
”hallo, ini Red bukan?”
”iya betul, ini siapa ya?” pura-pura teman, padahal sebenarnya hatiku seperti tersiram es, sejuk rasanya mendengar suaranya.
”Tetra mas, lupa ya?”
”ohhh tetra...apa kabar?”
”baik mas, mas red kemana aja sih? Kok jarang keliatan?” ada rasa kecewa ketika dia menyebutku dengan Red, bukankah dia sudah tahu namaku, bukankah dia memanggilku dengan Mas Angga...dengan desahannya...ah Angel, kau sudah lupa padaku rupanya?
”aku habis pulang kemaren”
”pulang kemana?”
”ke Madura, aku kan asalnya dari sana”
”ohhh tetra pikir mas angga asli Malang” ah akhirnya Mas Angga keluar juga dari mulutnya.
”trala apa kabar?” aku sudah tak sabar ingin memanggilnya dengan nama itu, tapi takut dia lupa, tadi kan dia belum memanggilku dengan panggilan kesayangannya itu.
”ih nanya kabar lagi, tadi kan udah mas”
”oh udah yah? Hehehe...” sungguh tolol kamu Red.
“Mas Angga gak kangen sama tetra?” aduh, kangen banget sampai rasanya mau pergi sendiri aja ke Rumah Sakit Seger Waras, gak nunggu dijemput ambulan.
“trala sendiri kangen gak sama aku?”
”kangen dong, makanya aku telpon” ahhh sungguh gendeng cewek yang satu ini. Aku bisa mati berdiri dibuatnya nih.
”kirain lupa”
”ih mas angga tuh yang lupa, mas angga gak main ke rumah tetra?” harusnya semua cewek seperti ini Teman, harusnya semua cewek kalau menghadapi cowok cupu, kurang PD, dan buruk rupa seperti aku punya inisiatif seperti ini. Kamu setuju bukan?
”emang boleh? Nanti ada Entit? Nanti ada ketua?”
”ihhh gak usah nyebut-nyebut mereka deh”
”beneran nih aku boleh main?”
”mas angga tadi kan aku yang nanya, ya pasti boleh dong...”
”tapi Entit...”
”ehhh awas kalau di depan Tetra jangan nyebut namanya” nah itulah alasannya Teman, kenapa di cerita ini aku menamainya Entit, karena kalau menyebut namanya di depan Angel Cry aku harus melakukan sensor...Titttttt...jadilah dia kupanggil Entit.
Sebenarnya aku ingin pura-pura sibuk dulu. Tapi aku sudah tak sabar bertemu dengannya lagi. Jadi kubilang padanya, malam ini aku akan main ke rumahnya. Dengan cepat aku memberi perintah kesana-kemari. Para pegawaiku sempat heran, tapi kemudian mulai usil kurang ajar.
”walah rek, malam minggu, kencun...kencun...si boss”
Aku cuma nyengir. aku bahkan baru sadar kalau itu malam minggu. Hmmm, ada apa nih? Tak salah dong kalau aku mengharap satu kecupan....hahahaha...dasar cowok!
Rasanya aku mandi lama sekali. Bahkan seperti cewek aku bingung mau pakai baju apa. Baru ketika aku menatap cermin, aku sadar betapa tololnya aku, jangan-jangan dalam pikiran gendengku aku berniat pakai bedak dan lipstik. Gendeng...gendeng....
Jam 7 malam aku yang sudah rapi sudah ada di rumahnya, aku kembali merasa sangat tolol ketika dia hanya memakai kolor dan kaos sekedarnya. Kembali rasa minder menyeruak dalam jiwaku. Oh sialnya ternyata dia hanya ingin memuntahkan sejuta makian buat Entit. Malangnya nasibku ibu.
