Jumat, 31 Juli 2009

AIDIL FITRI


Aidil Fitri: batas waktu-ku dalam kefanaan...:)

Selamat Menjemput Rhamadan Teman :)

Selasa, 14 Juli 2009

RED CHRONICLE; YOU MAKE ME FEEL INDIFFERENT LOVE

TRACK 7

Malam itu kulewati berdua dengan Angel Cry. Tak ada yang istimewa, obrolan biasa. Sekali-kali dia mengeluarkan makian. Sekali-kali dia menyentuh wajahku dan mengusapnya pelan. Sekali-kali aku menggerakkan bibirku ke kiri dan ke kanan. Sekali-kali pula kugerakkan alisku. Oh Tuhan, aku tahu setelah ini akan banyak waktu yang kulalui bersamanya. Aku sungguh berharap dia merasakan apa yang kurasakan. Atau setidaknya dia tahu aku menyukainya. Aku merindukannya setiap saat. Aku jatuh cinta padanya. Aku, seorang Prajurit rendahan jatuh cinta pada seorang Putri, seorang bidadari dari negeri kahyangan. Bisakah aku mengumumkannya pada dunia? Rata Penuh
Sebulan, dua bulan, tiga bulan...waktu berlalu amat cepat bila bersamanya. Tapi belum juga ada yang terjadi antara aku dan dia. Belum juga dia mengerti. Padahal aku sudah sering bersamanya. Menemaninya. Berusaha membahagiakannya lebih dari siapapun di dunia ini. Oke, kalian yang membacanya pasti sudah tergoda untuk berlari menuju toilet dan muntah-muntah. Baiklah akan kuceritakan pada kalian yang sebenarnya.

Aku, Red Wine yang seharusnya membuatnya mabuk kepayang, malah dibuat mabuk semabuk-mabuknya oleh Angel Cry. Setiap saat ketika bersamanya yang kulakukan hanyalah mendengarkannya menceritakan Entit begini, Entit begitu. Di atas kegetiranku aku melihatnya pelan-pelan terbang, jauh membubung ke angkasa, dan aku memandangnya dengan perasaan remuk redam (oh, kalian boleh membayangkannya seperti adegan di Video Klip Hijau Daun yang Cobalah itu).

Seringkali, ketika nongkrong bersama anak-anak Majak, aku hanya bengong menontonnya sedang bercanda dengan Entit. Sekali-kali dengan ketua. Aku bisa saja bergabung dengannya. Tapi aku tahu kedudukanku. Aku hanyalah tempat sampah. Hanya dibutuhkan ketika ada kotoran yang ingin dibuang dari hatinya. Tapi, kalian para lelaki yang pernah merasakan minder syndrome pasti mengerti jika akhirnya kukatakan, tak apalah menjadi tempat sampahnya, asalkan sekali-kali aku bisa bersamanya, asalkan sekali-kali aku bisa memandang wajahnya dari dekat, bisa mendengar tawanya, bisa mengelus rambutnya, dan yang paling membuatku bertahan adalah usapannya di wajahku. Ah sudah cukup membuatku bisa hidup seribu tahun lamanya.

Aduh, kalian para lelaki pasti membenciku, cengeng! Begitu kalian memakiku. Sebagian dari kalian meludahiku sambil berteriak, Mau-maunya diperbudak oleh perempuan! Ah cobalah mengerti Teman, cobalah mengerti!

Di dunia ini memangnya apa yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta? Cinta yang terhalang status kaya atau miskin? Cinta yang terhalang oleh kematian? Atau cinta yang ditentang oleh dunia? Oh bukan! Sama sekali bukan itu. Yang paling menyakitkan dari sebuah kisah cinta adalah cinta yang indifferent teman, indifferent. Tengoklah kamus, disana kalian akan menemukan, indifferent berarti tak diacuhkan, tak dipedulikan, yeah cinta yang paling menyakitkan adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi, hey setiap aku bisa menghirup wangi tubuhnya, setiap eluasannya di wajahku, setiap tatapan sayunya yang seolah-olah meminta perlindungan, saat-saat itu aku tak pernah berhenti berharap, semua hal yang dia lakukan padaku seperti chas pada baterei yang hampir mati. Jadi tolong, jangan menghakimiku, biarkan sejenak saja aku menikmati bunga-bunga bermekaran di hatiku.

Cuihhhh, ah kalian meludahiku lagi. Kalian bilang, banci kamu Red! Whatever lah...memangnya kalian tak pernah jatuh cinta heh? Pernah! Tapi tak semenyedihkan itu. Oh, tentu saja itu karena kalian beruntung, punya wajah yang mulus, punya tubuh tinggi, belum lagi dukungan kekayaan orang tua kalian. Huh...yang banci itu kalian. Lihat aku, usiaku 23 tahun, dan aku sudah punya 2 bengkel yang kubangun dengan tanganku sendiri. Sebuah rumah sedang kubangun, satu showroom mobil sedang kujajaki untuk kubangun di tempat paling strategis di Kota Malang. Padahal, tengoklah kehidupan orang tuaku di Madura. Mereka miskin. Kuhidupi keduanya dengan setulus hatiku. Walau salah satu dari mereka...Ah sudahlah tak perlu kuceritakan, biar nanti saja Teman. Nanti. Suatu saat aku pasti bercerita pada kalian.

Hahahaha, aku sedang berdiri di depan cermin, menatap wajahku, dan mengumandangkan kalimat-kalimat itu dalam otak dan hatiku. Malam ini aku akan menemuinya. Setiap kali menemuinya selalu ada momen termehek-mehek seperti tadi dimana aku sekuat tenaga mengenyahkan Minder Syndrome dari hatiku, dengan mengumandangkan segala jenis pembelaan yang kupunya. Memang menyedihkan, tapi jika ada di antara kalian yang bisa memberiku tips menghilangkan minder syndrome itu, pliss tolong email aku ya!