”anjing banget dia mas, masa tetra cuma dimanfaatin aja sama dia? Dimanfaatin biar dia bisa melupakan ceweknya, gak ngerti deh apa sih yang ada dalam pikiran cowok macam dia?” aku terkejut mendengar makiannya, akhirnya sampai juga aku pada saat dimana aku terpaksa tahu keburukannya, dan only God knows aku sangat tidak suka cewek yang senang mengeluarkan sumpah serapah, gak ilok...jelekkk...jelekkk sekali! Tapi hanya Tuhan juga yang tahu kalau kali ini aku melakukan pengecualian, aku toh masih bisa merubah kebiasaan jeleknya kan? Aku berharap Tuhan juga tahu kalau aku ingin dia juga melakukan pengecualiaan seandainya dia tak suka cowok medok seperti aku.
Jadi aku duduk di sampingnya, mendengarnya terus memaki Entit, aku bosan! Aku muak! Tapi harus kudengarkan juga. Terpaksa. Kuanggap dekat bersamanya satu paket juga dengan makian dan Entit.
“makanya udah lupain dia, ngapain maki-maki seperti ini...jangan temuin dia lagi”
”tetra gak pernah nemuin dia, dia yang mendekati Tetra”
”ya kalau mendekati lagi, jauhi dong”
”jauhi gimana? Dia datang ke rumah tengah malam, pagi buta...masa Tetra suruh pulang? Kan kasihan”
”ya udah terima kalau begitu, terima dia walau Trala lagi tidur pules ada dia datang, bukakan pintu, dengerin cerita-ceritanya tentang ceweknya...” persis seperti yang kulakukan sekarang, datang hanya untuk mendengar ocehannya tentang Entit. ”jangan salahin aku ya kalau nanti Trala tambah sakit” aku tak bisa mengerem nada sinis dalam suaraku, bodo amat!
”mas gitu sih?”
”lha gimana lagi tho? Trala sendiri yang bilang kasihan sama dia, Trala sendiri sadar sudah dimanfaatin, ya teruskan saja”
”tuh mas gitu...” jancikkk! Dia mau mewek...pliss jangan di depanku pliss...nanti saja kalau aku sudah pulang nangisnya! Pliss...
”aku yo heran? Sudah tahu seperti itu, masih saja berharap, Trala itu punya harga diri gak sih?” oh aku kelepasan...aku sudah keterlaluan! Dimana kesabaranku berada? Dimana rasa empatiku? Dimana? Kenapa jadi seperti ini? Dia pasti menangis kali ini....oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan?
”jadi mas, kalau aku masih dekat dengannya aku tak punya harga diri gitu ya?” lagi-lagi aku salah. Dia malah menatapku dengan tajam, nada suaranya serius. Tapi ini justru lebih berbahaya.
”apalagi itu namanya? Sudah dicampakkan masih mengemis-ngemis...” walah...aku malah makin sinis. Maafkan aku Angel!
”ohhh jadi gitu ya? Jadi gitu pikiran kalian para lelaki...hmmm...anjing!!! monyet tahu gak sih?” dia marah...aku pun tersulut....
”salah sendiri, kalian kaum cewek mau aja dimainin, dimanfaatin...”
”kalian para lelaki ternyata sengaja memainkan kami? Memanfaatkan kami?” dalam otakku yang penuh imajinasi, kami berdiri di Padang Kurusetra, saling menatap tajam penuh kebencian dan kemarahan. Dia berdiri mewakili kaumnya, kaum perempuan dan aku berdiri di kelompok yang akan jadi lawannya, aku mewakili kaumku, kaum lelaki. Semua senjata saling teracung, siap memuntahkan kematian.
”kalian senang dimainin? Senang dimanfaatin?”
”siapa bilang kami senang?”
”apa itu tadi namanya kalau bukan senang, padahal jelas-jelas sudah tahu dimanfaatin, tetap saja gak mau menjauh?”
”kalian yang sengaja membuat kami seperti itu? Kalian sengaja menjerat kami hingga ketika tahu kami sudah dimanfaatin pun kami tak bisa menjauh...Ya ampun, harusnya kalian semua para lelaki belajar hukum, tak bisa tidak ini sudah masuk delik”
”delik?” kenapa tiba-tiba jadi kesana? Aku menatapnya sedikit takjub.