Aku menemuinya tentu saja bukan untuk menyatakan isi hatiku. Bukan. Belum saatnya. Baru 3 bulan. Biarlah nanti saja, pasti ada waktu yang tepat. Ini hanya malam biasa. Minggu ketiga dari bulan ini. Huh pasti dia tidak sedang kencan dengan Ketua ataupun Entit. Aku memang hanya pilihan terakhir. Pilihan terakhir tapi yang paling berusaha untuk membuatnya bahagia. Andai dia bisa merasakan usahaku.

Hah...rupanya aku salah Teman, ini bukan malam yang biasa. Tapi malam yang paling sulit. Ah bukan malam dimana aku berjalan dengannya kemudian muncul Entit atau ketua dan mereka memergoki kami sedang berciuman. Hahaha, sungguh aku sering berkhayal seperti itu. Jika saat itu terjadi, aku akan langsung tertawa lebar dan berteriak pada mereka, akulah yang menjadi pemenangnya. Red, Red si cupu yang mempunyai minder syndrome stadium 4 tapi di luar terlihat paling percaya diri, lihat seorang bidadari sedang kucium mesra. Hahahaha...stop Red, stop sampai sana...kamu bisa makin gendeng jika masih maksa meneruskan imajinasi yang ngawur itu.

Di Malang, ada sebuah jalan dimana ketika malam tiba, jalan itu akan ramai dikunjungi orang-orang untuk melepas penat atau saling bercanda, atau hanya untuk membeli jagung bakar ataupun roti bakar. Ada di simpang wilis. Nah kesanalah kami berangkat. Kupikir aku akan melewati malam yang cerah, karena itu kan tempat umum, gak mungkin dongs ada sesi termehek-mehek. Ah aku jadi bersemangat.

Lagi-lagi aku salah. Dia hanya pesan roti bakar, membeli sebotol air mineral, dan melanjutkan perjalanan ke sebuah jalan yang sepi. Aku diminta berhenti disana. Dia menatapku dengan tatapan sayu yang kukenal. Aku nyengir juga ketika membayangkan adegan mobil bergoyang. Hihihi, mudah-mudahan kuntilanak gak datang mengganggu. Semoga setan gondrong yang datang menggoda kami. Dan inilah akhirnya rahasia kelam Angel Cry tersingkap di hadapanku...

”mas, ada yang ingin tetra ceritakan”
“cerita saja, aku selalu mendengarkan” ah ternyata si Entit lagi.

“aku pernah bertunangan....” oh bukan si Entit? Tapi coba ulangi, dia mengatakan pernah bertunangan, apa itu artinya dia sudah bertunangan? Apa artinya sebentar lagi aku harus menghadiri resepsi perkawinannya? Oh Tuhan, plis jangan secepat itu, plis...

“kenapa...kenapa? Trala pernah bertunangan? Trala mau menikah?” tak peduli jika dia bisa mendengar ada nada was-was dalam suaraku, aku tak berusaha menyembunyikannya.
”hahaha, nggak mas...” dia tertawa getir, ingin rasanya mengulurkan tangan dan memeluknya. ”dulu tetra pernah bertunangan, kami dijodohkan”
”kok mau? Zaman sekarang dijodohkan?” kalian juga pasti heran kan?

”ceritanya panjang, intinya setiap orang tua selalu was-was jika anak mereka keluar masuk rumah dan membawa berbagai macam lelaki atau perempuan yang berbeda, belum lagi kalau anak lelaki mereka kerap kali dikunjungi perempuan yang minta tanggung jawab, atau anak perempuan mereka digosipkan suka mempermainkan laki-laki dan berakhir dengan...”

”sorry Trala aku gak ngerti...” bukan! Aku bukannya tak mengerti, aku takut mendengarnya, kedengarannya seperti dia pernah hamil terus aborsi atau semacam itu. Sekali itu aku merasa lebih baik dibohongi. ”kenapa dengan anak perempuannya? Dia hamil? Aborsi?”

”apa sih?” dia melotot, memukul tanganku dengan keras, cukup sakit hingga membuatku meringis. ”apa aku kelihatan seperti seorang ibu tanpa suami?” sejujurnya memang seperti itu.
”bukan, hanya saja...”

”makanya dengerin dulu dongs, jangan main potong aja”
”oke” aku diam, pelan-pelan aku berusaha menarik nafas, bersiap-siap mendengar pengakuannya yang sesungguhnya tak ingin kudengar.
”anak perempuan yang suka mempermainkan lelaki itu digosipkan dekat dengan seorang janda kembang...”

”gimana gimana? Anak perempuan itu semacam punya musuh seorang perempuan yang kemudian jadi janda kembang gitu? Anak perempuan itu menggoda suaminya?” dia tampak kesal, dan menarik nafas dengan berat.
”mas! Bukan dengan suaminya, tapi dengan istrinya, dengan si janda kembang itu...”
”aduh mumet aku...”

”ah...affair si anak perempuan itu terjadi dengan si janda kembangnya, tapi itu terjadi setelah si janda kembang bercerai dengan suaminya, jadi si anak perempuan itu gak jadi semacam perusak rumah tangga orang...” aduh affair apaan sih? Kalian mengerti Teman? Affair antara seorang perempuan dengan perempuan? Semacam arisan? Shoping barangkali? Ah mungkin ke salon bareng, itu pasti maksudnya. Ya kan Teman? Tapi jangan-jangan....Oh Tuhan, tidak!

”kamu lesbi ya?” aku tidak lagi memanggilnya dengan Trala, aku shock, ngeri.
”monyet sih yah pikirannya?” oh itu artinya bukan kan Angel? Aku masih terus berharap.
”terus apa dongs?”