”tindak pidana mas!”
”tindak pidana?”
”Kejahatan mas, kejahatan?”
”hah?”
”hah heh hah heh...kalau delik udah ada unsur kesengajaan, udah jelas ada unsur perencanaan, hukumannya diperberat mas, ibaratnya pembunuhan dihukum 15 tahun, tapi kalau terbukti pembunuhan tersebut dilaksanakan dengan perencanaan, ancaman pidananya jadi 20 tahun mas, bahkan bisa seumur hidup, bahkan bisa hukuman mati!”
Aku makin terperangah, hanya satu kalimat singkat yang bisa kuucapkan padanya...”gemess aku...” sambil kutarik rambut panjangnya. Dia sama terperangahnya sepertiku, mulutnya bergetar, antara mau meneruskan ocehannya atau tidak. Yang terjadi dia malah tersenyum malu.
”hehehe, maaf mas, kayakna otakku pindah ke pengadilan”
”hahahaha....pengacara rekkk...” aku lega, rasanya aku baru mendapat keajaiban, tak kusangka pertengkaran pertama kami bisa mencair dengan begitu mudahnya.
”keluar yuk mas, aku lapar, mas angga udah makan?”
”keluar? Gak malu jalan sama aku?”
”kenapa malu?” dia menatapku dan tangannya sudah bergerak menuju wajahku, aduhhh Angel, mau kau bikin celanaku sempit lagi ya? Kali ini aku menghentikan tangannya, kupegang pergelangan tangannya.
”jelek ya wajahku?” Oh Tuhan, aku lelaki kenapa bisa mellow seperti ini?
”kata siapa? Aku suka...” beneran suka? Ah gombal kamu Angel! Memangnya aku tak tahu wajahku sendiri? Memangnya aku tak paham apa yang ada di otak wanita sepertimu? Aku mulai merasa minder syndrome menyerangku saat itu.
”bohong” ya ampun, aku merasa seperti cowok yang belum di sunat.
”kenapa bisa seperti ini?” kebetulan sekali kau bertanya Angel. Jadi akan kujawab dengan jujur.
”kenapa ya?” terlebih dulu ku gerakkan bibirku ke kiri dan ke kanan. Refleks. Selalu seperti itu. Mudah-mudahan tidak kelihatan kekanak-kanakkan. ”jerawatnya banyak dulu”
”kok sekarang gak ada?”
”ya kukeluarin”
”keluarin apanya? Jerawatnya dipencet gitu?” dia bertanya, wajahnya tak bisa menyembunyikan kengerian.
”hmmm...jerawat muncul karena banyak nahan, setelah gak ditahan dan dikeluarin sembuh, tapi ya jadi gini wajahku”
”aduh gak ngerti tetra mas” harusnya dia mengerti. Tapi baiklah, jangan kaget jika aku vulgar ya Angel.
”horny..lalu...” jari telunjukku yang kiri kumasukkan dalam kepalan tangan kanan, kugerakkan ke atas ke bawah...masa gitu aja gak ngerti sih?
”wow?!” dia masih terperangah...”Oh My God...”
“kenapa sih? Masa masih heran? Cowok kan biasa gitu? Semua cowok pernah melakukannya...”
”Oh Mas Angga...” ahhhh lagi-lagi dia menyebut namaku dengan desahan seperti itu, tangannya sudah menyentuh wajahku dan mengelusnya. Jancikkk jancik!
”kenapa?” aku menggerakkan alisku, menggodanya. Refleks lagi. Selalu seperti itu, susah sekali untuk kuubah.
”Oh Mas Angga...”
”Kenapa sih? Aku kan laki-laki, Trala...benci sama aku?”
”mas, ternyata mas angga udah bisa sendiri....padahal tadinya tetra....”
“kenapa tadinya trala?” lagi-lagi kugerakkan alisku.