”ah lupakan janda kembang dan si anak perempuan itu, intinya ada sepasang perempuan dan laki-laki dijodohkan oleh kedua orang tua mereka karena kenakalannya”
”gak bisa, kamu harus menjelaskan dulu si janda kembang itu”
”apa sih jadi kamu-kamu gitu?” aduh dia tahu juga akhirnya.
”eh maksudnya Trala” aku menelan ludah dengan susah payah.
”gak mau ah, mas nya gitu sih”
”plis tolong, ceritakan semuanya padaku” mudah-mudahan cukup sekali saja aku memohon padanya.

”Mas Angga inget gak ketika Tetra cerita tentang tetra yang dicari polisi karena mukul orang?” ah dia memang preman. Kecil sih, tapi garangnya bukan main.
”iya inget, katanya dia menghina Trala kan?”
”tahu apa yang dia bilang tentang Tetra?”
”belum, Trala belum cerita”
”dia bilang, Tetra frigid gak suka laki, sukanya sama perempuan macam janda kembang itu, mungkin karena waktu tetra berteman sama dia, tetra gak dekat sama laki-laki, apalagi tetra selalu kelihatan mesra sama setiap orang, mau laki, mau perempuan...”

”berarti itu fitnah gitu ya?”
“YUPS! Mas angga tahu sendiri tetra masih suka sama lelaki...” ah leganya, tapi kalimat berikutnya yang dia katakan membuatku kembali mumet.” Buktinya Tetra suka banget sama Entit, Mas Angga tahu banget kan?”
”iya” aku mengangguk dengan sebal.

”jadi tetra dijodohkan karena kenakalan tetra dan lelaki yang dipilih orang tua tetra sama nakalnya sama tetra”
”terus? Kalian kan bisa menolaknya, Trala masih bisa menjelaskan pada orang tua Trala”
”ah Mas Angga gak tahu sih, bertahun-tahun hubungan Tetra sama Mami itu gak seperti ibu dan anak, kami seperti musuh yang saling melengkapi...seperti Batman sama Joker...she’s complete my life”
”hahaha, gak lucu sama sekali. Masa ibu dibilang musuh? Trala ingat dongs ibu itu yang mengandung Trala, melahirkan Trala ke dunia. Kalau gak ada ibu, mana mungkin Trala bersamaku sekarang”

”ya itu dia makanya, karena Tetra sama dia sama-sama sadar bahwa mereka para orang tua itu harus dibahagiakan karena jasa-jasanya itu, karena itulah tetra menerima perjodohan itu, dan dia pun sama...” wuih, sinetron banget! Menerima perjodohan karena terpaksa ingin membahagiakan orang tua. Oh Datuk Maringgih, coba kau tahu ada cerita macam ini di zaman blackberry seperti sekarang. Ah Siti Nurbaya, kamu tak sendiri ternyata.

”terus sekarang kalian masih tunangan?”
”nggak. Sudah putus tahun lalu” aku malas bertanya sebenarnya, tapi biarlah aku bertanya. Bukan karena aku penasaran, hanya saja kalian pasti penasaran kan Teman?
”kenapa?”

”awalnya kita seperti musuh, tetra seperti mendapat lawan seimbang, dia juga, bayangkan seekor playgirl bertemu seekor playboy...sangat langka sekali, tapi di hadapan orang tua kita pura-pura saling suka” oh sinetron lagi! Aku tak percaya. Kalian juga tak percaya kan?
”terus akhirnya kalian saling suka gitu?”

”ya!” huh sudah dapat ditebak. ”mau gimana lagi? Kita cukup sering berinteraksi, dia datang ketika sahabat Tetra yang paling dekat yang ternyata tetra suka malah nikah dengan cewek lain, padahal sebelumnya dia sempat bilang dia suka tetra, tapi tetra tolak...” salahmu, kenapa ditolak?

”hmmm...”
”dia datang ketika tetra lagi merasa sangat menyesal telah menyia-nyiakan seorang laki-laki yang tetra suka” oh, dia pasti seorang Pangeran yang datang dengan kuda putih, dia datang untuk menyembuhkan sayap-sayap bidadari yang patah. Huh...dasar perempuan!

”Tetra menyebutnya Pangeran...” hahaha tuh kan? Sangat mudah ditebak. ”bayangkan mas, waktu lumpur sidoarjo baru menyembur, jalan surabaya malang kan terganggu, dia tetap selalu datang untuk Tetra” dia datang dengan membawa seikat bunga, sambil tersenyum mesra. Cuihhh, aku muak membayangkannya.

”dia memang orang mana? Surabaya?”
”bukan, dia orang Jakarta, biasanya dia naik pesawat ke Surabaya, terus baru lanjut ke Malang lewat jalan darat” wuih bukan main Pangeran yang satu ini. Ternyata ada juga lelaki yang lebih bodoh dari aku yang mau menempuh perjalanan dari ujung pulau jawa ke ujung pulau jawa lainnya, hanya untuk bertemu dengannya. Apa sih istimewanya si Angel Cry ini?

”terus kenapa bisa putus? Kan akhirnya Trala suka juga sama dia kan?”
”ya, Tetra akhirnya memang suka sama dia, dan bodohnya, tetra suka sama dia setelah dia mengambil sesuatu dari Tetra...” Oh Tuhan. Pangeran itu mengambil apa dari bidadari? Gak mungkin mengambil dompetnya kan? Tidak! Aku tidak ingin tahu. Tapi kalian mengerti kan apa itu artinya? Aku tak tega menulisnya. Sungguh. Tolong jangan paksa aku menulis kalimat itu. Tolong jangan tanya aku. Tolong mengerti sendiri apa yang Pangeran bajingan itu ambil dari bidadari.