”tadinya tetra pikir mas perlu dibantu....” dia menjawabnya sambil tersipu. Cewek yang satu ini paling bisa bikin celana tiba-tiba jadi sempit. Tapi tidak malam ini Teman, aku bukan laki-laki seperti itu, aku pun yakin dia pun tak seperti itu. Dan kali ini aku bersyukur, setan gondrong itu tak datang untuk menggodaku.
”yuk, katanya mau keluar, sudah lapar kan?”
”ok, tunggu ya mas” dia bangkit dan menuju kamar, pasti mau ganti baju, berdandan. Akhirnya aku cukup berharga juga untuk membuatnya berusaha tampil cantik. Bukannya dia tak cantik. Tapi aku selalu merasa special kalau ada cewek mau berdandan buatku. Lagi-lagi aku kecewa, dia hanya mengganti kaosnya, memoles sedikit bedak, dan memakai lipstik tipis. Bahkan dia tak mengganti kolornya. Dia masih cantik. Yang tercantik di mataku. Tapi aku juga ingin dia membuatku merasa special.
Ketika dia keluar dari kamar, kalimat pertama yang diucapkannya adalah:
”mas, katanya tadi setiap cowok pasti gituan ya?”
”gitu apa?”
”ya gitu” dia tampak malu menyebutkan nama ritual laki-laki, dia juga sepertinya tak punya keberanian untuk mempraktekannya lewat tangan seperti yang tadi kulakukan.
”onani maksudnya?” wajahnya merah padam. Indah sekali melihatnya malu-malu seperti itu.
”hu uh...”
”ya semua laki-laki melakukannya”
”wow, berarti SBY? Hidayat Nur Wahid? Yusuf Kalla juga?”
“hahahaha, ketika muda mungkin iya!”
Malam itu kulewati berdua dengan Angel Cry. Tak ada yang istimewa, obrolan biasa. Sekali-kali dia mengeluarkan makian. Sekali-kali dia menyentuh wajahku dan mengusapnya pelan. Sekali-kali aku menggerakkan bibirku ke kiri dan ke kanan. Sekali-kali pula kugerakkan alisku. Oh Tuhan, aku tahu setelah ini akan banyak waktu yang kulalui bersamanya. Aku sungguh berharap dia merasakan apa yang kurasakan. Atau setidaknya dia tahu aku menyukainya. Aku merindukannya setiap saat. Aku jatuh cinta padanya. Aku, seorang Prajurit rendahan jatuh cinta pada seorang Putri, seorang bidadari dari negeri kahyangan. Bisakah aku mengumumkannya pada dunia?
*fitnah atau kenyataan seperti itu bahwa setiap laki-laki melakukannya, ada yang mau klarifikasi?*
Tapi walaupun nanti aku punya nomor Hp-nya rasanya aku tak akan berani menelponnya. Apa nanti yang akan kubilang padanya? Biarlah aku menunggu saja! Dan menunggu itu Teman, bisa membuatmu gendeng se-gendeng-gendengnya. Sialnya, gak ada lagi acara nongkrong-nongkrong di jalan bersama anak-anak Majak. Yang aku tahu anak-anak Majak tidak lagi nongkrong di jalanan, tapi sudah masuk cafe baru yang ada di Malang, executif flame...dan aku tak punya semangat untuk mendengar musik dugem diputer kencang-kencang dengan manusia-manusia teler. Ohhh sekali lagi TIDAK! THANK YOU VERY MUCH! Padahal mungkin itu satu-satunya jalan untuk bertemu dengannya lagi. Ah mungkin aku seharusnya main saja ke rumahnya. Tapi untuk alasan apa? Kangen? Ahhh dia bisa menertawakanku habis-habisan. Tepat di saat penantianku itu, sebuah kabar kuterima dari sebrang pulau. Aku harus pulang ke Madura.
Teman, sungguh aku ingin sekali bercerita tentang perjalananku itu. Tapi aku tak berani, biarlah ini menjadi rahasia hidupku. Satu-satunya orang yang akan kubagi cerita sedihku hanyalah seorang wanita pujaan yang akan jadi istriku kelak. Kalau nasib pada akhirnya menjodohkan aku bersanding dengan si Angel Cry di pelaminan, mungkin kalian akan bisa menyimak kisahku. Jadi tolong berdo’a untukku, agar dia menjadi wanita yang terbaik dan terakhir dalam hidupku. Biar bisa kuceritakan kisah hidupku selengkapnya untukmu Teman.
Akhirnya aku kembali ke Malang tiga minggu kemudian. Masih membawa beban dari rumah. Masih senewen, frustasi, stress, depresi, apalah namanya yang pasti keadaanku sedang sangat memprihatinkan. Aku bekerja di bengkel sampai badanku lengket dengan oli, padahal aku bisa saja hanya duduk-duduk menghadapi meja dan komputer, mengatur ini itu, memerintah kesana-kemari. Tapi pikiranku sedang kacau Teman, dan aku tak mau jadi gendeng beneran, maka kusibukkan diriku. Bayangan Angel Cry hanya sekilas-sekilas saja hinggap di otakku. Selebihnya kosong, cape, lelah.
Sampai suatu sore. Sebuah nomor esia malang masuk ke hp-ku. Aku tak menyangka bisa mendengar suaranya lagi.
”hallo, ini Red bukan?”
”iya betul, ini siapa ya?” pura-pura teman, padahal sebenarnya hatiku seperti tersiram es, sejuk rasanya mendengar suaranya.
”Tetra mas, lupa ya?”
”ohhh tetra...apa kabar?”
”baik mas, mas red kemana aja sih? Kok jarang keliatan?” ada rasa kecewa ketika dia menyebutku dengan Red, bukankah dia sudah tahu namaku, bukankah dia memanggilku dengan Mas Angga...dengan desahannya...ah Angel, kau sudah lupa padaku rupanya?
”aku habis pulang kemaren”
”pulang kemana?”
”ke Madura, aku kan asalnya dari sana”
”ohhh tetra pikir mas angga asli Malang” ah akhirnya Mas Angga keluar juga dari mulutnya.
”trala apa kabar?” aku sudah tak sabar ingin memanggilnya dengan nama itu, tapi takut dia lupa, tadi kan dia belum memanggilku dengan panggilan kesayangannya itu.
”ih nanya kabar lagi, tadi kan udah mas”
”oh udah yah? Hehehe...” sungguh tolol kamu Red.
“Mas Angga gak kangen sama tetra?” aduh, kangen banget sampai rasanya mau pergi sendiri aja ke Rumah Sakit Seger Waras, gak nunggu dijemput ambulan.
“trala sendiri kangen gak sama aku?”
”kangen dong, makanya aku telpon” ahhh sungguh gendeng cewek yang satu ini. Aku bisa mati berdiri dibuatnya nih.
”kirain lupa”
”ih mas angga tuh yang lupa, mas angga gak main ke rumah tetra?” harusnya semua cewek seperti ini Teman, harusnya semua cewek kalau menghadapi cowok cupu, kurang PD, dan buruk rupa seperti aku punya inisiatif seperti ini. Kamu setuju bukan?
”emang boleh? Nanti ada Entit? Nanti ada ketua?”
”ihhh gak usah nyebut-nyebut mereka deh”
”beneran nih aku boleh main?”
”mas angga tadi kan aku yang nanya, ya pasti boleh dong...”
”tapi Entit...”
”ehhh awas kalau di depan Tetra jangan nyebut namanya” nah itulah alasannya Teman, kenapa di cerita ini aku menamainya Entit, karena kalau menyebut namanya di depan Angel Cry aku harus melakukan sensor...Titttttt...jadilah dia kupanggil Entit.
Sebenarnya aku ingin pura-pura sibuk dulu. Tapi aku sudah tak sabar bertemu dengannya lagi. Jadi kubilang padanya, malam ini aku akan main ke rumahnya. Dengan cepat aku memberi perintah kesana-kemari. Para pegawaiku sempat heran, tapi kemudian mulai usil kurang ajar.