Dia mulai tersedu, dia menangis, ini pertama kalinya dia menangis, biasanya dia cuma mencaci maki, tak pernah sampai sesakit ini, tak pernah dia sampai menangis terisak-isak. Anehnya, aku sama sekali tidak bersimpati padanya. Aku benci. Benci bukan main. Aku muak. Ingin rasanya kuludahi dia. Ingin kuinjak-injak dia dengan kakiku. Ingin kucekik dia sampai mati. Tak sadar tanganku memegang setir dengan tegang. Kalau saja dia bisa melihat mataku. Pasti dia akan melihat kobaran api di dalamnya.

Bidadariku...dia tega menghancurkan mimpi-mimpiku tentang dia. Dia tega tak menjaga dirinya untuk aku (lho memang aku siapanya dia?). Dia tega membuatku jatuh cinta padahal dia...ah, bagiku dia tak layak untuk dicintai. Wanita seperti itu, ya Tuhan....Sang Maha pembolak-balik hati...beberapa jam lalu Kau buat dia jadi wanita yang kucintai setengah mati, sekarang, Kau buat aku membencinya hingga ingin sekali kubunuh dia.

”Tetra terpaksa harus suka sama dia, Tetra benci sama dia sekaligus mencintainya, tapi dia...dia juga bilang dia suka sama Tetra, tetra tak pernah bilang kalau Tetra juga mencintainya, tetra malu...malu karena mencintainya, malu karena yang Tetra rindukan dari dirinya adalah sentuhannya, rayuannya...” Dia pasti berharap aku akan bersimpati padanya. Tidak! Aku makin membencinya.

”bersama dia Tetra merasa jadi wanita paling cantik, paling sexy” kamu memang cantik, kamu sexy, kenapa kamu menyadarinya justru setelah kamu diperas habis-habisan oleh dia.
”dia bilang I Love You, tapi dia tak pernah menyembunyikan hubungannya dengan wanita lain...hubungan singkat memang, kebanyakan short time, tapi mas angga ngerti sakitnya gimana mencintai orang yang sama sekali gak bisa menghargai perasaan kita?” oh tentu saja aku mengerti Angel, mengerti sekali, sama seperti yang kau lakukan sekarang padaku.

”Trala sih gak bilang kalau Trala juga cinta sama dia, mungkin dia cuma ingin Trala cemburu aja” hahaha, komentar yang sinis, tapi masih bernada menghibur.
”iya mungkin, tapi itu sudah berlalu mas, Trala udah lepas dari dia, dan mas angga gak tahu kan siapa yang membuat Trala terlepas dari Pangeran?” ya, aku ingin tahu siapa dia? Seorang satria dengan kuda hitam, pedang panjang? Huh...

”seorang prajurit mas...” oh cuma seorang prajurit? Hahaha...picisan...kisah picisan. ”Prajurit itu namanya Rahmat Illahi” jancikkk! Kalian pasti heran apa di dunia ini ada Nama yang melambungkan do’a sedahsyat itu? Percaya padaku, nama itu ada. Sayangnya do’a dari nama itu tak pernah terkabul. Di dunia nyata dia dipanggil Aat, di kisah ini kalian mengenalnya sebagai Entit.

”mas angga...” aku bergidik mendengarnya memanggilku seperti itu, bukan seperti apa yang kurasakan ketika pertama kali dia memanggilku, yeah dulu mungkin aku langsung turgor, sekarang aku langsung impoten!

”yah...”
”mas angga, shock banget ya?” dia bertanya sambil tersenyum geli.
”hmmm...” aku membalasnya dengan senyum miris. ”kenapa Trala menceritakannya padaku?”

”Tetra pikir Mas Angga harus tahu karena Mas sekarang dekat dengan Tetra...” dia memandangku dengan sorot mata dan senyum misterius. Mungkin aku berhalusinasi, tapi dari mata dan senyumnya itu, aku bisa melihat beberapa kalimat melayang di udara. Oh Tuhan, dia sudah tahu aku menyukainya, dia berusaha menghentikan aku. Dia berusaha melindungiku agar tak sampai jatuh cinta padanya karena kisah Pangeran Bajingan itu. Tapi kalian tahu bukan? Itu sudah sangat terlambat, aku sudah terlanjur jatuh cinta, walau sekarang aku mulai ragu bahkan berpikir membencinya setengah mati.

”Trala, apa semua itu benar?”
”apanya yang benar mas?”
”kisah itu?”
”hahaha...ya sudah lupakan saja, gak usah dipikirin, gak usah dibikin pusing, pulang aja yuk...”

Ah aku memang plin-plan, sekarang malah aku gak yakin apa benar aku membencinya. Ingin rasanya meminta dia untuk mengusap wajahku seperti biasa, untuk membuktikannya.

”sini, biar Tetra aja yang nyetir, mas pindah kesini”
Aku pasti kelihatan tolol sekali sampai dia tahu aku tak bisa membawa Wine dengan kecepatan di bawah 80 Km/Perjam.
”gak apa-apa, biar aku saja” aku berusaha menolak.
”mas angga...” dia mengucapkannya sambil menatap mataku dengan pandangan memaksa.
”oke...” akhirnya aku mengalah.

”maafkan Tetra ya mas...” dia mengucapkannya setelah aku berpindah tempat dari belakang setir. Dan dia mengucapkannya sambil mengelus wajahku, dengan mata sayunya dia menatapku....Damn! ternyata Teman, aku tak berhenti mencintainya. Jauh di lubuk hatiku, aku berharap dia berbohong tentang kisahnya itu. Aku bernafas lega, setidaknya masih ada harapan walau itu kecil. Akan kutanyai setiap orang yang mengenalnya, benarkah cerita yang kudengar dari mulutnya itu? yahhh...akan kutanya pada setiap orang, tak peduli itu membuat mereka tahu aku tergila-gila padanya. Cukup sudah aku mencari jalan aman. Akan kutunjukkan pada dunia, aku memang mencintainya***

Kamis, 09 Juli 2009

ENAK SAJA DEMI KUTU-KUTU BUSUK, AKU JADI ZOMBIE...HUH...

Terlalu hiruk pikuk di jendela sana, aku tak bisa menuliskan dan membaginya disana, terlalu banyak orang-orang dekat, dikiranya nyari simpati lagi, biar disini saja aku menuliskannya, lebih sepi, bukannya tak ada yang akan membacanya, tapi lebih sedikit yang tahu lebih baik, selain karena aku juga berharap, ini bisa mewakiliku untuk mengatakan padanya tentang keputusanku. Ya walaupun masih saja aku takut untuk mengetik kata-kata yang selalu berdengung di sekelilingku, mendengarnya saja sudah membuatku bergidik dan merasa sedikit lebih dekat dengan Izrail. Aku bisa saja tak menuliskannya seperti biasa, tapi aku terlalu lama memendamnya, setidaknya menulis selalu bisa membuatku sedikit lega, dan aku sungguh-sungguh berharap kali ini aku bisa mendiskusikan dan membahasnya dengan seseorang [hiks hiks hiks....]
***

Ketika aku tahu hidupku tak akan sama lagi, yang kurasakan pertama kali adalah AKU MARAH! Rasanya tak adil, aku yang cantik ini, aku yang pintar ini, aku yang punya apapun ini, bisa dengan mudahnya dimatikan kehidupannya. Aku tak pernah meneriakkanya. Tapi aku sangat tahu seperti yang dikatakan seorang teman bahwa memang Tuhan tidak adil.

Pelan-pelan kemarahan ku mulai reda. Hidup harus realistis. Apa gunanya marah? Tak akan menolongku kan? Kemarahan tak akan menghentikan Izrail. Dia tetap akan datang, bisa kapanpun, dimanapun, siap atau tidak! Dan dalam kasusku, aku bisa merasakan Izrail sudah mengasah senjatanya sambil mengawasiku megap-megap melewati sekarat.

Akhirnya aku lalui hidup dengan pasrah, tak peduli, akhirnya aku akan mati juga, akhirnya aku tak bisa melakukan apapun juga. Hahahaha. Pikiran picik ya teman?

Sampai akhirnya aku melihat orang-orang menangis untukku, aku melihat orang-orang begitu peduli padaku, aku melihat ketakutan mereka, takut kehilangan diriku. Aku memutuskan AKU TAK BOLEH MENYERAH! Hidup memang harus realistis, biarin saja Izrail mengasah senjatanya sampai tajam, biarkan saja dia terus menontonku sekarat. Tapi aku tak seharusnya hanya menunggu hingga Izrail diberi perintah untuk memisahkan jiwa dan ragaku.

Aku mulai bangkit pelan-pelan, aku mulai dari menuruti apa yang dikatakan mereka. Mereka berharap aku menjadi anak yang tabah, penurut, dan sabar. Aku jadi seperti itu. Mereka berharap aku tak menangis dan tak meraung-raung kesakitan, senantiasa tersenyum dan tertawa bahagia, aku pun jadi seperti itu.

Mereka memutuskan bahwa aku harus dibedah, diberi sumsum tulang belakang yang baru, diberi kehidupan, aku pun menunggu mereka melakukannya. Tapi setelah beberapa purnama tak ada satupun orang yang pantas dan mau memberikan kehidupan padaku dengan mencelakakan dirinya, aku pun kembali menunggu apa yang akan mereka lakukan padaku!

Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memberiku kehidupan dengan langsung menyerang sumber kesakitanku. Aku iyakan! Walau aku tahu akibatnya aku akan layu dan kering kerontang. Semuanya aku tahan, aku harus menghadapi kengerian ketika kantong rambutku mulai tak berdaya, aku terpaksa menyingkirkan setiap cermin di kamarku, agar aku tak lagi melihat zombie ketika aku berhadapan dengan bayanganku sendiri, aku kurus, aku hampir botak, aku keriput, sistem pencernaanku terganggu, sistem reproduksiku terganggu...AKU TAHAN! Agar mereka bisa melihatku hidup walau hidup seperti mayat hidup.

Aku berhasil bertahan hampir satu tahun rasanya. Dan aku melihatnya, seorang anak tak berdaya, sama seperti aku, melewati hidupnya di sebuah kamar, matanya menonjol, kurus, aku bisa melihat tulang-tulang tangannya, rambutnya tak tersisa sedikitpun, aku shock, aku melihat diriku, aku melihat tubuhku di masa depan! Seperti itulah akhirnya jika aku memaksakan diri membiarkan mereka terus melihatku hidup dan berharap! Aku harus menghentikannya!

Pasti ada cara lain? Tapi apa? Apa yang bisa kulakukan?

Seperti makan buah simakalakama, jika aku menghentikan penyerangan, pelan dan pasti kutu-kutu di darahku akan makin ganas, aku mati dalam waktu sekejap, ya paling lama satu purnama lah, tapi jika aku meneruskan penyerangan, aku menyambung nyawaku, aku akan bertahan 2 purnama lamanya,penyerangan lagi, 2 purnama lagi aku hidup, dan selama waktu hidup itu, aku akan kehilangan kehidupanku sendiri, aku akan makin lemah dan renta! Tak lebih baik dari mati, hanya membuat mereka bisa melihatku tetap bernyawa dan menontonku melalui hidup tanpa kehidupan....dan itu lebih membuat mereka merana dan lebih sakit lagi, mungkin lebih sakit dari yang kurasakan!