”walah rek, malam minggu, kencun...kencun...si boss”
Aku cuma nyengir. aku bahkan baru sadar kalau itu malam minggu. Hmmm, ada apa nih? Tak salah dong kalau aku mengharap satu kecupan....hahahaha...dasar cowok!
Rasanya aku mandi lama sekali. Bahkan seperti cewek aku bingung mau pakai baju apa. Baru ketika aku menatap cermin, aku sadar betapa tololnya aku, jangan-jangan dalam pikiran gendengku aku berniat pakai bedak dan lipstik. Gendeng...gendeng....
Jam 7 malam aku yang sudah rapi sudah ada di rumahnya, aku kembali merasa sangat tolol ketika dia hanya memakai kolor dan kaos sekedarnya. Kembali rasa minder menyeruak dalam jiwaku. Oh sialnya ternyata dia hanya ingin memuntahkan sejuta makian buat Entit. Malangnya nasibku ibu.
”anjing banget dia mas, masa tetra cuma dimanfaatin aja sama dia? Dimanfaatin biar dia bisa melupakan ceweknya, gak ngerti deh apa sih yang ada dalam pikiran cowok macam dia?” aku terkejut mendengar makiannya, akhirnya sampai juga aku pada saat dimana aku terpaksa tahu keburukannya, dan only God knows aku sangat tidak suka cewek yang senang mengeluarkan sumpah serapah, gak ilok...jelekkk...jelekkk sekali! Tapi hanya Tuhan juga yang tahu kalau kali ini aku melakukan pengecualian, aku toh masih bisa merubah kebiasaan jeleknya kan? Aku berharap Tuhan juga tahu kalau aku ingin dia juga melakukan pengecualiaan seandainya dia tak suka cowok medok seperti aku.
Jadi aku duduk di sampingnya, mendengarnya terus memaki Entit, aku bosan! Aku muak! Tapi harus kudengarkan juga. Terpaksa. Kuanggap dekat bersamanya satu paket juga dengan makian dan Entit.
“makanya udah lupain dia, ngapain maki-maki seperti ini...jangan temuin dia lagi”
”tetra gak pernah nemuin dia, dia yang mendekati Tetra”
”ya kalau mendekati lagi, jauhi dong”
”jauhi gimana? Dia datang ke rumah tengah malam, pagi buta...masa Tetra suruh pulang? Kan kasihan”
”ya udah terima kalau begitu, terima dia walau Trala lagi tidur pules ada dia datang, bukakan pintu, dengerin cerita-ceritanya tentang ceweknya...” persis seperti yang kulakukan sekarang, datang hanya untuk mendengar ocehannya tentang Entit. ”jangan salahin aku ya kalau nanti Trala tambah sakit” aku tak bisa mengerem nada sinis dalam suaraku, bodo amat!
”mas gitu sih?”
”lha gimana lagi tho? Trala sendiri yang bilang kasihan sama dia, Trala sendiri sadar sudah dimanfaatin, ya teruskan saja”
”tuh mas gitu...” jancikkk! Dia mau mewek...pliss jangan di depanku pliss...nanti saja kalau aku sudah pulang nangisnya! Pliss...
”aku yo heran? Sudah tahu seperti itu, masih saja berharap, Trala itu punya harga diri gak sih?” oh aku kelepasan...aku sudah keterlaluan! Dimana kesabaranku berada? Dimana rasa empatiku? Dimana? Kenapa jadi seperti ini? Dia pasti menangis kali ini....oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan?
”jadi mas, kalau aku masih dekat dengannya aku tak punya harga diri gitu ya?” lagi-lagi aku salah. Dia malah menatapku dengan tajam, nada suaranya serius. Tapi ini justru lebih berbahaya.
”apalagi itu namanya? Sudah dicampakkan masih mengemis-ngemis...” walah...aku malah makin sinis. Maafkan aku Angel!