Ya ya ya sepertinya aku memang harus menghentikannya, bukannya aku menyerah teman, hanya saja aku tak akan lagi memaksa ragaku agar bertahan, aku akan cari jalan lain, selalu ada jalan kan? Selama aku mencari jalan, untuk sementara perusakan terhadap tubuhku akan dihentikan! Aku tak akan lagi mau merusak tubuhku hanya untuk membasmi kutu-kutu yang menggerogoti darahku, enak saja demi mereka aku jadi zombie seperti ini...huh....***

Kamis, 02 Juli 2009

MAMI: PUTRI SAYA KEMBARAN DENGAN CONGCORANG NANGKA...

TERSERAH anda mau bilang apa tentang saya! Anda mau bilang saya berlebihan, keterlaluan, emosional, kejam, ganas seperti ibu tiri, TERSERAH! Saya tidak peduli. Sama seperti anda, saya hanyalah manusia biasa, manusia biasa yang kebetulan ditakdirkan menjadi seorang ibu dari putri yang amat manja dan rewel.

Padahal anda tahu berapa usia putri saya? 23 tahun! 23 tahun tapi bahkan untuk makan dengan benar saja masih harus diajari dengan betul. Ah anda jadi berpikir kalau putri saya itu mengidap semacam kelainan jiwa seperti autis atau apalah itu namanya. Sama sekali bukan! Dia juga sama seperti anda, sama hal nya seperti saya juga, dia hanya manusia biasa, manusia biasa yang sangat normal!

Coba katakan pada saya salahkah saya mencintai dan menyayangi putri saya hingga selalu dibikinnya saya ini sesak nafas karena amat mencemaskannya? Apa salah, saya bekerja jungkir balik, kaki di kepala, kepala di kaki hanya untuk memberikan dia yang terbaik? Ya setidaknya terbaik menurut saya. Dan apakah salah, jika saya over protektif terhadapnya sampai saya selalu berusaha menjaganya seperti barang pecah belah? Takut sekali saya dia hancur berkeping-keping tanpa bisa saya sambung lagi pecahan-pecahannya. Takut sekali saya jika dia sudah marah, takut dia meninggalkan saya lagi. Sedih sekali jika saya temui dia tersenyum dan tertawa hanya untuk menyenangkan saya. Sedih rasanya setiap melihat dia berbohong pada saya hanya agar saya tidak mencemaskannya. Dan merana hati ini jika melihatnya terbaring tak berdaya tanpa ada yang bisa saya lakukan untuk menolongnya. Tidakkah dia tahu itu?

Tolong, katakan pada saya bahwa saya bertindak dengan benar ketika saya selalu menelponnya hanya untuk bertanya bagaimana kabarnya? Katakan pada saya bahwa saya tidak melakukan kesalahannya dengan menyuruhnya untuk tak menjamah internet? Karena terbukti internet selalu membuatnya lupa waktu! Katakan jika saya salah karena selalu memaksanya untuk punya kehidupan yang lebih menyenangkan? Dengan tidak takut bersosialisasi, tidak takut untuk melukai hati orang, dan tidak takut untuk menjadi beban bagi orang lain!

Heran saya, apa sih yang ada dalam pikirannya? Bunuh diri pelan-pelan atau bagaimana? Apa tak sedikitpun dia berpikir tentang orang yang menyayanginya? Saya? Adik-adiknya? Seluruh emaknya, bapaknya, aki-akinya, mamahnya, teman-temannya? Apa dia tak pernah berpikir bahwa melihatnya merana dan berjuang sendirian adalah hal yang amat menyakitkan bagi saya dan juga bagi mereka semua?

Amponnnnn Gusti...saya memang pernah melakukan kesalahan dengan merenggut masa kecilnya dan tiga perempat kehidupannya tanpa bersama saya, tak bisa kah saya menebus kesalahan saya itu dengan menjaga dan memberikan yang terbaik untuknya? Apa yang harus saya lakukan?

Ah, maafkan saya karena prolognya terlalu panjang, sedangkan anda belum juga mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat saya berkeluh kesah seperti ini pada anda.

Seperti inilah ceritanya....

Banyak sekali pekerjaan yang harus saya kerjakan di kantor, terlalu banyak sidang yang ditunda, terlalu banyak keluhan klien, terlalu banyak bawahan yang kerja tanpa tanggung jawab membuat beban stress saya ada di level paling tinggi. Dan ketika saya pulang dari kantor menjelang tengah malam, saya sempatkan masuk ke kamar putri saya sekedar untuk melihatnya pura-pura tertidur! Ah memang saya bodoh bisa dikadali olehnya, saya amat tahu hanya sekejap saja dia bisa tidur, sisanya entah apa yang dilakukannya? Saya sempat curiga dia sering memasukkan lelaki ke kamarnya, dan kalau pun itu terjadi, di pikiran saya yang tak waras, saya berharap putri saya MBA. Memang gila, tapi jika anda terlalu bingung dan tak tahu lagi bagaimana caranya agar putri anda bisa bahagia dan segara memberikan cucu pada anda, kemungkinan MBA bagi putri anda sepertinya bukan solusi yang hanya disandarkan karena putus asa. Apa betul begitu? Koreksi jika saya salah, dan tolong jangan bilang anda tidak tahu apa itu MBA!

Mari kita lanjutkan ceritanya. Ya jadi ketika saya masuk ke kamarnya, dia tak ada di sana, sedikit panik, takut dia berubah jadi gila lagi dan meninggalkan saya dengan hati merana. Saya segera pergi ke kamar adiknya. Dan disanalah dia, agak manyun di depan komputer, sekali-sekali senyum, terkadang ngakak, manyun lagi. Ah jika anda tidak tahu teknologi bernama internet, anda akan langsung menyeretnya ke jalan Riau 11 (Riau 11 adalah bekas alamat Rumah Sakit Jiwa di Bandung). Tapi karena saya yakin anda sudah mafhum tentang ganasnya kanker internet yang merubah kehidupan anda 180 derajat itu, sama seperti saya pastilah anda hanya akan menarik nafas panjang dan menekan kekesalan anda. Yang membuat saya tambah kesal adalah ketika mendapati sepiring nasi dan ayam bumbu tergeletak di samping komputer tanpa ada tanda-tanda telah dijamah olehnya. Saya pun segera menegurnya.

”lala can emam?” (lala belum makan?)
”eh mih, belon euy” dia agak terkejut dengan sapaan saya, dan tampak panik, sempat juga saya menangkap gerakan tangannya yang menggenggam mouse, hahaha dia menutup semua halaman yang sedang dibukanya, hanya tersisa hukum onlen dot com. Aduh lala lala, kamu pikir mami ini orang tua bodoh yang tidak tahu kenakalan kamu heh?

”mam atuh buruan, tiis pan sanguna” (makan cepet, dingin kan nasinya)
”he eh mih” dia mengambil piringnya dan nampak jijik dengan hidangan didalamnya. Huh siapa suruh menunda-nunda makan? Makanan jadinya dingin dan basi! Makan tuh makan! Saya mengawasinya, dan sangat tahu dia tidak nyaman dengan itu.

”ya udah atuh, habisin ya mamnya, mami beberesih dulu”
”oke deh, siappp grakkk! You know that your wish is my command”
Ah saya suka itu! Sangat suka! Jadi saya membelai kepalanya yang tertutup kupluk dengan lembut! Sayanggggggg banget :-* muach....

Mungkin karena saya sangat hafal segala kelicikannya, jadi saya kembali ke kamar adiknya setengah jam kemudian. Dan benar saja, piringnya kembali tergeletak merana di samping komputer. Grrrr, saya tahan kemarahan saya. Sabar sabar jeng!!

”euh kebiasaan, sini ah dihuapan ku mami” (sini mami suapin)
”eh hehehehe, jangan dungs, lala juga bisa sendiri Mih” saya tetap memaksa untuk menyuapinya.

”tadi pagi mam apa?”
”bubur mih”
”siangnya?”
”bikin teh doang”
”mana ada tenaga kalau makannya seperti itu?”
”emang tenaga untuk apa mih? Gak macul ini kan? Kalau cuma duduk di depan komputer, baca buku, tidur mah gak butuh tenaga mih” huh sedih sekali saya mendengar kesinisannya.

”lho katanya mau bohay? Katanya dadanya mau tumbuh, pinggulnya mau besar, kalau mamnya susah, mana bisa neh nenen sebesar nenen Farah Quinn?” saya berkata seperti itu sambil nyolek payudaranya, ah nakal sekali saya ini. Kalau anda lelaki saya yakin anda ingin sekali ada dalam posisi saya. Ya kan? Ya walaupun payudara putri saya jauh dari kata menggairahkan.

”eitttt....nyolek-nyolek punya orang, kayak gak punya aja....” dia menjawab sambil menutup dadanya dan membalas menyolek payudara saya. Saya tahu apa komentar anda, pasti anda akan bilang: ’keluarga macam apa tuh?’ Hahahaha hanya sekedar memuaskan keingintahuan anda, saya katakan pada anda satu fakta tentang keluarga kami, yeah keluarga kami memang agak kurang waras!

Akhirnya saya tak tahan juga melihatnya tersiksa karena harus menelan makanan. Jadi saya menyuruhnya untuk melanjutkan makan sendiri. Dan saya dengan agak berlari keluar dari kamar sekedar ingin menarik nafas panjang dan meredakan segala amarah, kesedihan, dan putus asa yang tiba-tiba menyeruak menyerang pertahanan saya.

Ketika saya kembali ke kamarnya, saya mendapati piringnya kembali merana, tersisa setengah piring nasi di piringnya, sedangkan ayamnya tak tersisa sedikitpun, membuat saya curiga, masa tulang ayamnya juga dimakan sih? Terdorong oleh kecurigaan saya itu, saya mendekati tempat sampah yang ada di pojok kamar, dan benar saja, ada muntahan nasi di sana, dan daging ayam yang baru secuil dimakan olehnya tampak sebal memandang saya. CUKUP SUDAH! SEKALI INI SAYA NAIK DARAH!

”NANAONAN IEU TEH? DITITAH DAHAR WE NI HESE NYAK! SAKITU AWAK TINGGAL TULANG OGE! TEU GEULIS IEUH MANEH TEH MUN AWAK JIGA CONGCORANG NANGKA KITU! KALAKUAN TEH GEUNINGAN JIGA BUDAK TK KENEH ATUH?” (apa-apaan ini? Disuruh makan aja susahnya minta ampun! Padahal badan tinggal tulang juga! Gak cantik kamu ini kalau badan seperti congcorang nangka gitu! Kelakuan kok masih kayak anak TK aja sih?)

Interupsi sebentar, jika anda tidak tahu congcorang nangka, beginilah bentuknya...

Dan inilah bentuk tubuh putri saya jutaan tahun yang lalu, jutaan tahun yang lalu aja bisa sekering ini, apalagi sekarang? bener-bener zombie! sama tipisnya seperti congcorang...

lanjuttttt....

Banyak yang saya katakan padanya, rasanya saya mengeluarkan beban emosi saya selama satu bulan ini. Lalan dan acep, adik putri saya itu terbangun. Sementara dia bengong, yang membuat hati saya miris, dia menutup matanya dengan tangan, menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesungging senyum-- entah menertawakan saya atau apa—menghiasi bibirnya. Tak ada keluhan sama sekali, hanya senyum miris yang saya dapat darinya. Saya amat tersinggung! Tanpa pikir panjang saya renggut piring nasi yang ada di samping komputer,saya lemparkan ke dinding, pranggg….sejumput nasi menempel di pipinya, matanya amat terluka dan tidak berdaya! Anehnya dia diam, ya ampun bahkan marah sekalipun dia sudah tak bisa. Penyesalan itu yang saya rasakan kemudian! Menyesal sekali melihatnya menjadi mayat hidup seperti itu.