”ohhh jadi gitu ya? Jadi gitu pikiran kalian para lelaki...hmmm...anjing!!! monyet tahu gak sih?” dia marah...aku pun tersulut....
”salah sendiri, kalian kaum cewek mau aja dimainin, dimanfaatin...”
”kalian para lelaki ternyata sengaja memainkan kami? Memanfaatkan kami?” dalam otakku yang penuh imajinasi, kami berdiri di Padang Kurusetra, saling menatap tajam penuh kebencian dan kemarahan. Dia berdiri mewakili kaumnya, kaum perempuan dan aku berdiri di kelompok yang akan jadi lawannya, aku mewakili kaumku, kaum lelaki. Semua senjata saling teracung, siap memuntahkan kematian.
”kalian senang dimainin? Senang dimanfaatin?”
”siapa bilang kami senang?”
”apa itu tadi namanya kalau bukan senang, padahal jelas-jelas sudah tahu dimanfaatin, tetap saja gak mau menjauh?”
”kalian yang sengaja membuat kami seperti itu? Kalian sengaja menjerat kami hingga ketika tahu kami sudah dimanfaatin pun kami tak bisa menjauh...Ya ampun, harusnya kalian semua para lelaki belajar hukum, tak bisa tidak ini sudah masuk delik”
”delik?” kenapa tiba-tiba jadi kesana? Aku menatapnya sedikit takjub.
”tindak pidana mas!”
”tindak pidana?”
”Kejahatan mas, kejahatan?”
”hah?”
”hah heh hah heh...kalau delik udah ada unsur kesengajaan, udah jelas ada unsur perencanaan, hukumannya diperberat mas, ibaratnya pembunuhan dihukum 15 tahun, tapi kalau terbukti pembunuhan tersebut dilaksanakan dengan perencanaan, ancaman pidananya jadi 20 tahun mas, bahkan bisa seumur hidup, bahkan bisa hukuman mati!”
Aku makin terperangah, hanya satu kalimat singkat yang bisa kuucapkan padanya...”gemess aku...” sambil kutarik rambut panjangnya. Dia sama terperangahnya sepertiku, mulutnya bergetar, antara mau meneruskan ocehannya atau tidak. Yang terjadi dia malah tersenyum malu.
”hehehe, maaf mas, kayakna otakku pindah ke pengadilan”
”hahahaha....pengacara rekkk...” aku lega, rasanya aku baru mendapat keajaiban, tak kusangka pertengkaran pertama kami bisa mencair dengan begitu mudahnya.
”keluar yuk mas, aku lapar, mas angga udah makan?”
”keluar? Gak malu jalan sama aku?”
”kenapa malu?” dia menatapku dan tangannya sudah bergerak menuju wajahku, aduhhh Angel, mau kau bikin celanaku sempit lagi ya? Kali ini aku menghentikan tangannya, kupegang pergelangan tangannya.
”jelek ya wajahku?” Oh Tuhan, aku lelaki kenapa bisa mellow seperti ini?
”kata siapa? Aku suka...” beneran suka? Ah gombal kamu Angel! Memangnya aku tak tahu wajahku sendiri? Memangnya aku tak paham apa yang ada di otak wanita sepertimu? Aku mulai merasa minder syndrome menyerangku saat itu.
”bohong” ya ampun, aku merasa seperti cowok yang belum di sunat.
”kenapa bisa seperti ini?” kebetulan sekali kau bertanya Angel. Jadi akan kujawab dengan jujur.
”kenapa ya?” terlebih dulu ku gerakkan bibirku ke kiri dan ke kanan. Refleks. Selalu seperti itu. Mudah-mudahan tidak kelihatan kekanak-kanakkan. ”jerawatnya banyak dulu”
”kok sekarang gak ada?”
”ya kukeluarin”
”keluarin apanya? Jerawatnya dipencet gitu?” dia bertanya, wajahnya tak bisa menyembunyikan kengerian.