Seisi rumah terbangun, saya hanya bisa menyuruh mereka kembali ke kamarnya masing-masing, dan saya pun kembali ke kamar saya, masih terbayang wajahnya yang terluka, masih jelas diingatan saya sejumput nasi yang menempel di pipinya. Oh Tuhan apa yang sudah saya lakukan? Mengapa menambah luka hatinya? Mengapa malam ini saya tak bisa menahan emosi saya? Mengapa saya sama kekanak-kanakkannya seperti dia?

Saya butuh seseorang untuk menentramkan hati saya, saya menelpon suami saya yang memang kerjanya di luar kota. Saya menangis mengadukan kecerobohan saya. Dan suami saya itu anda tahu? Dia adalah oase saya, tempat saya menemukan mata air sejuk di tengah panasnya gurun pasir, dia adalah kehangatan tempat saya bermanja-manja di tengah dinginnya hawa kutub utara yang ganas itu. Saya bersyukur masih punya sandaran di tengah kemelut saya itu. Dia menawarkan untuk berbicara dengan putri saya, saya melarangnya, karena saya tahu putri saya masih belum bisa menerima suami saya sepenuhnya. Suami saya itu adalah ayah tiri dari anak-anak saya. Sedang suami pertama saya meninggal dunia dua tahun setelah saya melahirkan Lalan, anak keempat kami.

Baru setelah saya tenang, pikiran saya kembali jernih. Saya memberanikan diri masuk ke kamar itu. Dia tak ada di sana, setelah membetulkan selimut Acep dan Lalan--dua anak lelaki saya di kamar itu-- saya mencarinya ke kamarnya. Dan hanya Tuhan yang tahu betapa paniknya saya ketika mendapati dia tak ada di manapun. Saya masuk kamar putri saya yang kedua, dia pun tak ada disana.

Untungnya sebelum saya membangunkan seisi rumah, saya melihat siluet bayangannya di bawah sinar bulan tiga perempat. Sungguh lega melihatnya utuh dan tampak tak terguncang dengan apa yang terjadi. Mungkin dia sudah terbiasa dengan amarah saya.

Dia sedang berbicara di telpon dengan seseorang. Pasti pacarnya. Dan saya tak ingin mengganggu jika saja saya tak ingat bahwa berdiri di bawah rembulan dengan pakaian tipis seperti itu akan sangat buruk akibatnya bagi kesehatannya. Jadi saya menegurnya, mungkin karena saya teramat sedih, saya tak bisa mengucapkan kata apapun, saya hanya menuntunnya (sebenarnya menyeret) ke dalam kamar, saya begitu ingin menggendongnya, tapi rasanya itu hanya akan membuat saya makin sengsara, jadi saya mendorongnya ke tempat tidur, menyelimutinya, dia tidak berkata apapun, tapi saya bisa melihat kegelisahannya, dan senyum sinisnya. Tak ada gunanya saya berlama-lama di kamarnya, jadi saya keluar dari kamar itu setelah mengingatkannya untuk berdoa sebelum tidur.

Rasanya lama sekali sebelum saya bisa tertidur, ketika terbangun, saya berharap saya baru melalui mimpi buruk, tapi melihat keempat anak saya tampak tak bergairah, saya sadar bahwa apa yang terjadi tadi malam itu bukanlah mimpi.

Tak ada celotehan riang ketika sarapan pagi, dia pun tampak memaksakan diri duduk bersama saya dan adik-adiknya. Biasanya dia hanya minum teh atau susu saja di pagi hari, tapi kali ini dia mengambil nasi ke piringnya, mie goreng, dan telur. Saya dan adik-adiknya terpesona dengan pemandangan itu, dia menyendok nasinya besar-besar, dimasukkan ke mulutnya, kunyah-kunyah sebentar, glek glekkkkk…diambilnya air putih, diminumnya, terus seperti itu, dengan bantuan air putih dia berhasil menghabiskan tiga perempat makanan di piringnya, sampai ketika saat dia akan meminum air putih, entah bagaimana kejadiannya gelasnya terpeleset dari tangannya, air yang ada di dalamnya tumpah, dan pecah ke lantai, dan lagi-lagi dia menutup mata dengan tangannya, geleng-geleng kepala, dan ada senyum miris nyaris putus asa di mulutnya. Arghhhh…dia berpamitan untuk ke belakang, dan kami bisa mendengarnya memuntahkan seluruh makanan yang telah masuk ke perutnya.

Terdorong oleh ketidakberdayaan dan kepengecutan saya, ditambah dengan kesedihan yang tak tertahankan, saya berangkat ke kantor tanpa mencium anak-anak saya satu persatu. Saya pasti sudah tertular sikap ‘mayat hidupnya’ sekarang. Bukan main sesaknya hati ini dia buat….

*udah di posting di blog nih mih, makasih udah cekikikan lagih :P masih buleh internetan kan? plisss [sambil usapp-usap rambut mami sayangggg banget muach :-*]*

SEDANG INGIN DIBOHONGI....

betapa inginnya aku dipeluk dan dibohongi...
pliss katakan padaku sambil menggenggam tanganku dan memelukku,
bahwa masih ada langit BIRU yang bisa kulihat,
bahwa aku tak usah takut, semuanya akan kembali seperti yang kuiinginkan,

betapa inginnya aku merengek-rengek dan dibohongi
pliss katakan padaku sambil menatap mataku dan membersihkan airmataku,
bahwa aku tak akan lagi disergap sunyi dan takut karena kamu akan selalu ada di sisiku....

:(( :(( :(( :((