”hmmm...jerawat muncul karena banyak nahan, setelah gak ditahan dan dikeluarin sembuh, tapi ya jadi gini wajahku”
”aduh gak ngerti tetra mas” harusnya dia mengerti. Tapi baiklah, jangan kaget jika aku vulgar ya Angel.
”horny..lalu...” jari telunjukku yang kiri kumasukkan dalam kepalan tangan kanan, kugerakkan ke atas ke bawah...masa gitu aja gak ngerti sih?
”wow?!” dia masih terperangah...”Oh My God...”
“kenapa sih? Masa masih heran? Cowok kan biasa gitu? Semua cowok pernah melakukannya...”
”Oh Mas Angga...” ahhhh lagi-lagi dia menyebut namaku dengan desahan seperti itu, tangannya sudah menyentuh wajahku dan mengelusnya. Jancikkk jancik!
”kenapa?” aku menggerakkan alisku, menggodanya. Refleks lagi. Selalu seperti itu, susah sekali untuk kuubah.
”Oh Mas Angga...”
”Kenapa sih? Aku kan laki-laki, Trala...benci sama aku?”
”mas, ternyata mas angga udah bisa sendiri....padahal tadinya tetra....”
“kenapa tadinya trala?” lagi-lagi kugerakkan alisku.
”tadinya tetra pikir mas perlu dibantu....” dia menjawabnya sambil tersipu. Cewek yang satu ini paling bisa bikin celana tiba-tiba jadi sempit. Tapi tidak malam ini Teman, aku bukan laki-laki seperti itu, aku pun yakin dia pun tak seperti itu. Dan kali ini aku bersyukur, setan gondrong itu tak datang untuk menggodaku.
”yuk, katanya mau keluar, sudah lapar kan?”
”ok, tunggu ya mas” dia bangkit dan menuju kamar, pasti mau ganti baju, berdandan. Akhirnya aku cukup berharga juga untuk membuatnya berusaha tampil cantik. Bukannya dia tak cantik. Tapi aku selalu merasa special kalau ada cewek mau berdandan buatku. Lagi-lagi aku kecewa, dia hanya mengganti kaosnya, memoles sedikit bedak, dan memakai lipstik tipis. Bahkan dia tak mengganti kolornya. Dia masih cantik. Yang tercantik di mataku. Tapi aku juga ingin dia membuatku merasa special.
Ketika dia keluar dari kamar, kalimat pertama yang diucapkannya adalah:
”mas, katanya tadi setiap cowok pasti gituan ya?”
”gitu apa?”
”ya gitu” dia tampak malu menyebutkan nama ritual laki-laki, dia juga sepertinya tak punya keberanian untuk mempraktekannya lewat tangan seperti yang tadi kulakukan.
”onani maksudnya?” wajahnya merah padam. Indah sekali melihatnya malu-malu seperti itu.
”hu uh...”
”ya semua laki-laki melakukannya”
”wow, berarti SBY? Hidayat Nur Wahid? Yusuf Kalla juga?”
“hahahaha, ketika muda mungkin iya!”
Malam itu kulewati berdua dengan Angel Cry. Tak ada yang istimewa, obrolan biasa. Sekali-kali dia mengeluarkan makian. Sekali-kali dia menyentuh wajahku dan mengusapnya pelan. Sekali-kali aku menggerakkan bibirku ke kiri dan ke kanan. Sekali-kali pula kugerakkan alisku. Oh Tuhan, aku tahu setelah ini akan banyak waktu yang kulalui bersamanya. Aku sungguh berharap dia merasakan apa yang kurasakan. Atau setidaknya dia tahu aku menyukainya. Aku merindukannya setiap saat. Aku jatuh cinta padanya. Aku, seorang Prajurit rendahan jatuh cinta pada seorang Putri, seorang bidadari dari negeri kahyangan. Bisakah aku mengumumkannya pada dunia?
*fitnah atau kenyataan seperti itu bahwa setiap laki-laki melakukannya, ada yang mau klarifikasi?*

